
Ellena membuka matanya yang masih terasa berat saat aroma lezat makanan tercium masuk dan berkaur di dalam hidungnya.
Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, Ellena bergegas turun untuk melihat siapa yang sedang memasak di dapur.
Tidak ada orang lain di dapur selain Kevin. Hingga Ellena berpikir jika suaminya itulah yang tengah menyiapkan sarapan. Ellena Mengayunkan kedua kakinya secara bergantian dan menghampiri lelaki itu.
"Key, apa kau yang menyiapkan semua makanan ini?" tanya Ellena memastikan.
Kevin menoleh dan menatap istrinya itu. "Kau sudah bangun," Ellena mengangguk.
Alih-alih menjawab, kevin malah balik bertanya. "Sarapan hampir siap, tunggu sebentar lagi. Setelah ini kita sarapan sama-sama," ucapnya yang kemudian dibalas anggukan oleh Ellena.
Ellena meninggalkan Kevin lalu mengeluarkan buah-buahan segar dari dalam kulkas kemudian membawanya wastafel dan mencucinya. Setelah mencuci bersih buah-buahan tersebut, kemudian Ellena mengupas dan memotongnya agar lebih mudah ketika memakannya.
Tranggg..
Pisau di genggamannya jatuh begitu saja setelah tanpa sengaja menggores ujung jarinya. Ellena terlalu ceroboh dan kurang berhati-hati.
"Kenapa bisa sampai luka begini, kau terlalu ceroboh!!" Kevin menatap Ellena sepersekian detik lalu menutup luka sayat itu dengan plester luka. "Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan sampai-sampai tidak fokus sama sekali?"
Ellena menggeleng. "Tidak ada. Hanya saja sedikit heran, aku bukan anak kecil lagi, tapi kenapa malah tersesat dan tidak tau arah jalan pulang," ujarnya.
Kevin menghela napas. "Mulai sekarang, aku tidak akan mengijinkan-mu pergi sendirian lagi. Karena aku tidak mau hal serupa kembali terjadi padamu!! Dan aku sudah menyiapkan seorang bodyguard untuk menjaga dan melindungimu!!"
"Memangnya perlu ya?" Ellena menatap Kevin dengan tatapan polosnya.
"Tentu saja perlu, bagaimana jika kau sampai tersesat dan tidak tau arah jalan pulang lagi?! Itu terlalu berbahaya untukmu. Sarapan sudah siap, sebaiknya kita sarapan sekarang."
Ellena mengangguk. Kebetulan sekali dia juga sedang lapar. Jadi tidak mungkin menundanya lagi dan membiarkan cacing-cacing di perutnya menari-nari. "Oke,"
-
-
Tuan Song terus mondar-mandir di dalam ruang kerjanya. Di depan sana para karyawan sedang berdemo meminta supaya gaji mereka segera dicairkan. Mereka terlambat mendapatkan gajinya bulan ini, jadi mereka marah dan murka.
Sesekali tuan Song mengintip keluar. Tak hanya puluhan bahkan ratusan, melainkan ribuan. Tak satu pun karyawannya yang sudah menerima gaji bulan ini.
Sejak Tuan Su menarik semua dana investasinya dan Nero Group menolak bekerjasama, perusahaannya mengalami penurunan saham hingga mencapai 22%, dan tentu saja hal itu berdampak pada keuangan perusahaan.
"Presdir, bagaimana ini? Para karyawan sedang berdemo di luar dan meminta supaya gajinya segera dibayarkan. Sementara keuangan perusahaan sedang tidak baik-baik saja. Dan jika tidak segera dibayarkan hari ini, mereka mengancam akan mogok kerja!!"
Tuan Song menghela napas panjang. "Kita tidak memiliki pilihan lain, segera jual sahamku dan gunakan uang itu untuk membayar karyawan. Jangan sampai mereka mogok kerja dan merepotkan kita!!"
__ADS_1
"Baik, Presdir."
Tuan Song tak memiliki pilihan lain selain menjual sebagian sahamnya. Hanya itu yang dia miliki sekarang, perusahaan akan semakin mengalami kerugian besar jika para karyawan memutuskan untuk mogok kerja. Dia sendiri yang akan rugi nantinya.
"Dan satu lagi, sebaiknya jangan katakan apapun pada istriku tentang masalah ini,"
Sang asisten mengangguk. "Baik, Presdir. Saya mengerti,"
-
-
Ellena duduk termenung di tepi jendela kamarnya. Ia menatap kosong ke luar jendela. Sesekali ia menghela napasnya berat. Dan duduk di tepi jendela sudah sering ia lakukan. Bahkan sudah menjadi rutinitasnya sehari-hari. Setiap pagi, ia selalu merasa inilah kali pertamanya melakukan hal tersebut.
Wanita itu menoleh saat mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Di sana seorang lelaki tersenyum padanya. Kevin membawa sebuah nampan yang di atasnya terdapat semangkuk bubur dan secangkir teh. Kemudian ia meletakkan nampannya di atas nakas tak jauh dari tempat Ellena berada.
"Kau membuatkan bubur untukku?" Ellena menatap Kevin dengan tatapan bertanya.
"Bubur kacang merah, aku dengar kau sangat menyukainya jadi sengaja kubuatkan untukmu." Ucap Kevin membuat senyum Ellena mengembang lebar.
Lantas perempuan itu turun dari kusen jendela lalu berjalan kearah sofa di tengah-tengah kamar tersebut. "Em, enak sekali. Ini benar-benar bubur kacang merah terenak yang pernah ku makan karena dibuatkan langsung oleh suamiku." Ucap Ellena.
