Menikah Lagi Untuk Balas Dendam

Menikah Lagi Untuk Balas Dendam
Positif Hamil


__ADS_3

Ellena menaikkan sebelah alisnya saat merasa ada keanehan dengan makanan yang sedang dikunyahnya. Hingga tiba-tiba ia memuntahkan makanan yang ada di dalam mulutnya tadi di tempat sampah yang berada di samping meja, hal itu tentunya membuat senyum Kevin memudar berganti kepanikkan.


Segera pria itu mendekati tempat duduk Ellena yang berada di seberang meja. Lalu ia mengusap jejak makanan di sudut bibir istrinya setelah sebelumnya mengusap lembut punggung Ellena.


"Kau tidak apa-apa, Ell?" Tanya Kevin memastikan.


"Aku mual," jawabnya lalu mengambil air putih yang baru saja dituangkan oleh Kevin.


Ditepisnya pelan tangan Kevin yang berada di dekatnya, lalu tanpa pamit ia beranjak menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya yang membuatnya mual sejak tadi.


Kevin termangu. Ia yakin tidak ada yang salah dengan makanan-makanan tersebut sehingga membuat sang istri mual-mual seperti itu. Seketika Kevin teringat ucapan ayah mertuanya hari itu. Ellena sering mual akhir-akhir ini dan mereka belum sempat memeriksakannya ke rumah sakit.


Dalam hati dia berkata... "Mungkinkah dia benar-benar hamil?" ucapnya membatin.


Setelah menunggu berdetik-detik lamanya, pintu kamar mandi terbuka, Ellena keluar dari sana dengan wajah pucat. Melihat itu, Kevin yang sejak tadi menunggu di dekat pintu kamar mandi menjadi cemas pun segera mendekati Ellena, ia menyentuh sebelah lengan wanita itu yang terasa sangat dingin.


"Kau sangat pucat, ayo kita ke dokter. Aku benar-benar tidak bisa merasa tenang, kau harus segera diperiksa," Ellena tak mengatakan apa-apa dan hanya menganggukkan kepala mengiyakan ajakan suaminya.


.


.


Kevin dan Ellena mendatangi sebuah rumah sakit, mereka berdua sudah membuat janji dengan dokter kandungan jika akan datang siang ini. Baik Kevin maupun Ellena sama-sama ingin memastikan, apakah Ellena benar hamil atau tidak.


Pandangan Kevin bergulir pada dokter yang baru saja memeriksa istrinya. "Dokter, bagaimana hasilnya?" tanya Kevin memastikan.


"Selamat, Tuan Nero. Istri Anda positif hamil, dan usia kandungannya baru menginjak satu bulan." jawab dokter itu menyampaikan.


Kevin dan Ellena saling bertukar pandang, sudut mereka sama-sama tertarik ke atas mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh dokter perempuan yang duduk diseberang meja tersebut.


"Jadi benar, jika saya positif hamil, Dok?" sekali lagi Ellena memastikan, dokter itu tersenyum sambil menganggukkan kepala.


Ellena menyeka air matanya lalu berhambur ke dalam pelukan suaminya. "Kevin, kau dengar itu? Aku hamil, kita akan segera menjadi orang tua," lirik Ellena setengah berbisik.


Kevin menganggukkan kepalanya. "Ya, Sayang. Aku mendengarnya, ini benar-benar kabar yang sangat membahagiakan," bisik Kevin sambil mengeratkan pelukannya. Kemudian Kevin melonggarkan pelukannya dan menatap Ellena dengan senyum tipis tersungging disudut bibirnya.


Ingin meledak rasanya dada Kevin saat mengetahui jika Ellena benar-benar hamil. Raut wajah pria yang selalu dingin itu menunjukkan kegembiraan sekarang. Istrinya hamil jadi bagaimana Kevin tak bahagia.


Kevin pasti akan selalu menjaga dan melindungi Ellena juga janin di dalam rahimnya. Tak akan dia biarkan sesuatu yang buruk terjadi pada Ellena maupun calon buah hatinya.


-


-


Sejak dinyatakan positif hamil oleh dokter, Kevin tak mengijinkan Ellena melakukan aktivitas apapun, termasuk memasak. Semua pekerjaan rumah mulai dari yang ringan sampai yang berat dikerjakan oleh pelayan.


Sebenarnya kevin sudah mengajak Elena untuk kembali ke Mansion utama, tetapi wanita itu menolak karena sudah nyaman tinggal di rumah yang mereka tempati saat ini. Memang tidak sebesar dan semegah mansion Nero, tetapi Rumah itu sangat nyaman, dan hal itulah yang membuat Ellena lebih memilih tinggal di rumah tersebut.


"Nyonya, ini buah-buahan segar yang Anda minta." Seorang pelayan menghampiri Ellena sambil membawakan potongan-potongan buah segar yang Ellena minta. Diantaranya adalah semangka, melon, apel, peer dan anggur merah.


"Terimakasih, Bi. Letakkan saja dimeja, aku akan memakannya nanti." Ucapnya.


