
"Apa kau yakin dengan keputusanmu itu?!"
Kevin menatap wanita di depannya itu dengan pandangan serius. Stella, bukan.. tapi Erica baru saja memberitahunya jika ia akan muncul dihadapan Dion dan semua orang sebagai dirinya sendiri, bukan orang lain.
"Ya," Erica mengangguk. "Aku rasa muncul sebagai Erica bisa memberikan tamparan keras pada mereka dibandingkan harus menjadi Stella."
"Apa kau sudah memikirkan baik-baik tentang keputusanmu ini? Tapi bagaimana jika mereka tidak percaya dan menganggapmu sebagai orang yang tidak waras, karena yang mereka semua tau jika sebenarnya Erica telah lama tiada."
Erica membuka bajunya dan menunjukkan bekas luka di bahu kanannya dan juga di paha kirinya. "Dua belas luka ini yang akan membuat mereka yakin dan percaya jika aku adalah Erica, bukan Stella."
Kevin menghampiri wanita itu lalu meraih tangan Erica. "Apapun keputusanmu, aku akan selalu mendukungmu. Dan aku akan menjadi orang pertama yang selalu berdiri dipihakmu. Karena sekarang kau adalah bagian dari diriku...Erica,"
Stella, bukan... Tapi Erica tersenyum mendengar Kevin memanggilnya 'Erica' bukan 'Stella' dan ini kedua kalinya Kevin memanggilnya dengan nama itu. Kemudian Erica berhambur memeluk suaminya.
"Terimakasih, Key. Tanpa dirimu mungkin tidak akan pernah ada Erica yang sekarang, yang tangguh dan kuat. Pasti aku masih tetap menjadi Erica yang dulu, yang seorang pecundang dan takut menghadapi kenyataan."
Kevin mengusap rambut panjang Erica yang terurai dengan gerakan naik turun. Dagunya bertumpu diatas kepala wanita itu.
"Kau tidak seharusnya mengatakan terimakasih, aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan. Dan tanpa bantuanmu, mungkin sampai detik ini aku tidak akan pernah tau siapa dalang utama dibalik kematian Stella."
Erica melonggarkan pelukannya dan menatap Kevin dengan serius. "Tapi ini masih belum selesai, dan ini bukan akhir, tetapi baru awal. Dan sudah saatnya memulai permainan, para pembunuh itu, harus merasakan sebuah penderitaan dan rasa sakit yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya!!"
"Kau memiliki rencana?"
Erica mengangguk. "Di dalam otak cerdasku ini, aku sudah memikirkan dan memiliki banyak cara untuk memberi pelajaran pada mereka bertiga. Kau tidak perlu turun tangan, serahkan saja semuanya padaku, biar aku yang membereskan mereka untukmu!!"
"Baiklah, terserah kau saja. Aku akan memberikan kebebasan padamu. Lakukan apapun yang ingin kau lakukan, karena aku percaya, keputusanmu adalah yang terbaik!!"
Erica tersenyum lebar mendengar ucapan Kevin. Hatinya terasa hangat hanya dengan mendengar ucapannya saja. Dan dukungan penuh dari Kevin seolah-olah memberinya kekuatan untuk segera menyingkirkan semua batu sandungan itu.
-
-
Alyssa dan teman-temannya memasuki sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota Seoul. Gadis itu berencana membelikan banyak barang-barang mewah dan bermerk untuk mereka bertiga.
__ADS_1
Selain mabuk-mabukan di club' malam. Alyssa memiliki hobi lain, yakni berbelanja dan menghamburkan banyak uang.
Keluarganya kaya raya, jadi Alyssa tidak takut jika dia sampai kehabisan uang.
"Lyssa, boleh tidak aku ambil tas dan sepatu ini?"
"Tentu saja boleh. Kalian boleh mengambil barang mana saja yang kalian inginkan. Kalian bebas mengambil apapun yang kalian mau, biar aku yang membayar semua." Ucapnya.
"Alyssa, kau memang yang terbaik. Kami senang memiliki sahabat sebaik dan seroyal dirimu."
"Tentu saja, karena aku adalah Alyssa Nero, dan uang bukan halangan untukku!!" Ucapnya penuh keangkuhan.
Alyssa meninggalkan ketiga sahabatnya dan mulai berkeliling boutique. Tidak hanya untuk teman-temannya, dia juga harus memanjakan dirinya sendiri dengan membeli banyak barang-barang mahal dan bermerek.
