
Seorang wanita mengayunkan kaki jenjangnya memasuki sebuah halaman rumah yang memiliki dua lantai. Wajah cantiknya tidak menunjukkan ekspresi apapun, datar. Langkahnya terhenti di depan pintu bercat putih tersebut.
Ketukan terdengar hingga ke dalam ruangan. Membuat perhatian dua orang yang sedang menyantap makan malamnya teralihkan. Si wanita bangkit dari kursinya lalu berjalan keluar untuk membuka pintu.
Seorang perempuan cantik berdiri dihadapannya membuat alisnya terangkat sebelah.
Diamatinya sosok cantik itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sosoknya terlihat familiar namun juga asing. "Maaf, cari siapa ya?" Tanya wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Sarah.
"Apa benar ini kediaman Dion Martadinata?" Tanya perempuan itu memastikan. Sarah mengangguk. "Berarti benar jika Erica tinggal disini?" Perempuan itu bertanya sekali lagi.
"Dulu iya, tapi sekarang tidak!! Jika kau mencarinya, sebaiknya pergi ke pemakaman umum, karena dia sudah mati dan di sanalah dia tinggal sekarang!!" Jawab Sarah sedikit ketus.
"Apa?! Erica sudah meninggal? Kapan, dan bagaimana bisa? Apakah dia sakit atau karena hal lain? Tapi seingatku dia tidak memiliki riwayat penyakit mematikan, sebenarnya dia meninggal karena apa?"
"Ck, kau ini sebenarnya siapa sih? Kenapa ingin tau sekali, sudahlah kau mengganggu waktu malam ku. Pergilah, dan cari tau sendiri di luar sana!!" Sarah menutup kembali pintu rumahnya dan kembali ke dalam.
Perempuan itu menatap pintu yang sudah tertutup rapat tersebut. Dengan langkah tertatih, dia meninggalkan rumah berlantai dua tersebut.
Erica sudah meninggal, kenapa rasanya dia tdiak percaya. Baru Minggu lalu dia bicara dengan sahabatnya itu, tapi hari ini dia malah mendapatkan kabar yang sangat menyakitkan, sahabatnya telah meninggal.
Perempuan itu masuk ke dalam mobilnya dan kuda besi itu melaju meninggalkan bangunan bertingkat tersebut.
-
-
Stella menghampiri Kevin yang sedang duduk sendirian di ruang keluarga. Ditangannya memegang sebuah buku berukuran sedikit tebal. Dan kedatangan Stella menyita perhatiannya.
"Kau sudah bangun?"
"Berapa lama aku tertidur? Dan kenapa kau tidak membangunkanku?" Ucap Stella.
"Kau terlihat lelah, jadi aku tidak tega untuk membangunkanmu." Jawab Kevin menimpali.
"Ya, aku memang agak lelah."
"Besok siang aku mau membawamu untuk menghadiri sebuah pameran lukisan, jadi bersiap-siaplah mulai sekarang. Persiapkan gaun terbaikmu, karena semua yang hadir di-sana adalah orang-orang penting kota ini."
__ADS_1
"Memangnya aku harus ikut ya?" Kevin mengangguk. "Tapi aku tidak terbiasa menghadiri acara semacam itu, apa kau tidak takut jika aku justru akan mempermalukan-mu?!"
Kevin menutup bukunya dan menatap wanita itu dengan serius. "Mulai sekarang kau harus membiasakan dirimu, karena aku akan lebih sering membawamu menghadiri acara-acara penting seperti itu. Kau adalah wanitaku, sudah selayaknya mendampingiku kemana pun aku pergi. Agar semua orang tau jika kau adalah milikku!!"
Blusshh..
Rona merah muncul di kedua pipi Stella setelah mendengar apa yang Kevin katakan. Membuat kedua pipinya sedikit memanas mendengarnya. Wanita itu membuang muka kearah lain, kemana saja asalkan jangan wajah Kevin.
"Baiklah kalau begitu, aku sudah mengerti. Aku ke dapur dulu, tiba-tiba aku lapar dan ingin makan sesuatu." Stella meninggalkan Kevin begitu saja.
Sejak pagi Stella belum makan apapun jadi wajar jika dia merasa kelaparan. Ditambah lagi makan malam masih beberapa jam lagi, jadi Stella ingin makan sesuatu dulu sebelum jam makan malam tiba.
-
-
Tuan Song memijit pelipisnya yang terasa pening. Akhir-akhir ini saham perusahaannya terus mengalami penurunan.
