
Malam yang panjang, mereka habiskan dengan bercinta. Kelelahan, keduanya tertidur lelap hingga keesokan paginya. Kevin bangun terlebih dulu dan mendapati istri manisnya masih tidur dengan cantiknya.
Poninya jatuh ke bantal, tubuh berkulit seputih porselen miliknya penuh tanda merah tanda, tanda kepemilikan Kevin. Selimut menutupinya hingga sebatas bahu. Mencoba membangunkan namun tidak tega, akhirnya Kevin beranjak dan memakai kembali pakaiannya.
Kevin pergi keluar dan meminta pelayan menyiapkan kopi dan teh untuk dirinya dan Ellena yang kemudian dia bawa sendiri ke kamarnya di lantai dua. Kevin berjalan tenang menaiki satu persatu tangga sambil membawa nampan berisi cangkir beda rasa itu, dan diletakkannya di nakas.
"Sayang, bangunlah. Sudah pagi," tegur Kevin lembut, tepat di telinga Ellena.
Dilihatnya Ellena menggeliat pelan, lalu memprotes siapa yang berani membangunkannya sepagi ini. "Key…!! Ada apa? Ini masih pagi, tau. Aku benar-benar lelah dan masih ngantuk," protes Ellena.
Ellena kembali menggulung diri dibalik selimut coklat yang hangat dan lembut miliknya dan Kevin. "Aku membawakanmu teh hangat. Tidakkah kau ingin menghabiskan hari bersamaku?" Ucap Kevin tak mau menyerah.
Ellena melirik Kevin dari balik kelopak matanya yang berat. "Baiklah Tuan Muda Nero yang terhormat, baiklah," ia mengalah dan akhirnya bangun.
"Hm, siapa Nero? Kau atau aku?" timpal Kevin mencoba mengingatkan Ellena siapa yang bermarga 'Nero' diantara mereka berdua.
Ellena pun tak lantas menjawab. Dia seperti sedang berpikir keras, mencoba mengingat siapa yang bermarga Nero, apakah dirinya atau suaminya? Dan hal itu membuat ekspresi Kevin berubah sendu.
"Tidak perlu dipaksakan," Kevin mengusap kepala Ellena sambil tersenyum tipis.
"Kau, dirimulah yang bermarga Nero. Maaf, Kevin. Aku hanya sedikit lupa," Ellena menunduk lebih sesal.
Kevin menggeleng. "Tidak apa-apa. Tidak perlu dipikirkan. Cepat minum teh-mu selagi masih hangat," pinta Kevin yang kemudian dibalas anggukan oleh Ellena.
Setelah menghabiskan tehnya. Ellena pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket oleh keringat. Kevin duduk termenung diatas ranjang empuknya sambil menatap punggung Ellena yang semakin menjauh dengan tatapan tak terbaca.
Tatapan Kevin berubah sendu, kesedihan terlihat jelas di kedua matanya. Hatinya terasa sakit dengan apa yang menimpa Ellena. Di dunia ini, tak ada satu pun yang bisa membuat seorang Kevin Nero ketakutan, dia tidak takut pada apapun kecuali satu hal, yakni kehilangan Ellena.
-
-
Bebas...
__ADS_1
Dion menikmati hidupnya dengan lepas. Sejak kematian Sarah, dia merasakan hidupnya semakin bebas. Dia bisa melakukan apapun yang ia mau tanpa peduli dengan segala hal yang Dion suka tanpa ada yang menghalanginya.
Saat ini Dion sedang berada di sebuah club' malam yang terletak dipusat kota Seoul. Pulang bekerja memang paling tepat pergi ke tempat semacam ini, mencari kesenangan untuk menghilangkan stres akibat pekerjaannya yang menumpuk selama seharian penuh.
Sedikitnya empat wanita yang saat ini menemaninya. Dan mereka adalah kucing-kucing liar yang Dion sewa untuk memuaskan hasratnya. "Tuan, bagaimana jika pergi ke kamar saja. Disini kurang nyaman." Usul salah satu dari keempat kucing liar itu.
"Benar, Tuan. Disini kami tidak bisa melakukan apapun padamu, sebaiknya kita ke kamar saja." Usul kucing liar lainnya.
Kemudian Dion menciumi mereka satu persatu tepat di-bibirnya lalu mengangguk setuju. "Baiklah, jika itu yang kalian inginkan. Ayo kita ke kamar. Tapi kalian harus membuatku puas malam ini,"
"Itu pasti, Tuan."
