
Gadis itu melangkahkan kakinya memasuki sebuah mansion mewah yang memiliki tiga lantai. Kedatangannya di-sana segera disambut oleh beberapa pelayan baik perempuan maupun laki-laki. Salah satu dari mereka menghampiri gadis itu lalu membungkuk padanya.
"Selamat datang kembali, Nona Alyssa,"
"Aku menyukai sambutan kalian semua, memang sudah seharusnya kalian memperlakukanku seperti Ratu. Ngomong-ngomong dimana kakakku?"
"Tuan masih berada di kantor, Nona. Tapi Nyonya ada di rumah,"
Mata gadis itu memicing. "Nyonya? Maksudmu?" Ia meminta penjelasan.
"Istri Tuan, Nyonya Stella," jawab pelayan itu.
"APA?! STELLA, BUKANKAH DIA SUDAH LAMA MATI?!"
"Siapa yang mengatakan jika aku sudah mati?!" Sahut seseorang dari arah tangga, membuat semua mata tertuju padanya.
Terlihat Stella menuruni tangga dan menghampiri para pelayan dan si Nona Muda. Dan keberadaan Stella membuat Alyssa terkejut bukan main. Bagaimana tidak, orang yang dia kira telah meninggal ternyata masih hidup dan dia baik-baik saja.
Tubuh Alyssa terhuyung kebelakang, nyaris saja terjatuh jika saja tidak segera ditahan oleh seorang pelayan yang berdiri di belakangnya. "Bu..Bukannya kau sudah mati? Lalu bagaimana mungkin kau bisa hidup lagi?!"
Stella menyeringai dingin. "Itu karena Tuhan masih menyayangi nyawaku!!" Jawabnya acuh tak acuh. "Bukankah kau seharusnya masih di luar negeri, lalu apa yang membuatmu pulang secepat ini? Apakah pendidikan modelingmu sudah selesai?"
"A..Aku!! Itu tidak ada urusannya denganmu!! Aku lelah, aku mau istirahat. Cepat bawakan bawakan barang-barangku ke kamar!!"
"Baik, Nona Muda."
Stella menatap kepergian Alyssa dengan tatapan tak terbaca. Beruntung Via sudah memberitahunya tentang gadis itu sebelumnya. Jadi Stella tau harus bersikap bagaimana ketika menghadapinya.
Via mengatakan pada Stella bila dia mencurigai jika kematian istri tuannya ada hubungannya dengan Alyssa, karena sejak awal Alyssa memang tidak menyukai Stella yang asli dan beberapa kali berusaha untuk menyingkirkannya.
Kemudian Stella berbalik lalu melenggang pergi, dia hendak kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Brakk..
Dobrakan pada pintu mengalihkan perhatian Stella. Wanita itu menoleh dan mendapati Alyssa menghampirinya. "Katakan padaku, siapa kau sebenarnya? Aku tau kau bukan Kakak Ipar, apa kau seorang penipu yang memanfaatkan wajahmu ini untuk menipu kakakku dengan mengaku sebagai istrinya yang sudah meninggal?!"
Stella bangkit dari duduknya lalu menghampiri Alyssa. Seringai sinis kembali terpatri dibibir ranum tipisnya. "Kau benar, aku memang bukan Stella, tapi jika kau berpikir aku masuk ke dalam keluarga ini sebagai penipu maka kau salah besar, karena Kevin sendirilah yang membawaku kemari dan kemudian menikahiku!!"
"Apa?! Tidak mungkin, omong kosong apa yang kau katakan ini, hah?!" Bentak Alyssa marah.
"Omong kosong, sayangnya yang aku katakan bukanlah sebuah omong kosong. Dan sedikit saran dariku, sebaiknya mulai sekarang kau harus bersikap baik padaku. Karena jika tidak kau akan rugi sendiri, dan satu lagi, kenapa kau sangat terkejut ketika melihatku tadi?! Atau jangan-jangan, kematian Stella ada hubungannya denganmu?!"
"Jangan asal menuduh jika kau tidak memiliki bukti, sudahlah aku lelah!!" Kemudian Alyssa berbalik dan pergi begitu saja.
Melihat sikap gadis itu membuat Stella semakin yakin ada yang tidak beres. Gadis itu bersikap aneh saat pertama kali melihatnya dan dia juga bersikap tidak wajar ketika dirinya membahas tentang kematian mendiang istri Kevin.
Stella tidak bisa tinggal diam, dia harus bisa mengungkap dan menemukan siapa pembunuh mendiang istri Kevin yang sebenarnya. Ibu dan saudara tirinya atau mungkin Alyssa, atau ketiganya. Hal inilah yang harus segera dia selidiki.
