Menikah Lagi Untuk Balas Dendam

Menikah Lagi Untuk Balas Dendam
Hari Pertama Kerja


__ADS_3

Stella mengayunkan kedua kakinya memasuki sebuah gedung perkantoran yang memiliki puluhan lantai. Kedatangannya di-sana tentu saja banyak menarik perhatian banyak pasang mata. Parasnya yang cantik, bentuk tubuh yang sempurna ditambah lagi penampilannya yang begitu berkelas.


Penampilan cantik cantik berusia dua puluh lima tahun itu, terlihat sangat luar bisa hari ini. Rambut coklat panjang miliknya di gelung ke atas dan menyisahkan anak-anak rambut di sisi wajahnya.


Tubuh langsing miliknya mengenakan terusan putih dan blazer pres body warna merah muda, tak ketinggalan sepasang heels yang semakin menunjang penampilannya, membuat penampilan Stella terlihat dewasa, anggun, dan profesional.


Wajah cantiknya pun hanya di poles make-up tipis, terkesan natural namun elegan.


Mulai hari ini dia akan bergabung dengan perusahaan milik Kevin dan menempati posisi sekretaris yang saat ini sedang kosong. Stella dan Kevin berangkat secara terpisah, mereka berdua tidak mau menghebohkan seluruh orang di sana jika datang bersama.


Sedikit banyak Stella sudah sangat mengetahui seperti apa sepak terjang perusahaan milik suaminya. Perusahaan milik keluarga Kevin bahkan berada di urutan pertama Perusahaan Besar di Negara Korea.


Bahkan perusahaan ini terkenal bukan hanya di Negara Ginseng ini saja, melainkan sudah merambat ke Negara-negara lain. Bahkan sudah banyak perusahaan yang mengakui betapa suksesnya perusahaan ini.


"Eh, apakah dia adalah sekretaris Presdir yang baru?"


"Sepertinya begitu. Sial, dia sangat cantik!! Bagaimana jika Presdir sampai tertarik dan kemudian jatuh cinta padanya?!"


"Jangan ngaco, Presdir sudah memiliki istri yang sangat cantik. Dan dengar-dengar Presdir itu sangat mencintai istrinya!!"


"Benarkah?! Tapi aku pernah dengar jika istri Presdir sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Tapi tidak tau itu benar atau tidak, lagipula dia juga tidak pernah memperkenalkan istrinya ke hadapan publik. Jadi aku rasa itu hanya isu saja!!"


"Kalian jangan bergosip terus, cepat kembali bekerja. Presdir sudah tiba,"


Stella menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang. Dia melihat kedatangan Kevin bersama asisten pribadinya yang pastinya adalah Leon. Stella seketika bingung harus bagaimana sekarang, menyapanya atau mengabaikannya.


Tak mau ambil pusing. Ia pun melanjutkan langkahnya dan pergi ke ruang kerjanya. Stella pergi begitu saja, padahal Kevin ingin jalan beriringan dengannya.


Stella tidak mau menciptakan skandal besar di perusahaan. Karena tidak ada orang yang tau apa hubungannya dengan Kevin yang sebenarnya, jadi ia memutuskan untuk berpura-pura tidak mengenal pria itu saja.


.


.


BRAK...

__ADS_1


Stella yang sedang sibuk dengan pekerjaannya terkejut mendengar dobrakan keras pada meja kerjanya. Ia mengangkat wajahnya dan mendapati seorang wanita berdiri di depannya dengan wajah sinis penuh keangkuhan.


"Kau anak baru kan disini, sesuai peraturan. Anak baru harus diuji terlebih dulu, meskipun jabatan-mu lebih tinggi daripada diriku, tapi kau harus tetap melakukan apa yang aku perintahkan!!"


Stella melepas kaca matanya dan menatap perempuan itu dengan sinis. "Kalau aku tidak mau bagaimana? Lagipula ini kantor, tempat orang bekerja, bukan tempat cari perkara!!"


"Kau~" perempuan itu mengurungkan niatnya untuk menampar Stella karena kemunculan Kevin. Kevin keluar setelah mendengar keributan di luar.


"Ada apa ini?!" Tegur Kevin sambil menatap Stella dan perempuan itu bergantian. "Oliv, kenapa kau kelayapan di jam kerja seperti ini? Apa pekerjaanmu sudah selesai?"


Perempuan bernama Oliv itu hanya bisa menundukkan kepalanya mendengar teguran Kevin. Stella lantas berdiri dari kursinya. "Apa setiap karyawan baru harus menerima ujian dari orang lama?" Tanya Stella.


