Menikah Lagi Untuk Balas Dendam

Menikah Lagi Untuk Balas Dendam
Kembaran Stella


__ADS_3

"Ellena, putriku!!"


Tuan Su melepaskan jarum infusnya lalu turun dari ranjang inapnya dan memeluk Erica yang baru saja dia panggil dengan sebutan Ellena. Hangat dan nyaman, itulah yang Erica rasakan ketika Tuan Su memeluknya.


Suara Isak tangis terdengar dari bibir pria paruh baya itu. "Papa pikir sudah kehilanganmu, Nak. Tapi ternyata takdir baik masih berpihak pada Papa. Tuhan mengembalikanmu pada Papa, putriku." Ucap Tuan Su sambil terisak.


Kevin mendekati ayah mertuanya itu. "Pa, mungkin maksudmu adalah Stella. Tapi dia bukan Stella, dan namanya adalah Erica. Mereka memang sangat mirip," jelas Kevin.


Tuan Su melepaskan pelukannya dan menggeleng. "Tidak, Kevin. Papa ingat jika Stella sudah lama tiada, tapi dia adalah Ellena, adik kembar Stella yang hilang saat masih bayi dulu. Dia diculik oleh saingan bisnis Papa saat usianya masih tiga bulan." Jelas tuan Su.


"Apa?! Jadi Stella memiliki saudara kembar?" Kaget Kevin tak percaya.


Tuan Su mengangguk. "Dan Papa bisa membuktikan jika dia adalah Ellena, ada tanda lahir disekitar leher dan telinganya. Dan jika kau masih tidak yakin, kita bisa melakukan tes DNA untuk membuktikannya." Ujar Tuan Su.


Erica menyentuh sebuah tanda lahir yang ada diantara leher dan telinga kanannya. Memang benar apa yang Tuan Su katakan. Dia memang memiliki tanda lahir. Tapi hal itu belum tentu bisa membuktikan jika dirinya memang putri Tuan Su yang hilang.


"Seorang ayah tidak mungkin salah mengenali putrinya meskipun puluhan tahun berlalu. Ayo kita lakukan tes DNA untuk membuktikan jika dia benar-benar putri Papa yang hilang," ucap Tuan Su. Dia sangat meyakini jika Erica adalah Ellana, putrinya yang hilang.


"Sebaiknya memang begitu supaya tidak ada keraguan lagi." Sahut dokter Lee menyarankan.


"Baiklah, Dok. Kami setuju untuk melakukan tes DNA!!" Jawab Kevin menimpali.


Karena bukan hanya Tuan Su saja yang penasaran, tapi Kevin juga. Kevin ingin tau apakah Erica benar-benar putri ayah mertuanya yang hilang atau bukan. Jika memang itubenar, maka tidak heran jika dia memiliki wajah bak pinang di belah dua dengan mendiang Stella.


Dan butuh waktu 24-48 jam untuk mengetahui hasilnya. Apakah Erica benar-benar putri Tuan Su atau bukan.


.

__ADS_1


.


Kevin menahan pergelangan tangan Erica ketika dia hendak masuk ke dalam mobilnya. Mereka berdua hendak pulang setelah menemui Tuan Su. Erica menoleh dan menatap Kevin penuh tanya.


Melihat tatapan Kevin yang begitu serius membuat Erica sedikit kebingungan. Dia belum pernah melihat Kevin seserius ini.


"Ada apa?" Tanya Erica masih dengan tatapan bingungnya.


"Demensia, kenapa kau tidak pernah jujur padaku jika saat ini kau mengidap penyakit itu?" Ucap Kevin sambil mengunci sepasang manik Hazel milik Erica.


Keterkejutan terlihat jelas di sepasang mata Hazel-nya. "Ba..Bagaimana kau bisa tau?" Tanya Erica terbata-bata.


"Jadi benar, kau memang mengidap penyakit itu?" Erica tak menjawab dan hanya menundukkan kepalanya. Dan kediaman Erica Kevin anggap sebagai jawaban.


"Lalu kenapa kau tidak memberitahuku dan malah menyembunyikannya. Beberapa Minggu terakhir ini kau selalu mengatakan kalimat-kalimat aneh dan ambigu. Kau juga sering melupakan hal-hal kecil yang awalnya aku pikir itu adalah sesuatu yang wajar. Tapi semakin lama itu malah menggangguku dan selalu membuatku bertanya-tanya. Kenapa, Erica? Kenapa kau menyembunyikan hal sebesar ini dariku? Kenapa kau tidak memberitahuku?"


