Menikah Lagi Untuk Balas Dendam

Menikah Lagi Untuk Balas Dendam
Kembali Ke Seoul


__ADS_3

"Sebenarnya dendam apa yang kau miliki pada keluarga Martadinata, sampai-sampai kau mau membantuku untuk membalas dendam?"


Stella membuka percakapan setelah ia dan Kevin saling diam selama beberapa saat. Saat ini mereka berdua sedang menyantap sarapannya di sebuah restoran mewah di pusat kota London.


Seperti permintaan Stella yang ingin memakan makanan Eropa, dan Kevin menyetujuinya. Bagi Stella, makan di restoran mewah seperti ini adalah sesuatu yang baru, tapi tidak bagi Kevin. Kevin sudah terbiasa dan hampir setiap saat dia makan di tempat mewah seperti ini.


"Kakakku, saudara Perempuanku satu-satunya meninggal di tangan mereka. Dan aku tidak bisa menerimanya, apalagi merelakan kepergiannya!!" Kevin mengepalkan tangannya. Hatinya kembali berdenyut sakit setiap kali mengingat kejadian 5 tahun yang lalu.


"Kau memiliki seorang kakak, dan dia meninggal di tangan keluarga Martadinata?" Kevin mengangguk. "Bagaimana bisa?"


"Ceritanya panjang, lain kali saja aku akan menceritakannya padamu. Segera habiskan sarapanmu, setelah ini kita pergi ke bandara. Satu jam lagi kita harus kembali ke Korea."


"Secepat ini? Baru juga satu malam disini, dan lagi pula kau belum membawaku pergi ke beberapa tempat ikonik di kota ini. Besok atau lusa saja ya, semalam lagi saja. Please," Stella memohon pada Kevin.


Laki-laki itu menggeleng. "Tidak bisa, karena tujuan kita datang kemari bukan untuk jalan-jalan apalagi bersenang-senang. Lagipula masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan di Seoul, jadi lain kali saja!!"


Stella mendecih sebal. Apa semua orang kaya sama menyebabkannya seperti Kevin? Dan jika saja hubungan mereka lebih baik dari ini pasti Stella bisa merengek dan memaksa untuk tetap tinggal satu-dua malam lagi.


Tapi sayangnya mereka tidaklah seintim itu, meskipun sudah menjadi suami-istri dan beberapa kali melakukan hubungan intim. Stella masih tidak berani memaksakan kehendaknya pada Kevin.


-


-


Pesawat lepas landas. semakin naik, rodanya sudah tak berpijak lagi di bumi. Didalam pesawat itu hanya terdapat Kevin dan Stella. Mereka pulang pergi dengan pesawat pribadi, yang membuat mereka lebih leluasa dan privasinya terjaga.


Stella duduk di jok barisan tengah pesawat, dekat jendela. Dilihatnya isi permukaan bumi semakin mengecil saja, awan-awan sesekali menghalangi pandangannya. Semakin tinggi dan semakin tinggi. Laut terlihat begitu biru dengan beberapa kerlipan air terkena sinar matahari sore ini, kontras dengan warna daratan yang hijau.


Stella begitu takjub, betapa cerdasnya manusia bisa menciptakan alat untuk terbang. Dia tak habis pikir, pesawat ini sangat berat, belum lagi ditambah penumpang. Tapi kenapa bisa melayang diudara? Benar-benar canggih.


Diliriknya lagi orang di sebelahnya. Siapa lagi kalau bukan Kevin, dia sedang duduk tegak dengan tangan dilipat di depan dada. Matanya terpejam di balik kaca mata hitamnya.


Stella menatapnya, innernya berkata 'Baru beberapa menit saja dia sudah pulas tertidur, payah!'


Tiba-tiba mata Kevin membuka kaca mata hitamnya dan balik menatap Stella. Wanita itu terkejut, dia mengira jika Kevin benar-benar tidur, ternyata hanya sekedar menutup mata saja.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Kevin bingung.


Stella menggeleng. "Ah.. ti-tidak," ia sedikit gelagapan dan salah tingkah. Stella baru saja tertangkap basah sedang menatap Kevin diam-diam.


"Oh," Kevin memakai kembali kaca matanya dan posisi duduknya kembali seperti tadi, bersandar dengan kedua tangan di depan dada. Stella mendecih sebal, dia kembali melihat keluar jendela.


.


.


Berlama-lama memandang keluar jendela membuat Stella agak pusing. Dia pun mencoba untuk tidur sejenak sampai mereka tiba di Seoul.


