Menikah Lagi Untuk Balas Dendam

Menikah Lagi Untuk Balas Dendam
Akhir Yang Indah


__ADS_3

Suara gelegar halilintar malam itu seolah memberi selamat pada sosok mungil yang baru saja melihat dunia, tangis nya yang keras seakan beradu dengan suara riuh hujan yang tengah mengguyur kota Seoul malam itu.


Tangis haru dan senyum bahagia pun tak lepas dari bibir peia yang sejak tadi menunggu dengan cemas di depan ruang bersalin di salah satu rumah sakit di Seoul.


Jika ada yang bertanya apa pria itu adalah ayah sang jabang bayi yang baru terlahir itu, maka jawabannya adalah iya. Dan nyatanya dia memang ayah dari bayi itu, bayi mungil berjenis kelamin perempuan.


Kevin memasuki ruangan bersalin dan mendapati Ellena yang sedang menitihkan air mata bahagianya. Kevin menghampiri sang istri lalu mencium keningnya.


"Kau wanita yang hebat, Sayang. Terimakasih telah menyempurnakan hidupku."


"Apa kau sudah melihat anak kita?"


Kevin mengangguk. "Ya, dia secantik dirimu. Dan aku akan memberinya nama~"


"Stella~" Ellena menyela ucapan Kevin dengan cepat. "Beri nama dia Stella," Kevin tersenyum dan kemudian mengangguk.


Dan akhirnya bayi mungil itu pun diberi nama Stella oleh kedua orang tuanya. Sebenarnya Kevin ingin memberikan nama itu pada putri kecilnya, tapi dia takut akan melukai perasaan Ellena. Tapi siapa yang menyangka jika Ellena malah menamai bayi cantik mereka dengan nama 'Stella'.


"Kau setuju kan?" Ellena menatap suaminya.


Kevin mengangguk seraya tersenyum. "Ya, aku setuju."


Meskipun Stella sudah lama tiada, tetapi mereka berdua tetap ingin mengenangnya. Meskipun kini ada Ellena disisinya, tetapi bagaimana pun juga Stella pernah menjadi bagian terpenting dalam hidup Kevin. Dan Ellena sendiri tidak ingin jika Kevin sampai melupakan mendiang istrinya itu. Karena bagaimana pun juga mereka berdua pernah saling mencintai.


-


-


Pagi begitu cerah. Burung pipit berkicau riang di atas dahan. Di sebuah bukit hijau yang, terlihat beberapa pria dan dua orang wanita, satu dewasa satu anak-anak duduk di atas tikar di bawah pohon Sakura yang terus berguguran. Di depan mereka tersaji berbagai jenis manakan berbeda yang cukup menggugah selera.


Si wanita tersenyum melihat bagaimana kedua buah hatinya mengerjai dua pemuda dengan menjadikan mereka sebagai kuda

__ADS_1


"Stella, cepat turun, kasian paman Leon dan paman Sean. Mereka terlihat lelah." seru wanita itu yang tak lain adalah Elle a.


Gadis kecil itu menggeleng. "Tidak mau, ma ini adalah hukuman karena paman tampan sudah berani membohongiku." Ujar Stella menyahuti.


Ellena memicingkan matanya. "Hm, jadi kalian masih dendam pada mereka?" tanya wanita itu yang segera di balas anggukan oleh putri kecilnya.


Sementara itu. Kevin terlihat berbincang bersama ayah mertuanya. "Rasanya Papa tidak percaya jika hari ini akan tiba. Kau dan Ellena akan saling mencintai bahkan kalian memiliki seorang buah hati yang sangat cantik. Papa sangat terharu, Key." Ujar Tuan Su.


"Jika aku tidak bertemu Ellena mungkin keadaannya akan berbeda. Aku pikir aku telah kehilangan arah hidupku karena kepergian Stella. Kemudian Ellena datang dalam hidupku dan akhirnya semua berubah, aku jatuh cinta lagi pada wanita lain dan itu sungguh tak pernah terpikir olehku, Pa."


"Itu karena dia special." ucap Tuan Su menyahuti.


"Papa....???"


Perhatian kedua pria itu teralihkan karena teriakan lantang seorang anak kecil. Terlihat Stella melambaikan tangan pada Kevin, mengisyaratkan agar sang ayah menghampiri dirinya. Kemudian Kevin beranjak dari posisinya kemudian melenggang menghampiri sang putri.