Kevin menghela napas. "Sebenarnya kau anggap apa aku ini? Aku suamimu, seharunya kau tidak main rahasia-rahasian dariku. Jujur saja aku sedikit kecewa padamu,"


Erica kembali menundukkan kepalanya."Maaf, Kevin aku tidak bermaksud membuatmu kecewa, dan sebaiknya kita berpisah saja. Lupakan aku, kau pantas mendapatkan yang lebih baik." ujar wanita itu, Erica mulai meneteskan air mata yang sedari tadi ditahannya


"Kenapa aku harus meninggalkanmu disaat kau membutuhkan seseorang sebagai sandaran?! Dan jika aku pergi, lalu bagaimana kau akan melewati semuanya? Tidak, Erica. Aku tidak akan meninggalkanmu, kita akan melewatinya bersama-sama. Bagaimana pun caranya aku pasti bisa membuatmu sembuh dan terbebas dari penyakit itu!!"


"Tapi Demensia tidak bisa disembuhkan, Kevin!!"


"BISA!!" Kevin menyela ucapan Erica. "Pasti bisa, lagipula dokter bukanlah Tuhan. Dan apa yang tidak mungkin bagi manusia, justru mungkin jika Tuhan sudah berkehendak. Dan percayalah jika miracle itu ada."


Air mata Erica tumpah tanpa mampu dia cegah. Kevin maju dua langkah ke depan lalu membawa Erica ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Dulu aku tidak bisa melindungi Stella dan membuatnya selalu berada di sisiku, dan sekarang aku tidak akan melakukan kebodohan yang sama yang dan membuatmu meninggalkanku juga. Bagaimana pun caranya, aku pasti akan membuatmu sembuh dan terbebas dari penyakit terkutuk itu. Bahkan jika harus mengorbankan semua hartaku. Aku rela kehilangan segalanya, tapi aku tidak rela jika sampai kehilanganmu!!" Ujar Kevin.


Erica menyeka air matanya. Dia mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Kevin. Dalam pelukan Kevin tangis Erica semakin pecah. Wanita itu menangis sejadi-jadinya. Entah kenapa Erica menjadi semakin takut, dia takut jika tidak bisa mengingat apapun lagi terutama segala hal yang berhubungan dengan Kevin.


Saat dirasa mulai tenang. Kevin melepaskan pelukannya. Jari-jarinya menghapus jejak air mata dikedua pipi Erica. "Jangan menangis lagi, semua akan baik-baik saja. Sebaiknya kita pulang." Erica mengangguk. Kemudian keduanya masuk ke dalam mobil milik Kevin.


-


-


Dion menghentikan mobilnya disebuah pemakaman umum. Laki-laki itu memasuki area pemakaman dan berhenti disebuah gundukan tanah dengan nisan bertuliskan nama 'Sarah Hong' nama mendiang istri keduanya.


Pria itu menatap makam Sarah dengan sinis. Dia melemparkan bunga yang ada di genggamannya keatas pusara wanita yang dulu pernah sangat dicintainya itu. Dion menyeringai sinis.


"Sarah, kenapa kau harus pergi secepat ini? Aku sangat menyesal sekali, padahal aku belum mendapatkan apa yang kuinginkan darimu. Tapi kau malah mati dengan cepat."


Dion memperhatikan sekelilingnya. Orang-orang saling berbisik membicarakannya. Tapi Dion tidak peduli, toh mereka tidak mengenalnya juga. Dion kembali berbicara dengan gundukan tanah di depannya.


"Sarah, apa kau sedang mengutukku diatas sana karena telah membuatmu mati?! Tenang saja, Sayang. Secepatnya aku akan mencari seseorang untuk menemanimu kok, karena jika Erica tidak bisa aku miliki lagi. Aku akan mengirim dia untuk menemanimu. Jadi kau tenang saja ya."


Dan tanpa sepengetahuan Dion, seseorang tengah merekam apa yang dia katakan. Orang itu kemudian pergi dari sana dan kembali ketempat dimana dia memarkirkan mobilnya. Ia baru saja mendapatkan sebuah bukti yang sangat-sangat akurat. Yang bisa membuat Dion dipenjara dan Erica akan lepas dari bahaya.


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2