"Siapa yang mengatakan?" Ucap Kevin.


"Oliv. Dia bilang anak baru harus di uji oleh karyawan lama, harus menurut ketika disuruh-suruh,"


Oliv semakin ketakutan setelah mendengar Stella mengadukannya pada Kevin. Ia dalam masalah besar. "Siapa yang menerapkan aturan semacam itu?! Seingatku perusahaan tidak pernah membuat aturan tak masuk akal semacam itu,"


"Presdir, saya hanya~"


"Kemasi barang-barangmu dan tinggalkan perusahaan ini. Perusahaan tidak membutuhkan karyawan tak memiliki etika sepertimu!!"


"Jangan sampai aku mengulangi kembali kata-kataku. Tinggalkan perusahaan ini sekarang juga, temui bagian keuangan dan ambil gaji terakhirmu!!" Perintah Kevin mutlak dan tak ingin dibantah.


Oliv menatap Stella dengan kesal. Sedangkan yang ditatap malah menjulurkan lidah sambil melambaikan tangannya. Stella terkekeh, lalu pandangannya bergulir pada Kevin. "Kenapa kau tiba-tiba ada disini?" Tanya wanita itu.


"Aku mendengar suara keributan, jadi aku keluar. Kenapa kau tadi berangkat duluan dan malah kabur saat melihatku?! Apa kau berusaha untuk menghindariku!"


Stella berdecak sebal. "Kau bercanda ya, ini adalah kantor dan kita bisa terkena skandal besar jika berangkat bersama apalagi terlihat dekat. Dan sebaiknya kau kembali keruangan-mu, tidak baik untukku jika kau terlalu lama disini!!"


"Heh, baru kali ini ada karyawan yang berani mengusir karyawannya. Tapi baiklah, aku akan pergi karena masih banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan. Saat jam makan siang, datanglah keruanganku. Kita makan siang sama-sama." Ucapnya dan di balas anggukan oleh Stella.


Ternyata Kevin ingin dekat dengannya tapi Stella justru menghindarinya. Entah yang dia lakukan ini benar atau salah, tapi yang Stella lakukan semata-mata untuk dirinya sendiri dan juga Kevin.


-

__ADS_1


-


"Presdir, gawat. Saham perusahaan mengalami penurunan hingga mencapai 10%, hacker itu benar-benar membuat perusahaan kita dalam masalah besar!!"


Dion memijit pelipisnya yang terasa pening. Kenapa jadi seperti ini, padahal sebelumnya masih dalam keadaan baik-baik saja. Tapi kenapa akhir-akhir ini benar-benar kacau.


"Segera ambil antisipasi, lakukan apapun agar perusahaan tidak kecolongan lagi. Aku tidak ingin perusahaan ini sampai mengalami kebangkrutan karena ulah hacker gila itu!!"


"Baik, Presdir."


"Satu lagi, atur pertemuanku dengan Kevin Nero, aku ingin bertemu dengannya. Kita harus berhasil membawanya bergabung di perusahaan ini."


"Akan segera saya laksanakan."


Kemudian pria itu membungkuk dan pergi begitu saja. Ia tidak bisa hanya diam dan berpangku tangan membiarkan perusahaanya hancur ditangan seorang Hacker tak bertanggung jawab.


Dan Kevin adalah satu-satunya harapan yang dia miliki. Karena bisa membuatnya bergabung, itu akan membuat perusahaannya semakin kokoh dan tidak akan mudah dirobohkan oleh pihak-pihak tertentu.


-


-


Stella menatap beberapa menu makan siang yang berjajar tapi diatas meja di ruangan Kevin. Semua adalah makanan lezat dan bergizi. Selain makanan berat, ada pula makanan penutup seperti cake dan puding serta kopi dan jus juga.


"Kau yang menyiapkan semua ini? Ini terlalu banyak, bagaimana mungkin kita bisa menghabiskannya jika hanya berdua saja,"


"Itu masalah gampang. Kau tinggal tunjuk makanan mana saja yang ingin kau makan dan sisanya kita berikan pada Leon." Jawab Kevin.


Sisa bukan berarti makanan yang tidak habis dimakan oleh Stella dan Kevin, karena sisa yang Kevin maksud adalah makanan yang utuh namun tidak Stella pilih.


"Yang mana saja aku sih tidak ada masalah. Kau bisa memberikan beberapa padanya, tiga empat menu saja sudah cukup untuk kita berdua."


"Baiklah kalau begitu."


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2