"Pa kemarilah, lihatlah ternyata Mama memasak begitu banyak makanan untuk kita." seru Stella sambil menarik lengan ayahnya.


"Maaf, kami datang terlambat." seru seseorang dari arah belakang. Mereka adalah Susan dan suaminya. Ellena juga meminta Susan untuk datang dan ikut berlibur bersama keluarga besarnya.


"Dimana Paman Kim, kenapa dia tidak ikut juga?" Tanya Ellena saat tak mendapati ayah sahabatnya itu.


"Encoknya kambuh, jadi papa memutuskan untuk tidak ikut." Ujar Susan.


"Huaaa... kelihatannya sangat lezat." seru Frans yang kemudian duduk di samping kiri Leon dan Sean.


"Paman, kau datang hanya dengan tangan kosong? Apa tidak ada hadiah untukku?" tanya Stella pada Frans.


"Tentu saja ada, mainan model terbaru dan limited edition. Ini Bibi Susan yang memilihnya untukmu princess," Frans kemudian memberikan bingkisan yang mereka bawah pada si cantik.


"Huaaa... terimakasih paman." turun dari pangkuan ayahnya dan menghambur memeluk pria itu. Kevin dan Ellena sama-sama mendengus, mereka merasa geli dengan tingkah putrinya yang selalu saja menggemaskan.

__ADS_1


Setelah makan siang. Mereka memutuskan untuk berbincang ringan. Stella bermain kejar-kejaran bersama Sean dan Leon dan menjadikan mereka sebagai kuda lalu memaksa Sean untuk menari balet, gelak tawa mewarnai kebersamaan mereka bertiga.


Ellena dan Kevin yang menyaksikan hal itu tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Kehadiran mereka melengkapi kebahagiaan mereka, dan janin yang ada di dalam rahim Ellena akan semakin menyempurnakan keluarga kecil itu.


Ya, saat ini Ellena memang sedang hamil muda. Usia kandungannya baru memasuki minggu ke 3 dan sejak wanita itu di nyatakan hamil oleh Dokter. Kevin memutuskan untuk berhenti bekerja sementara waktu dan mempercayakan perusahaannya pada Sean.


Kevin ingin mendampingi Ellena di masa 3 bulan kehamilannya, karena fase itu adalah saat yang paling berat untuk wanita yang sedang hamil.


Ellena menyandarkan kepalanya di bahu Kevin dengan tangan lelaki itu melingkari pinggangnya. "Lihatlah dia, Key. Melihatnya tertawa seperti itu membuatku merasa hangat."


"Kau benar. Aku pun merasa demikian, aku juga sudah tidak sabar menunggu janin di dalam rahimmu lahir ke dunia ini. Pasti rumah akan semakin ramai dengan suara tangis bayi."


Ellena memainkan jari-jari Kevin yang ada di genggamannya. Sudut bibirnya tertarik keatas menciptakan lengkungan indah di wajah cantiknya. Wanita itu memposisikan kepalanya senyaman mungkin di dada Kevin dengan pandangan lurus ke depan. Lebih tepatnya pada buah hatinya yang sedang bersenda gurau dengan Sean dan Leon.


Melihat Ellena tersenyum selebar itu membuat Kevin ikut tersenyum juga, ayah satu anak itu mencium kepala Ellena lama. Dan kemesraan mereka mengundang rasa iri para BU-DI yang menyaksikan langsung secara live.


Rasanya mereka juga ingin segera menemukan pasangan hidup agar tidak mendapatkan julukan mengerikan itu lagi. Merasa kasihan, Ellena dan Kevin memutuskan untuk memisahkan diri dari mereka semua.


Dan di sini mereka sekarang. Berdiri di atas jembatan di atas anak sungai. Mereka berdiri bersebelahan, tangan Kevin memeluk bahu Ellena. Berdiri menyaksikan matahari tenggelam, semburat jingga yang menghiasi langit menambah kesan romantis.


Di bawah langit senja dan di saksikan oleh sang surya yang mulai terbenam, Kevin mencium dan mel*mat bibir ranum Ellena. Menyalurkan rasa cinta yang membuncah di hati mereka, dan melalui ciuman itu Kevin ingin menyampaikan betapa ia sangat mencintai wanita ini dan begitu pula sebaliknya.


Benang merah yang dulu memisahkan mereka dan benang merah pula yang akhirnya menyatukan mereka.


.


.


.


THE END:

__ADS_1


__ADS_2