Menikah Lagi Untuk Balas Dendam

Menikah Lagi Untuk Balas Dendam
Emosi Kevin


__ADS_3

Kevin mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mobil sport mewah keluaran terbaru itu, menyalip beberapa kendaraan yang melaju di depannya.


Sementara itu, wanita yang duduk di sampingnya terlihat menutup rapat-rapat kedua matanya, dia tidak mengatakan apapun meskipun dalam hatinya ia sangat ketakutan.


Berbagai sumpah serapah iya tunjukkan pada Kevin. "Dasar Kevin gila, tidak waras!! Jika ingin mati sendirian saja, jangan ajak-ajak!!" ucapnya dalam hati.


Stella benar-benar ketakutan setengah mati, seumur-umur, baru kali ini dia dibawa mengebut seperti ini. Kedua kakinya terasa lemas, seperti kehilangan tulang-tulangnya. Bibirnya tertutup rapat, dia ingin mengatakan sesuatu tetapi suaranya seperti tertahan di tenggorokannya.


CKITT!!


Punggung dan kepala belakang Stella berbenturan dengan jok mobil ketika Kevin mengerem tiba-tiba.


Sontak wanita itu menoleh dan menatap Kevin dengan sebal. "Yakk!! Jika kau ingin mati, mati saja sendiri tidak perlu ajak-ajak orang lain!!" akhirnya sebuah kalimat terucap dari bibirnya, setelah cukup lama terbungkam.


Kevin menoleh dan membalas tatapan tajam Stella. "Hn, maaf." ucapnya tanpa rasa bersalah sedikit pun.


Stella mendecih sebal. Kemudian wanita itu turun dari mobil Kevin dan pergi begitu saja. Kevin pun segera turun untuk mengejar Stella.


"Stella, tunggu, kau mau kemana?" Seru Kevin. Kevin menahan pergelangan tangan Stella membuat wanita itu mau tidak mau berhenti juga. "Kau mau kemana?" Kevin bertanya sekali lagi.


"Pulang!!" jawabnya dengan nada ketus.


"Maaf, aku tadi terbawa emosi. Ayo kembali ke mobil, kita pulang sama-sama. Kali ini aku akan mengemudi dengan benar." Ucapnya membujuk.


Stella menggeleng, dia tetap bersikeras untuk pulang sendiri dengan berjalan kaki dan menolak ajakan Kevin. "Tidak mau!! Aku tidak ingin mati muda, dan jika kau ingin mati, mati saja sendiri!! Aku akan pulang jalan kaki saja, lebih aman dari pada naik mobilmu sementara kau membawanya dengan ugal-ugalan."


"Aku janji, kali ini tidak begitu lagi. Aku akan mengemudi dengan hati-hati. Ayo kembali ke mobil, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan." Kevin berusaha membujuk agar Stella mau ikut pulang dengannya. Tapi wanita itu tetap tidak mau.


"Pokoknya tidak mau, aku akan~"


JLEDERR...


"Kyyyaaaa!!" Kalimat Stella diinterupsi oleh suara petir yang tiba-tiba menyambar. Ia pun langsung berhambur ke pelukan Kevin. "Ayo pulang, aku takut petir." Ucapnya setengah merengek.

__ADS_1


JLEDERR...


"Kyaaa!!" Sekali lagi dia berteriak histeris, petir kembali menyambar dan membuat Stella semakin ketakutan. "Huhuhu, ayo pulang." Lagi-lagi dia merengek.


Kevin menarik sudut bibirnya dan menyeringai sinis. "Bukankah kau bilang mau pulang dengan jalan kaki saja, lalu kenapa sekarang tiba-tiba berubah pikiran?" Ia menatap Stella yang sedang memeluknya itu.


"Huhuhu, jangan banyak tanya. Cepetan, ayo kita pulang. Hiks..!! Aku takut petir." Rengek Stella untuk kesekian kalinya.


Kevin terkekeh geli. Kemudian dia melepaskan pelukannya dan menatap Stella yang tampak memucat itu. Sepertinya wanita ini benar-benar ketakutan setengah mati. Membuat Kevin menjadi tidak tega untuk meledeknya lagi.


"Baiklah, ayo kita pulang." Kevin merangkul bahu Stella dan keduanya berjalan beriringan menuju tempat, dimana mobil Kevin diparkirkan.


