Menikah Lagi Untuk Balas Dendam

Menikah Lagi Untuk Balas Dendam
Stella Hidup Lagi


__ADS_3

"Ma, kapan sih tua Bangka itu matinya?! Kenapa hanya koma dan tidak mati saja?!"


"Vera!! Jaga bicaramu, jika dia mati lalu bagaimana dengan kita berdua?! Apa kau mau jatuh miskin dan hidup di kolong jembatan?!"


"Tentu saja tidak!! Lagipula jika dia mati bukankah seluruh hartanya akan jatuh ke-tangan kita berdua? Toh, putrinya juta sudah menjadi tanah. Lalu siapa lagi jika bukan kita berdua yang akan menjadi ahli warisnya?!"


"Pelankan suaramu!! Bagaimana jika ada yang mendengarnya?!"


"Ck, tidak ada siapa-siapa disini, hanya kita berdua. Memangnya siapa yang bisa mendengarnya, lagipula kenapa kalau ada yang mendengarkan?! Itu tidak akan berpengaruh apa-apa pada kita berdua!!" Ujar Vera menimpali.


"Tapi tetap saja kita harus waspada dan hati-hati, atau kita berdua akan terkena masalah?!"


Pembicaraan ibu dan anak tersebut diinterupsi oleh kedatangan seseorang, keduanya menoleh dan mendapati Kevin yang datang bersama asisten pribadinya, Leon. Melihat kedatangannya, membuat senyum dibibir Vera merekah seketika. Ia pun buru-buru berdiri dan menghampiri Kevin.


"Kakak ipar, kau datang untuk menjenguk papa ya? Pasti papa sangat senang melihatmu datang,"


Kevin menyentak tangan Vera dari lengannya, dia paling tidak suka jika ada orang asing yang bersikap sok baik dan sok dekat dengannya. Vera langsung cemberut dan kembali ke sisi ibunya.


"Bagaimana keadaan, Papa?" Tanya Kevin pada wanita setengah baya disamping Vera.


"Dia mengalami koma, dan belum sadar sampai sekarang,"


"Apa yang terjadi, bukankah sebelumnya dia baik-baik saja dan tidak memiliki riwayat penyakit yang berbahaya? Tapi kenapa tiba-tiba dia jatuh sakit sampai mengalami koma?" Tanya Kevin penuh selidik.


"Itu karena~"


"Tuan, Nero. Ini adalah hasil pemeriksaan menyeluruh yang telah kami lakukan pada ayah mertua Anda. Kami menemukan kandungan Zat Arsenik di dalam tubuh tuan Su, sepertinya seseorang menggunakan Zat berbahaya itu untuk meracuni beliau secara bertahap," ujar seorang laki-laki berkacamata yang merupakan dokter pribadi keluarga Nero.


"A..Apa, bagaimana bisa?! I..itu tidak mungkin, bahkan dokter terbaik rumah sakit ini mengatakan jika dia jatuh sakit sampai koma karena serangan jantung, ba..bagaimana mungkin sampai keracunan?!" Nyonya Ella menyela ucapan Dokter Kim karena tidak terima dengan penjelasannya.

__ADS_1


Dokter Kim sendiri adalah orang yang Kevin perintahkan secara diam-diam untuk menyelidiki apa yang terjadi pada ayah mertuanya. Dan sejak awal Kevin sudah merasa jika ada yang tidak beres pada keluarga mendiang istrinya.


Memang, Stella yang asli telah lama tiada. Tapi Kevin pernah berjanji pada mendiang istrinya sebelum dia menghembuskan napas terakhirnya, jika ia akan melindungi ayahnya dari orang-orang yang berniat buruk padanya.


"Mulai hari ini, aku akan membawa ayah ke rumah sakit pribadi milik keluarga Nero. Di-sana peralatannya lebih canggih dan aku bisa lebih tenang. Kalian tidak perlu menjaganya lagi, tapi jika ingin menemuinya, kalian bisa mengunjunginya sesekali,"


Ella menggeleng. "Tidak bisa!! Atas dasar apa kau mengambil keputusan ini, aku istrinya dan aku lebih berhak untuk merawatnya dari pada dirimu!!"


"Tapi aku adalah putrinya, dan aku lebih berhak atas ayahku dibandingkan dirimu!!" Sahut seseorang dari arah belakang. Sontak Ella dan Vera menoleh. Kedua mata ibu dan anak itu membelalak sempurna saking kagetnya saat melihat siapa yang datang.


