
"Jadi dia ayah mertuamu?" Kevin mengangguk. Stella tersenyum miris melihat pria tua yang sedang terbaring itu. "Bahkan ketika menutup mata sekalipun, beliau terlihat sangat kesepian. Pasti dia dan mendiang istrimu sangat dekat?" Stella mengangkat wajahnya dan menatap Kevin yang berdiri disampingnya.
Kevin mengangguk. "Stella adalah putri yang sangat berbakti, dia sangat menyayangi ayahnya dan begitu pun sebaliknya. Mereka ayah dan anak saling menyayangi, tapi sayangnya Tuhan begitu cepat memisahkan mereka berdua." Ujar Kevin menuturkan.
Stella tersenyum pahit. Dia membayangkan bagaimana sedihnya Tuan Su ketika kehilangan putri yang sangat dia sayangi, pasti hatinya sangat hancur.
Dan Stella telah memutuskan untuk membantu Kevin mengungkap pembunuhan dibalik kematian istrinya. Sepertinya dia harus kembali ke profesi lamanya, yang telah dia tinggalkan sejak duduk di bangku kuliah. Karena hanya dengan cara itu dia bisa menemukan fakta dibalik kematian istri Kevin.
"Kenapa kau menangis?" Stella tersentak saat merasakan sentuhan lembut pada pipinya.
Wanita itu menggeleng. Buru-buru dia menyeka air matanya yang mengalir dan membasahi wajah cantiknya. "Tidak apa-apa, hanya merasa sedih dengan keadaan Paman ini." Jawabnya.
"Kau memiliki hati yang lembut, Erica." Ucap Kevin sambil mengukir senyum tipis di-bibirnya. Senyum yang membuat Stella terpaku, karena melihat lelaki itu tersenyum adalah sesuatu yang langkah.
Stella tersenyum tipis. "Sejak menikah, Ini pertama kalinya aku mendengarmu memanggil namaku sendiri. Dan bisakah setelah semua selesai, kau mengembalikan identitasku sebagai Erica Song?" Stella menatap Kevin penuh harap.
Kevin mengangguk. "Tentu saja, karena itu adalah hakmu."
"Dan saat itu aku berharap kau bisa melihatku sebagai Erica, bukan Stella,"
Kevin merubah posisinya lalu menarik tengkuk Stella dan mencium bibirnya. Refleks Stella memegang lengan Kevin ketika pria itu semakin memperdalam ciumannya, namun bukan ciuman panas yang menuntut. Hanya ciuman singkat yang kurang dari satu menit.
Pria itu melepas ciumannya, jari-jarinya menghapus jejak liur dibibir Stella. "Kita sudah terlalu lama disini, sebaiknya kita pulang. Dokter bilang dia harus tenang," Stella mengangguk. Keduanya meninggalkan ruang ICU.
Kevin dan Stella menghampiri Vera dan Ella yang langsung berdiri melihat kedatangan mereka. Vera sudah sadar dari pingsannya meskipun raut mukanya menunjukkan jika dia masih syok. Ibu dan anak itu menatap tidak suka pada Stella, namun juga ketakutan yang terpancar dari biner matanya.
Stella menghampiri mereka berdua dan menatap keduanya bergantian. "Kalian tidak perlu disini lagi, aku akan menyewa perawat terbaik untuk menjaga dan merawat ayahku. Satu lagi, angkat kaki dari rumah, kalian tidak memiliki hak lagi untuk tetap di sana!!"
__ADS_1
Plakkk...
Ella menampar Stella dengan keras dan berteriak di depan mukanya. "Stella, kau sungguh sangat keterlaluan!!! Apa begini balasanmu pada orang yang sudah merawat ayahmu?! Jika tidak ada aku dan Vera, pasti ayahmu sudah lama mati!!" Bentaknya emosi.
Plakkk...
Stella balas menampar Ella dengan keras, saking kerasnya meninggalkan jejak merah di pipi kanannya. "Jangan main-main denganku, itu hanya peringatan kecil untukmu!! Kevin, ayo pulang." Kevin mengangguk.
Diam saja bukan berarti Kevin tidak peduli. Bahkan kedua tangannya terkepal kuat saat melihat Stella ditampar oleh Ella, tapi Kevin tau jika Stella bukanlah wanita yang lemah dan mudah untuk ditindas.