Stella memang tidak takut pada apapun, kecuali petir dan gelap. Petir dan gelap adalah kelemahannya, dan Stella pasti akan langsung histeris ketika mendengar suara petir yang sedang menyambar-nyamar atau ketika dia berada di sebuah ruangan yang gelap seorang diri.


-


-


Wanita itu menyeka air matanya yang tak henti-hentinya menetes ketika memandang fotonya bersama Erica. Dia benar-benar tidak menduga jika sahabatnya itu akan pergi dengan begitu cepat dan tanpa salam perpisahan.


Kehilangan sahabat yang sangat dia sayangi membuatnya begitu terpukul. Bagaimana tidak, ia dan Erica sudah bersahabat sejak mereka kecil dan masih sama-sama duduk di bangku TK. Erica sudah seperti saudara baginya dan itukah yang membuatnya sangat kehilangan.


"Nona, Anda sudah duduk disini dari sore tadi. Sudah mau turun hujan, sebaiknya Anda masuk, Anda nanti bisa sakit." Nasehat seorang wanita berpakaian maid.


Wanita itu menyeka air matanya kemudian dia bangkit dari duduknya dan melewati wanita itu begitu saja. Tanpa mengatakan apapun padanya.


-


-


"Kakak, kau dari mana saja? Kenapa pergi dan baru pulang?"


Kevin mengepalkan tangannya melihat wajah penuh tipu daya di depannya ini. Rasanya Kevin ingin menonjok dan menghancurkan mukanya, tapi genggaman pada pergelangan tangannya membuat Kevin mengurungkan niatnya. Dia berusaha menahan diri agar emosinya tidak sampai meledak.

__ADS_1


"Aku keluar dengan kakak iparmu, dia bilang ingin makan malam di luar. Apa kau sudah makan malam?"


Alyssa mengangguk. "Sudah, aku tadi juga keluar untuk bertemu teman lama. Ngomong-ngomong kenapa dengan kakak ipar? Kenapa wajahnya terlihat pucat, apa dia sedang sakit?" Tanya Alyssa melihat wajah pucat Stella.


"Ya, dia memang kurang enak badan. Sudah malam, cepatlah tidur. Aku harus membawa kakak iparmu untuk pergi istirahat,"


"Hum, baiklah!!"


Alyssa mengepalkan tangannya dan menatap kepergian mereka berdua dengan tajam. Alyssa benar-benar benci pada wanita yang sekarang telah berstatus sebagai istri dari kakaknya tersebut.


Susah payah dia menyingkirkan kakak iparnya, dan sekarang malah muncul Stella yang lainnya. Tapi Alyssa tidak akan menyerah, bagaimana pun caranya dia harus tetap bisa menyingkirkan wanita itu dari sisi Kevin. Karena hanya ia yang boleh bersanding dengannya.


.


.


"Kenapa kau menghalangiku?! Kenapa kau tidak membiarkanku memberinya pelajaran. Melihat mukanya yang sok polos itu membuatku tidak tahan dan ingin sekali menonjoknya!!"


"Kau harus bisa mengendalikan emosimu. Aku tau apa yang kau rasakan saat ini. Tapi biarkan aku mengambil peran itu, biar aku saja yang memberi pelajaran pada mereka yang sudah membuat istrimu kehilangan nyawa!!"


Kevin membuang muka kearah lain dan menghindari kontak matanya dengan Stella. Stella bisa melihat dengan jelas emosi Dimata Kevin yang saat ini sedang berkobar itu. Dia memahami betul apa yang Kevin rasakan, karena ia sendiri juga pernah berada di posisinya.


Stella menangkup wajah Kevin lalu mencium bibirnya. Dan apa yang wanita itu lakukan tentu saja membuat Kevin terkejut bukan main. Hal itu semata-mata Stella lakukan untuk memberikan ketenangan pada pria ini, dan sungguh diluar dugaannya, Kevin justru mengambil alih ciuman tersebut dan mel*mat bibir Stella dengan kasar.


Sebelah tangan Kevin menekan tengkuk Stella sementara tangan satu lagi memeluk pinggangnya dengan erat. Tak ada lagi jarak diantara mereka berdua.


Dan ciuman itu adalah sebuah pelampiasan emosi yang membakar hati Kevin saat ini.


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2