Kepala Stella saat tidur tidak bisa tetap tegak seperti halnya Kevin sekarang. Tiap dirinya hampir terlelap, pasti kepalanya oleng kesana-kemari sampai bertabrakan dengan jendela pesawat.


Dia menatap suaminya itu dengan kesal. Mungkin lebih tepatnya iri. Kenapa Kevin bisa tidur setenang itu, sedangkan dirinya tidak? Apa mungkin karena Kevin sudah terbiasa dan dia baru kedua kalinya naik pesawat terbang?


Stella mengibas-ngibaskan tangannya didepan muka Kevin. Dan la tidak menunjukkan reaksi yang berarti. Dia tetap seperti itu. Sepertinya Kevin sudah nyenyak.


Stella sudah mulai merasakan ngantuk yang luar biasa. Dia mulai memejamkan matanya, dan seperti biasa kepalanya oleng lagi dan..


Kepala Stella sukses mendarat di bahu kanan Kevin, karena dia sudah terlalu mengantuk, ia pun tidak peduli bagaimana posisinya sekarang.


Sedangkan Kevin yang bahunya dijadikan bantal oleh Stella, kepalanya jatuh diatas kepala wanita itu karena benturan yang lumayan keras antara bahunya dan kepala Stella. Akhirnya kepala mereka bertumpukan diatas bahu Kevin tanpa mereka berdua menyadarinya.


.


.


Pesawat sudah take off. Kevin terbangun dari tidurnya, dia merasa bahu sebelah kanannya agak berat lalu diliriknya. Ada Stella di sana.


Melihat Stella yang tidur begitu pulas membuat Kevin tidak tega untuk membangunkannya. Dan akhirnya dia memutuskan untuk mengangkat tubuh wanita itu tanpa berniat membangunkannya.


Sebuah pemandangan yang sangat langkah. Para pelayan dibuat tercengang oleh apa yang dilakukan oleh Tuan mereka. Karena ini pertama kalinya mereka melihat Kevin yang dikenal sangat dingin bisa seintim itu dengan perempuan.


Tapi bagi mereka yang sudah bekerja lama padanya, tentu itu bukan sesuatu yang baru. Karena dulu Kevin juga sering melakukannya pada mendiang istrinya yang meninggal karena kecelakaan.

__ADS_1


"Kenapa kau menggendongku?" Stella bertanya antara sadar dan tidak sadar, karena matanya masih tertutup rapat. "Apa kita sudah sampai?" Ucapnya lagi.


"Hm,"


"Aku pasti berat ya, maaf merepotkanmu." Ucapnya penuh sesal.


"Kau bisa menebusnya nanti, puaskan aku diatas ranjang!!"


Stella memukul dada Kevin dan berdecak sebal. Apa yang membuat pria dingin ini jadi sedikit mesum?! "Kau mesum!!" Kedua matanya begitu sulit untuk dibuka, Stella benar-benar mengantuk dan lelah. Wanita itu pun kembali terlelap di dalam pelukan Kevin.


Setelah membaringkan Stella di kamarnya. Kevin pergi ke ruang kerjanya karena ada hal penting yang harus dia bicarakan dengan Leon, asisten pribadinya juga orang yang selama ini menjadi tangan kanannya.


"Bagaimana penyelidikanmu selama beberapa hari ini? Apa kau sudah menemukan siapa pelukis asli dari lukisan itu?"


"Sudah, Tuan. Tapi informasi yang saya dapatkan masih simpang siur, karena banyak yang mengaku dan mengklaim jika lukisan itu adalah milik mereka." Jelas Leon.


"Cari tau terus dan temukan pelukis itu secepatnya."


Leon mengangguk. "Baik, Tuan."


"Baiklah, kau boleh pergi."


Kevin sedang mencari seorang pelukis misterius yang hasil karyanya dia beli dari sebuah pelelangan di Swedia beberapa tahun lalu, lukisan yang mengingatkannya pada seorang teman lama. Seorang teman yang bertemu dengannya tanpa sengaja di sebuah rumah sakit.


Kevin pernah mengalami kebutaan ketika masih remaja akibat kecelakaan yang telah menewaskan kedua orang tuanya. Hanya dia dan mendiang kakaknya yang berhasil selamat.


Dan ketika dalam masa perawatan itulah dia bertemu dengan seorang gadis kecil misterius yang bahkan wajahnya sendiri tidak pernah Kevin lihat.


Gadis kecil itu meminta ijin untuk melukisnya dan Kevin mengijinkannya. Lukisan itu sempat hilang karena di curi, dan akhirnya dia temukan lagi tahun lalu disebuah pelelangan di Swedia. Kevin sendiri tidak tau bagaimana lukisan itu bisa sampai sana.


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2