
Semua mata tertuju pada Stella ketika wanita itu keluar dari ruang CEO. Tatapan menyelidik seolah menelanjanginya, membuat Stella bingung bagaimana harus menjelaskannya jika salah satu dari mereka atau bahkan mereka semua bertanya padanya.
Cari jalan aman, Stella buru-buru kembali ke meja kerjanya. Lebih baik menghindar dan cari jalan aman saja. Dari pada harus menghadapi mereka yang sepertinya haus akan rasa ingin tahu.
Dan sementara itu, Leon yang hendak masuk ke dalam ruangan CEO sedikit kebingungan pasalnya para karyawan berdiri semua dan menatap kesatu titik, yakni ruang kerja Stella. Dan Leon berani bersumpah jika mereka penasaran akan hubungan wanita itu dan atasannya.
Sepertinya akan terjadi sebuah skandal besar jika hubungan Stella dan Kevin terungkap ke media. Niatnya Kevin ingin mempublikasikan hubungan mereka, tetapi Stella tidak menyetujuinya.
"Apa yang kalian lakukan? Cepat kembali kemeja kerja masing-masing dan selesaikan pekerjaan kalian jika tidak mau terkena masalah." Perintah Leon pada para karyawan tersebut.
"Pak Leon, beritahu kami, sebenarnya apa hubungannya Presdir dan sekretaris baru itu? Kenapa mereka terlihat dekat dan akrab? Bahkan dia makan siang bersama di-ruangannya," tanya salah seorang pegawai mewakili teman-temannya.
"Benar, Pak Leon, beri tahu kami. Atau mungkin dia adalah seorang pelakor yang mencoba mengganggu Presdir. Karena kami dengar Presdir sudah memiliki istri,"
Leon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bagaimana dia harus menjawab pertanyaan mereka? Haruskah Leon mengatakan yang sebenarnya jika Nathan dan Stella adalah pasangan suami-istri?!
"Hubungan mereka ya? Yang jelas tidak seperti yang kalian pikirkan, dan Stella bukanlah pelakor. Sebenarnya dia dan Presdir adalah....Aissh, bagaimana aku harus mengatakannya pada kalian jika sebenarnya mereka berdua itu adalah..."
"Jika kalian memang penasaran, kenapa tidak langsung bertanya saja padaku?!" Sahut Kevin menyela ucapan Leon. Dia muncul secara tiba-tiba dan mengejutkan semua orang yang ada di sana.
"Presdir?!"
"Kembali kemeja masing-masing, hubunganku dengan Stella tidak ada hubungannya dengan kalian semua. Dan sedikit peringatan untuk kalian semua. Berani mempersulit Stella, akan berhadapan langsung denganku, apa kalian mengerti?!"
"Baik, Presdir. Kami mengerti,"
"Leon, segera pindahkan meja kerja Stella keruanganku. Aku tidak ingin dia mendapatkan masalah lagi di-kantor ini karena orang-orang yang iri padanya!!" Perintah Kevin yang segera dibalas anggukan oleh Leon.
Apa yang terjadi pagi ini membuat Kevin sadar jika posisi Stella di kantor ini sangatlah tidak aman. Banyak karyawannya yang merasa iri dan tidak suka pada Stella, dan sebagai seorang suami, tugas Kevin adalah melindunginya.
-
__ADS_1
-
Stella menghampiri Kevin yang sedang sibuk memeriksa beberapa dokumennya. Wanita itu ingin bertanya kenapa Kevin sampai memindahkan meja kerjanya dan menempatkannya di satu ruangan yang sama dengan Kevin.
"Aaahh," belum berkata apa-apa. Kevin sudah menarik lengannya hingga Stella jatuh diatas pangkuannya. "Kevin, apa yang kau lakukan? Ini kantor, bagaimana jika ada yang melihatnya?!" Panik Stella.
"Biarkan saja, toh mereka punya mata. Lagipula siapa yang berani menegur kita, apa mereka sudah bosan hidup?!"
"Iya, tapi tidak seharusnya seperti ini. Bagaimana pun juga kita berada di kantor!!"
"Lalu?"
"Apanya yang Lalu, cepat turunkan aku," pinta Stella memohon. "Aku tidak ingin sampai terjadi skandal besar di kantor ini. Bagaimana kalau ada yang melihat dan mengira jika aku adalah wanita simpananmu?!"
