
"Kita bertemu di Golden cafe saja!!"
Stella mengurungkan niatnya untuk pergi ke dapur setelah tanpa sengaja mendengar percakapan antara Alyssa dengan seseorang melalui sambungan telfon. Dia berjanji untuk bertemu seseorang hari ini.
Wanita itu berbalik dan kembali ke kamarnya. Tepat saat Stella membuka pintu kamar, pintu kamar mandi juga terbuka, sosok Kevin keluar dari dalam sana hanya dengan berbalut handuk yang melilit pinggangnya.
"Aku berubah pikiran, bagaimana kalau kita makan malam di luar saja? Tiba-tiba aku ingin pergi ke Golden cafe, kau tidak keberatan bukan?" Stella menatap Kevin penuh harap.
Laki-laki itu menggeleng. "Sama sekali tidak, kebetulan juga aku sedang malas makan malam di rumah. Kalau begitu segera ganti pakaianmu dan kita makan malam di sana saja." Ucapnya, Stella mengangguk.
"Yess!!" Dalam hatinya bersorak senang.
Karena rencananya untuk membawa Kevin keluar berhasil, Stella benar-benar penasaran dengan orang yang hendak Alyssa temui. Apakah dia adalah orang yang ada dipikirannya atau bukan.
"Kau sudah siap?" Tegur Kevin yang sudah berpakaian lengkap.
Dan untuk sejenak Stella melupakan bagaimana caranya bernapas melihat bagaimana tampan dan panasnya Kevin saat ini. Dia memakai singlet hitam yang dibungkus rompi hitam berleher tinggi dan celana panjang berwarna hitam pula. Santai namun cool abis. Begitulah penilaian Stella atas Kevin malam ini.
"Kenapa bengong? Apa ada yang salah dengan penampilanku?" Tanya Kevin melihat kediaman Stella. Buru-buru ia menggeleng, tanpa mengatakan apapun Stella meninggalkan kamarnya dan Kevin begitu saja.
Kevin mendengus berat. Ia kemudian mengayunkan kedua kakinya dan menyusul Stella yang keluar lebih dulu. "Ada-ada saja," ucap Kevin sambil menggelengkan kepala.
-
-
Alyssa mengayunkan kedua kakinya secara bergantian memasuki sebuah Cafe yang terletak tak jauh dari kantor milik keluarganya. Di dalam sana sudah ada dua orang yang menunggu kedatangannya. Kedua orang itu adalah orang yang ia hubungi tadi.
Dengan wajah datar penuh keangkuhan, Alyssa menghampiri kedua orang itu yang merupakan ibu dan anak. "Maaf aku sedikit terlambat," ucap Alyssa seraya mendaratkan pantatnya di satu-satunya kursi kosong yang tersisa.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kami juga baru tiba, ngomong-ngomong kapan kau kembali? Aku pikir sekolah modelingmu masih belum selesai,"
"Memang belum, aku sengaja pulang lebih awal karena merindukan kakakku!!" Jawabnya.
"Sebaiknya kau memesan makanan atau minuman terlebih dulu," pinta gadis muda yang usianya sebaya dengan Alyssa.
"Tidak perlu, karena aku cuma sebentar. Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan pada kalian berdua." Alyssa menatap keduanya bergantian.
Ibu dan anak itu saling menatap lalu memicingkan matanya. "Tentang apa, kelihatannya sangat penting. Apakah ini ada hubungannya dengan kematian istri dari kakakmu?" tebak wanita paruh baya itu dengan benar.
Alyssa mengangguk. "Muncul Stella yang lain di kehidupan kakakku, apa kalian berdua sudah pernah bertemu dengannya?" tanya Alyssa memastikan.
"Maksudnya wanita itu?" Alyssa mengangguk, dia mengerti dengan kata 'wanita itu'. "Ya, kami sudah pernah bertemu dengannya sekali dan itu di rumah sakit. Saat ini tua bangkai itu sedang dirawat dan dalam keadaan sekarat, kakakmu dan perempuan itu tiba-tiba datang lalu mengambil sebuah keputusan besar."