Tiba-tiba Ellena menghentikan gerakan tangannya dan menatap Kevin penuh tanya. Membuat mata lelaki itu memicing.
"Tapi, Kevin. Memangnya kapan kita menikahnya, kenapa tiba-tiba aku dan kamu sudah jadi suami-istri? Seingatku aku menikahnya dengan Dion,"
"Aku mau." Jawabnya.
Kevin membawa Ellena ke dalam pelukannya dan memeluknya dengan erat. Perasaan yang Kevin rasakan pada Ellena bukan sekedar pelampiasan rindu pada mendiang Istrinya. Tapi karena Kevin benar-benar tulus mencintainya.
"Sudah cepat habiskan buburmu, setelah ini ganti pakaianmu kita pergi ke rumah papa. Mungkin kau sudah sangat merindukannya,"
"Song Ho?" Ellena memastikan.
Kevin menggeleng. "Bukan, tapi Alex Su, ayah kandungmu. Kau tidak ingat ya?"
Ellena meninju pelan lengan Kevin. "Mana ada, tentu saja aku ingat. Tidak mungkin kan jika aku sampai melupakan ayahku sendiri. Aku hanya mengetes saja," ucap Ellena lalu bangkit dari duduknya dan meninggalkan Kevin begitu saja.
Air mata mengalir dari sudut matanya. Diam-diam Ellena menangis, dia tidak berpura-pura. Karena Ellena memang tidak mengingatnya, dia sempat lupa sebelum akhirnya Kevin mengingatkannya.
-
-
__ADS_1
"PAPA, KAMI DATANG!!"
Suara nyaring yang berasal dari halaman depan menyita perhatian tiga orang yang sedang menikmati secangkir teh di ruang keluarga. Mendengar suara cempreng itu membuat Alex Su langsung tau siapa yang datang.
Alex meletakkan cangkir tehnya lalu melenggang pergi untuk menyambut kedatangan putri serta menantunya. "Papa, aku rindu." Seru Ellena dan berhambur memeluk ayahnya.
Tuan Su tersenyum dan membalas pelukan putri tercintanya ini. "Papa juga sangat merindukanmu, Nak. Ayo masuk, kami sedang santai sambil minum teh." Ucap Tuan Su yang kemudian dibalas anggukan oleh Kevin dan Ellena.
Kedatangan Ellena disambut buruk oleh Ella dan Vera. Ibu dan anak itu tampak tidak suka melihat kedatangan Ellena, apalagi dia yang begitu dekat dengan Alex Su. Sedangkan Vera tidak suka melihat kedekatan dan keakraban Ellena dan Kevin.
"Kakak Ipar, mau aku tuangkan teh untukmu?" Tawar Vera dan langsung ditolak oleh Kevin. Dia meminta Ellena yang menuangkannya. Dan hal itu membuat Vera kesal setengah mati.
Vera berdiri dan menatap Kevin dengan marah."Kakak ipar, kau menolakku saat ingin menuangkan teh untukmu, tapi kau malah meminta wanita pengganti kakakku ini untuk melakukannya!!" Bentak Vera sambil menunjuk Ellena marah.
Plakk...
Sebuah tamparan keras mendarat mulus pada pipi kanan Vera. Kevin menatapnya dengan tajam penuh emosi. "Jaga bicaramu, siapa yang kau sebut pengganti?! Bagus aku tidak langsung menjebloskanmu dan ibumu ke dalam penjara karena sudah menyingkirkan Stella!!"
Degg..
Meskipun hanya sekilas, keterkejutan terlihat jelas dimata Vera dan Ella. Bukan hanya mereka berdua, tapi Tuan Su juga. Alex Su menatap Kevin penuh tanya. "Kevin, maksudmu apa?" Tanya Tuan Su meminta penjelasan.
"Ya, Pa. Mereka berdua terlibat dalam kematian Stella, dia bekerja sama dengan Alyssa untuk membunuhnya!!"
"Omong kosong!! Bukti apa yang kau miliki hah?! Bisa-bisanya kau menuduhku dan Vera yang melakukannya!!" Bentak Ella marah.
"Oh, jadi kau ingin bukti? Aku bisa membuktikannya. Di dalam rekaman ini ada percakapanmu dan Alyssa, setelah ku putar rekaman ini apa kau masih bisa mengelak atau tidak!!"
Vera menjadi sangat panik begitu pula dengan Ella. Ibu dan anak itu saling memberi kode dan berbisik. "Ma, bagaimana ini? Apa kita akan berakhir hari ini juga?" Ucap Vera setengah berbisik.
"Diamlah, jangan panik atau papamu akan semakin mencurigai kita. Biar Mama yang mengatasinya." Ucap Ella.
"Kalian berdua tidak perlu mengatasi apapun. Biar polisi saja yang memproses kalian berdua dan menentukan apa kalian bersalah atau tidak!! Polisi sedang dalam perjalanan kemari, jadi persiapkan diri kalian!!" Ellena menunjukkan ponselnya pada Ella dan Vera.
Ella marah. "Jadi kalian bertiga bersekongkol untuk menjebak ku dan Vera?! Kalian benar-benar keterlaluan!!" Bentak Ella marah.
"Bagaimana ini, Ma? Aku tidak mau membusuk dipenjara!!!" Vera mulai panik.
"Ya, kalian memang akan membusuk dipenjara!! Karena polisi sudah datang," ucap Ellena menimpali.
"APA?!"
-
__ADS_1
-
BERSAMBUNG.