Menikah Lagi Untuk Balas Dendam

Menikah Lagi Untuk Balas Dendam
Penyusup


__ADS_3

Cindy dan Tuan Song saling bertukar pandang saat melihat seorang wanita muda yang sedang duduk santai di ruang tamu kediaman mereka. Wajahnya terlihat tidak asing, tetapi mereka berdua merasa tidak kenal dengannya.


Wanita itu bangkit dari duduknya lalu menghampiri pasangan suami-istri tersebut. Seringai tampak di bibir ranum tipisnya.


"Ada apa dengan kalian berdua, kenapa hanya bengong saja? Apa kalian tidak ingin menyambut ku pulang? Pa, apa kau tidak merindukan putrimu?" Ucap wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Erica.


"Kau~"


"Benar Mama tiri, ini aku.. Erica!!" Ucap Erica seolah tau apa yang Nyonya Cindy pikirkan.


Tuan Song menatap wanita muda di depannya itu dengan pandangan tak percaya. "Kau, Erica? Apa kau sungguh-sungguh Erica putriku? Bukankah kau sudah tiada? Erica, jadi kau masih hidup Nak?" Seru Tuan Song dan langsung memeluk putrinya itu.


Alih-alih membalas pelukan ayahnya. Erica malah mendorongnya dan memaksa melepaskan pelukannya. "Jangan sembarangan memelukku, Pa!! Karena aku bukan lagi putrimu sejak kau mengusirku keluar dari rumah ini demi ibu dan anak ini!!" Ucap Erica sambil menunjuk Ibu tirinya.


"Erica, kau~"


"Dan kepulanganku kali ini adalah untuk meminta hak-ku sebagai putrimu. Aku ingin, 30% saham di perusahaanmu menjadi milikku. Dan aku rasa itu tidak sebanding dengan uang yang telah kau keluarkan untuk istri mudamu dan putrinya. Besok pengacaraku akan datang untuk mengurusnya."


"Erica, kau~" teriak Cindy penuh emosi.


"Tidak perlu berteriak begitu ibu tiri, lagipula dibandingkan kau dan putrimu yang sampah itu aku jauh lebih berhak atas semua harta keluarga Song. Karena apa?! Karena semua kekayaan yang kalian nikmati selama ini adalah harta milik ibuku!!"


Tuan Song diam dan tak mampu berkata-kata lagi. Putrinya yang polos dan bodoh itu dalam sekejap mata telah berubah menjadi seekor singa betina yang sangat mengerikan, ia tidak tau apa yang membuat Erica bisa berubah sedrastis ini.


"Cukup! Tidak perlu berdebat lagi. Baiklah Papa akan memberikan 30% saham yang kau minta. Tapi jangan pernah menganggu Ibu dan kakakmu lagi, mereka adalah orang-orang baik, dan mereka tidak tau apa-apa."


Erica menyeringai sinis. "Orang-orang baik ya?! Apa Papa sungguh berfikir begitu? Tapi okelah aku akan menganggap begitu, toh aku juga sudah mendapatkan apa yang aku inginkan. Papa jaga diri baik-baik ya. Dan ibu tiri yang sangat-sangat baik hati, tolong jaga pria tua ini ya. Aku pergi dulu ya. Bye, bye," Erica memakai kembali kaca mata hitamnya dan melenggang pergi meninggalkan kediaman ayahnya.

__ADS_1


Dua masalah telah teratasi, tetapi hal ini tentu belum berakhir, karena permainan yang sebenarnya baru saja dimulai. Dan Erica akan mengajak mereka semua untuk bersenang-senang. Karena tidak adil jika hanya begini saja.


-


-


Kevin hanya menatap datar pada pria yang sedang tersungkur di lantai ruangannya dalam keadaan babak belur. Dia adalah seorang penyusup yang datang untuk mengambil beberapa dokumen penting miliknya.


Leon memergokinya ketika pria itu memasuki ruangan Kevin saat sang atasan sedang pergi rapat dengan beberapa koleganya. Dia menyamar sebagai cleaning service agar bisa lebih leluasa masuk ke dalam ruangan Kevin tanpa dicurigai.


"Aku bukanlah orang yang sabaran, cepat beri tahu aku siapa yang sudah menyuruhmu?" Kevin menahan emosinya yang sudah meledak-ledak itu. Pria di depannya ini benar-benar sudah menguji kesabarannya.


