
Tuan Su datang berkunjung ke kediaman putrinya sambil membawa begitu banyak perlengkapan bayi yang begitu banyak. Mulai dari box bayi, pakaian bayi dan masih banyak lagi. Saking banyaknya, harus diangkut oleh dua mobil box.
Ellena yang kebingungan menghampiri sang ayah yang sedang memandu beberapa pria yang sedang menurunkan barang-barang tersebut dari dalam mobil.
"Hati-hati, hati-hati, jangan sampai ada yang lecet. Jangan sampai cucuku memakai barang-barang yang sudah rusak,"
"Pa, ini semua apa maksudnya?" tanya Ellena meminta penjelasan.
Tuan Su menoleh. "Papa sengaja membeli ini semua untuk calon cucu Papa. Lihatlah apa saja yang Papa beli untuk calon cucu Papa, ada box bayi, pakaian bayi, pokoknya semua perlengkapan bayi." Tuan Su memperlihatkan barang apa saja yang ia beli.
Ellena meringis ngilu. "Tapi apakah ini tidak terlalu awal, Pa? Bahkan kandunganku belum genap 2 bulan. Tapi kenapa Papa sudah membeli begitu banyak perlengkapan?" Keluh wanita itu setengah frustasi.
Bukan maksud Ellena ingin menolaknya. Tetapi ini semua masih terlalu awal, apalagi usia kandungannya masih belum genap dua bulan.
Tuan Su menggeleng. "Tentu saja tidak, menyiapkan awal itu tidak ada buruknya. Karena ini juga yang dulu dilakukan oleh mendiang ibumu ketika dia mengandungmu dan Stella." Terang tuan Su.
Elena memijit pelipisnya yang terasa pening. Lalu dia harus menyimpan di mana barang-barang sebanyak ini, tidak mungkin juga dia menyimpannya di dalam gudang. Sepertinya Ellena harus menyewa jasa untuk mengosongkan salah satu kamar tamu supaya semua barang-barang ini muat dan bisa tersimpan.
"Terserah Papa saja lah, kepalaku pusing. Aku masuk dulu," Ellena meninggalkan ayahnya dan pergi begitu saja.
Tuan Su menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ellena. Kemudian dia melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda karena kedatangan putrinya. Apa yang Tuan Su lakukan sebenarnya bukanlah sesuatu yang aneh dan tak masuk akal. Dia hanya terlalu bahagia karena mau memiliki seorang cucu, apalagi sudah lama dia mendambakan kehadiran si kecil yang memanggilnya Kakek.
-
-
"Sayang,"
Kevin tiba di rumah dan mendapati Ellena yang sedang berdiri di depan pintu salah satu kamar tamu. Mata Kevin memicing, ia menghampiri sang istri yang sepertinya belum menyadari kepulangannya.
"Sayang, apa yang sedang kau lakukan disini?"
"Omo!!" Ellena terlonjak kaget karena kemunculan Kevin yang begitu tiba-tiba. Wanita itu menoleh sambil mengusap dadanya. "Kevin, kau mengejutkanku." Protes Ellena sambil menatap sebal suaminya.
"Siapa suruh kau tidak mendengar saat aku memanggilmu. Ya Tuhan, Ellena, apa semua ini?" Kevin terkejut melihat kamar tamu yang penuh dengan perlengkapan bayi.
"Tanyakan saja pada, Papa. Dia yang membeli semua barang-barang ini. Dan sepertinya kita harus membuat gudang untuk menampung barang-barang ini." Ujar Ellena sambil menatap Kevin dengan serius.
"Papa?"
Ellena mengangguk. "Siang tadi papa datang dan membawa dua mobil box yang berisi perlengkapan bayi. Dia terlalu bahagia karena mau memiliki cucu, tapi aku rasa ini terlalu berlebihan," terang Ellena.
"Ya sudah biarkan saja. Sudah terlanjur juga, mau bagaimana lagi. Apa yang Papa lakukan adalah bentuk dari kasih sayangnya pada anak kita," ujar Kevin.
Ellena mengangguk. "Kau benar juga, mandilah dulu setelah ini kita makan malam sama-sama. Kau pasti lapar, kebetulan aku juga belum makan." Kevin menepuk kepala Ellena seraya menganggukkan kepala.
"Baiklah,"
-
__ADS_1
-
Kevin dan Ellena menikmati makan malamnya dengan tenang. Meskipun hanya berdua saja, tetapi suasana di meja makan terasa begitu hangat, perhatian yang Kevin berikan padanya membuat Ellena sangat terharu. Membuatnya percaya jika Kevin benar-benar mencintainya.
