
"KAKAK!!"
Suara nyaring yang berasal dari teras depan menyita perhatian semua orang yang bernaung di mansion mewah yang memiliki tiga lantai tersebut.
Seorang gadis memasuki mansion itu dengan wajah muram dan penuh kemarahan. Dia melewati beberapa pelayan yang sedang membungkuk ketika berpapasan dengannya. Dia tidak peduli.
"Alyssa, apa-apaan kau ini?! Kenapa berteriak seperti di hutan?!" Tegur Kevin sambil menatap tajam adiknya itu.
Alyssa melemparkan beberapa kartu miliknya ke atas meja kerja Kevin dengan wajah cemberut sebal. "Kakak, kenapa semua kartu kreditku tidak ada yang bisa digunakan? Apa kau membekukannya?"
Alyssa menghampiri Kevin di ruang kerjanya. Dia hendak membuat perhitungan dengan kakaknya itu. Alyssa tidak terima karena Kevin membekukan semua kartu miliknya.
"Bukan Kevin, tapi aku!!" Sahut seseorang dari arah belakang. Sontak Alyssa menoleh dan mendapati Erica berdiri di ambang pintu ruang kerja kakaknya.
"Kau?! Jadi kau yang melakukannya?! Memangnya siapa kau, kenapa berani sekali melakukan hal itu tanpa ijin dariku?!" Bentak Alyssa marah.
Erica menunjukkan sebuah kertas yang berisi rincian pengeluaran Alyssa selama beberapa bulan terkahir ini.
"Aku memiliki hak untuk melakukannya karena Kakakmu sendiri yang memberikan kekuasaan padaku untuk melakukannya!! Dan ini adalah rincian pengeluaran mu selama beberapa bulan terkahir, banyak pengeluaran besar yang entah kemana larinya. Dan puluhan jutaan dolar masuk ke dalam rekening asing atas nama, Brian Smit."
Alyssa menyambar kertas itu dari tangan Erica dan melihat rinciannya. "Sial, jadi kau menyelidiki?!" Ia menatap Erica dengan marah.
"Ya, kau sudah sangat boros, Nona Muda Nero. Dan sudah saatnya kau merubah kebiasaan burukmu itu. Mulai sekarang, aku akan mencabut semua fasilitas yang diberikan oleh kakakmu selama ini. Uang jajan bulanan, aku akan memberikan langsung padamu. 5 juta, untuk satu bulan dan tidak lebih!!"
"KAU!!!" bentak Alyssa tertahan. Kemudian Alyssa menghampiri Nathan yang tampak acuh dan tak peduli itu. "Kakak, ini tidak adil, kenapa kau harus memberikan kekuasaan pada wanita asing ini!!" Protes Alyssa sambil menunjuk Erica.
Kevin meletakkan pulpennya dan menatap adiknya itu. "Apa masih belum jelas yang Erica katakan?! Turuti saja, dan mulai sekarang belajarnya berhemat. Dan jika kau ingin ulang lebih, kau bisa bekerja. Keluarlah, aku masih banyak kerjaan!!"
__ADS_1
"KAKAK~" teriak Alyssa tertahan. Gadis itu menghentakkan kakinya kesal, sambil mengepalkan tangannya. Alyssa meninggalkan ruang kerja kakaknya.
Erica menyeringai sinis. Kemudian ia menghampiri Kevin dan berdiri di depan meja kerjanya, kedua tangannya bertumpu pada meja kaca itu. "Bagaimana?! Apa kau sudah merasa puas sekarang?"
"Kau memang penuh kejutan, Sayang. Dan hal itu semakin membuatku kagum padamu!!" Ucap Kevin lalu mengecup singkat bibir Erica.
"Aku akan keluar sebentar, kau tidak perlu menungguku untuk makan malam. Ada urusan penting yang harus segera aku selesaikan."
"Perlu aku temani?"
Erica menggeleng. "Tidak perlu. Selesaikan saja pekerjaanmu, aku pergi dulu." Erica mencium pipi Kevin dan pergi begitu saja.
Tidak ada yang bisa menjelaskan bagaimana hubungan mereka saat ini. Karena tidak ada cinta di dalam pernikahan mereka, tetapi mereka memiliki sebuah ikatan yang sangat kuat untuk saling percaya dan mendukung satu sama lain.