"Ck, itu tidak akan terjadi. Aku sudah mengunci pintunya secara otomatis. Dan mereka yang hendak masuk harus mengetuk terlebih dulu, tanpa ijin dariku mereka pun tidak akan bisa masuk kemari!!" Terang Kevin panjang lebar.
Stella menghela napas berat. "Kau ini benar-benar ya!!" Dia benar-benar tidak habis pikir dengan pria satu ini, bagaimana mungkin Kevin sampai bertindak sejauh ini. Benar-benar pria yang sulit di tebak.
Kemudian Kevin melepaskan Stella dan membiarkan wanita itu turun dari pangkuannya. "Baiklah, sekarang kembalilah bekerja." Ucapnya sambil mengusap kepala wanita itu.
Kevin tersenyum tipis. Dipandanginya wajah cantik itu, entah kenapa dia tidak bosan sama sekali memandang wajah Stella yang bak bintang di belah dua dengan mendiang istrinya.
Dan hanya dengan memandang wajah cantiknya saja, sudah membuat Kevin bisa sedikit mengobati rasa rindunya pada Stella yang asli.
-
-
"Aku adalah istrinya dan dia adalah putrinya, kenapa kalian malah menghalangiku untuk bertemu dengannya?!" Teriak Nyonya Ella di depan ruang inap suaminya.
Dua bodyguard Kevin perintahkan untuk menjaga di depan pintu ruang inap ayah mertuanya. Dan dia juga memerintahkan pada mereka berdua supaya tidak mengijinkan Ella dan putrinya masuk ke dalam.
__ADS_1
"Maaf, Nyonya. Tapi ini adalah perintah tuan Nero, dan kami tidak bisa melanggarnya, jika Anda dan Nona Vera ingin masuk menemuinya. Sebaiknya temui tuan Nero dan minta ijin langsung padanya."
"Brengsek!! Memangnya apa haknya melarangku dan Vera menemuinya. Su Minho adalah suamiku dan aku lebih berhak atas dia daripada tuanmu itu!!"
"Maaf, Nyonya. Ini adalah rumah sakit. Jika ingin membuat keributan silahkan Anda pergi dari sini. Karena suara Anda mengganggu ketenangan pasien yang lain,"
Vera dan Ella menatap kedua bodyguard itu dengan sebal. Mereka pun terpaksa pergi karena tidak diijinkan untuk masuk ke dalam. Dan hal itu semata-mata Kevin lakukan untuk melindungi ayah mertuanya.
Putrinya telah tiada, dan Kevin-lah yang sekarang memiliki tanggungjawab untuk melindunginya, seperti janjinya pada mendiang istrinya. Bahwa Kevin akan selalu menjaga dan melindungi Tuan Su.
-
-
Jam dinding sudah menunjuk angka 18.00. Setelah satu hari terkurung di dalam ruangan bersama Kevin, akhirnya dia bisa bebas. Setelah beres-beres Stella bergegas meninggalkan meja kerjanya.
Tapi sebelum pergi, Stella lebih dulu menghampiri Kevin yang masih sibuk dengan tumpukan dokumennya. "Aku pulang duluan," ucap Stella.
Lantas Kevin mengangkat kepalanya dan menatap istrinya itu. "Kau tidak menungguku?" Stella menggeleng. "Kenapa? Padahal ini sudah hampir selesai dan kita bisa pulang bersama-sama."
"Bisa terjadi skandal besar jika kita berdua pulang bersama."
"Kenapa kau takut sekali dengan skandal? Toh kita berdua adalah suami-istri dan apa masalahnya jika banyak orang yang mengetahuinya?" Ucap Kevin sambil mengunci manik mata Stella.
Wanita itu mendengus berat. "Tapi masalahnya tidaklah sesederhana itu, Tuan Muda Nero!! Sudahlah aku pulang duluan, sebaiknya jangan pulang terlalu malam. Aku duluan ya. Bye, bye." Stella melambaikan tangannya pada Kevin dan pergi begitu saja.
Pria itu menghela napas dan menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya. Dua orang dengan wajah yang sama, namun memiliki pribadi yang berbeda. Itulah perbedaan antara Stella yang asli dan Erica.
Kevin melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Dia harus menyelesaikan pekerjaannya dengan segera. Jika tidak, mungkin dia harus pulang larut malam lagi seperti kemarin. Sedangkan Stella memintanya agar pulang lebih awal dan tidak terlalu malam.
-
__ADS_1
-
Bersambung.