
Ellena pergi ke kantor polisi untuk bertemu dengan mantan suaminya yang sekarang mendekam di penjara. Dia hanya datang sendiri tanpa ditemani oleh Kevin. Kevin sedang pergi keluar negeri untuk perjalanan bisnis, dan baru kembali lusa depan.
Dion ditempatkan di sebuah sel bersama tahanan lainnya. Keadaannya pun tak sebaik dulu, tubuhnya tampak lebih kurus tak terawat, dan dia memakai baju tahanan. Tampak beberapa luka lebam menghiasi wajahnya, seperti bekas pukulan.
"Kau, keluarlah. Ada yang ingin bertemu denganmu,"
Seorang polisi menghampiri Dion dan membawanya ke luar sel, ada seseorang yang ingin bertemu dengannya itulah yang polisi itu katakan padanya.
Dari kejauhan Dion melihat seorang wanita yang postur tubuhnya tidak terlihat asing duduk memunggunginya. Dan tanpa melihat wajahnya pun, tentu saja Dion sudah tahu siapa perempuan itu.
"Mau apa kau datang kemari?" tanya Dion tanpa basa-basi.
Ellena mengangkat wajahnya dan mendapati mantan suaminya itu berdiri di belakangnya dengan sebuah borgol yang mengikat kedua tangannya. Dan kakinya juga diikat dengan rantai. Ellena bangkit dari kursinya dan mendekati Dion. Lalu pandangan Elena bergulir pada dua polisi, yang berdiri di samping mantan suaminya itu.
"Maaf, tapi bisakah kalian memberi ruang pada kami untuk berbicara?" Kedua polisi itu mengangguk lalu meninggalkan Ellena dan Dion.
Dan selepas kepergian dua polisi tersebut. Hanya ada Dion dan Ellena. "Katakan Apa tujuanmu datang kemari? Jika kau datang hanya untuk menertawakanku, sebaiknya kau pergi saja!!" pinta Dion.
Ellena menatap Dion dengan sinis. "Sudah seperti ini pun kau masih bisa bersikap sombong dan angkuh?! Kau memang tidak pernah berubah. Dan kedatanganku kemari hanya untuk memastikan apa kau sudah mati atau masih bernafas?!" Jawab Ellena.
"KAU!!" bentak Dion tertahan.
"Dengar, Dion. Aku akan memastikan kau akan mendapatkan hukuman yang setimpal. Jadi nikmati saja hidupmu disini, dan jika suatu hari kau mulai merasa lelah dan putus asa dengan keadaanmu yang seperti ini. Aku akan memberikan sebuah solusi padamu, di dalam botol ini adalah racun yang sangat mematikan. Dan kau bisa meminumnya, sebagai jalan pintas menuju kematian dengan cepat!!" Ellena menyeringai sambil meletakkan botol racun itu di atas meja.
Dion menatap Ellena tak percaya. "Erica, Kau~" ucap Dion tertahan.
"Aku rasa Sarah cukup kesepian di-sana, dia pasti sangat membutuhkan kehangatan darimu. Jadi menyusulnya adalah solusi terbaik yang bisa aku sarankan padamu."
"Erica, kau benar-benar sudah tidak waras!!" Teriak Dion emosi.
"Urusanku di sini sudah selesai, aku pergi dulu. Aku pasti akan sangat menantikan kabar tentang kematianmu, selamat tinggal!!" Ellena bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.
-
-
Meninggalkan Ellena terlalu lama membuat Kevin merasa tidak tenang, belum genap satu Minggu dia berada di luar negeri, tetapi Kevin sudah merasa tidak tenang. Dia benar-benar mengkhawatirkan keadaan Ellena, apalagi dengan kondisinya saat ini.
Bagaimana jika tiba-tiba dia tersesat lagi dan tidak tau arah jalan pulang seperti malam itu. Memang tidak seharusnya ia meninggalkan Ellena sendirian, tetapi Kevin juga tidak memiliki pilihan.
Keselamatan Ellena memang yang paling penting, tetapi kerjasama kali ini juga sama pentingnya. Yang membuat Kevin tidak bisa memilih satu diantara keduanya.
"Tuan, apa Anda baik-baik saja? Saya perhatikan Anda terlihat gelisah sekali, apa ini ada hubungannya dengan nyonya?" tanya Leon memastikan.
Kevin mengangguk. "Pikiranku benar-benar tidak bisa tenang sekarang, aku selalu kepikiran Ellena, bagaimana jika penyakitnya sampai kambuh dan dia tersesat lagi seperti malam itu. Di luar sangat berbahaya, dan aku tidak bisa tenang sama sekali meninggalkannya sendirian," terang Kevin panjang lebar.
"Kalau begitu saya akan segera mencari tahu bagaimana keadaan nyonya saat ini," Kevin mengangguk, menyetujui apa yang hendak Leon lakukan.
