Menikah Lagi Untuk Balas Dendam

Menikah Lagi Untuk Balas Dendam
Tersesat.


__ADS_3

Sepasang suami-istri turun dari sebuah mobil Lamborghini yang berhenti di depan sebuah café untuk makan siang. Pria tampan dengan perempuan cantik, terlihat sangat cocok seperti pada dongeng-dongeng.


"Sayang, sedari tadi aku memperhatikan raut gelisah dari wajahmu, ada masalah apa?" Tanya Kevin melihat sikap aneh Ellena hari ini.


Mereka berdua mengambil tempat duduk di pojokan café yang bernuansa modern-klasik ini. Ellena menatap suaminya itu dan hanya diam sambil menatapnya dengan pandangan tak terbaca.


Makanan sudah dipesan, tetapi pertanyaan Kevin masih belum dijawab oleh Ellena dengan sepatah katapun. Dan itu membuat Kevin semakin bertanya-tanya.


"Ell, kau masih belum menjawab pertanyaanku." Kevin menanyakan pertanyaannya sekali lagi. Lelaki itu lalu mengusap lembut punggung tangan Ellena.


Iris Hazel itu menatap lekat iris coklat milik pria di depannya itu. Tatapan sedih, kecewa dan penuh makna ditujukan hanya padanya. Membuat Kevin semakin tidak mengerti dan kebingungan dibuatnya.


"Kevin, sebenarnya aku~" Ellena menggantung kalimatnya dan tak melanjutnya ucapannya. Dia hanya memandang Kevin dengan pandangan yang sama, dalam.


"Sebenarnya apa? Katakan saja, jangan membuat penasaran," Kevin menimpali.


"Sebenarnya aku ingin...membeli gula-gula yang ada di taman!!" Jawab Ellena dengan lantang. "Tapi kau tidak mau berhenti di-sana tadi!!"


Kevin menghela napas. "Jadi kau sedari tadi diam dan tak mau bicara karena ingin membeli gula-gula?" Ellena mengangguk."Oke, setelah makan siang kita kembali ke taman dan kau boleh membeli sebanyak apapun yang kau mau!!" Ellena pun tersenyum lebar mendengar perkataan Kevin. Wanita itu mengangguk dengan semangat.


Selanjutnya mereka saling diam dan menyantap makan siangnya dengan tenang.


.


.


Setelah makan siang, membeli gula-gula dan mengantarkan Ellena pulang. Kevin kembali ke kantornya karena masih banyak pekerjaan yang belum dia selesaikan.


Pekerjaannya lumayan menumpuk setelah beberapa hari tidak datang ke kantor.


Tokk... Tokk... Tokk...


Ketukan pada pintu mengalihkan perhatian Kevin dari tumpukan kertas yang penuh uang di depannya. Leon membungkuk setibanya di depan Kevin.


"Ada apa? Apa kau tidak melihat aku masih bekerja?! Jika tidak ada hal penting yang ingin kau sampaikan, sebaiknya keluar saja!!" Perintahnya.


Leon pun segera memberitahu Kevin maksud dari kedatangannya. "Ini tentang lukisan misterius itu, Tuan. Saya sudah berhasil menemukan siapa orangnya!!" Kevin mengangkat wajahnya dengan terkejut.


"Kau serius?" Leon mengangguk. "Kalau begitu cepat katakan!!"


"Pelukis aslinya ternyata adalah Nyonya Ellena, Tuan. Dia adalah gadis kecil yang dulu pernah bersama Anda, dan dia adalah pelukis asli dari lukisan itu."


Kevin nyaris tidak percaya mendengar apa yang Leon katakan. Tapi dia juga tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya setelah mengetahui siapa sebenarnya pelukis dari lukisan dirinya tersebut.

__ADS_1


Benang merah yang dulu memisahkan mereka berdua, namun pada akhirnya benang merah pula yang akhirnya mempertemukan mereka.


"Gajimu mulai bulan ini akan aku naikkan sebesar 5%, kau juga akan mendapatkan bonus dua kali lipat dari yang kau dapatkan sebelumnya. Sekarang keluarlah, aku masih banyak pekerjaan."


"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu."


Leon sangat gembira tak terkira. Naik gaji dan bonus menjadi dua kali lipat. Jika seperti ini terus, dia bisa segera menikahi sang pujaan hati.


-


-


Dua perempuan cantik terlihat melenggangkan kaki jenjangnya memasuki sebuah pusat perbelanjaan ternama di kota Seoul. Mereka berdua adalah Susan dan Ellena, kedua sahabat itu hendak berbelanja bersama, seperti yang sudah mereka rencanakan sejak Minggu lalu.


Ellena sudah mendapatkan ijin dari Kevin untuk pergi bersama sahabatnya itu. Karena tidak mungkin Kevin melarangnya untuk melakukan ini dan itu yang dia sukai.


Keduanya berada disebuah toko dan sedang memilih-milih. Semua pakaian yang ada di sana adalah dari brand ternama dunia. Salah satunya adalah LV dan Chanel, salah satunya adalah brand favorit Ellena.


"Ell, coba yang ini. Sepertinya gaun ini cocok denganmu," Susan memberikan sebuah gaun dengan kombinasi hitam dan putih. Terlihat sederhana namun begitu elegan.


Ellena mengangguk. "Oke, aku pergi coba dulu." Susan mengangguk. Sembari menunggu Ellena selesai mencoba gaun tersebut. Susan melanjutkan kegiatan karena belum menemukan satupun yang sesuai dengan seleranya.


