Menikah Lagi Untuk Balas Dendam

Menikah Lagi Untuk Balas Dendam
Janji Erica


__ADS_3

Kevin menatap pantulan dirinya di cermin dan menghela napas panjang. Ia benar-benar terlihat seperti seorang monster sekarang. Jika ada anak kecil yang melihatnya, mungkin saja dia akan ketakutan. Karena wajahnya penuh luka dan perban membalut disana-sini menandakan seberapa parahnya luka yang ia alami.


Kecelakaan yang Kevin alami bisa dikatakan sebagai kecelakaan tunggal yang mengerikan. Karena mobilnya sempat terguling beberapa kali hingga kacanya berhamburan kemana-mana dan melukai disana-sini.


Beruntung dia bisa melindungi kedua matanya sehingga pecahan-pecahan kaca itu tidak ada satu pun yang menusuk apalagi merusak indera penglihatannya. Meskipun wajah dan tubuhnya tidak baik-baik saja.


Kevin menoleh setelah mendengar suara pintu kamar dibuka dari luar. Erica masuk sambil membawa nampan berisi bubur, segelas air putih dan beberapa butir obat yang harus Kevin minum.


"Er, sepertinya mulai sekarang kau harus terbiasa dengan suami yang jelek. Lihatlah keadaanku sekarang, benar-benar mengerikan!!" Kevin menghela napas.


Erica menggeleng. "Itu tidak benar!! Lagipula luka-luka ini bukanlah luka permanen yang tidak bisa hilang dan sembuh. Memang membutuhkan sedikit waktu lebih panjang, tapi nanti juga baik-baik saja." Ujar Erica sambil menangkup wajah Kevin dengan telapak tangannya.


"Dan bagaimana aku harus menghadapi orang-orang dengan keadaanku yang seperti ini?! Mungkin mereka akan menertawakan ku!!" Kevin sedikit frustasi.


"Bukankah masih ada Leon, kau bisa mengandalkan dia. Selama kau mengambil cuti biar dia yang mengurus semua, aku akan pergi ke kantor lagi mulai besok untuk membantunya. Jadi kau tidak perlu khawatir dan fokus saja pada kesembuhan luka-lukamu."


Kevin menggeleng. "Kau tidak perlu pergi ke kantor. Leon saja sudah cukup. Kau memiliki seorang pasien yang harus di jaga dan dirawat, jadi mana bisa kau lepas tanggung jawab begitu saja?! Kau bisa kembali bekerja setelah aku kembali ke kantor. Lagipula mana bisa aku melepaskanmu sendiri tanpa pengawasan dariku. Apalagi dengan sikap mereka padamu." Ujar Kevin panjang lebar.


Erica mengangguk. "Baiklah kalau begitu."


Kevin berbalik dan kembali menghadap cermin. Lagi-lagi dia menghela napas berat. Selain perban yang membebat keningnya, ada perban lain yang menutup luka jahit di-pelipisnya dan juga perban yang menutup luka di tulang pipinya. Belum lagi luka-luka dibagian tubuh lainnya seperti lengan, leher dan dadanya. Tulang dibahu kirinya sedikit akibat benturan keras yang Kevin alami.


"Apa yang kau lamunkan? Dan kenapa kau menatapku seperti itu?"


Erica menggeleng. "Bukan apa-apa. Makan dulu buburnya mumpung masih hangat, lalu minum obatmu. Aku mandi dulu," baru juga Erica hendak beranjak, sepasang tangan tiba-tiba memeluknya dari belakang.


Erica melirik Kevin dari ekor matanya. "Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku, aku memang tidak bisa menjanjikan seluruh dunia padamu, aku juga bukan lelaki yang baik. Tapi saat ini aku sedang berjuang, berjuang untuk mencintaimu."


"Aku sudah dua kali kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupku, dan aku tidak ingin kehilangan lagi untuk yang ketiga kalinya. Saat ini memang belum ada perasaan apapun untukmu, tapi kaulah satu-satunya orang yang paling berharga yang aku miliki dalam hidup ini." Tutur Kevin sambil memeluk Erica dengan erat.


Erica menutup matanya, setetes kristal bening mengalir dari sudut matanya. Dia yang hanya singkat merasakan merasakan kebahagiaan, akhirnya menemukan kembali kebahagiaannya yang pernah hilang. Kevin memang tidak pernah mencintainya, tapi dia selalu memperlakukannya dengan layak dan istimewa.

