
Kevin sedang rapat bersama beberapa koleganya ketika Leon tiba-tiba mengetuk pintu lalu memasuki ruangan.
Lelaki berkacamata itu membungkuk dan meminta maaf karena sudah mengganggu jalannya rapat. Tapi keadaannya sangat darurat. Ia menghampiri Kevin untuk menyampaikan sesuatu yang sangat penting.
Leon mendekati Kevin lalu berbisik pelan ditelinga kanannya. "Tuan, Nyonya mengalami kecelakaan dan sekarang beliau berada di Seoul Hospital,"
"APA?!"
Kevin berseru kencang setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Leon, Ellena mengalami kecelakaan dan sekarang dia berada di rumah sakit.
Tanpa peduli rapat yang masih belum berkahir. Kevin pun segera pergi ke rumah sakit untuk memastikan keadaan Ellena. Kevin sangat cemas jika luka yang dialami oleh istrinya sampai parah.
-
-
Seorang pria terus mondar-mandir di depan ruang UGD. Dia cemas dan takut jika keadaan wanita yang tidak sengaja ia tabrak sampai parah mengingat jika dia terluka di bagian kep*la.
Sudah hampir setengah jam, tapi belum ada tanda-tanda dokter maupun perawat keluar dari ruangan tersebut. "Ya Tuhan, semoga keadaannya baik-baik saja." Lirihnya bergumam.
Cklekk..
Suara pintu dibuka dari dalam mengalihkan perhatiannya. Pria itu menoleh dan mendapati seorang dokter keluar dari dalam sana. Ia pun segera menghampiri dokter tersebut guna memastikan keadaan perempuan yang ia tabrak tadi.
"Dokter, bagaimana keadaannya? Apakah wanita itu baik-baik saja?"
Dokter laki-laki itu mengangguk. "Dia baik-baik saja. Hanya sedikit luka di kep*la bagian belakang dan juga pelipis kanannya. Luka-lukanya sudah dijahit dan ditutup perban, Anda tidak perlu cemas dan khawatir." Dokter itu menepuk bahu pria tersebut dan pergi begitu saja.
Ia pun bisa menghela napas lega. Perempuan itu baik-baik saja. Dia hanya perlu membayar tagihan rumah sakit sebagai bentuk pertanggungjawaban, kemudian pergi. Dia ingin sekali tetap di-sana sampai keluarga perempuan itu datang. Tetapi masih banyak paket yang perlu ia antar.
Tak berselang lama setelah kepergian laki-laki setengah baya itu. Dua orang pria tiba di rumah sakit dan mengaku sebagai keluar dari perempuan yang menjadi korban kecelakaan, mereka pun langsung diarahkan kesebuah ruang inap kelas ekonomi.
Namun detik itu juga, salah satu dari kedua lelaki tersebut meminta supaya perempuan itu dipindahkan ke ruang VIP.
-
-
Ellena berbaring dengan sebuah perban melingkari keningnya hingga belakang kepala. Tampak bercak darah pada kasa yang menutup luka di pelipis kanannya.
Wanita itu mengalami kecelakaan dan terluka ringan. Dia belum sadarkan diri sampai detik ini karena masih dalam pengaruh obat b!us.
__ADS_1
Beruntung tidak ada luka serius, hanya luka pada pelipis kanannya dan luka ringan di-k*pala bagian belakangnya. Ada juga luka gores pada tulang pipi kirinya yang juga sudah tertutup perban.
"Tuan, apa perlu penabrak Nyonya saya bawa kemari?" Tanya Leon.
Kevin menggeleng. "Tidak perlu. Dia sudah bertanggung jawab saja itu cukup. Masalah ini tidak perlu diperpanjang lagi, yang penting Ellena baik-baik saja!! Kembalilah ke kantor dan selesaikan pekerjaanku yang sempat aku tinggalkan tadi."
Leon membungkuk. "Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu." Ucapnya dan pergi begitu saja.
Kevin menatap Ellena yang masih belum sadarkan diri dan menghela napas panjang. Melihat Ellena terbaring tak berdaya seperti ini membuat hatinya terasa perih. Dia rela menggantikan posisi Ellena asal wanitanya baik-baik saja dan tidak merasakan sakit sama sekali.
Kelopak mata itu terbuka perlahan-lahan. Pandangan Ellena kemudian menyapu dan mendapati dirinya berada disebuah ruangan asing yang seluruh dindingnya di cat warna putih dengan aroma yang begitu khas.
"Ell, kau sudah sadar." Seru Kevin saat mendapati kedua mata Ellena terbuka sempurna.
"Kita ada dimana? Dan kenapa aku bisa berada disini, apa yang terjadi padaku?"
"Sekarang kau berada di rumah sakit. Kau mengalami kecelakaan lalu lintas dan orang yang menabrakmu kemudian membawamu kemari." Jelas Kevin.
