Menikah Lagi Untuk Balas Dendam

Menikah Lagi Untuk Balas Dendam
Lebih Indah


__ADS_3

Di usia senjanya. Tuan Su menemukan kembali kebahagiaannya yang hilang, yakni putrinya. Alex pikir dia sudah kehilangan kedua putrinya, tapi ternyata Tuhan masih menyayanginya dengan mengembalikan Ellena ke sisinya.


Disisi lain, ia juga merasa lega karena pembunuh putrinya akhirnya tertangkap juga. Yang begitu mengejutkan adalah, orang itu adalah Vera dan Ella, dua orang yang juga penting dalam hidupnya.


Alex Su benar-benar tidak menyangka jika mereka berdua bisa bertindak sekeji itu pada putrinya. Tetapi mereka telah mendapatkan karmanya. Ya, saat ini mereka berdua menjadi penghuni hotel prodeo.


"Tuan Su, ini adalah berkas-berkas yang Anda minta. Tuan Muda Nero telah setuju dan menandatangi. Dan seperti yang Anda inginkan, Song Group sedang mengalami krisis keuangan. Sementara itu, Martadinata Group juga sedang berada diujung tanduk, CEO-nya menghilang setelah video tak senonohnya tersebar luas di internet, majalah dan berbagai program berita." Jelas sang asisten.


Alex Su mengangguk paham. "Bagus sekali, dua lalat besar sudah berada ditangan, dan apakah menantuku sudah mengetahui hal ini?" Tanya Alex Su memastikan.


"Sudah, Tuan. Karena saya mendapatkan berita ini dari beliau." Jawabnya.


Alex Su tersenyum. "Menantuku memang paling bisa diandalkan. Baiklah, kau boleh keluar." Sang asisten pun mengangguk lalu membungkuk dan melenggang pergi meninggalkan ruangan atasannya.


Alex sangat puas saat mendengar jika duo orang yang sudah membuat hidup putrinya menderita kini berada diambang kehancuran. Selama ia dan Kevin bisa bekerja sama dengan baik, maka apa yang tidak mungkin menjadi mungkin.


-


-


Ellena menghampiri Kevin yang sedang memeriksa beberapa email di laptopnya sambil membawa beberapa helai baju yang kemudian dia berikan padanya. "Key, aku membeli beberapa helai pakaian untukmu. Maukah kau mencobanya?"


Kevin mengangkat wajahnya dan menatap perempuan yang berdiri di depannya dengan tatapan bertanya. "Baju untukku? Bukankah kau baru membelikan beberapa helai Minggu lalu, dan aku belum sempat memakai semuanya,"


Ellena mendengus. "Itu kan Minggu lalu, aku ingin membelikannya lagi untukmu dan kau tidak berhak menolaknya!! Tidak boleh!!" Tegas Ellena memaksa.


Kevin berdiri lalu mengambil baju-baju itu dari tangan Ellena. Bukan kemeja ataupun jas. "Ell, kau serius memintaku memakai baju-baju ini?" Kevin menatap Ellena tak percaya.


Perempuan itu memicingkan matanya."Kenapa? Apakah baju-baju ini tidak bagus? Aku sering melihat para idol K-pop memakainya, dan bagus kok."

__ADS_1


Kevin menggaruk pelipisnya dengan jari telunjuknya. Bagaimana dia harus menjelaskannya pada Ellena.


"Itu karena mereka seorang idol, Sayang. Tuntutan pekerjaan mengharuskan mereka memakai apapun yang telah disiapkan, sementara aku adalah seorang CEO, dan pakaian seperti ini tentu tidak cocok untukku. Atau begini saja, kau ingin aku memakai pakaian lengan terbuka kan?"


Ellena mengangguk. "Ya," jawabnya singkat.


"Aku kabulkan, tapi bukan yang ini ya. Aku akan memakai milikku sendiri, kau tidak keberatan bukan?" Ellena menggeleng. "Kalau begitu tunggu sebentar," Kevin mengusap kepala Ellena sambil tersenyum tipis.


Perempuan itu menoleh dan menatap punggung Kevin yang semakin menjauh dengan pandangan bertanya-tanya. Lalu pandangannya bergulir pada beberapa helai jeans belel dan Hoodie lengan terbuka yang ia beli tadi.


"Padahal tdiak seburuk itu menurutku," gumam Ellena setengah menggerutu.