Memang tidak besar hanya satu sampai lima persen saja, tapi jika terus berlanjut, tidak menutup kemungkinan jika dia akan mengalami kebangkrutan suatu hari nanti. Belum lagi dengan kebiasaan istri dan putri sambungnya yang hobi dan gemar berbelanja barang-barang mahal.
"Bagaimana dengan rencana kerjasama kita dengan Nero Group, apa CEO-nya sudah menyetujui pengajuan kerja sama dengan perusahaan kita?" Tanya Tuan Song pada pria di depannya.
Pria itu menggeleng. "Belum, Presdir. Masih belum ada kepastian sampai sekarang, perwakilannya mengatakan menunggu keputusan dari CEO,"
"Kenapa pria itu begitu misterius, siapa sebenarnya CEO Nero Group ini, kenapa aku merasa jika dia mempersulit kita. Padahal yang aku dengar dari para kolegaku, dia bukan pemilih untuk hal kerjasama. Tapi dengan perusahaan kita, masih belum ada kejelasan sampai sekarang padahal pengajuan sudah lebih dari dua Minggu,"
"Saya akan mencoba untuk berbicara dengan mereka lagi, mungkin mereka akan berubah pikiran."
"Baiklah, kau boleh pergi." Pria itu membungkuk kemudian meninggalkan ruangan atasannya.
-
-
"Jadi kau lulusan Jurusan Administrasi Perkantoran?" Stella mengangguk. Mereka sedang menyantap makan malam yang diwarnai obrolan-obrolan ringan.
"Ya, dulu aku pernah bekerja disebuah perusahaan ternama di negeri ini sebelum menikah dengan bajingan itu. Dan disaat karirku sedang bagus-bagusnya, aku malah dipaksa berhenti. Kupikir dia akan bertanggung jawab dan memenuhi semua kebutuhanku, tapi nyatanya apa, malah zonk,"
__ADS_1
Kevin menatap wanita di depannya itu. "Lalu apa yang kau inginkan sekarang? Aku memang suamimu, tapi aku tidak akan membatasi kebebasanmu. Kau bisa menentukan sendiri jalan hidup yang ingin kau pilih, selama itu tidak merugikanku, kurasa tidak masalah." Ujarnya.
"Biarkan aku bergabung di perusahaanmu, aku ingin memiliki kegiatan, berdiam diri sepanjang hari membuatku jenuh dan bosan."
"Apa kau yakin?" Stella mengangguk. "Posisi Sekretaris memang sedang kosong, jika kau bersedia kau boleh menempatinya. Dan masalah gaji, kita bisa membicarakannya nanti."
"Kedengarannya menarik, baiklah aku setuju."
"Minggu depan kau sudah boleh bekerja dan bergabung dengan perusahaan. Leon akan membantumu," Stella mengangguk.
Dan selanjutnya kebersamaan mereka hanya diwarnai keheningan. Tak ada percakapan lagi, hanya terdengar denting suara sendok dan piring saling bersentuhan.
.
.
Malam semakin beranjak naik, temaramnya cahaya bulan yang mulai membayang terselimuti oleh gelapnya awan pekat seolah memberi tanda kalau malam ini akan berjalan sampai waktu akhirnya.
Desir angin malam yang semakin dingin menerpa lapisan kulit pun seolah memberi tanda kalau pagi akan segera menjelang dan kemudian menyapa dunia.
Disebuah balkon, terlihat seorang perempuan berdiri memandang langit malam. Malam ini langit terlihat lebih cerah dengan jutaan manik-maniknya dan sang penguasa malam yang bertahta di singgasananya.
Malam sudah semakin larut, namun dia masih enggan untuk pergi tidur, rasanya kedua matanya sulit untuk di pejamkan.
"Apa yang kau lakukan selarut ini disini?" Perhatiannya teralihkan, ia menoleh dan mendapati seorang laki-laki menghampirinya.
Perempuan itu menggeleng. "Tidak ada, hanya ingin melihat bintang," jawabnya.
"Stella, ini sudah larut malam, sebaiknya kau masuk dan segera tidur. Ingat, besok ada acara yang harus kita hadiri, jangan sampai kau memiliki mata panda dan membuatku malu!!"
Stella berdecak sebal. "Dasar pria menyebalkan!!" Stella menghentakkan kakinya lalu melewati Kevin begitu saja. Padahal dia belum mengantuk malah dipaksa untuk segera tidur. Kevin mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah Stella.
-
-
Bersambung.
__ADS_1