"Susan, bagaimana?" Ellena keluar beberapa saat kemudian. Susan tersenyum seraya mengangguk. "Baiklah, aku akan mengambil yang ini saja. Lalu bagaimana denganmu?"


Dan setelah berkeliling selama hampir dua jam lamanya, singgah dari toko yang satu ke-toko yang lain. Mereka berdua pun memutuskan untuk pulang. Susan membeli begitu banyak barang mulai dari pakaian, tas, sepatu, perhiasan sampai make up. Sementara Ellena hanya membeli dua helai satu helai gaun dan dua kemeja untuk Kevin.


Mereka berdua berpisah diparkiran mall. Susan dan Ellena pulang secara terpisah, meskipun datangnya tadi bersama-sama.


.


.


Ellena tersesat, itulah keadaannya sekarang. Dikelilingi oleh pohon-pohon yang ia tak tahu namanya dan sejauh mata memandang tak ada rumah atau tempat yang berpenghuni. Tak ada orang untuk ia tanyai. Sungguh sial dia hari ini.


Ponsel tak bawa, dan arah pun lupa. Mengapa ia bisa begitu bodoh? Ellena mengutuk diri dalam hati. Air mata menetes, namun segera dihapusnya. "Menangis takkan mengubah apapun. Aku harus terus berjalan," tekad Ellena dalam hati.


Langit telah jingga saat ia tersesat. Sekarang malam telah menjemput. Ellena melihat samping kiri dan samping kanan. Benar-benar hanya ada pohon dan jalanan. Sebenarnya, mengapa ia bisa nyasar hingga kemari? Ellan tak mampu menjawabnya. Ia pun tak paham.


Kakinya sudah lelah. Ia memutuskan untuk duduk di bawah salah satu pohon yang kelihatannya cukup nyaman untuk disandari barang sejenak. Dibukanya air mineral yang sengaja ia beli, dengan niat untuk stok di kulkas. Namun apa daya, ia malah terjebak di sini dengan ingatan memutar di kepalanya.


Gelap. Ellena mulai gelisah, dan ia baru ingat kalau ia membenci yang namanya gelap. Badannya menggigil takut. Air mata jatuh dari pelupuk mata.


"Kevin... Aku takut," dengan suara bergetar Ellena berucap lirih.

__ADS_1


Terdengar jelas isakkan wanita itu yang semakin menjadi-jadi, menangisi kebodohannya yang terkesan konyol. Lupa arah rumah sendiri.


Sambil meringkuk Ellena memeluk diri menahan dingin. Menyesal keluar hanya dengan balutan dress selutut yang takkan mampu menolak dinginnya malam ini.


"Ellena!!"


Wanita itu mendongakkan kepalanya dan mendapati Kevin berjalan menghampirinya. Ellena berdiri dan segera berlari kearah Kevin lalu berhambur memeluknya. "Aku takut," suaranya gemetar.


"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja."


"Tiba-tiba aku lupa jalan pulang dan malah nyasar kemari. Dan kupikir, aku akan terjebak disini semalaman," ucapnya setengah berbisik.


"Tidak apa-apa. Sekarang kau sudah aman. Ada aku disini." Kevin mengusap kepala Ellena dengan gerakan naik-turun.


Beruntung Kevin menyelipkan sebuah pelacak di dalam dompet Ellena, sehingga jika terjadi sesuatu pada wanita itu. Ia pun akan langsung tau. Dan berkat pelacak itu, Kevin bisa langsung tau dimana Ellena berada.


Memang tidak seharusnya membiarkan Ellena pergi sendiri tanpa ada yang menjaganya, apa yang Kevin takutkan benar-benar menjadi kenyataan, dan sepertinya dia memang perlu menyewa bodyguard untuk menjaga dan menemani istrinya selama 24 jam penuh.


-


-


Brugg...


Tubuh Dion yang dalam keadaan bulat tanpa sehelai benang pun terguling diatas aspal setelah dilempar keluar dari sebuah mobil sedan hitam. Mobil itu pun melaju pergi setelah membuang Dion.


Dion dalam keadaan tak sadarkan diri. Orang-orang berhamburan menghampirinya, memastikan apakah dia masih hidup atau sudah mati, apakah orang normal atau gila. Tidak ada yang melihat detail kejadiannya, karena lokasi tersebut lumayan sepi.


"Dia masih bernapas."


"Jangan menyentuhnya, bagaimana kalau dia itu orang gila yang kabur dari rumah sakit?"


"Betul sekali, sebaiknya kita lapor polisi saja. Biar polisi yang menanganinya!!"


Suara ribut-ribut itu membuat kesadaran Dion akhirnya kembali. Tubuhnya merasakan keanehan karena kulitnya terasa dingin seperti bersentuhan langsung dengan angin.


Pandangan Dion kemudian bergulir kebawah. Kedua matanya sontak membelalak sempurna dan... "AARRRKKHHH!! Dion berteriak histeris, dia terkejut bukan main ketika menyadari dirinya yang dalam keadaan bulat tanpa sehelai benang pun.


Dion melupakan apa yang terjadi dan menimpanya. Dia hanya ingin ditahan oleh empat orang perempuan yang kemudian menyiksa dirinya. Dan selanjutnya semua tiba-tiba menjadi gelap.


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2