Ellena sedang bertukar pesan dengan sahabatnya, Susan. Dia memberikan kabar gembira itu pada Susan, sayang sekali saat ini Susan berada luar negeri. Dia kembali ke Kanada beberapa hari yang lalu.


"Sedang bertukar pesan dengan siapa, serius sekali," tegur Kevin, dia baru pulang kerja.

__ADS_1


Ellena mengangkat ponselnya dan menunjukkannya pada Kevin. "Aku sedang bertukar pesan dengan, Susan. Tumben kau pulang cepat hari ini?" Ellena menerima bingkisan yang Kevin berikan padanya.


"Kebetulan aku tidak lembur hari ini. Aku membawakanmu salad buah, kepikir buah-buahan sangat baik untuk ibu hamil,"


Kemudian Ellena menuju ke arah meja."Pelayan sudah menyiapkan buah-buahan segar untukku, jadi sebaiknya salad ini aku simpan saja dulu," Ellena menyerahkan bingkisan itu pada pelayan dan memintanya untuk menyimpannya di dalam lemari pendingin.


Kevin mengusap kepala Ellena. "Ya sudah aku mandi dulu," Ellena mengangguk. Kevin pergi begitu saja.


.


.


Selang beberapa menit, kevin kembali lagi pakaian berbeda. Kemeja hitam tanpa lengan dan celana panjang yang senada dengan warna kemejanya. Ellena tersenyum, menggeser sedikit duduknya dan memberi ruang untuk Kevin.


"Ingin mencobanya?" Ellena menyodorkan buah-buahan itu pada Kevin.


"Suapi aku," Kevin menunjuk mulutnya.


Ellena mendecih sebal. "Dasar manja." Ia menggerutu sembari menyuapkan sebutir anggur pada Kevin.


Lelaki itu tersenyum tipis. "Manja sama istri sendiri memangnya salah?" Ellena menggeleng. "Segera ganti pakaianmu, ayo makan malam di luar. Kebetulan cuaca malam ini sangat bersahabat,"


"Boleh, boleh, kebetulan sekali aku memang ingin makan malam diluar. Tunggu sebentar, aku akan segera kembali." Ucapnya dengan begitu bersemangat.


Kebetulan sekali Ellena memang ingin makan malam di luar. Dan Kevin tiba-tiba mengajaknya. Suaminya itu memang paling pengertian meskipun terkadang sikapnya sangat menyebalkan. Untungnya Kevin sangat baik padanya, terlebih-lebih dia sangat tampan.


Tak sampai 15 menit. Ellena kembali dengan pakaian berbeda. Wanita itu tampak anggun dalam balutan dress hitam bermotif mawar merah, rambut panjangnya diikat ekor kuda dengan anak rambut yang membingkai wajah cantiknya. Tak ketinggalan polesan make up tipis yang kian menyempurnakan penampilannya.


"Sudah siap?" Kevin bangkit dari duduknya dan menghampiri Ellena.


"Ayo," wanita itu memeluk lengan terbuka Kevin dengan mesra. Keduanya berjalan beriringan menuju halaman.


Langkah Ellena terhenti di depan pintu. Ketika dia tanpa sengaja berpapasan dengan beberapa teman lamanya. Mereka bertiga menatap Ellena dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan mencemooh.


"Eyoo, bukankah ini teman lama kita ya, Erica Song. Lama tidak bertemu, kawan. Dan sepertinya keadaanmu sekarang sudah jauh lebih baik." Perempuan itu menyeringai.


"Hm, siapa ya? Maaf, aku tidak kenal dengan kalian bertiga. Karena orang-orang rendahan seperti kalian bukan levelku, Kevin ayo." Ellena menyenggol mereka bertiga dan melewatinya begitu saja.


Jika masih Ellena yang dulu. Pasti dia memilih diam dan menghindar. Tapi Ellena tak akan membiarkan orang lain menginjak-injak harga dirinya dan merendahkannya lagi. Toh mereka sekarang juga tidak ada yang sebanding dengannya.


Kevin dan Ellena berjalan menuju meja Deket jendela pilihan wanita itu. Melihat pandangan orang-orang pada istrinya membuat Kevin tidak suka. Mereka memberikan tatapan lapar pada Ellena dan itu membuatnya tidak nyaman. Dia tidak suka melihat istrinya dipandang sedetail itu oleh orang lain.


"Sudah, tidak perlu ditanggapi. Biarkan saja, toh mereka juga punya mata."


"Tapi aku tidak suka istriku ditatap seperti itu oleh orang lain. Apa mereka tidak pernah melihat wanita cantik sebelumnya? Benar-benar menyebalkan!!"


Ellena tersenyum geli. Ternyata saat sedang cemburu Kevin lucu juga. Dan semenjak mereka menikah, ini pertama kalinya dia melihat Kevin secemburu itu padanya. "Kau cemburu?" Ellena memastikan.


"Menurutmu?!"


"Ya, jelas sekali kau sangat cemburu. Tapi aku suka, karena itu artinya kau mencintaiku." Ellena tersenyum.


