
"Nona Erica berdasarkan hasil analisis laboratorium, Anda terkena penyakit Demensia"
Erica menutup matanya saat kata-kata dokter Kang kembali terngiang dikepalainya. Dia mengidap penyakit yang sama seperti yang diidap oleh mendiang ibunya 'Demensia'.
Demensia sendiri merupakan penyakit keturunan yang mengakibatkan si penderitanya mengalami penurunan mental, biasanya berkembang perlahan dan makin lama makin parah.
Penyakit gangguan dalam ingatan dan sulitnya untuk mengingat kejadian yang si penderita alami, bahkan dalam tahap terparah, mungkin si penderira tidak akan bisa menjalankan fungsi sosial dalam lingkungan dengan baik.
Berbeda dengan Alzheimer, sebagian kecil pengidap demensia masih bisa disembuhkan asalkan ditemukan penyebabnya, itupun tak lebih dari 5% saja. Dan pengidap Demensia akibat faktor keturunan juga hanya beberapa persen saja, dan Erica terpilih sebagai salah satu dari sebagain kecil itu.
Cklekk...
Buru-buru Erica menghapus air matanya dan menyimpan kertas di tangannya ke dalam laci saat mendengar suara decitan pintu dibuka dari luar. Erica kemudian berdiri dan menghampiri Kevin yang datang sambil memegangi kepalanya.
"Ada apa? Apa kepalamu pusing lagi, duduklah dulu. Aku ambilkan obatmu." Erica membantu Kevin untuk duduk lalu beranjak untuk mengambil obatnya.
Kevin mengulurkan pandangannya pada laci kecil disamping tempat tidurnya. Saat masuk tadi tanpa sengaja dia melihat Erica memasukkan sebuah kertas dengan terburu-buru. Kevin juga melihat jejak air mata di bulu matanya. Dan dia pun semakin yakin jika Erica memang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Ini obatmu, minum dulu." Erica memberikan beberapa butir obat dan segelas air putih pada Kevin.
Kevin tak langsung menerima obat dan air putih yang Erica sodorkan padanya. Dia malah menatap Erica dengan tatapan tak terbaca. Membuat wanita itu menjadi sedikit gugup dan salah tingkah.
"Ke..Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa ada yang salah di wajahku? Jangan membuatku gugup."
"Apa kau baik-baik saja?" Kevin menatap Erica penuh tanya, berharap wanita itu memberikan sebuah jawaban yang membuatnya tidak bertanya-tanya lagi.
"Aku baik-baik saja. Kenapa kau bertanya begitu? Apa aku tidak terlibat baik-baik saja?"
Kevin menggeleng. "Bukan, hanya saja kau terlihat sedikit lebih pucat dari biasanya."
Erica memalingkan mukanya dari Kevin. "Itu hanya perasaanmu saja, karena aku baik-baik saja. Sebaiknya cepat minum obatmu, setelah ini aku ganti perbannya." Erica bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.
Kevin menatap punggung Erica yang semakin menjauh dengan tatapan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, Erica bersikap aneh.
__ADS_1
Dan sikap Erica membuat Kevin semakin yakin jika istrinya itu menyembunyikan sesuatu darinya. Kevin sedang menunggu informasi dari Leon, dia meminta asistennya itu untuk menyelidiki obat apa yang sebenarnya diminum oleh Erica.
Tak sampai lima menit Erica kembali dengan sebuah kotak p3k. Wanita itu menghampiri Kevin kemudian duduk di depannya. "Ini sudah hari kelima, tapi kenapa luka-lukanya masih belum kering sepenuhnya. Bahkan luka jahitnya juga terlihat memerah," ujar Erica ditengah kesibukannya melepas perban yang membebat luka-luka Kevin.
Padahal luka itu tidak tertutup perban sepanjang hari. Saat malam hari Erica melepas perbannya dan baru pagi dia menutup kembali luka itu dengan perban.
Erica menghentikan gerakan tangannya dengan tiba-tiba.
"Ada apa?" Tanya Kevin kebingungan.
"Luka-luka ini, bagaimana kau bisa mendapatkannya?" Ucap Erica sambil menatap Kevin dengan pandangan bertanya.
Mata Kevin memicing. Dia pun semakin bingung. "Kau tidak ingat bagaimana aku mendapatkan luka-luka ini?" Erica menggeleng. Kevin pun semakin yakin jika Erica memang tidak dalam keadaan baik-baik saja. "Beberapa hari yang lalu aku mengalami kecelakaan tunggal, dan luka-luka ini aku dapatkan dari kecelakaan itu." Jelas Kevin.
