Menikah Lagi Untuk Balas Dendam

Menikah Lagi Untuk Balas Dendam
Karma


__ADS_3

"APA?! JADI SEBENARNYA DIA ADALAH PUTRI KANDUNG PAPA YANG SELAMA INI HILANG?!"


Vera memekik sekencang-kencangnya setelah tau jika Ellena adalah putri kandung ayah tirinya yang selama ini hilang. Jadi cetakan kaki sepasang bayi yang pernah dia temukan di rumah ayah tirinya adalah cetakan kaki Stella dan saudari kembarnya yang selama ini hilang, yakni Ellena.


Bukan hanya Vera saja yang terkejut. Tapi hampir semua tamu undangan yang datang ke pesta juga terkejut. Ella yang merasa telah dibohongi selama ini menghampiri suaminya dengan wajah penuh amarah.


"Suamiku, sekarang jelaskan padaku, apa maksudmu mengatakan jika dia adalah putrimu yang hilang? Jangan hanya karena wajahnya mirip dengan Stella, jadi kau bisa mengakuinya sebagai putrimu!!"


Kevin ikut ambil bagian. Dia naik keatas podium bersama dokter yang membantu melakukan tes DNA. Sepertinya Kevin harus menjelaskan dengan gamblang agar tidak ada kesalahpahaman lagi.


"Ini adalah hasil tes DNA antara Tuan Su dan Ellena. Dan dia adalah dokter yang membantu mereka melakukannya. Apa Anda masih meragukan keakuratannya?! Ellena adalah putri kandung Tuan Su, dia saudari kembar Stella yang hilang selama puluhan tahun lalu karena diculik oleh orang yang tidak bertanggung jawab!!"


"Itu tidak benar!!" Sahut seseorang dari belakang. Tuan Song datang bersama istrinya. Mereka naik keatas podium juga. "Tuan Su, Anda jangan mengaku-ngaku. Dia adalah putriku, dan namanya bukan Ellena tapi Erica. Aku yang membesarnya sejak bayi!!"


Kevin mendekati pasangan suami-istri itu sambil membawa sebuah rekaman CCTV yang kemudian dia tunjukkan pada Tuan Song dan Nyonya Cindy.


"Tuan Song, ini adalah CCTV yang berhasil saya temukan dari sebuah insiden penculikan bayi di salah satu rumah sakit ternama di New York 23 tahun yang lalu. Bisakah Anda menjelaskannya?"


Wajah Tuan Song pucat seketika saat melihat benda yang ada di tangan Kevin ditambah kalimat yang keluar dari bibirnya. "I..Itu,"


"Anda adalah dalang utama dibalik penculikan bayi itu. Anda bekerjasama dengan seorang suster untuk menculik salah bayi kembar dari seseorang yang Anda anggap sebagai saingan bisnis Anda, padahal kalian berdua bersahabat baik. Dan bayi itu, kemudian Anda beri nama... Erica!!" Kevin menatap pria itu dengan tatapan menusuk.


Tuan Song menggeleng. Dia berusaha menjelaskan pada semua orang jika bukan itu fakta yang sebenarnya, dan menyaksikan mereka jika Erica adalah putrinya, putri kandungnya. Tetapi semua bukti itu benar-benar membuatnya tidak berkutik sama sekali.


"Masih ingin menyangkal?! Atau kita bawah saja masalah ini kepengadilan saja?!" Usul Kevin.


"Penculikan adalah tidak pidana. Dan sudah selayaknya jika penculiknya dikenai denda dan kurungan penjara, tapi semua keputusan ada di tangan Tuan Su," sahut seorang pria yang merupakan rekan bisnis keluarga Su.


Tuan Su menghampiri pria yang selama ini menjadi sahabat baiknya itu. Kekecewaan terlihat jelas pada sepasang biner matanya yang berubah dingin.


"Inikah kebaikan yang harus aku terima dari orang yang sudah aku anggap saudara? Aku sungguh tidak menyangka dan rasanya tidak percaya, jika sahabatku sendiri adalah orang yang telah menculik putriku. Dan mulai hari ini, Su dan Song tidak memiliki hubungan apapun lagi. Kerjasama perusahaan kita cukup sampai disini, dan aku akan mencabut semua investasi diperusahaanmu. Pergilah, tempat ini terlarang untuk orang sepertimu!!"


"Ta..Tapi~"

__ADS_1


"Bawa mereka berdua keluar dari gedung ini," perintah Tuan Su pada dua bodyguard yang berjaga di depan pintu.


"Baik, Tuan."


Tuan Su pun segera meminta maaf pada para tamu undangan atas keributan yang baru saja terjadi. Dan acara pun kembali dilanjutkan, semua tamu undangan yang hadir di-sana menikmati pesta yang sedang berlangsung.