Selang beberapa menit. Kevin menghampiri Ellena dengan atasan berbeda. Sebuah vest hitam sepanjang paha dan kemeja putih lengan terbuka melekat ditubuh pria itu. Tampan dan cool, begitulah penilaian Ellena atas penampilan Kevin saat ini.


Perempuan itu melompat ke dalam pelukan Kevin sambil tersenyum lebar. "Ini yang aku maksud, lihatlah betapa tampan dan cool-nya dirimu. Suamiku memang yang paling tampan, dan sekarang kau harus membawaku keluar untuk jalan-jalan." Ujarnya sambil mengunci tatapan Kevin, kedua tangannya memeluk leher pria itu.


"Em, kemana ya? Aku sendiri tidak tau, yang jelas aku mau keluar jalan-jalan." Jawabnya.


Kevin mengangguk. "Kalau begitu ganti pakaianmu, kita pergi keluar." Ellena kemudian turun dari gendongan suaminya dan bergegas mengganti pakaiannya. Kevin tersenyum tipis melihat tingkah istrinya, melihat Ellena yang begitu semangat membuat perasaan Kevin menghangat.


-


-


Kevin dan Ellena duduk berdampingan menikmati suasana malam, dengan dikelilingi oleh keheningan malam sembari melihat lautan bintang yang berkelap-kelip yang ditemani cahaya rembulan diatas mereka.


Tidak lupa lampu-lampu kota-yang tidak seterang bintang yang juga menemani keheningan antara mereka. Menenangkan dan begitu menyenangkan. Pemandangan seperti inilah yang selalu mereka cari, mengingat mereka tinggal di sebuah kota sibuk dengan bangunan tinggi yang begitu menyesakkan.


Dan menyenangkan lagi, bahwa kali ini mereka berdua bisa menikmati suasana yang begitu menenangkan. Tidak ada siapapun kecuali mereka berdua.

__ADS_1


Beberapa orang mungkin menganggap keheningan adalah sebuah momen canggung yang sangat mengganggu. Tetapi tidak bagi Kevin dan Ellena. Karena bagi mereka saling ada satu sama lain itu sudah lebih dari cukup. Mereka berdua tidak memerlukan apa-apa lagi.


"Ini semua tentang waktu."


Mata Ellena memicing beriringan dengan keningnya yang berkerut. "Waktu? Untuk apa?"


Kevin tersenyum lembut sembari menatap Ellena lalu kembali mengarahkan pandangannya ke langit malam. Wanita itu masih bertanya-tanya.


"Lihat saja dan kau akan segera mengetahuinya,"


Ellena diam dan tidak memperdulikan ucapan Kevin, ia kembali melihat langit malam. Detik berikutnya mata Ellena menatap serangkaian cahaya warna warni dengan suara ledakan yang tidak terlalu besar.


Warna-warni cahaya yang melawan langit malam dengan waktu yang singkat untuk memperlihatkan betapa indahnya mereka. Kebisingan yang keluar dari kembang api tersebut tidak menganggu Ellena yang sangat menyukai warna mereka.


Kembang api terus meledak dan jatuh seperti air terjun dengan warna cerah. Beberapa dari mereka meluncur dengan indah seolah bintang jatuh. Ellena tersenyum senang lalu menolehkan pandangannya, melihat Kevin yang juga menikmati momen yang sudah ia susun tersebut.


"Apa kau yang menyiapkannya?" Kevin tersenyum seraya mengangkat bahunya. Ellena ikut tersenyum juga. "Lihatlah, mereka begitu indah…" suara Ellena berpadu dengan bising suara kembang api.


Kevin lalu menoleh dan menatap Ellena yang masih terpaku dengan kembang api itu, seolah-olah mereka adalah hal yang paling indah yang pernah Ellena lihat. Mata Ellena masih mencerminkan cahaya kembang api yang terlihat indah di mata gadisnya itu.


Bagi Kevin, Ellena lah cahaya kembang apinya. Tidak, di mata Kevin, dialah yang terindah yang pernah ia lihat lebih indah dari apapun termasuk cahaya kembang api itu. Jauh lebih indah dari sinar yang dipancarkan oleh bulan sekalipun. Sebuah sinar lembut bermain di bibir Kevin lalu berbisik.


"Ya, mereka memang indah. Tapi bagiku masih lebih indah dirimu,"


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2