.
.
"YAKK!! APA YANG KALIAN LAKUKAN?!"
Kedua tangan dan kaki Dion terikat kuat hingga dia tidak bisa berbuat apa-apa. Posisinya terlentang, empat kucing liar yang tadi bersikap begitu manja kita menjadi sangat bringas dan berbahaya.
"Kau, Dion Martadinata kan?! Orang yang menyebabkan sahabat kami meninggal,"
"Sahabat kalian, siapa?!" Ucap Dion dengan wajah menahan sakit.
"Sarah, kau membunuhnya dengan kejam. Dan kami disini untuk membalaskan dendamnya, jika bukan karena dirimu. Sarah tidak akan meninggal sia-sia!!"
Rupanya empat kucing liar yang Dion sewa bukanlah penghibur yang bekerja di club' melainkan teman-teman Sarah, dan mereka sekarang sedang membalaskan dendam Sarah yang nyawanya melayang sia-sia ditangan Dion.
"La..Lalu apa yang kau inginkan?!"
"Membuat nama baikmu hancur, agar semua orang tau bagaimana bejatnya dirimu!!"
Dua orang menghampiri Dion lalu berbaring disampingnya. Satu orang lagi memainkan senjata tempur Dion, sedangkan satu yang tersisa bertugas untuk merekamnya. Mereka akan menyebarkan video tersebut agar nama baik Dion hancur.
__ADS_1
Dion benar-benar tidak berdaya. Jangankan untuk melawan, untuk bergerak pun dia tidak mampu. Dion hanya bisa pasrah dengan apa yang mereka berempat lakukan terhadap dirinya.
-
-
"Kevin, rumah siapa ini?"
Ellena menatap bingung sebuah bangunan megah nan mewah yang berdiri kokoh dihadapannya. Rumah itu memiliki dua lantai dan halaman yang sangat luas dengan kolam air mancur tepat di tengah-tengah halaman. Ada puluhan pohon bonsai dan bunga-bunga cantik yang tumbuh di taman depan.
Kevin menghampiri Ellena lalu berdiri disampingnya. "Menurutmu rumah ini bagaimana?" Alih-alih menjawab, Kevin malah balik bertanya.
Ellena menoleh, membuat mata berbeda warna milik mereka saling bersirobok. "Bagus dan mewah. Halamannya juga luas dan banyak bunga-bunga yang tumbuh di taman. Benar-benar rumah impianku sejak kecil,"
"Kalau kau suka, aku akan segera membelinya. Anggap saja rumah ini sebagai kado ulang tahun dariku,"
"Hah, kau berencana membeli rumah ini dan itu untukku?" Kevin mengangguk. "Aku rasa itu tidak perlu. Kau tidak perlu membuang-buang uangmu, lagipula kita juga sudah memiliki tempat tinggal. Lebih baik uangnya disimpan saja,"
Kevin menggeleng. "Memangnya apa salahnya jika seorang suami membelikan sesuatu yang mahal dan mewah untuk istrinya? Lagipula harga rumah ini tidak sebanding dengan kebahagiaanmu. Jadi jangan coba-coba menolaknya lagi!!"
Ellena tersenyum lebar. "Baiklah, aku akan menerimanya. Terimakasih Kevin," Ellena berhambur ke dalam pelukan suaminya dan memeluk Kevin dengan erat. Kevin tersenyum lalu membalas pelukan istrinya.
"Aku pasti akan melakukan apapun agar kau tetap mengingatku. Kita akan membuat banyak kenangan berharga di rumah ini. Hanya ada kita berdua, kau dan aku. Jika suatu saat kau benar-benar melupakanku, maka aku yang akan selalu mengingatkanmu."
Air mata Ellena jatuh tak tertahankan, apa yang Kevin katakan membuatnya terharu sekaligus takut. Ellena benar-benar takut jika suatu hari nanti dia benar-benar tidak mengingat siapa pun lagi, lalu bagaimana semua kenangannya bersama Kevin? Sungguh, Ellena tidak ingin melupakannya.
"Jangan menangis, hatiku terasa sakit melihat air matamu." Bisik Kevin sambil menghapus jejak air mata yang mengalir dari pelupuk mata Ellena. "Ayo masuk," Ellena mengangguk.
Kevin merangkul bahu Ellena, keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam.
-
-
__ADS_1
Bersambung.