
Dion terlihat sedang duduk di sebuah kursi sambil membaca berkas-berkas di atas mejanya. Ia menghentikan aktivitasnya sejenak karena merasa lelah dan penat. Diliriknya jam yang bertengger manis di tangan kirinya, dan waktu sudah menunjukkan pukul 22 malam.
Pria itu menghela nafas sejenak. Tiba-tiba, seseorang teknisi mengetuk pintu ruang kerjanya dengan tergesa-gesa. Dengan napas yang tersengal-sengal, ia memutar kenop pintu tersebut.
"Presdir, ada masalah besar. Seorang hacker telah membobol sistem keamanan perusahaan, dan beberapa data penting berhasil dicuri." Ucap seorang pria berkacamata dengan wajah panik.
"APA?!" Dion bangkit dari duduknya dan memekik kencang. "Bagaimana bisa? Lalu apakah kalian berhasil melacak hacker itu dan menemukan keberadaannya?"
Pria berkacamata itu menggeleng. "Belum, Presdir. Dia malah mengirimkan serangan lagi dengan mengirim virus baru, dan itu membuat sistem komputer perusahaan kembali mengalami gangguan." Ucapnya menuturkan.
Dion berdiri dari kursinya. Lalu ia berjalan melewati orang tersebut menuju ruang kontrol. Teknisi tersebut lalu mengikuti atasannya, masih dengan raut wajah panik.
Akhirnya mereka telah sampai di depan ruang kontrol. Dengan terburu, Dion melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tersebut dan diikuti oleh teknisi tadi.
Terlihat raut panik tercetak jelas di wajah para teknisi yang berada diruang kontrol tersebut. Masing-masing dari mereka sibuk dengan komputer-komputer di hadapannya.
Sekitar lebih dari 25 teknisi komputer perusahaan berusaha melindungi sistem komputer perusahaan mereka dari serangan worm yang telah dikirimkan oleh seorang hacker jenius.
"Aktifkan Supernova sekarang juga!" perintah Dion kepada seluruh teknisi.
"Baik, Presdir!!"
Hal ini tentu tidak bisa dibiarkan, worm itu sudah mulai masuk ke sistem komputer perusahaan dan mengacaukannya. Dan bahkan lebih parahnya lagi, worm itu sudah mulai mencuri data-data penting perusahaan ini.
Dan jika hal tersebut tidak segera dihentikan. Tidak menutup kemungkinan jika saham perusahaan akan anjlok dan membuat perusahaan ini akan mengalami bangkrut. Dan Dion tidak akan membiarkannya.
Dion mulai mengamati cara kerja Supernova itu. Senyum miring pun tersungging di bibirnya tatkala matanya melihat sendiri program itu memusnahkan worm yang menyerang sistem keamanan perusahaannya.
Pria itu berpikir bahwa perusahaannya tidak sia-sia mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk membeli program tersebut. Ini sebanding dengan hasil yang didapat. Karena Supernova itu bisa bekerja dengan sangat baik.
Namun tak berapa lama kemudian, dia dikejutkan tatkala seorang teknisi memberi tahunya bahwa worm itu hanyalah pengalihan saja. Ada worm lain yang tak terdeteksi oleh program antimalware yang berhasil melewatinya dengan memanfaatkan bug pada program itu.
"Brengsek! Cacing itu sangat pintar!" umpatnya kesal. "Segera hentikan worm itu atau kalian semua akan dipecat!!"
__ADS_1
"Baik, Presdir!!"
-
-
Seorang wanita tengah duduk mengamati laptop yang berada dihadapannya. Senyum miring tercetak dibibir tipisnya mana kala virus buatannya berhasil mengacaukan sistem perusahaan milik Dion, bahkan data-data penting perusahaan pria itu pun berhasil di curi.
"Ini baru permulaan, tunggu saja bagaimana aku akan menghancurkanmu secara perlahan-lahan,"
Dan sepertinya sudah cukup untuk malam ini. Wanita itu menghentikan kegiatannya lalu bangkit dari kursinya. Ruangan yang semula gelap itu kembali terang benderang, bersamaan dengan itu terdengar deru suara mobil yang memasuki halaman.
Wanita itu menutup kembali laptopnya lalu menyimpannya di atas nakas kecil samping tempat tidurnya. Dan suara decitan pintu dibuka sedikit menyita perhatiannya.
"Kau belum tidur?" Tanya orang itu yang hanya dibalas gelengan oleh si wanita.
Wanita itu menghampiri suaminya dan membantunya melepas jas yang melekat ditubuh kekarnya. "Aku menyukai aroma parfum-mu, aromanya sangat maskulin dan sangat berbanding balik dengan aroma milik mantan suamiku." Ucap wanita itu yang pastinya adalah Stella.