Meskipun memiliki wajah bak pinang di belah dua, tapi Stella dan Erica memiliki sifat yang sangat berbeda. Mendiang istri Kevin adalah wanita yang lembut, sementara Erica sangat bar-bar. Sungguh perbedaan yang sangat mencolok.
.
.
Kevin memicingkan matanya melihat sebuah mobil mewah terparkir di halaman Mansion mewahnya. Penasaran siapa tamunya, Kevin pun bergegas masuk dengan Stella berjalan disampingnya.
"Tuan Nero, saya sudah lama menunggu Anda. Oya, ini saya membawakan minuman kesukaan Anda. Anggap saja sebagai hadiah kecil dari saya, bagaimana pun juga kita adalah rekan kerja yang baik." Pria itu menyerahkan sebuah wine berusia puluhan tahun pada Kevin, wine langkah yang dibandrol dengan harga 5 juta pergelasnya.
Kevin menerima wine tersebut lalu meletakkannya diatas meja. "Sekarang katakan apa tujuan Anda datang kemari, Tuan Song?" Tanya Kevin tanpa basa-basi. Kevin adalah orang yang to the poin dan tidak suka banyak basa-basi.
"Begini, Tuan Nero. Perusahaan kami sedang merencanakan sebuah proyek besar, dan kami membutuhkan orang-orang seperti Anda untuk mendukungnya."
Kevin menatap pria itu dengan dingin. "Maaf, Tuan Song. Saya rasa kali ini tidak bisa membantu apa-apa, sebaiknya Anda cari orang lain saja yang bersedia menjadi penyuntik dana untuk proyek Anda itu. Bawa kembali wine itu, karena saya tidak menyukainya. Aromanya terlalu menyengat dan rasanya bukan selera saya!!" Kevin bangkit dari kursinya dan pergi begitu saja.
Stella masih belum bergeming. Dia menatap kepergian suaminya. Wanita itu melangkahkan kakinya menghampiri Tuan Song.
__ADS_1
"Sepertinya Anda sudah pernah menyinggungnya. Saran saya, sebaiknya Anda berhenti berharap untuk mendapatkan dukungan darinya, karena suami saya adalah pria yang memiliki hati sekeras batu!! Leon, tolong antarkan Tuan Song keluar, aku takut dia akan tersesat dan tidak menemukan jalan untuk pulang," Stella menyeringai sinis. Wanita itu kemudian beranjak dan pergi begitu saja.
Gyuttt...
Tuan Song mengepalkan tangannya. Sepertinya akan sangat sulit untuk mendapatkan dukungan dari Kevin. Dan proyeknya tidak akan berhasil tanpa dukungan darinya. Kemudian Tuan Song meninggalkan Mansion mewah itu dengan emosi.
.
.
Kevin menoleh setelah mendengar suara pintu kamarnya dibuka. Stella masuk ke dalam lalu berjalan lurus menuju balkon. Dari sana, dia bisa melihat mobil ayahnya meninggalkan mansion mewah milik suaminya.
Senyum sinis terlukis jelas dibibir Stella. Wanita itu sangat puas melihat ekspresi putus asa paruh baya itu.
"Lihatlah bagaimana marah dan kesalnya dia ketika kau menolak untuk membantunya. Sepertinya dia sangat berharap kau bisa membantunya. Bukan, tapi sebagai penyuntik dana untuk proyeknya yang katanya besar itu."
Kevin memeluk Stella dari belakang. "Ya, tapi sayangnya aku tidak berminat." Stella kemudian melepaskan pelukan Kevin, ia berbalik dan posisi mereka saling berhadapan. Kedua tangan Stella memeluk leher pria itu.
"Aku ingin bergabung di perusahaanmu. Tidak ada salahnya kan jika istri CEO bekerja sebagai sekretaris di perusahaan suaminya? Diam di rumah tanpa melakukan kegiatan membuatku bosan, boleh ya."
"Asalkan ada imbalan untukku malam ini, aku akan mengijinkan mu untuk bergabung. Dan mulai besok kau sudah bisa menempati posisi sekretaris di sana." Kevin mengangkat dagu Stella lalu mencium singkat bibir ranum tipisnya.
"Tidak masalah, kebetulan aku juga sedang ingin berolahraga malam. Malam ini kita bisa bertempur sampai pagi!!"
"Ini baru istriku!!"
-
__ADS_1
-
Bersambung.