Menikah Lagi Untuk Balas Dendam

Menikah Lagi Untuk Balas Dendam
Bisa Bangkrut


__ADS_3

Erica berdiri di balkon kamarnya sambil memandangi langit malam yang berwarna hitam pekat tak berbintang, saat ini langit sedang mendung, entah kenapa malam terasa lebih kelam. Wanita itu tenggelam dalam pekatnya malam hingga tanpa terasa hujan mulai turun. Padahal satu jam yang lalu langit masih tampak cerah


Aroma air yang jatuh ketanah langsung menyeruak ke dalam indera penciumannya. Dipandanginya taman mawar tepat dibawahnya, lampu yang bersinar di taman cukup terang sehingga terlihat air hujan yang membasahi setiap daunnya. Erica menghirup lagi udara dalam-dalam, menikmati aroma segar menenangkan.


Erica terlarut dalam curahan air yang jatuh ketanah, ia memandanginya tanpa niatan untuk berpaling. Erica sangat suka memandangi hujan, bahkan dia bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memandangi hujan dari awal dia turun hingga dia berhenti membasahi bumi.


Biasanya ketika ia mulai larut dengan hobinya yang satu ini, Erica akan mulai melupakan segala masalah dan apapun yang terjadi di sekitarnya, ia hanya akan asik dengan pikirannya sendiri, dengan ketenangan yang tercipta seperti saat ini.


Namun tiba-tiba sepasang tangan kekar merengkuh dirinya dari belakang, melingkarkan tangannya di atas perutnya dan menarik dirinya dalam dekapannya hingga punggung Erica merasakan dadanya yang hangat dan lebar.


"Kenapa bangun?" Tanya Erica pada orang itu yang pastinya adalah Kevin.


"Karena aku tidak menemukanmu berbaring di-sampingku jadi aku berpikir kau ada disini," jawabnya.


Kevin menyibak rambut panjang Erica yang terurai kemudian mengecupi leher belakangnya yang terbuka, membuat des*han keluar dari sela-sela bibir ranum Erica. Kevin terus mengecupi leher Erica, dan ciuman itu semakin lama semakin turun menuju bahunya, lalu turun lagi menuju punggungnya.


Erica menggenggam jari-jari Kevin yang memeluk perutnya dengan posesif. "Ughh, Kevin hentikan. Aaahhhh, kau membuatku semakin basah, aku sedang ada tamu dan itu membuatku semakin tidak nyaman," rancau Erica dengan suara terputus-putus.


"Bukankah kau menikmatinya, hm. Semakin banyak kau keluarkan bukankah semakin bagus," bisik Kevin dan melanjutkan kembali aksinya.


"Aaahhh... Kevin, uhhh...hentikan!! Kau boleh melakukan sepuasnya saat tamuku sudah pergi, aaahhhh...jadi sekarang hentikan." Mohon Erica.


Dengan berat hati Kevin menghentikan permainan panasnya. Ia sedikit kecewa apalagi saat ini senjata tempurnya sedang berdiri tegak dan ingin dimanjakan juga. Tapi dia juga tidak bisa memaksa Erica untuk melakukannya saat wanita itu sedang kedatangan tamu.


Erica mencakup wajah Kevin dan mengunci mata coklatnya. "Tidak perlu kecewa, kau bisa melakukannya nanti ketika tamuku sudah pergi. Sudah jam 2 dini hari, ayo masuk, kebetulan aku sudah sangat-sangat mengantuk." Ucapnya dan dibalas anggukan oleh Kevin.


Sebenarnya Erica sudah tidur saat dalam perjalanan pulang tadi, bahkan Kevin yang mengendongnya masuk kekamar. Tapi dia terbangun karena tidak bisa menahan pipis.

__ADS_1


-


-


Sarah terus mondar-mandir di dalam kamarnya. Dia benar-benar merasa gelisah dan tidak tenang. Erica masih hidup dan dia kembali untuk balas dendam.


Dan ketakutan terbesarnya adalah kehilangan Dion, Sarah takut jika Erica akan merebut kembali pria itu dari pelukannya.


Meskipun pertengkaran sering kali mewarnai pernikahan mereka. Tapi Sarah sangat mencintai Dion dan dia tidak ingin sampai kehilangan pria itu.