-
-
Kevin memutuskan sambungan telfonnya begitu saja. Dia baru saja mendapat kabar dari salah satu guru pembimbing Alyssa yang ada di Paris, ia mengatakan jika Alyssa telah meninggalkan Paris dan saat ini sudah berada di Korea.
Pria itu bangkit dari kursinya dan melenggang pergi. Kevin harus memastikannya sendiri apakah Alyssa betul-betul pulang ke rumah atau tidak.
Tiga puluh menit berkendara. Kevin tiba di Manson mewahnya. Beberapa pelayan membungkuk ketika berpapasan dengannya. Lalu Kevin menghampiri Via. "Apa benar Alyssa pulang?" Tanya Kevin pada wanita itu.
"Benar, Tuan. Nona Muda tiba sekitar dua jam yang lalu dan sekarang sedang istirahat di kamarnya." Jelasnya.
Mendengar suara yang begitu familiar. Alyssa pun segera keluar dan benar dugaannya, itu adalah kakaknya. Alyssa segera menghampiri Kevin yang sedang berbincang dengan Via.
"Kakak!!" Serunya. Kevin terkejut, tubuhnya sedikit terhuyung karena pelukan Alyssa yang tiba-tiba. "Aku merindukan, Kakak."
__ADS_1
Kevin melepaskan pelukan Alyssa dan menatapnya datar. "Siapa yang mengijinkan-mu pulang tanpa ijin? Bukankah aku memintamu untuk belajar dengan sungguh-sungguh, tidak sedikit uang yang aku keluarkan untuk membiayai sekolah modelingmu itu!! Aku tidak mau tau, kemasi kembali barang-barangmu dan besok kembali ke Paris!!"
"KAKAK!!" bentak Alyssa dengan suara meninggi. "Padahal aku pulang karena merindukanmu, tapi kenapa kau malah bersikap seperti ini padaku?!"
"Alyssa, kau bukan anak kecil lagi. Dan aku memiliki tanggungjawab penuh atas hidup dan masa depanmu!! Bukankah dulu kau sendiri yang memohon supaya aku memasukkanmu ke sekolah modeling di Paris. Tapi kenapa sekarang kau malah bersikap seperti anak kecil?!"
"Kakak, aku~"
Sementara itu... Stella yang sedang bersantai di kamarnya buru-buru keluar setelah mendengar suara keributan. Wanita itu memicingkan matanya melihat wajah pucat Alyssa ketika Kevin memarahinya habis-habisan.
Dia begitu terhibur melihat pertunjukkan yang menyenangkan itu. Dan momen seperti itu tentu saja tidak bisa di lewatkan begitu saja.
Dan buru-buru Stella kembali ke kamarnya saat melihat Kevin berbalik dan hendak menuju kamarnya.
Stella pura-pura tidur dengan posisi memunggungi. Kevin tidak boleh tau jika dia baru saja melihat dan menguping pertengkarannya dengan Alyssa. "Aku tau kau hanya pura-pura tidur saja, Nona." Ucap Kevin sambil menatap punggung Stella.
Kemudian wanita itu berbalik dan membalas tatapan Kevin. "Heh, rupanya kau sudah tau ya? Tumben pulang lebih awal hari ini?" Stella bangkit dari berbaringnya lalu menghampiri suaminya.
"Ya, pasti kau sudah bertemu dengan Alyssa, dia membuat keributan dengan kabur dari akademinya dan pulang tanpa ijin."
Stella membantu Kevin melepas jas dan dasinya. Lalu mengangkat wajahnya. "Dia adikmu?" Kevin mengangguk. "Tapi kau tidak pernah memberitahuku jika memiliki adik."
"Aku rasa itu tidaklah penting, apalagi dia dan aku bukan saudara kandung. Hanya saja aku memiliki tanggungjawab untuk menjaga dan mendidiknya. Dia putri angkat keluarga ini, Alyssa adalah putri dari adik dari mendiang ibuku. Ibunya meninggal ketika melahirkannya sementara ayahnya di penjara karena kasus pembunuhan. Lalu mama dan papa-lah yang merawatnya." Jelas Kevin memaparkan.
Stella mengangguk paham. "Jadi begitu. Mandilah dulu, setelah ini kita makan malam sama-sama." Ucap Stella, Kevin mengangguk mengiyakan. Dia kemudian beranjak dari hadapan wanita itu dan pergi begitu saja.
-
-
Bersambung.
__ADS_1