-
-
Seorang wanita memasuki sebuah halaman rumah yang memiliki dua lantai.
Dengan tenang dia membuka pintu bercat putih di depannya. Ia berjalan menaiki tangga menuju salah satu kamar yang berada dilantai dua rumah tersebut.
Rumah itu tampak kosong dan legang, menandakan jika tak ada satu pun penghuni di rumah ini. Wanita itu menyapukan pandangannya, menatap satu persatu foto yang tergantung di dinding kamar itu. Seringai tampak di sudut bibir merahnya.
Ia menoleh kearah luar setelah mendengar deru suara mobil yang memasuki halaman. Wanita itu berjalan kearah jendela yang berada disisi kanan tempat tidur. Seorang wanita terlihat memasuki rumah, dan tanpa ia sadari sebuah kejutan manis tengah menunggunya di dalam.
"Kau?! Sedang apa di kamarku? Dan bagaimana kau bisa masuk kemari" Tanya wanita itu pada sosok perempuan berparas cantik yang sedang duduk diatas tempat tidurnya dengan penuh keterkejutan.
__ADS_1
Perempuan itu menyeringai dingin. "Apa kabar kakak tiriku tercinta, lama tidak bertemu," sapa perempuan itu sambil melambaikan tangannya.
"Kau... Siapa kau sebenarnya?!" Tanya wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Sarah.
"Siapa aku? Apa kau sungguh-sungguh tidak mengenaliku?! Padahal dulu kita sangat dekat dan saling menyayangi. Atau dengan kalimat ini, mungkin saja kau akan mengingat sesuatu tentang diriku. Si jelek, pasti akan selalu kalah dari si cantik. Bagaimana, apa kau sudah mengingatnya?!"
Tubuh Sarah terhuyung kebelakang setelah dia menyadari siapa yang ada di hadapannya itu. "Ka..Kau... Adalah Erica?!" Sarah menatap Erica tak percaya.
"Yupss, lalu menurutmu siapa. Jika aku bukan Erica lalu bagaimana aku bisa masuk ke dalam dan memiliki kunci rumah ini? Kenapa kau terkejut, hm?! Apakah kau berpikir jika aku sudah mati tenggelam di sungai? Kau salah besar, Kakak!! Karena pada kenyataannya aku masih hidup dan baik-baik saja."
"Jadi selama ini kau yang berdiri disamping Kevin Nero sebagai Stella Nero?! Dan orang yang kami temui di London waktu itu adalah kau?!"
"Yupss, betul sekali. Ternyata kau memiliki daya ingat yang sangat bagus. Tapi kau tenang saja, aku kembali bukan untuk merebut Dion darimu kok. Karena aku tidak sudi memungut sampah yang sudah aku buang, karena sampah itu cocoknya dengan barang murahan!! Upss, sepertinya aku sudah salah bicara," ujar Erica lalu menutup mulutnya.
Wanita itu tertawa, dia merasa puas melihat wajah pucat Sarah. "Oya, aku hampir lupa. Aku memiliki barang-barang penting yang masih aku tinggalkan disini, salah satunya adalah... Berlian yang kau pakai ini!!" Erica menarik kalung yang bertengger di leher Sarah. Itu adalah kalung peninggalan mendiang ibunya.
"Erica, Kau~"
"Sampaikan salamku pada suamimu. Katakan padanya jika aku rindu," bisik Erica dan pergi begitu saja.
Sarah menjatuhkan tubuhnya pada ubin lantai yang dingin dan keras. Tubuhnya lemas dan kedua kakinya seperti kehilangan tulang-tulangnya. Sarah menggeleng, rasanya dia masih tidak percaya jika Erica masih hidup. Dan jika dia masih hidup, lalu siapa yang dimakamkan hari itu?!
Wanita itu menggeleng. Ia harus segera menghubungi suaminya. Dion dan ibunya harus tau tentang Erica yang masih hidup, semua tdiak akan baik-baik saja jika tidak segera mengambil tindakan dengan cepat.
Dan sementara itu. Erica merasa puas sekali sudah membuat Sarah ketakutan dan syok setengah mati. Dan sekarang giliran ibu tirinya lah yang akan mendapatkan kejutan manis darinya.
-
__ADS_1
-
Bersambung.