Brakk...


Sarah menoleh setelah mendengar suara bantingan pada pintu. Ia meninggalkan kamarnya dan mendapati Dion pulang dengan wajah suram penuh amarah. Sarah menghampiri suaminya itu dan bertanya padanya.


"Dion, ada apa? Kenapa kau terlihat buruk sekali? Apa terjadi masalah di kantor, dan kenapa jam segini baru pulang?" Tanya Sarah setibanya di depan Dion.


"Lalu apa yang terjadi jika masalah ini tidak bisa diatasi?"


"Kemungkinan kita akan mengalami kebangkrutan jika masalah ini tidak segera diatasi!!" Jawabnya.


"Apa?! Bangkrut!!" Dion mengangguk. "Tidak, aku tidak mau jika sampai jatuh miskin. Kau harus segera mencari cara untuk mengatasi masalah ini. Besok aku akan menemui papa, siapa tau dia bisa membantu kita. Sebaiknya cepat ganti pakaianmu lalu tidur, kau pasti lelah."


Dion mencium kening Sarah. "Baiklah, kau memang yang paling mengerti dan memahami diriku, Sarah." Dion beranjak dari hadapan Sarah dan meninggalkannya begitu saja.


Sarah berbalik, dia mengurungkan niatnya untuk memberitahu Dion jika sebenarnya Erica masih hidup. Sarah takut Dion malah meninggalkannya jika dia tau mantan istrinya itu ternyata masih hidup dan semakin cantik.


Dia tidak bisa kehilangan Dion apapun alasannya. Karena Dion ditakdirkan hanya untuk menjadi miliknya, hanya miliknya!!

__ADS_1


-


-


Kevin menurunkan semua foto dan lukisan mendiang Stella yang menghiasi dinding-dinding mansion-nya lalu menggantinya dengan foto Erica.


Dan hal itu semata-mata Kevin lakukan demi menjaga perasaan Erica, dia memang tidak pernah mempermasalahkannya, tetapi belum tentu dengan hatinya. Karena yang bersamanya sekarang adalah Erica, bukan Stella.


Sudah saatnya Kevin melepaskan masa lalunya, karena masa lalu itu tidak akan pernah kembali apapun yang terjadi. Ia memang tidak perlu melupakan masa lalunya, tapi Kevin juga tidak bisa terus-terusan hidup dalam bayang-bayang masa lalunya.


"Kenapa semua foto dan lukisan ini harus diturunkan?" Tanya Erica saat melihat beberapa pelayan menurunkan foto dan lukisan Stella dari dinding.


"Stella sudah tidak ada, dan tidak ada gunanya tetap memasang foto serta lukisannya. Nyonya baru di rumah ini adalah dirimu, jadi sudah saatnya semua orang mengakuimu."


Erica memicingkan matanya. "Maksudmu?"


"Aku tidak ingin menjadikanmu sebagai yang kedua apalagi pengganti Stella, tetapi aku ingin kau menjadi satu-satunya. Mungkin saat ini aku memang belum memiliki perasaan apapun padamu, tapi aku sedang berusaha untuk mencintaimu sebagai Erica. Bukan karena kau mirip dengan Stella, tapi karena kau adalah Erica, seseorang yang layak untuk dicintai dengan tulus." Tutur Kevin panjang lebar.


Stella tersenyum lebar mendengar jawaban Kevin. Ia maju dua langkah ke depan lalu berhambur ke dalam pelukan Kevin. "Aku tidak pernah memaksamu untuk mencintaiku, tapi aku hanya meminta supaya kau bisa menghargai diriku. Dan jika kau ingin belajar untuk mencintaiku. Maka dengan senang hati aku akan membantumu." Ujar Erica sambil membenamkan wajahnya di dada bidang Kevin.


Kevin mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Erica. Kevin merasa yakin jika cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu.


Saat ini memang belum saling mencintai, tapi cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya suatu hari nanti. Dan sampai saat itu tiba, Kevin tdiak akan menyerah untuk bisa mencinta Erica seperti ia mencintai Stella dulu. Bukan karena harus, tapi karena Erica memang layak mendapatkan cinta yang tulus.


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2