"Makan sayurnya yang banyak, supaya janin di dalam perutmu sehat." Kevin meletakkan tulis sayur dan sepotong daging salmon diatas piring nasi Ellena.
Wanita itu tersenyum lebar. "Terimakasih, suamiku. Kau sangat perhatian," ucapnya lalu memakan sayur dan potongan salmon itu.
Sebenarnya Ellena ingin sekali makan udang, tapi ayahnya melarangnya. Tuan Su mengatakan jika wanita hamil tidak boleh mengkonsumi udang, Ellena bertanya apa alasannya tetapi ayahnya itu malah memberi jawaban yang menurutnya kurang memuaskan.
"Key, aku ingin sekali makan udang. Tapi kata papa tidak boleh, padahal udang kan makanan kesukaanku," Ellena menghela napas.
"Kalau tidak boleh berarti jangan dimakan, turuti saja toh itu juga demi kebaikanmu. Lagipula masih banyak lauk yang bisa kau makan selain udang. Setelah melahirkan, kau bebas ingin makan udang sebanyak apapun juga." Ujar Kevin panjang lebar.
"Huft, baiklah."
Setelah makan malam. Ellena lanjut memakan salad buah yang Kevin belikan untuknya. Kebetulan dia memang ingin makan sesuatu yang manis dan segar. Dan salad buah adalah salah satu makanan kesukaan Ellena, bahkan sebelum dia hamil.
"Kau ingin mencobanya?" Tawar Ellena. Kevin menggeleng. Dia tidak terlalu menyukai mayonaise, makanya Kevin menolak untuk mencicipinya.
"Kau saja yang makan. Setelah ini pergi tidur, aku mau memeriksa beberapa email yang masuk ke laptopku dulu," Ellena mengangguk. Kebetulan dia juga sangat lelah dan ingin tidur lebih awal.
Setelah menghabiskan salad buahnya. Ellena langsung pergi ke kamarnya, sedangkan Kevin pergi ke ruang kerjanya untuk memeriksa beberapa email yang masuk. Kevin sengaja pulang lebih awal supaya bisa menemani Ellena makan malam.
Wanita itu selalu melewatkan makan malamnya jika dia tak ada di rumah. Akhirnya Kevin memilih mengalah dan menyelesaikan pekerjaannya di rumah.
-
-
Keadaan ibu dan anak itu benar-benar jauh dari kata baik. Tubuh mereka tak lagi terurus hingga muncul flek hitam dan jerawat di muka keduanya. Dan keadaan Vera lebih parah, dia kehilangan mahkotanya dan nyaris botak setelah rambutnya dicukur secara membabi buta oleh napi lama.
"Pijit yang benar!!" Bentak perempuan itu emosi.
"Ini juga sudah benar. Jangan mencari alasan lagi untuk menindas kami," pinta Ella sembari menatapnya.
Dengan murka wanita itu menarik rambut Ella hingga kepalanya mendongak kebelakang. Vera pun tak tinggal diam. "Apa yang kau lakukan pada ibuku?! Dia sudah tua, jangan memperlakukan dia dengan sekasar ini!!" Bentak Vera marah.
Tubuh Vera tersungkur ke lantai setelah mendapatkan dorongan keras dari wanita yang sedang menjambak kepala ibunya. Dengan tajam dia menatap perempuan itu.
"Kau, sebaiknya tidak usah ikut campur jika tidak ingin menanggung akibatnya!!"
"Ahhh, sakit. Lepaskan," pinta Ella sambil memegangi lengan perempuan ini.
"Dengar ya, Bibi. Jika kau ingin tetap aman disini, sebaiknya jangan banyak bertingkah. Atau kau akan tau sendiri akibatnya!! Aku paling benci di bantah, jadi jangan coba-coba membatahku!!"
Hidup mereka berdua sekarang bak di neraka. Mereka benar-benar mendapatkan karma dari semua perbuatan buruknya dimasa lalu. Dan apa yang mereka alami sekarang adalah buah dari apa yang dulu mereka tanam.
-
__ADS_1
-
Sinar pagi yang cerah menembus melewati jendela dan menerpa wajah Cantik Ellena yang masih tertidur pulas. Suara cicit burung gereja yang saling bersahut-sahutan ditambah dengan sinar mentari yang hangat namun menyilaukan itu seolah-olah tak mampu mengusik tidurnya.