Ellena menutup matanya dan mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Yang Ellena ingat dia hendak menyebrang, dan setelah itu semua tiba-tiba menjadi gelap, ia pun tak bisa mengingat apapun lagi.
"Ya aku ingat, tadi aku hendak menyebrang. Tapi sebuah motor melaju kearah-ku, dan setelah itu aku tidak ingat apapun lagi."
"Baiklah,"
-
-
Bruggg...
Tuan Song menjatuhkan tubuhnya pada lantai ruang kerjanya dengan lemas. Tanpa sepengetahuannya, Cindy telah menjual perusahaan dan sisa saham miliknya lalu membawa kabur semua uangnya ke luar negeri.
Song Ho benar-benar jatuh miskin sekarang. Dia telah kehilangan semua harta miliknya termasuk rumah mewah yang selama ini ia tempati bersama Cindy dan mendiang Sarah. Rumah itu disita oleh pihak B*nk karena ia tidak mampu membayar hut*ng-hut*ngnya.
"Silahkan keluar dari perusahaan ini, karena kantor ini bukan milik Anda lagi!!"
Song Ho mengangkat wajahnya dan menatap tajam pria di depannya. "DIAM KAU!!" bentaknya emosi. "Aku tidak mau pergi, ini kantorku dan aku tidak merasa telah menjualnya. Kalianlah yang seharusnya pergi dari sini!!" Dia berteriak dan mengusir orang-orang yang mengusirnya tadi.
"Bawa dia keluar dan jangan ijinkan dia masuk lagi ke dalam kantor ini!!" Perintah pria berkacamata itu pada dua pria yang berdiri di belakangnya.
"Baik, Tuan!!"
__ADS_1
Song Ho dibawa keluar dari ruangannya dengan sangat tidak hormat. Dia menjadi pusat perhatian mantan karyawannya yang kini sedang berbisik-bisik membicarakannya. Tak sedikit dari mereka yang mencemooh dan mencibir Song Ho, namun ada pula yang merasa prihatin dan kasihan padanya.
Song Ho terus berteriak, namun teriakannya tak digubris sama sekali oleh kedua lelaki tinggi dan bertubuh besar tersebut.
Dan setibanya di luar, Song Ho di lempar keluar dan tersungkur di lantai depan pintu masuk utama.
"Yakk!! Kalian semua menang brengsek!! Aku tidak akan tinggal diam, ini perusahaanku dan aku tidak merasa telah menjualnya. Akan kubawa masalah ini ke pengadilan supaya kalian semua diadili. Arrrkkkhh.. S!al!!"
Song Ho tidak pernah menduga jika mimpi buruk ini akan datang dan menimpa hidupnya. Tak pernah terpikirkan sebelumnya jika dia akan mengalami kebangkrutan dan jatuh miskin.
Hal pertama yang perlu Song Ho lakukan adalah mencari tempat tinggal, karena tidak mungkin juga jika dia tinggal dibawah kolong jembatan.
-
-
Setelah dirawat selama semalaman di rumah sakit. Hari ini Ellena sudah diijinkan untuk pulang karena keadaannya sudah baik-baik saja, meskipun perban belum mau beranjak dan meninggalkan luka-lukanya.
Tentu saja tidak sendirian karena ada Kevin yang selalu setia menemaninya. Kevin mendekati Ellena yang sedari tadi terus bercermin sambil membetulkan letak perban di-pelipisnya.
"Kenapa?" Kevin mendekati wanita itu.
"Lihatlah, mataku jadi kecil sebelah karena perbannya terlalu menekan ke dalam. Aku akan jadi terlihat jelek dan sedikit aneh." Keluhnya.
"Itu karena luka jahitnya juga menjorok ke dalam, jadi dokter menyesuaikan letak perbannya. Tidak perlu berkecil hati, mau seperti apapun juga. Kau tetap terlihat cantik di mataku."
"Cantik dari mananya?! Lihatlah, mata kananku seperti habis disengat lebah, sangat jelek!!"
Kevin menepuk kepala Ellena. "Tidak perlu mengeluh. Lagipula tidak seburuk itu, kau hanya perlu memakai kaca mata hitam saja jika malu, bereskan,"
Ellena mengangguk. "Ya, aku rasa itu lebih baik. Kenapa aku tidak kepikiran untuk memakai kaca mata saja." Ucapnya.
Setelah Ellena tidak rewel lagi perihal perban dan lukanya. Mereka berdua meninggalkan ruang inap perempuan itu. Kevin hanya datang sendiri tanpa Leon apalagi Tuan Su. Mereka sedang sibuk dan tidak bisa datang ke rumah sakit.
Lagipula Tuan Su juga tidak tau jika Ellena baru saja mengalami kecelakaan, Kevin sengaja tak memberitahunya karena takut membuat ayah mertuanya itu menjadi panik.
-
-
Bersambung.
__ADS_1