.


.


Pesta sudah berakhir sekitar 30 menit yang lalu. Tetapi Kevin dan Ellena tidak langsung pulang, Ellena sedang berdebat dengan Vera dan ibunya. Sedangkan Kevin sedang berbincang serius dengan Tuan Su. Bagaimana pun juga dia adalah ayah kandung Ellena, dan Tuan Su berhak tau tentang penyakit yang di derita oleh putrinya.


"Demensia?"


Kevin mengangguk. "Ya, dan aku juga baru mengetahuinya,"


Tuan Su terkejut bukan main setelah mendengar jika putrinya sedang menderita penyakit yang juga di derita oleh mendiang istrinya. "Ya Tuhan, kenapa putriku juga harus menderita penyakit yang sama seperti yang di derita oleh ibunya," tuan Su mengusap wajahnya dengan frustasi.


Tuan Su mengangguk membenarkan. "Ya, Alexandra juga menderita Demensia. Stella dan Ellena kehilangan ibu mereka penyakit tersebut. Saat itu Stella masih kecil ketika ibunya meninggal. Karena takut putrinya tidak mendapatkan kasih sayang, dia memintaku untuk menikah lagi. Awalnya Papa menolak, tapi dia tetap memaksa sehingga Papa tidak memiliki pilihan. Ella sendiri adalah sahabat mendiang Alexandra." Tutur Tuan Su panjang lebar.


Kevin baru tau, jika Demensia adalah salah satu penyakit keturunan. Apalagi yang bisa sembuh dari pengidap Demensia tak lebih dari 5% saja, membuat Kevin semakin ketakutan jika Ellena tidak bisa disembuhkan. Ia sudah pernah kehilangan Stella, dan Kevin tidak ingin kehilangan Ellena jua.


"Pa, sudah larut malam. Sebaiknya aku bawa Ellena pulang." Ucap Kevin seraya bangkit dari duduknya.


Tuan Su mengangguk. "Baiklah, hati-hati dijalan dan jangan mengebut. Sering-sering bawa Ellena datang mengunjungi Papa,"


"Pasti, Pa."


-


-


Angin menyapu lembut rambutnya, terbang bersama arah angin diatas bukit. Tahun lalu Ellena datang ketempat ini sendiri untuk merayakan ulang tahunnya, tapi sekarang dia kembali untuk menunggu seseorang.

__ADS_1


Seseorang yang telah membawanya keluar dari kehidupan penuh tekanan, membebaskan dia dari masa lalu yang kelam. Orang yang mampu menerima dirinya yang tidak sempurna.


Hari ini adalah hari perayaan ulang tahun Ellena yang ke 24, Kevin menghubunginya dan mengajaknya untuk membuat perayaan kecil dengan makan malam di salah satu hotel berbintang di kota Seoul.


Ellena datang lebih cepat dari waktu yang ditentukan, alasannya karena dia tidak ingin membuat Kevin sampai menunggunya. Lebih baik dirinyalah yang menunggu.


Lonceng diatas pintu cafe berdenting, orang yang sedari tadi Ellena tunggu-tunggu akhirnya menampakkan batang hidungnya. Wanita itu tersenyum lebar.


"Maaf, membuatmu menunggu terlalu lama," ucap Kevin penuh sesal.


Ellena menggeleng. "Tidak sama sekali, lagipula aku juga baru datang." Jawabnya tersenyum.


Kevin mengeluarkan sesuatu dari saku celananya lalu memberikan pada Ellena. Wanita itu kebingungan dan menatap kotak kecil itu penuh tanya. Lalu Kevin membukanya dan ternyata sebuah kalung berlian yang sangat cantik.


"Untukku?" Kevin mengangguk.


"Happy birthday, Sayang. Maaf, aku tidak bisa menyiapkan sebuah pesta yang meriah untukmu." Ucap Kevin penuh sesal.


Ellena menggeleng. Wanita itu kemudian bangkit dari duduknya dan menghambur ke dalam pelukan Kevin. "Tidak apa-apa, ini lebih dari cukup. Kalungnya sangat cantik dan aku menyukainya." Wanita itu tersenyum lebar. Apapun pasti akan Kevin berikan selama itu bisa membuat Ellena tetap tersenyum seperti ini.


"Pesanannya sudah datang, ayo kita makan sekarang." Ucap Kevin yang kemudian dibalas anggukan oleh Ellena.


Dan selanjutnya kebersamaan mereka hanya diisi dengan keheningan. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Kevin maupun Ellena, hanya terdengar suara sendok dan piring yang saling berdentingan.


-


-


Bersambung.


-


-

__ADS_1


__ADS_2