Alyssa memicingkan matanya. "Maksudmu,"
Dan tanpa sepengetahuan mereka bertiga, dua orang telah mendengar percakapan mereka dari awal. Dan kedua orang itu adalah, Kevin dan Stella.
Tangan Kevin terkepal kuat, sepertinya telah terjadi sebuah persekongkolan besar antara ibu dan saudara tiri mendiang istrinya serta Alyssa. Stella kemudian menatap Kevin yang sedang diliputi amarah.
"Sebenarnya, makan malam di luar hanyalah sebuah pengalihan saja, karena aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. Tadi aku tidak sengaja mendengar jika Alyssa berbicara dengan seseorang ditelepon dan berjanji bertemu di cafe ini."
"Dan hari ini Via memberitahuku sebuah rahasia besar, sepertinya kau sendiri juga tidak tahu tentang rahasia itu."
Kevin memicingkan matanya. "Rahasia apa?" Ia menatap Stella penasaran.
Stella menatap Kevin dengan serius."Sebelum dipakai oleh mendiang istrimu, mobil yang menyebabkan tragedi itu sebelumnya telah dipakai oleh Alyssa terlebih dulu. Dan Via melihat jika Alyssa melakukan sesuatu pada mobil tersebut setelah dia tau jika mendiang istrimu akan memakainya juga."
"Sebenarnya, sejak awal Via ingin memberitahumu, tetapi dia takut kau tidak percaya dan menganggapnya mengatakan omong kosong," jelas Stella panjang lebar.
__ADS_1
Stella menahan lengan Kevin ketika pria itu hendak bangkit dari kursinya. "Kau mau kemana?" dia menatap Kevin yang juga menatapnya dengan dingin.
"Memberi pelajaran pada mereka bertiga!!"
"Secara terbuka dan di tempat umum seperti ini? Kurasa itu bukanlah pilihan yang tepat, sebaiknya duduk kembali dan kita dengarkan apa yang mereka bicarakan." Ujar Stella dan memaksa Kevin untuk duduk kembali.
Kevin menghela napas dan akhirnya dia mengikuti nasehat Stella. Kembali ia memasang baik-baik pendengarannya, begitu pula dengan Stella. Mereka berdua sama-sama penasaran, dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Lalu apa rencanamu sekarang? Sepertinya wanita ini sangat sulit dihadapi, dia sedikit berbeda dengan Stella yang dulu pernah aku kenal. Mereka seperti dua orang yang berbeda, meskipun memiliki wajah yang sama." Ucap paruh baya itu yang tak lain dan tak bukan adalah Ella.
"Dia memang bukan Stella, tetapi hanya orang yang mirip dengannya. Aku tidak tahu apa tujuan kakakku membawanya pulang ke rumah, tapi sepertinya kakakku telah mengetahui sesuatu." Ujar Alyssa.
"Bagaimana jika kita singkirkan dia juga, seperti kita menyingkirkan Stella?" usul Vera sambil menatap Alyssa dan ibunya bergantian.
Alyssa menggeleng. "Tidak, aku tidak setuju. Aku memiliki rencana untuk menghadapi wanita ini, dan kali ini serahkan saja padaku. Tapi jika rencanaku ini gagal, aku harap kalian berdua sudah memiliki rencana cadangan."
"Itu bisa diatur, asalkan ada uangnya." Ella menyeringai.
"Itu masalah gampang, selama kalian berdua berdiri di pihakku. Aku bisa memberikan apapun yang kalian inginkan, jangankan hanya uang, mobil, apartemen, aku juga bisa memberikannya. Aku harus pergi sekarang, sebelum ada yang melihat pertemuan kita ini." Alyssa bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.
Emosi Kevin semakin memuncak setelah mendengar percakapan terakhir mereka. Dia benar-benar tidak menduga jika Alyssa terlibat dalam kematian istrinya dan dia bersekongkol dengan ibu serta saudara tiri mendiang istrinya tersebut.
Kevin tidak akan tinggal diam. Dia akan memberikan sebuah pelajaran yang sangat berharga pada mereka bertiga. Mereka harus membayar mahal kematian Stella.
-
-
Bersambung.
__ADS_1