Menikah Lagi Untuk Balas Dendam

Menikah Lagi Untuk Balas Dendam
Masih Tersegel


__ADS_3

Sekali lagi aroma tanah basah membangkitkan angan. Hujan menyelimuti kota, membawa serta seberkas kenangan yang enggan terlupa. Bukan kenangan baik, melainkan kenangan buruk yang membuat hatinya merasakan sakit bagaikan tersayat belati tajam.


Udara yang sunyi menjadi teman setia, dingin mengikuti malam yang selalu beku. Dia termenung, duduk sendiri di kusen jendela yang terbuka. Menikmati malam yang gelap tanpa bintang.


Suasana benar-benar sunyi, apalagi mansion tempatnya tinggal saat ini lumayan jauh dari keramaian kota. Hanya terdengar rinai suara hujan yang bagaikan merajam bumi.


"Apa yang sedang kau lamunkan?"


Stella menoleh, mendapati Kevin sedang menatap dari tempat tidurnya. Sinar mata coklatnya yang dingin menatapnya penuh tanya. Tanpa Stella sadari waktu sudah menunjukkan hampir pukul dua pagi, dan sepertinya keberadaannya di dalam kamar ini telah mengusik petualangan lelaki itu di alam mimpi.


"Apa aku membangunkanmu?" Bukan sebuah jawaban, Stella malah memberikan sebuah pertanyaan.


"Kau menghela napas berkali-kali, Nona. Bahkan membalik halaman novel itu seperti takut mereka akan memercikkan api, Stella," Ungkap Kevin dengan nada datar. "Kau tidak bisa tidur?"


Stella menggeleng. "Hanya belum mengantuk saja. Mungkin karena tadi siang aku tidur terlalu lama di dalam pesawat. Maaf membangunkanmu," ucapnya penuh sesal.


"Kau harus bertanggungjawab, Nona. Karena jika sudah terbangun begini. Maka akan sangat sulit untuk aku tidur lagi,"


Stella menghampiri Kevin lalu duduk di-pangkuannya. "Pertanggungjawaban seperti apa yang kau inginkan?" Dia menatap langsung ke dalam manik mata dingin milik Kevin. Kedua tangan Stella memeluk leher lelaki itu.


Lelaki itu menyeringai. Kedua tangannya memeluk pinggang ramping Stella. "Hm, membuatku hangat misalnya." Ucapnya lalu mengecup singkat bibir ranum Stella. Tak ada larangan untuk Kevin menyentuh apalagi memiliki setiap inci bagian dari tubuh wanita ini. Karena Stella sudah resmi menjadi istrinya.


"Jika kau memang menginginkannya, kenapa tidak. Mari kita lakukan, bukankah kita berdua sama-sama membutuhkan pelukan hangat?" Stella menyeringai.


"Kau sangat peka, Sayang. Tapi jangan harap aku akan berhenti ketika sudah memulainya, Stella."


"Tidak sama sekali," Stella menggeleng.


Keintiman mereka diawali dengan sebuah pelukan hangat dan ciuman manis, yang semakin lama ciuman itu berubah menjadi ciuman panas yang menuntut.


Kevin terus mengecupi setiap inci tub*h Stella yang polos tanpa sehelai benang pun. Kehangatan dan kelembutan yang Kevin berikan membuat Stella terbuai, apa yang tidak pernah dia dapatkan dari mantan suaminya, justru ia dapatkan dari suami barunya.


Awalnya Stella pikir alasan Dion tidak mau menyentuhnya karena dia menghormatinya. Tapi sekarang Stella tau betul alasannya, karena Dion tidak pernah benar-benar mencintainya.


Selama ini Dion hanya mempermainkannya, memanfaatkan dirinya untuk mendapatkan harta peninggalan mendiang ayahnya. Karena harta itu tidak akan Dion dapatkan jika dia tdiak mau menikah dengannya.

__ADS_1


"Aaaaaghh~~" jeritan Stella menghentikan kegiatan mereka sejenak. Kevin membelalakkan matanya ketika menyadari satu hal.


"Stella, kau~"


Stella menganggu. "Hm, aku memang masih p*rawan. Karena selama dua tahun bersama. Dia memang tidak pernah menyentuhku. Kau sangat beruntung, Tuan Muda Nero. Karena mendapatkan barang bekas yang masih tersegel."


"Oh, sial!! Kau membuatku menggila, Sayang. Kenapa kau tidak mengatakan dari awal?"


"Lalu apa yang membuatmu ragu, lanjutkan saja, aku rela dan sepenuh hati memberikannya padamu!!"