Kevin meraih tangan Ellena dan menggenggamnya dengan lembut. "Meskipun perasaan ini datang terlambat, tapi aku akan memastikan kau menjadi wanita paling bahagia di dunia ini." Ellena meletakkan tangannya di atas tangan Kevin yang menggenggam jemarinya. Wanita itu tersenyum lembut.


"Selama itu kau, aku pasti bahagia."

__ADS_1


-


-


Cindy menyeret kopernya dengan tenang. Hari ini dia memutuskan untuk pergi keluar negeri demi cari aman. Cindy tidak ingin bernasib buruk seperti suaminya yang kini menjadi gelandangan. Toh dia memiliki banyak uang sekarang, jadi Cindy bebas untuk pergi kemana pun.


Wanita itu berhenti saat dua lelaki berseragam polisi menghadangnya. "Nyonya Cindy, kami membawa surat penangkapan Anda."


Cindy menatap keduanya bergantian. "Maaf, siapa Cindy? Kalian pasti salah orang, namaku Clara bukan Cindy. Jika tidak percaya ini buktinya," Cindy menyerahkan kartu identitasnya pada kedua polisi itu. Untungnya dia sudah melakukan persiapan sebelumnya, jadi Cindy tidak perlu takut untuk ditangkap dan dipenjara.


"Clara Vlo?"


"Ya, itu namaku. Dan aku berasal dari Jerman, bisakah sekarang kalian melepaskanku?!" Cindy mengambil kembali kartu identitsdnya dan melanjutkan kembali langkahnya.


Tapi sayangnya polisi-polisi itu bukanlah orang bodoh yang mudah untuk dibohongi. Dan mereka tau jika Clara Vlo adalah Cindy yang telah merubah identitasnya. Dan Cindy pun ditangkap detik itu juga.


"Nyonya, Anda bisa menjelaskannya di-kantor. Bawa dia,"


"Baik, komandan."


"Yakk!! Lepaskan aku!! Namaku bukan Cindy, tapi Clara Vlo. Kalian tidak bisa menangkapku sembarangan!! Cepat lepaskan aku!!" Teriak Cindy.


Kedua polisi itu tak menggubris dan tetap membawa Cindy ke kantor polisi. Bagaimana pun juga wanita itu harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Karena berani berbuat, maka dia harus berani bertanggung jawab.


Dan dengan tertangkapnya Cindy, maka semua orang yang pernah membuat Ellena sengsara akhirnya mendapatkan ganjarannya. Mereka yang berbuat kejahatan maka menuai kembali apa yang telah ditanam.


Dan Ellena selaku korban dari kekejaman mereka justru telah menemukan kebahagiaan dalam hidupnya. Dan bukan salah Ellena juga jika dia sampai menari diatas penderitaan mereka semua. Karena mereka memang layak mendapatkannya.


-


-


Usai makan malam. Kevin dan Ellena memutuskan untuk menikmati kemegahan jembatan Banpo Brige. Melihat cantiknya Rainbow Fountain di jembatan Banpo yang menjadi kebagaan masyarakat Korea Selatan.


Angin malam kota Seoul mulai berhembus ke tubuh mereka berdua, Ellena sedikit kedinginan dan memeluk tubuhnya dengan kedua tangan sendiri, maklum Seoul sudah mulai memasuki musim gugur (anggap saja begitu).


Kevin mendengus, padahal dia sudah meminta Ellena untuk membawa mantel hangatnya, tapi dia tidak menggubris. Kemudian dia melingkarkan kedua tangannya untuk memeluk Ellena, menyalurkan rasa hangat pada sang wanita.


"Bagaimana? Apa kau sudah merasa lebih baik?" Ellena mengangguk.


"Saat dingin seperti ini, aku tidak perlu takut lagi. Bukankah ada kau yang bisa memelukku setiap saat." Ellena mengangkat wajahnya dan mengunci manik mata Kevin.


Melihat bibir Ellena yang sedikit terbuka membuat Kevin tak bisa menahan diri. Dia mendekatkan wajahnya dan mencium bibir ranum itu dengan lembut. Meskipun awalnya sedikit terkejut karena Kevin melakukannya dengan tiba-tiba. Namun detik berikutnya sudut bibir Ellena tertarik keatas.


Wanita itu melingkarkan kedua tangannya pada leher Kevin ketika dia memperdalam ciumannya. Sebelah tangan Kevin berada di-kepala belakang Ellena. Menekannya lebih dalam agar ciuman itu tak mudah terlepas.


Bukan ciuman panjang yang menuntut. Melainkan ciuman lembut penuh perasaannya. Ciuman untuk mengungkapkan perasaan masing-masing jika mereka berdua saling mencintai.


"Saranghae," bisik Kevin sesaat setelah melepaskan tautan bibirnya.


"Nado," balas Ellena dan kembali menghambur ke pelukan suaminya.


Ellena menyandarkan kepalanya pada dada bidang Kevin yang tersembunyi di balik kemeja hitamnya. Dagu Kevin bertumpu pada kepala Ellena. Betapa beruntungnya Kevin memiliki Ellena disisinya. Dan Kevin berharap Ellena adalah cinta terakhirnya.


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2