Saat masih sekolah dulu. Ellena sering kali mendapatkan julukan sleeping beauty karena hal tersebut. Dia bisa tertidur pulas saat jam kosong atau ketika istirahat, dan parahnya lagi, Ellena sangat susah dibangunkan.
"Hei, putri tidur. Cepat bangun, ini sudah siang." Kevin mengundang pelan lengan Ellena dan memintanya untuk segera bangun.
"Hm, sebentar lagi. Aku masih ngantuk."
"Ini sudah siang, Sayang. Dan kau tidak bisa tidur lagi, cepat bangun lalu kita sarapan,"
"Aiss, kenapa kau sangat menyebalkan, Key?! Aku masih ngantuk dan kau malah memaksaku untuk bangun. Dasar pria menyebalkan!!" Ellena mempoutkan bibirnya kesal.
Dengan enggan dan sedikit malas. Ellena bangkit dari berbaringnya lalu merubah posisinya menjadi duduk. Dia masih mengumpulkan nyawanya sebelum pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dan dengan sabar, Kevin menunggunya sampai kedua mata Ellena terbuka sepenuhnya.
Setelah benar-benar bangun. Kevin menemaninya ke kamar mandi. Dia menunggu Ellena sampai istrinya itu selesai, karena jika tidak ditemani, bisa saja Ellena kembali tidur dan melanjutkan mimpinya yang sempat tertunda.
"Sampai kapan kau akan ikut disini?! Kevin, keluarlah!! Aku bisa mandi sendiri," rengek Ellena.
"Jangan bawel. Sudah cepat mandi dan aku akan menunggumu disini!!"
Ellena mendengus berat. Kenapa lelaki ini begitu menyebalkan. Dan Ellena tak memiliki pilihan lain selain mengijinkannya.
Setelah mandi dan berpakaian lengkap, mereka berdua pergi keluar untuk sarapan. Pelayan sudah menyiapkan beberapa hidangan yang semua sangat menggugah selera. Dan melihat menu apa yang ada diatas meja membuat nafsu makan Ellena menjadi bertambah, apalagi ada tumis cumi asam pedas kesukaannya.
"Makannya pelan-pelan saja. Tidak ada yang memintanya kok," ucap Kevin sambil menyeka nasi disudut bibir Ellena.
"Habisnya ini sangat lezat. Oya, Key. Kenapa kau masih di rumah. Apa kau tidak pergi ke kantor?" Ellena menatap suaminya itu penasaran.
Kevin menggeleng. "Aku bisa bekerja dari rumah sambil menemanimu. Terus terang saja, Ell. Aku tidak tega jika harus meninggalkanmu sendirian di rumah dengan kondisimu yang sekarang. Lagipula meskipun dari rumah aku masih bisa tetap bekerja." Ujarnya.
Ellena tersenyum lebar mendengarnya. Memang itu yang dia inginkan, tetapi dia tidak berani bilang. Tapi ternyata Kevin sangat peka dan bisa tau apa keinginannya.
-
-
Dion ditemukan tewas di dalam selnya. Tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuhnya. Dan luka-luka ditubuhnya adalah luka lama bekas perkelahiannya dengan napi lainnya. Tidak ada yang tau apa yang terjadi pada Dion, tapi tercium aroma menyengat dari mulutnya, seperti aroma racun.
Tubuh Dion diangkat dan dibawa ke ruangan khusus untuk diinvestigasi. Pihak kepolisian harus tau apa penyebab kematian pria itu sebenarnya. Karena serangan jantung atau karena racun.
Dan setelah menyelidiki dengan terperinci. Ditemukan adanya racun yang terkandung di dalam darahnya. Yang artinya penyebab kematiannya adalah racun. Dion meneguk racun untuk bunuh diri. Namun belum diketahui racun jenis apa yang Dion minum.
Dan yang menjadi pertanyaannya, dari mana Dion mendapatkan racun itu apalagi tidak ditemukan wadah bekas racun tersebut. Hingga polisi mengambil keputusan jika kematian Dion memang murni karena bunuh diri, dan kasus tentang kematiannya ditutup tanpa perlu diusut lagi.
Selanjutnya Dion akan dimakamkan di sebuah tanah kosong yang berada di belakang sel penjara. Pihak kepolisian tak bisa mengembalikan Dion pada keluarganya. Karena Dion tak memiliki siapa-siapa apalagi sanak keluarga.
-
__ADS_1
-
Bersambung.