
Dion buru-buru berjalan saat melihat Kevin berada di tempat yang sama dengannya. Dia terburu-buru ingin menghampiri teman lamanya itu yang sudah cukup tak ia temui karena kesibukan masing-masing.
Saking terburu-buru, Dion sampai rela meninggalkan Sarah di belakangnya, bukan karena ingin beramah tamah dengan pria bersurai keperakan itu, mereka sering melakukan hal itu beberapa hari belakangan.
Namun wanita yang berada di samping Kevin yang di asumsikannya sebagai istri temannya itu lah yang memicu dirinya. Ciri fisik dari wanita itu sama persis dengan wanita yang telah ia buang dari hidupnya.
Apalagi saat dia melihat wanita itu tersenyum dari kejauhan, senyum yang sama seperti senyum-senyum yang di lihatnya pada sosok wanita dari masa lalunya yang pastinya adalah Erica.
Pria bersurai hitam itu melihat Kevin yang berhenti di depan seorang pria berwajah kebarat-baratan, lalu memanfaatkan momen itu untuk mempercepat langkahnya.
Entah kekuatan apa yang menggerakkan tubuhnya. Dia benar-benar bergerak seperti kilat, menyalip diantara tamu-tamu yang memenuhi gedung itu.
"Kevin, tunggu!" Dion terpaksa memanggil Steven saat melihat pria blonde itu berjalan kembali. Sayangnya Kevin tak mendengar panggilannya, karena pria itu tetap berjalan tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya. Lebih tepatnya berpura-pura tidak mendengar.
Sesekali Stella menoleh kebelakang dan mendapati mantan suaminya itu tetap menyusul di belakang mereka. Lalu pandangannya bergulir pada pria yang berjalan di sampingnya.
"Kenapa kita harus menghindari dia?" tanyanya penasaran.
Kevin menoleh. "Bukan menghindari, Sayang. Aku hanya ingin membuat dia semakin penasaran padamu. Aku yakin, sedikit banyak pasti dia merasa familiar pada dirimu."
"Kenapa kau bisa berasumsi begitu?"
"Mau bertaruh?"
"Untuk apa?"
"Untuk yang aku katakan. Jika aku benar, mulai malam ini kau harus bersedia tidur satu kamar dan satu ranjang denganku. Tapi jika salah, aku akan membelikan sebuah mobil baru untukmu. Bagaimana?"
Stella tampak berpikir dan menimang penawaran suaminya itu. "Baik, aku setuju. Jika insting-mu salah, kau harus membelikan sebuah mobil untukku." Kevin mengangguk.
"Aku bukanlah tipe orang yang suka mengingkari janji. Aku pasti akan membelikanmu mobil baru."
"Setuju!!"
Bagaimana bisa Stella melewatkan penawaran yang begitu menarik, sebuah mobil baru, siapa tau dia bisa mendapatkan mobil yang menjadi impiannya selama ini. Stella tidak mau lagi menjadi bahan olok-olokan orang lain, karena dia juga layak untuk dihormati.
__ADS_1
Stella memberi kode pada Kevin saat melihat Dion berhasil menyusul dan sudah bisa ditebak apa yang akan dia lakukan setelah ini.
"Kevin," seru Dion, kemudian laki-laki itu menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang. "Benar, ini sungguh-sungguh dirimu. Lama tidak berjumpa kawan, kau semakin tampan dan gagah saja. Oya, wanita cantik di sampingmu ini, apa kau tidak ingin memperkenalkannya padaku?"
Dion menatap Stella dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sosoknya terlihat tidak asing tapi juga asing, dia begitu anggun dan menarik.
Dan ini pertama kalinya Dion merasa melihat wanita yang begitu cantik dan menarik, bahkan dia lebih menarik dari Sarah meskipun ukuran melon-nya lebih besar milik wanitanya tersebut.
"Maaf, tapi aku tidak bisa bersentuhan langsung dengan barang kotor yang belum disterilkan. Kevin, kau bilang ingin mengenalkanku dengan teman-temanmu, ayo pergi sekarang. Disini baunya terlalu menyengat, aku seperti mencium aroma sampah!!" Stella menatap sinis Dion dan pergi begitu saja.
Dion tertegun mendengar suara Stella yang begitu mirip dengan Erica, tapi penampilan dan tatapannya jelas sekali jika mereka berdua adalah orang yang berbeda. Dan Dion segera menepis pikiran bodohnya, bagaimana mungkin orang yang sudah mati bisa hidup kembali.
PLAKKK...
Wajah Dion menoleh kesamping setelah sebuah tamparan keras mendarat pada pipi kanannya. Membuat semua tamu undangan tercengang. Siapa lagi yang melakukannya jika bukan Sarah.
