Menikah Lagi Untuk Balas Dendam

Menikah Lagi Untuk Balas Dendam
Kedai Pinggir Jalan


__ADS_3

Stella berkeliling untuk melihat lukisan-lukisan yang dipamerkan di galery ini. Banyak sekali lukisan hasil karya pelukis ternama dunia yang ikut dipajangkan disini, termasuk lukisan miliknya yang dia sumbangkan bulan lalu.


Wanita itu menoleh saat menyadari kedatangan seseorang. Seorang pria tampan berdiri disampingnya sambil mengurai senyum lebar.


"Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya, apa ini pertama kalinya kau datang ke pameran lukisan?" Tanya pria itu sedikit basa-basi. Stella mengangguk membenarkan. "Oya, perkenalkan aku Jackson," pria itu mengulurkan tangannya pada Stella.


"Maaf, Tuan Shin. Tapi wanita cantik ini adalah istriku, dan kebetulan sekali dia tidak suka berinteraksi dengan orang baru yang belum dia kenal." Tiba-tiba Kevin datang dan menepis tangan Jackson.


Jackson tampak terkejut. "Oh, maaf Tuan Nero, sungguh saya tidak tau jika gadis cantik ini adalah istri Anda. Nona, Maaf sudah mengganggumu. Kalau begitu saya permisi dulu." Jackson membungkuk dan pergi begitu saja.


Stella tersenyum lalu memeluk lengan Kevin ketika pria itu mengulurkan tangannya. "Tidak baik kau jalan-jalan sendirian ditempat seperti ini. Karena orang lain akan mengira jika kau adalah wanita single yang belum memiliki pasangan." Ucap Kevin di tengah langkahnya.


"Kau tenang saja, aku tau batasanku. Apakah acaranya sudah selesai, aku lapar dan ingin makan," Stella memegangi menunjuk perutnya yang mulai keroncongan.


Kevin menjitak kepala Stella pelan. "Itu perut atau karet. Perasaan makanmu banyak, tapi kenapa tubuhmu tetap saja kurus?!" Cibir Kevin setengah mengejek.


Stella memukul lengan Kevin dan mendecih sebal. "Dasar pria cantik menyebalkan!! Mulai sekarang aku akan memanggilmu Rusa China!!" Balas Stella dan pergi begitu saja.


"Yakk!! Panggilan macam apa itu?! Stella, tunggu!!"


.


.


Mereka berjalan dalam keheningan. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Kevin maupun Stella. Keduanya saling diam dalam keheningan. Saat ini pasangan suami-istri itu sedang berjalan menyusuri trotoar jalan dan membaur dengan pejalan kaki yang lain.


Sesekali Stella memandang pria disampingnya yang sedari tadi hanya memasang wajah dinginnya. Dia paling benci suasana semacam ini, tapi Stella sendiri bingung harus memulai percakapannya dengan Kevin dari mana. Dia adalah pria super dingin dan acuh.


"Kau ingin makan dimana? Dari tadi kita hanya berputar-putar saja tanpa ada kejelasan sama sekali," Kevin menghentikan langkahnya dan menatap wanita yang berjalan disebelahnya.


"Eh, betul juga. Di dekat sini ada kedai makanan sederhana tapi rasanya sangat enak. Tempatnya juga terjamin, bagaimana kalau kita makan di sana saja?!" Usul Stella.


Mata Kevin memicing. "Kedai?" Stella mengangguk. "Apa kau yakin ingin makan di kedai pinggir jalan? Apa sungguh tidak apa-apa, bukankah itu tempat yang kotor dan kumuh?!" Kevin tampak ragu.


"Jangan asal menyimpulkan sebelum kau melihatnya langsung dengan mata kepalamu sendiri. Karena tidak semua kedai itu kotor dan kumuh, ada juga kedai yang mengutamakan kebersihan dan kenyamanan pelanggannya. Salah satunya adalah kedai yang aku maksud ini. Sudahlah, jangan banyak berpikir, ayo kita pergi sekarang."

__ADS_1


Stella menarik lengan Kevin dan membawanya menyebrang jalan ketika lampu lalu lintas telah berubah warna. Keduanya berjalan menuju sebuah kedai kecil pinggir jalan.


Dari kejauhan Kevin melihat kedai tersebut tampak ramai dan banyak pengunjungnya. Dari luar kedai itu juga tampak bersih. Sepertinya Stella mengatakan yang sebenarnya tentang kedai tersebut.


"Ayo duduk," Stella menarik Kevin untuk duduk disalah satu meja kosong.