Kevin menarik pinggang Stella lalu mengecup singkat bibirnya. "Mencoba menggodaku," ucap Kevin menyeringai.
Lalu Stella mendorong pelukan Kevin dan bermaksud melepaskannya. Tapi Kevin justru memeluknya semakin erat. "Kau mau kabur kemana, Nyonya Nero? Jangan harap kau bisa kabur dariku," ucapnya dan kembali mencium bibir Stella sambil memberikan lum*tan-lum*tan kecil pada bibir ranum tipis itu.
Stella yang tidak mau kalah lalu memeluk leher Kevin dan membalas ciuman panas tersebut. Stella mencoba mengambil alih ciuman itu namun Kevin tak memberinya ruang. Kevin tidak suka didominasi dan dia tidak mungkin mengijinkan Stella untuk menguasai permainan pastinya.
Kevin melepaskan ciumannya sesaat dan menatap langsung ke dalam mutiara Hazel istrinya. "Kenapa cemberut?" Kevin menatapnya dengan bingung. "Apa masih belum puas?"
"Menyebalkan, kenapa selalu kau yang menguasai permainan? Kenapa tidak sekali-kali membiarkan aku menguasainya juga?! Aku kan juga ingin merasakan bagaimana rasanya mendominasi, bukan terus-terusan didominasi!!" Stella mencerutkan bibirnya.
Kevin terkekeh. Dengan gemas dia menjitak kepala Stella lalu memeluknya. "Kenapa harus kesal, Hem?! Hanya masalah sepele, jika kau sudah sembuh dan tamu-mu sudah pergi. Kau boleh mendominasi-ku sesuka hatimu!!" Ujar Kevin menuturkan.
Sontak wanita itu mengangkat kepalanya dari pelukan suaminya. "Sungguh?!" Kevin mengangguk. "Nah, ini baru adil." Stella membalas pelukan Kevin.
Senyum di-bibirnya pudar begitu saja, tergantikan senyum miris, bagaimanapun dia hanya seorang pengganti. Lalu apa bagusnya dia mengharapkan sesuatu yang lebih? Apalagi cinta dari orang yang memeluknya ini. Meskipun tidak ada yang tidak mungkin.
__ADS_1
Stella melepaskan pelukannya. Senyum kembali tersungging di bibirnya. "Pasti kau lelah. Mandilah dulu setelah ini pergi istirahat, ini sudah larut malam."
"Aku belum makan malam, bisakah kau menyiapkan makan malam untukku?"
Stella menatap Kevin dengan kaget. "Apa, kau belum makan malam? Kenapa?"
"Agar aku bisa memakan masakanmu," jawabnya dengan senyum setipis kertas. Kevin menangkup sisi wajah Stella dan pergi begitu saja.
Wanita itu menatap kepergian Kevin dengan pandangan tak terbaca. Tiba-tiba dia merasakan jantungnya berdebar dua kali lebih kencang dari sebelumnya. Ada desiran aneh yang dia rasakan ketika Kevin mengatakan itu.
Stella meninggalkan kamarnya dan menyiapkan makan malam untuk Kevin. Meskipun sebenarnya dia sudah agak lelah dan mengantuk. Tapi Stella tetap melakukannya juga.
.
.
TRANGG...
Pisau dalam genggaman Stella jatuh begitu saja ketika bagian tajamnya tidak sengaja menggores jari manisnya. Dan selanjutnya yang Stella rasakan adalah jarinya sudah berada di dalam mulut seseorang. Pandangan Stella bergulir kebawah, ia sedikit terkejut.
"Kevin, apa yang kau lakukan?" Dia kemudian menarik tangannya dari genggaman pria itu. Stella tampak gugup dan salah tingkah.
"Kenapa bisa sampai tergores begini? Kenapa kau ini ceroboh sekali?" Kevin mengambil plester luka lalu menutup luka gores di ujung jari Stella.
"Aku sudah hati-hati, tapi namanya juga apes mau bagaimana lagi. Duduklah dulu, ini sudah hampir selesai. Maaf, aku hanya bisa membuatkan-mu nasi goreng seafood kesukaanmu. Ini sudah malam, jadi aku bingung mau masak apa."
Kevin menggeleng. "Tidak apa-apa. Asal masakanmu, apapun aku akan memakannya." Kevin tersenyum tipis. Membuat Stella ikut tersenyum juga.
"Baiklah, kalau begitu tunggu sebentar. Aku akan menyelesaikannya dengan segera."
-
-
__ADS_1
Bersambung.