"Ini adalah pilihanmu, aku harap kau tidak akan pernah menyesalinya." Stella menggeleng.


Kevin melanjutkan permainannya yang sempat tertunda. Rasa nikmat menjalar ke seluruh sel tubuhnya membuat senjata tempurnya yang telah melesak masuk ke sarang juga merasakan kenikmatan. Nikmat karena dipijat oleh dinding kewan*taan Stella yang sangat sempit.


"Ooh, please, please move it! Oogghh …."


"Seperti inikah, Baby ?! hmm …" suara Kevin yang disertai gerakan masuk keluar pinggulnya.


"Ohh yess… Yess,, like that yeeaaahh …. Oohh" desah Stella.


Dan jangan lupakan der!tan ranjang yang juga ikut menyuarakan betapa permainan mereka amat p@nas malam itu. Membunuh rasa dingin yang menyayat tulang.


-


-


Sarah terbangun dan tidak mendapati Dion berbaring disampingnya, wanita itu lantas turun dari tempat tidurnya ketika mendengar suara des*han dari kamar mandi. Sarah penasaran dengan apa yang sedang Dion lakukan di dalam sana.


"Stella, lanjutkan lagi Sayang. Kul*m, lebih dalam lagi. Ya, ya, ya, begitu. Ini sungguh sangat nikmat."


Mata Sarah membelalak sempurna. Suara dari dalam sana membuat emosinya memuncak. Dengan penuh emosi, Sarah menendang pintu kamar mandi dan mengejutkan Dion yang sedang solo di dalam.


"Dion, apa-apaan kau ini?!" Bentak Sarah emosi.


"Sarah, kenapa kau bangun? Dan apa-apaan kau ini, kenapa kau mendobrak pintu kamar mandi dan mengganggu kesenanganku?!" Bentak Dion tak mau kalah.

__ADS_1


Sarah menghampiri Dion lalu mendorongnya hingga tubuhnya terhimpit di tembok. "Siapa Stella, kenapa kau membayangkan melakukan hal gila dengannya? Apa dia selingkuhan mu?! JAWAB!!" bentak Sarah menuntut.


"Itu tidak ada hubungannya denganmu sama sekali!!" Dion mendorong Sarah dan melewatinya begitu saja.


"DION, KAU MEMANG BAJINGAN!!"


-


-


Embun jatuh perlahan seiring fajar menyapa dedaunan. Mentari masih tampak malu-malu di ufuk timur, udara pagi ini terasa dingin namun begitu sejuk.


Di sebuah kamar yang di dominasi warna putih. Terlihat seorang wanita muda yang baru saja terbangun dari mimpi indahnya. Disampingnya berbaring seorang laki-laki tampan namun minim ekspresi.


Wanita itu tak lantas beranjak dari berbaringnya meskipun kedua matanya telah terbuka sepenuhnya. Sepasang biner Hazel-nya terus menatap mahakarya ciptaan Tuhan satu ini. Begitu indah pahatannya, hingga nyaris sempurna. Membuatnya berpikir jika saat ini dirinya berada di alam mimpi.


Stella tersenyum tipis. Belum genap satu bulan kebersamaan mereka. Tapi dia menemukan kenyamanan dan ketenangan disamping lelaki ini, Kevin memiliki apa yang dia butuhkan selama ini. Yang tidak bisa dia temukan dari pria lain termasuk Dion, mantan suaminya.


Bukan harta, bukan kedudukan apalagi kekuasaan. Tapi ketulusan dan kehangatan, meskipun cinta diantara mereka belum tumbuh dan bersemi di hati masing-masing. Namun Stella menemukan makna kebahagiaan dalam rumah tangga.


"Sampai kapan kau akan terus memandangku diam-diam, Nyonya Muda?!" Kelopak mata itu terbuka perlahan, memperlihatkan sepasang mutiara coklat yang dingin.


Stella menggeleng. "Kau terlalu percaya diri, memangnya siapa juga yang memandangmu? Aku hanya merubah posisi tidurku dan kebetulan wajahku berhadapan dengan wajahmu," elak Stella.


Kevin menyeringai. "Sudah tertangkap basah masih enggan mengaku? Kau benar-benar hebat, Stella Nero." Ucap Kevin lalu mengecup bibir Stella. "Segera mandi dan bersiap-siap, setelah ini kita pergi ke luar untuk sarapan."


Stella beranjak dari berbaringnya. "Kebetulan sekali aku memang sedang kelaparan, tapi kau harus membawaku ke restoran mewah dan mentraktirku makanan-makanan Eropa yang lezat."


"Bukan masalah."


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2