__ADS_1


Erica menyeka air matanya kemudian berbalik dan menghambur ke pelukan Kevin. "Kau tidak akan pernah meninggalkanmu, dan kau tidak akan pernah kehilanganku. Dan jika suatu saat nanti aku tidak bisa mengingat siapa dirimu, bahkan siapa diriku sendiri, kau harus selalu ada untuk mengingatkanku akan semua kenangan-kenangan yang kita miliki."


Kevin mengangguk. "Pasti,"


-


-


"Dion, apa ini?" Sarah menatap selembar kertas yang Dion berikan padanya.


"Apa kau buta huruf sehingga tidak bisa membaca kertas apa itu."


"Aku tau, tapi yang aku tanyakan apa maksudnya ini? Ini adalah akta cerai, apa kau bermaksud untuk menceraikanku?" Tanya Sarah sambil menatap Dion penuh tanya.


"Ya!! Aku sudah muak dengan wanita matre yang hanya mementingkan harga saja sepertimu. Lagipula Erica masih hidup, jadi untuk apa aku mempertahankan wanita sepertimu!! Lebih baik aku mencarinya dan memulai kembali hubungan dengannya."


Tangan Sarah terkepal kuat. "Jadi karena Erica, dia sudah mati Dion!! Jadi apa lagi yang mau kau harapkan darinya?!" Bentak Sarah.


"Masa bodoh!!" Dion mendorong Sarah dan pergi begitu saja.


Dion menoleh dan....


Jlebb...


Pisau itu bukan menusuk Dion tapi menusuk dada Sarah sendiri. Dion menghindar dan mengembalikan pisau tersebut pada Sarah. Darah segar tampak mengalir disudut bibirnya. "Di..Dion, kau~" ucap Sarah terbata-bata.


"Bukan aku yang harusnya mati, tapi kau!! Dasar sampah!!"


Dion mendorong tubuh Sarah hingga tersungkur di tanah lalu meninggalkannya begitu saja. Tidak peduli Sarah akan mati atau tidak, karena itu tidak penting sama sekali bagi Dion.


-

__ADS_1


-


Erica menahan tangan Alyssa yang hendak menamparnya. Dia mengangkat tangannya satu lagi, tapi lagi-lagi ditahan oleh Erica. Alyssa sangat marah karena Erica menolak mengembalikan semua fasilitasnya yang dia ambil sejak Minggu lalu.


"Brengsek, kau bukan siapa-siapa disini, tapi kenapa kau berlagak seperti seorang nyonya besar yang memegang kendali atas semua yang ada disini?!"


"Itu bukan keinginanku, tapi suamiku-lah yang memberikannya padaku. Dia memberiku kendali, dan jika ada yang tidak suka dengan aturanku, bisa pergi dari sini, termasuk kau!! Tidak ada yang menahanmu, kau boleh pergi dan angkat kaki dari sini!!"


"ERICA, KAU~"


Kevin menahan tangan Alyssa ketika hendak menamparnya. Dan kemunculan Kevin yang tiba-tiba mengejutkan mereka berdua, terutama Alyssa, Kevin begitu melindungi Erica.


"Sebaiknya kau kembali ke luar negeri. Aku sudah mengurus semuanya dan Leon akan mengantarmu malam ini juga!! Dan jangan harap kau bisa kembali lagi ke rumah ini jika sikapmu masih seperti ini. Erica, ayo kembali ke kamar." Kevin merangkul bahu Erica dan pergi begitu saja.


"Kakak, kau sangat keterlaluan!!"


.


.


"Apa yang sedang kau cari?" Tegur Kevin melihat Erica yang sedang celingukan seperti mencari sesuatu.


"Ikat rambutku, aku lupa dimana meletakkannya. Apa kau melihatnya?" Tanya Erica tanpa menatap lawan bicaranya.


Mata Kevin memicing. "Ikat rambut, bukankah itu ada dipergelangan tanganmu," ucapnya dan membuat Erica langsung menepuk jidatnya.


"Astaga, bagaimana aku bisa lupa. Makasih, untung kau memberitahuku. Aku benar-benar lupa dimana aku meletakkannya tadi." Erica tersenyum tanpa dosa lalu melesat masuk ke kamar mandi.


Kevin mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya. Entah kenapa Erica menjadi sedikit pikun akhir-akhir ini. Dia sering kali melupakan sesuatu secara tiba-tiba.


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2