"Sarah!! Apa-apaan kau ini, apa kau gila, kenapa kau tiba-tiba menamparku?!" Bentak Dion emosi.
"Kau pria brengsek, bagaimana bisa kau meninggalkanku dan mengejar perempuan lain yang jelas-jelas dia sudah memiliki pasangan. Apa kau berniat mempermalukanku?!" Teriak Sarah tak mau kalah.
"Alasan, dasar buaya, sudah tertangkap basah juga masih berani mengelak. Jangan harap kau bisa mendapatkan jatah dariku, sebaiknya kau berpuasa selama 7 hari 7 malam. Aku tidak sudi melayanimu lagi!!" Sarah mendorong Dion dan pergi begitu saja.
"Dasar wanita gila!!"
Dadi kejauhan Stella dan Kevin menatap mereka dengan pandangan mengejek. Sebuah hiburan yang menarik, gratis pula. Tapi sayang hanya berlangsung singkat. Tapi itu sudah lebih dari cukup untuk permulaan.
"Kau kalah dariku, Nona. Ingat kesepakatan kita dan tepati janjimu!!" Bisik Kevin dan sontak Stella menoleh padanya.
Wanita itu berdecak sebal. "Aku tidak pikun, Tuan Muda Nero. Kau boleh berbangga hati karena memenangkan taruhan ini!! Disini sangat membosankan, bisa kita pergi saja. Aku ingin menghirup udara di luar sana."
"Kebetulan sekali, aku juga sudah mulai muak di keramaian seperti ini," jawab Kevin menimpali.
Setelah berpamitan pada kedua mempelai. Keduanya meninggalkan pesta. Kevin dan Stella memiliki satu kesamaan, yakni mereka sama-sama membenci keramaian.
-
__ADS_1
-
"Kau sedang melamunkan apa? Putri tidak bergunamu itu yang sekarang sudah menjadi makanan cacing-cacing tanah?!"
Tuan Song mengangkat wajahnya dan menatap istrinya dengan tajam. Dia sedang berdua dan bisa-bisanya istrinya itu mengatakan kata-kata yang menusuk perasaannya. Tuan Song berdiri dan menampar wajah wanita itu dengan keras.
"Cindy Kim, jaga bicaramu!!" Bentaknya marah. Cindy memegang pipinya yang baru saja ditampar oleh suaminya dan membalas tatapan tajamnya.
"Hwan, berani sekali kau menamparku?!!" Bentak Cindy dengan suara meninggi.
"Diam kau!! Kau tidak berada diposisiku. Bagaimana pun juga Erica, adalah putriku, darah dagingku. Dan memangnya ayah mana yang tidak akan sedih dan berduka saat tau putrinya meninggal. Bagaimana jika yang meninggal adalah Sarah, apa kau masih bisa bicara seperti ini?!" Teriaknya emosi.
Cindy membanting vas kristal yang ada diatas meja dan pergi begitu saja. Meninggalkan suaminya yang masih dikuasai emosi. "Dasar merepotkan. Tidak ibunya, tidak putrinya, semua sama saja, sama-sama pembawa sial!!"
-
-
Kevin melepaskan jasnya dan menyampirkan di bahu Stella. Wanita itu tersenyum tipis, meskipun Kevin adalah pria dingin, tapi dia cukup peka. "Thanks," ucap Stella mengakhiri keheningan.
"Aku tidak menduga jika kau akan memberikan tamparan keras pada mantan suamimu dengan kata-katamu. Kau memang penuh kejutan, Nona."
Stella tersenyum tipis. "Aku anggap itu sebagai pujian. Aku benar-benar sudah muak padanya. Melihat sikap dan perilakunya membuatku ingin muntah. Sampah seperti dia memang sangat cocok dengan wanita murahan. Bukankah mereka adalah kesatuan yang sempurna?"
Kevin menyulut rokoknya lalu menghisapnya dalam-dalam. Kepulan asap putih membumbung tinggi saat dia menghembuskan napas. "Ya, dan drama ini akan semakin menarik jika mereka tau kebenarannya jika sebenarnya kau belum meninggal."
"Suatu hari nanti aku akan muncul kembali dihadapan mereka sebagai Erica, diwaktu yang tepat, saat mereka mulai hancur satu persatu!!"
"Aku menyukai dirimu, kau wanita yang kuat dan tangguh. Dan sebagai suamimu, aku selalu berdiri dipihakmu. Sudah malam, ayo kita pulang. Kau harus menepati janjimu,"
"Dasar m*sum!!"
-
-
__ADS_1
Bersambung.