"Alyssa, kami sudah mendapatkan semua barang-barang yang kami inginkan."
"Hao, kalau begitu ayo kita pergi ke kasir untuk membayar."
Alyssa menyerahkan semua barang-barang belanjaannya pada kadir. "Hitung semuanya," pinta Alyssa lalu memberikan kartu kredit miliknya.
Mata Alyssa sontak membelalak. "Apa?! Itu tidak mungkin, bagaimana itu bisa terjadi, apakah kau tau isi kartu kreditku itu tak terhingga" balas Alyssa sombong.
"Maaf, Nona, tapi kartu anda benar-benar tidak dapat digunakan." Ucap kasir itu sekali lagi.
"Alyssa, sebenarnya kau itu punya uang tidak? Cih, sudah jatuh miskin saja masih belagu!! Ayo kita pergi, jangan mau berteman dengannya lagi!!"
"Yakk!!! Kalian bertiga, sahabat macam apa kalian itu. Baiklah pergi kalian sejauh mungkin, tapi awas saja, aku tidak akan sudi membelikan apapun lagi untuk kalian!!"
Tak ingin semakin dipermalukan. Alyssa pun bergegas meninggalkan pusat perbelanjaan. Dia harus segera pulang dan membuat perhitungan dengan kakaknya. Alyssa harus tau apa alasan Kevin membekukan semua kartunya.
-
-
"Susan,"
__ADS_1
Susan, wanita itu menghentikan langkahnya setelah mendengar suara yang begitu familiar memanggilnya. Sontak ia menoleh dan mendapati seorang perempuan asing berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri.
Perempuan itu berlari dan langsung memeluknya, tapi tidak ada sambutan. Kemudian perempuan itu melepaskan pelukan sepihaknya dan menatap Susan yang tampak kebingungan.
"Kau tidak mengenaliku!? Susan, ini aku.. Erica,"
Kedua mata Susan sontak membelalak."Erica! Ba..bagaimana mungkin, bukankah dia sudah~"
"Itu tidak benar, aku masih hidup. Ayo cari tempat untuk mengobrol, aku akan menceritakan semuanya padamu."
.
.
Dan disini mereka sekarang. Erica dan Susan berada di Golden Cafe. Seperti yang dia katakan tadi, Erica menceritakan semuanya pada Susan tentang apa yang dialaminya. Tentang penghianatan suami dan kakak tirinya, pertemuannya dengan Kevin sampai tentang kematian palsunya.
Sepanjang Erica bercerita, Susan terus mengeluarkan berbagai umpatan-umpatan tajam yang semua dia tunjukan pada dua penghianat itu. Susan sangat geram saat mendengar semua penderitaan yang sahabatnya ini alami.
"Begitulah ceritanya, mereka mengkhianatiku lalu Dion menceraikanku. Kami berpisah, kemudian aku bertemu dengan Kevin Nero secara tidak sengaja. Dia menawarkan sebuah bantuan tapi dengan syarat aku harus menikah dengannya, lalu kami membuat kesepakatan."
"Lalu bagaimana sikap pria itu padamu? Apakah dia memperlakukanmu dengan baik?"
Erica mengangguk. "Ya, dia selalu memperlakukanku dengan baik dan lembut. Meskipun aku hanyalah seorang pengganti, dan pernikahan kami berlandas dari hubungan saling menguntungkan, tapi setidaknya dia bisa menghargai ku sebagai seorang wanita." Tuturnya panjang lebar.
"Lalu bagaimana perasaanmu padanya? Apa sedikit banyak kau sudah mulai ada rasa padanya?"
Erica mengangkat bahunya. "Entah, aku sendiri tidak tau. Dan masalah itu akan aku serahkan pada waktu, karena hanya waktu yang bisa menjawab semuanya." Ujarnya.
Susan mengangguk. "Benar juga. Lalu apa rencanamu selanjutnya? Tidak mungkin bukan, jika kau membiarkan dua sampah itu terus tertawa bahagia diatas penderitaanmu?"
Erica menggeleng. "Tentu saja tidak, dan tidak lama lagi aku akan memberikan sebuah kejutan manis untuk mereka berdua. Karena sudah saatnya pembalasan dimulai, mereka yang berdosa, harus dihukum seberat-beratnya!!"
-
-
__ADS_1
Bersambung.