Erica tiba-tiba tertawa. "Hahaha.. Kenapa kau serius sekali, padahal aku hanya berpura-pura saja. Bagaimana mungkin aku bisa lupa, kau kecelakaan karena menghindari anak kecil kan? Aku hanya mengetes saja, tapi kenapa kau menanggapinya dengan serius."
"Kau membuatku kebingungan, aku pikir otakmu sedang bermasalah."
Erica terkekeh. "Tidak, otakku baik-baik saja. Istirahat saja, aku keluar dulu untuk menyiapkan makan malam." Wanita itu memegang sisi wajah Kevin dan pergi begitu saja.
Kevin membaca rentetan huruf yang membentuk sebuah kalimat. Mata Kevin tak lepas sedikit pun dari tulisan-tulisan tersebut. Kevin membaca tulisan itu tanpa suara tapi mampu menusuknya begitu dalam.
"Demensia," sampai satu kata terucap lirih dari bibirnya.
Kevin jatuh terduduk, ia benar-benar syok dengan apa yang menimpa Erica. Diusianya yang masih belum genap 30, dia sudah terkena penyakit Demensia. Dan Kevin tidak tau apa alasan Erica menyembunyikan mengenai penyakitnya itu darinya.
Ponsel Kevin tiba-tiba berdering, setelah mengembalikan kertas itu ketempat semula. Kevin beranjak dan meninggalkan kamarnya. Leon menghubunginya dan menyatakan jika dia sudah mengetahui sebenarnya obat apa yang diminum oleh Erica.
-
-
Sepasang kelopak mata itu terbuka perlahan. Dan hal pertama yang terlihat olehnya adalah sebuah ruangan serba putih dengan berbagai peralatan medis yang selama beberapa Minggu menjadi penopang hidupnya.
__ADS_1
Melihat paruh baya itu sudah sadar, seorang pria segera menghampirinya.
"Tuan, Su. Anda sudah sadar, saya akan segera memanggil dokter dan menghubungi tuan muda Nero," ucap pria berjas itu.
"Air, aku haus. Berikan air,"
Pria itu pun lantas berhenti. Dia kembali setelah mendengar apa yang diminta oleh paruh baya tersebut. "Minum dengan pelan-pelan saja, Tuan."
"Dimana istri dan putriku? Kenapa aku tidak melihat mereka?"
"Mereka tidak ada disini, Tuan. Nona Vera dan Nyonya Ella berada di rumah. Selama Anda koma, tuan Kevin tidak mengijinkan siapa pun untuk menemui Anda termasuk Nona dan Nyonya. Dan hal itu semata-mata beliau lakukan untuk menjaga kondisi Anda agar tetap stabil,"
"Menantuku, suruh dia kemari. Aku ingin bertemu dengannya."
"Akan segera saya hubungi, Tuan."
Kemudian pria berjas itu meninggalkan Tuan Su sendiri di ruangannya. Dia harus menemui dokter dan menghubungi Kevin. Tuannya itu harus tau jika ayah mertuanya sudah sadar dari komanya.
-
-
Setelah mendapatkan kabar jika Tuan Su sudah siuman, Kevin pun bergegas menuju rumah sakit. Dia tidak hanya sendiri saja, Erica ikut bersamanya. Bahkan Kevin sampai menunda pembicaraannya dengan Leon.
30 menit berkendara, mereka tiba di rumah sakit tempat Tuan Su di rawat. Beberapa penjaga yang menjaga di depan ruang inap lelaki 56 tahun itu membungkuk melihat kedatangannya.
Di dalam ruangan ada seorang dokter dan juga orang yang menghubunginya tadi. Kevin dan Erica menghampiri mereka, benar saja, ayah mertuanya sedang duduk dan menjawab beberapa pertanyaan dari dokter.
"Pa, kau sudah siuman." Seru Kevin setibanya dia di depan Tuan Su.
"Kevin, kau sudah tiba, Nak." Ucapnya lirih. Lalu pandangannya bergulir pada sosok wanita yang berdiri disamping menantunya tersebut. Mata Tuan Su membulat sempurna melihat keberadaan Erica. "Ellena, Putriku!!!'
-
__ADS_1
-
Bersambung.