"STELLA?!" Vera jatuh pingsan membuat Ella menjadi sangat panik. Sepertinya Vera sangat terkejut melihat Stella yang sudah lama meninggal tiba-tiba kembali dalam keadaan baik-baik saja.


Ella mengangkat wajahnya dan menatap perempuan itu dengan wajah sedikit memucat. "Ka..Kau, bukankah kau sudah mati?!" Dia menunjuk Stella dengan tangan dan bibir bergetar.


"Aku masih hidup, kalian saja yang terlalu awal menyimpulkan dan mengira jika aku sudah mati. Selama ini aku terbaring koma di rumah sakit dan baru sadar bulan lalu," jelasnya.


Stella mengangkat bahunya. "Aku sendiri tidak tau, mungkin saja orang lain yang tubuhnya terbakar hingga tidak di kenali lagi, jadi kalian semua mengira itu diriku!;" Tutur Stella memaparkan.


Lalu pandangan wanita itu bergulir pada Kevin. Mata Stella tampak berkaca-kaca, dan pria itu yang tampak mematung seolah-olah terkejut dengan kehadiran Stella yang tiba-tiba setelah kepergiannya selama bertahun-tahun.


"Kau..apa tidak ingin memelukku, Rusa jelek!!" Stella berkata dengan suara bergetar. Seolah-olah menahan tangis, Kevin maju dengan perlahan lalu menarik wanita itu kedalam pelukannya. "Hiks, aku merindukanmu," bisik Stella terisak.


Kevin mendongakkan wajahnya seolah-olah ingin menghalau cairan bening yang menggenang di pelupuknya, padahal dia sedang meneteskan obat tetes mata, Stella menyarankannya agar lebih dramatis.


Dokter Kim ikut meneteskan air matanya melihat pertemuan mengharukan tersebut. Sangat berbanding balik dengan nyonya Ella. Dia langsung pucat, bahkan Vera masih belum sadarkan diri.


"Jangan pergi lagi," lirih Kevin memohon.


Stella menggeleng. "Tidak, aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Tidak akan pernah!!" Bisiknya.

__ADS_1


Kevin melepaskan pelukannya lalu memandang Stella dengan penuh arti. "Ayo kita masuk dan temui ayahmu, mungkin saja dia bisa segera sadar jika tau kau masih hidup." Ucapnya yang kemudian dibalas anggukan oleh Stella.


Keduanya meninggalkan Vera dan Ella begitu saja lalu masuk ke dalam ruangan tempat tuan Su di rawat. Kevin sungguh tidak menduga jika Stella akan berakting dengan sebagus itu, ternyata wanita itu lebih cerdik dari yang Kevin pikirkan.


-


-


Dion yang baru saja tiba di rumahnya terkejut melihat banyaknya barang-barang branded berjajar di lantai kamarnya. Mulai dari pakaian, tas, sepatu, make up sampai aksesoris pun ada.


Sarah yang baru saja keluar dari kamar mandi melebarkan senyumnya ketika melihat kedatangan sang suami, sementara Dion memasang wajah dingin dan tatapan penuh intimidasi.


"Jelaskan, Sarah, apa maksudnya semua ini? Kenapa kau membeli banyak sekali barang-barang mahal disaat kita sedang krisis ekonomi?!"


"Loh, kenapa sekarang kau jadi mempermasalahkannya?! Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika uangmu juga uangku dah aku bebas memakai uang itu untuk membeli apapun yang aku mau?! Lalu kenapa sekarang kau malah mempermasalahkannya?!"


Dion menatap Sarah tak percaya. "Kau benar-benar ya, kenapa kau tidak bisa berpikir dengan ot*k mu?! Saat ini perusahaan sedang mengalami masalah, seharusnya kau bisa berhemat bukannya malah menghamburkan uang seperti ini. Kau tidak lebih baik dari Erica, menyesal aku lebih memilih wanita sepertimu!!"


Plakkk...


Sarah menampar Dion dengan sangat keras. Amarah terlihat dari kedua matanya."Baj*ngan!! Berani sekali kau membandingkan aku dengan dia, tentu kami berbeda dan tidak pernah sebanding. Sampai kapanpun, aku lebih baik dari si bodoh itu!!" Sarah mendorong Dion hingga terhuyung ke belakang dan pergi begitu saja.


"Aaarrrkkhhh!!! Kenapa semua jadi sekacau ini!! Sarah, kau memang wanita brengsek!!"


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2