Beruntung Leon memiliki nomor ponsel sahabat Ellena, yakni Susan, dan dari dia, Leon bisa mengetahui bagaimana keadaan Ellena saat ini. Karena sejak kepergian Kevin beberapa hari yang lalu, Ellena memutuskan untuk tinggal bersama sahabatnya itu.
__ADS_1
-
-
"Dokter, apakah Anda sudah memastikannya sekali lagi? Mungkin saja ada yang salah dengan pemeriksaannya, karena setahuku Demensia adalah penyakit yang sulit disembuhkan,"
Dokter itu menggeleng. "Hasil pemeriksaan tidak mungkin salah. Saya sendiri juga sangat bingung, tetapi ini benar-benar sebuah keajaiban. Sudah tidak ditemukan lagi tanda-tanda adanya Demensia pada Anda, Nona Su." Jelas dokter itu.
Bukan hanya Ellena yang terkejut dan bingung, tetapi dokter yang menanganinya juga, karena kasus semacam ini baru pertama kali terjadi. Bukan hanya satu dua kali saja dokter itu menangani pasien dengan penyakit yang sama, tetapi yang mengalami keajaiban seperti Ellena belum pernah terjadi, dan dia adalah satu-satunya pasiennya yang mengalami keajaiban tersebut.
"Apakah itu artinya saya benar-benar sudah sembuh total?" tanya Ellena memastikan.
Dokter itu mengangguk. "Ya benar, dan kita akan memeriksanya sekali lagi pada bulan depan. Semoga hasilnya masih sama, Anda benar-benar terbebas dari Demensia!!"
Ellena tersenyum. "Semoga saja. Kalau begitu saya permisi dulu dokter," kemudian Ellena bangkit dari kursinya dan pergi begitu saja.
Ellena masih tidak percaya dengan apa yang menimpanya. Tidak lagi ditemukan tanda-tanda demensia pada dirinya. Yang artinya Iya sudah sembuh total, semua yang terjadi ini terasa seperti mimpi, tetapi itu sangat nyata. Dan Ellena percaya, jika Miracle benar-benar ada dan nyata.
-
-
"Kevin,"
Ellena sedikit terkejut saat tiba di rumah dan mendapati Kevin yang baru keluar dari kamar mandi. Lelaki itu hanya memakai celana panjang hitam dan bert*lanjang dada. Sepulangnya dari rumah sakit, Ellena memutuskan untuk langsung pulang ke rumahnya bukan ke rumah Susan.
"Kenapa kau sudah pulang? Bukankah kau sendiri yang bilang, jika lusa baru pulang," ucap Ellena sambil berjalan menghampiri Kevin.
Ellena menggeleng. "Bukan-bukan. Bukan begitu maksudku, hanya saja~" Ellena tak melanjutkan ucapannya ketika Kevin tiba-tiba memeluknya.
"Aku hanya bercanda, kenapa kau serius sekali? Ellena, aku sangat merindukanmu," bisik Kevin sambil mengeratkan pelukannya."Dan aku sangat tidak tenang meninggalkanmu sendirian,"
Ellena tersenyum, wanita itu mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan."Aku juga sangat merindukanmu. Dan mulai sekarang, kau tidak perlu lagi mencemaskanku, karena aku bisa menjaga diriku sendiri." ucapnya meyakinkan.
Kevin melepaskan pelukannya dan menatap Ellena dengan pandangan bertanya. "Aku sudah sembuh, Kevin. Dokter mengatakan tidak menemukan lagi tanda-tanda Demensia pada diriku." Jelas Ellena seolah mengerti arti dari tatapan Kevin.
"Maksudmu?" Kevin memicingkan matanya.
Ellena mengambil hasil pemeriksaan tadi dan menunjukkannya pada Kevin. "Ini adalah hasil pemeriksaan terbaruku, aku baru saja kembali dari rumah sakit. Dan dokter mengatakan, jika aku telah sembuh dari demensia yang aku derita selama ini. Rasanya benar-benar aku tidak percaya, karena mustahil orang yang menderita demensia bisa sembuh secara total, karena Setahuku demensia adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan." Ujar Ellena panjang lebar.
"Ini sungguh sebuah keajaiban, Ell. Dan rasanya aku ingin sekali menangis, artinya aku tidak akan pernah kehilanganmu juga," ucap Kevin dan kembali memeluk Ellena.
Tak ada kata lain yang ingin Kevin ucapkan pada Tuhan, selain rasa terima kasih dan syukur atas keajaiban yang telah dia berikan pada Ellena. Ketakutan akan kehilangan wanita itu hilang begitu saja, dan Kevin pikir Miracle itu tidak nyata.
-
-
"PAPA, KAMI DATANG!!"
__ADS_1
Seruan keras itu mengalihkan perhatian Tuan Su dari acara yang sedang disaksikannya. Buru-buru ia bangkit dari duduknya dan melenggang keluar untuk menyambut kedatangan Putri serta menantunya. Kebetulan Tuan Su memang ingin bertemu Ellena, dia datang berkunjung ke rumahnya.