Wanita itu memanggil pelayan untuk memesan. Dan Kevin yang memang tidak tau apa saja menu di kedai tersebut memilih menyamakan dengan pesanan Stella.


"Bagaimana? Aku tidak berbohong kan, tempat ini benar-benar bersih bukan? Dan saat kau merasakan rasa makanannya, kau akan langsung ketagihan!!"


"Kenapa kau percaya diri sekali?"


"Tentu saja, dan aku berani menjaminnya!!"


Tak lama berselang pesanan mereka datang. Stella tersenyum ramah pada pelayan yang mengantarkan makanannya, sedangkan Kevin seperti biasa, dia hanya memasang muka datar.


"Kenapa hanya dilihat saja? Ayo dicoba, aku jamin kau tidak akan menyesal menurutiku makan disini." Ujar Stella.


Dengan ragu dan tak yakin, Kevin mencoba sup iga sapi yang Stella pesankan untuknya. Dan setelah sup itu masuk ke dalam mulutnya dan dikecap oleh lidahnya, Kevin baru bisa merasakan jika sup itu benar-benar enak, ternyata Stella tidak berbohong.


"Lumayan, tidak terlalu buruk." Jawabnya acuh tak acuh. Stella terkikik pelan, dia tau jika Kevin sangat menikmati rasa sup itu. Memang dasar gengsinya terlalu tinggi, jadi Kevin tidak mau mengakui jika rasa supnya memang benar-benar enak.


"Dasar pembohong yang payah. Kalau memang enak akui saja enak. Tidak perlu berbohong segala dan bilang jika rasanya hanya lumayan saja!!"


"Ck, kau terlalu berisik!"


-


-


Tuan Song mondar-mandir di kamarnya. Pertemuan singkatnya dengan Stella membuatnya merasakan perasaan familiar seorang ayah pada putrinya. Tatapan wanita itu dan suaranya mengingatkan Tuan Song pada putrinya yang telah tiada.


Tapi mustahil jika itu adalah Erica, apalagi dia bersama dengan CEO Group Nero. Jadi itu lebih mustahil lagi jika yang dia temui tadi itu adalah putrinya.


Cindy menghampiri suaminya dan menatapnya dengan bingung. Bagaimana tidak bingung, dari tadi Tuan Song terus saja mondar-mandir tidak jelas.

__ADS_1


"Apa kau sudah tidak memiliki pekerjaan lain, sampai-sampai melakukan tindakan bodoh seperti ini!!"


Tuan Song menatap istrinya itu dengan dingin dan sinis. "Memangnya tau apa kau?! Sebaiknya kau diam dan jangan banyak bicara!! Atur saja putrimu yang tidak tau malu itu, nama baik keluarga ini bisa hancur karena kelakuannya!! Bagaimana bisa dia merebut adik iparnya sendiri, seperti tidak ada pria lain saja!!"


"Kenapa kau baru mempermasalahkannya sekarang?! Bahkan dulu kau tidak berkomentar apa-apa ketika Sarah menjalin hubungan dengan Dion dibelakang putrimu, tapi kenapa sekarang kau malah mempermasalahkannya?!"


"Jangan banyak omong kosong. Aku sudah muak bicara denganmu!!" Tuan Song meninggalkan istrinya begitu saja. Bahkan dia tidak menghiraukan teriakan Cindy.


"Aarrrkkhh, dasar kau bajingan tua sangat menyebalkan!!"


-


-


Kevin baru saja mendapatkan kabar jika ayah mertuanya sedang sakit keras dan saat ini di rawat di rumah sakit.


Mendengar kabar tersebut, Kevin pun segera memperindahkan Leon untuk segera menyelidikinya. Kevin memiliki firasat buruk tentang penyakit ayah mendiang istrinya yang sangat tiba-tiba.


"Kenapa kau terlihat cemas, apa sesuatu sedang terjadi?" Tanya Stella setibanya dia di depan Kevin.


"Aku baru saja mendapatkan kabar jika ayah mendiang istriku sedang sakit dan saat ini sedang di rawat di rumah sakit."


"Lantas?"


"Aku ingin kau ikut denganku ke sana. Sudah saatnya kau muncul dihadapan mereka sebagai Stella, kita akan melihat bagaimana reaksi mereka saat tau kau masih hidup!!"


Stella menatap Kevin yang juga menatapnya. Sebenarnya Stella ingin sekali menolaknya, tapi mengingat bantuan Kevin padanya akhirnya dia pun setuju untuk membantu suaminya ini. Meskipun sebenarnya dia melakukannya dengan berat hati.


"Baiklah, aku akan membantumu!!"


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2