"Tidak ada gunanya bicara baik-baik dengan orang seperti ini, Presdir. Sebaiknya langsung bawa saja ke kantor polisi," saran Leon, dia sendiri juga mulai geram.


Kevin menggeleng. "Itu bukan solusi, di pukuli sampai mati pun dia tidak akan mengaku. Libatkan keluarganya, jika dia tetap tidak mau memberi tahu siapa yang sudah mengirimnya, bunuh saja seluruh keluarganya!!" Perintah Kevin mutlak.


Pria itu mengangkat wajahnya yang penuh luka dan menggeleng kuat. "Ti..Tidak, tolong jangan lakukan itu. Jangan libatkan mereka dalam masalah ini, mereka tidak bersalah dan juga tidak tau apa-apa. Jadi saya mohon, jangan libatkan mereka, mereka sungguh-sungguh tidak bersalah."


"MAKANYA CEPAT KATAKAN!!" bentak Kevin emosi.


Pria itu mengangkat tangannya yang gemetar lalu menunjuk tengkuknya. Kevin memicingkan matanya. Lalu dia meminta Leon untuk memeriksanya, rupanya ada alat perekam di belakang telinganya. Yang membuat seseorang bisa mendengar apa yang mereka bertiga bicarakan.


Kevin menghela napas. Ternyata bukan orang bodoh, ia pun mengganti cara berkomunikasi dengan pria tersebut. Kevin mengambil pulpen dan kertas kosong lalu menulis sebuah pertanyaan di-sana.


Pria itu kemudian mengambil kertas kosong tersebut dan menulis sesuatu di-sana. 'Yang mengirim saya adalah Tuan Martadinata untuk mengambil data-data penting milik perusahaan Anda,'


'Maaf, Tuan, saya tidak berani bicara karena berada dibawah ancamannya. Saat ini ibu dan adik saya sedang berada di tangannya. Dan jika saya berani macam-macam. Tuan Martadinata akan membunuh mereka berdua,'

__ADS_1


Kevin mengambil napas panjang dan menghelanya. Ia pun segera memerintahkan Leon dan beberapa anak buahnya untuk pergi ke tempat Dion, ibu dan adik laki-laki ini harus diselamatkan karena mereka tidak tau apa-apa. Sama seperti putranya, mereka juga hanya seorang korban.


"Kau sudah aman sekarang, dia tidak akan bisa mengancam-mu lagi, orang-orangku sedang bergerak menuju tempat bajingan itu untuk menyelamatkan mereka berdua. Pergilah ke rumah sakit dan segera obati semua luka-lukamu!!" Kevin melemparkan segepok uang pada pria itu dan memintanya untuk pergi.


Selang beberapa saat selepas kepergiannya. Pintu ruang kerja Kevin kembali terbuka, dan kali ini yang datang adalah Erica.


"Selamat malam, Presdir. Apakah saya mengganggu waktu Anda?" Ucap perempuan itu sambil terkekeh.


Kevin menoleh. Dia meninggalkan mejanya lalu menghampiri si wanita yang pastinya adalah Erica. "Kenapa kau bisa ada disini? Bukankah kau bilang kau sedang ada urusan, apakah urusanmu itu sudah selesai?" Kevin menarik Erica ke dalam pelukannya.


Erica mengangguk. "Aku dengar kantor sedang ada masalah, jadi aku memutuskan untuk datang kemari. Karena aku berpikir kau ada disini," ujar Erica. "Oya, apa kau sudah makan malam? Aku belum sempat, bagaimana kalau kita makan malam sama-sama?"


"Kebetulan sekali aku memang belum makan malam. Kau ingin makan malam dimana?" Tanya Kevin.


"Em, bagaimana kalau kita makan makanan Eropa?" Usul Erica.


Mata Kevin memicing. "Tumben sekali biasanya kau selalu mengajak makan di kedai sederhana, kenapa sekarang malah mengajak makan di restoran Eropa?"


"Memangnya siapa yang bilang kita akan makan di restoran Eropa? Aku kan bilang makan, makanan Eropa. Lagipula banyak cafe dan kedai yang menjual makanan Eropa dengan rasa yang berani di saingkan dengan restoran-restoran ternama."


"Sudah ku duga, baiklah ayo berangkat sekarang."


"Oke,"


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2