"Papa!!" Tubuh Tuan Su terhuyung ke belakang karena pelukan Ellena yang tiba-tiba. "Kenapa Papa terlihat semakin tampan saja, padahal baru beberapa hari kita tidak bertemu!!"
Tuan Su menjitak gemas kepala Ellena. "Apa yang kau katakan?! Bukankah dari dulu Papa memang sudah tampan, buktinya Papa sampai menikah dua kali," ujar lelaki paruh baya itu.
Ellena mendecih dan menatap ayahnya dengan sebal. "Kenapa papa jadi narsis begini? Dan sejak kapan Papa hobi memakai celana cutbray?" Ellena menatap sang ayah penuh tanya.
Alih-alih menjawab. Tuan Su malah tertawa keras, membuat Ellena semakin bingung. Memang ada yang lucu ya dari perkataannya? Ellena berpikir. "Apa yang Papa tertawakan?" tanya Ellena.
"Ucapanmu, dan kenapa kau jadi sangat bawel sekali? Kenapa kau tidak membiarkan Papamu senang sedikit sambil mengenang masa muda?" ucap Tuan Su tak mau kalah.
Kevin yang sedari tadi hanya jadi penonton perdebatan ayah dan anak itu hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala. Dia tidak mau ikut andil dalam perdebatan ayah dan anak tersebut.
.
.
"Benarkah itu, Ell. Kau benar-benar telah sembuh dari penyakit mu?" Ellena mengangguk membenarkan. Kedua matanya tampak berkaca-kaca.
Tuan Su tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, ia pun langsung memeluk putrinya itu dengan erat. Tuan Su sampai meneteskan air matanya, Ellena sembuh dari penyakitnya dan itu adalah sebuah keajaiban.
Tuan Su pikir ia akan kehilangan Ellena juga, tapi Tuhan masih menyayanginya dengan membiarkan putrinya itu tetap berada disisinya. Lagipula Tuan Su juga tidak siap jika harus kehilangan Ellena, dia sudah kehilangan istri dan putri sulungnya. Dan Tuan Su tidak ingin kehilangan lagi untuk ketiga kalinya.
"Malam ini, sebaiknya kalian berdua makan malam di sini saja. Papa akan meminta pelayan menyiapkan makan malam yang lezat untuk kita bertiga. Ini adalah sebuah kabar yang sangat baik dan untuk itu harus dirayakan." Tuan Su menatap Kevin dan Ellena bergantian. Keduanya mengangguk.
Tuan Su memanggil kepala pelayan dan memintanya supaya menyiapkan makan malam mewah. Dan rencananya Tuan Su mau mengundang beberapa teman dekatnya untuk datang, mereka harus menjadi saksi dari kebahagiaannya.
Disaat mereka sedang berbincang. Tiba-tiba Ellena merasakan mual yang luar biasa. Wanita itu bangkit dari duduknya dan berlari ke toilet disusul Kevin yang mengejar dibelakangnya.
Di dalam toilet, Ellena terus memuntahkan apa yang sudah masuk ke dalam perutnya. Padahal tadi dia baik-baik saja, tiba-tiba perut Ellena mual setelah menghirup aroma bumbu masakan yang sedang di tumis.
"Ell, buka pintunya. Kau tidak apa-apa kan?" Kevin mengedor Pinto toilet. Dia sangat cemas, Ellena terus muntah-muntah di dalam sana. "Ellena, jangan membuatku cemas. Cepat bukan pintunya!!"
Karena tetap tak ada respon dari Ellena. Kevin pun berencana untuk mendobrak pintu kamar mandi. Namun Ellena keluar lebih dulu dengan wajah pucat. "Kenapa berteriak, aku hanya muntah saja. Aku baik-baik saja," ucapnya meyakinkan.
"Muntah saja bagaimana, kau terlihat pucat. Ayo pergi ke dokter."
Ellena menggeleng. "Tidak perlu, nanti juga akan membaik sendiri. Ayo ke kamar saja. Aku tidak tahan dengan aroma bumbu yang sedang di tumis." Ucapnya lalu melewati Kevin begitu saja.
Ellena pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua. Sebenarnya itu adalah kamar mendiang Stella yang sekarang menjadi miliknya. Dia bisa muntah lagi jika tetap berada di ruang keluarga.
Kevin pun segera memberikan penjelasan pada Tuan Su. "Jadi begitu, Pa. Dia memberitahuku tiba-tiba saja mual setelah mencium aroma bumbu yang sedang di tumis." Terang Kevin memaparkan.
Dan mendengar dari cerita Kevin, Tuan Su pun langsung menyimpulkan dua hal. "Key, Jika bukan karena masuk angin, ada kemunginan jika Ellena sedang hamil."
"Apa?! Hamil?!"
-
__ADS_1
-
Bersambung.