
Suara pisau yang beradu dengan talenan terdengar dari arah dapur. Wortel, tomat dan sayur lainnya dipotong dadu dengan rapi oleh seorang wanita. Rambutnya coklat panjang, digelung rapi dan menyisakan poni miring kearah kiri miliknya.
Dengan cekatan, ia memasukkan potongan sayuran tersebut ke panci yang berisi air mendidih. Setelahnya, ia mengaduknya perlahan.
Wanita itu menoleh saat seorang pelayan menghampirinya. "Nyonya, kenapa Anda melakukannya sendiri? Sebaiknya Anda kembali ke kamar dan biarkan saya yang menyiapkan makan malam." Ucap pelayan itu pada Nyonyanya yang pastinya adalah Erica.
Erica menggeleng sambil tersenyum tipis."Tidak apa-apa, Via. Ini sudah menjadi tugasku sebagai seorang istri. Lagipula memasak bukanlah pekerjaan yang sulit dilakukan, kau selesaikan saja pekerjaanmu," ucap Erica menimpali.
"Tapi, Nyonya~"
"Kalau dia tidak kau ya biarkan saja, tidak perlu dipaksa juga. Toh dia juga lebih layak jadi pembantu dari pada Nyonya di rumah ini!!" Sahut Alyssa menimpali.
Erica tidak merasa heran melihat Alyssa masih ada di rumah. Penerbangannya di tunda sampai besok pagi karena cuaca yang sangat buruk akhir-akhir ini. "Jika kau kemari hanya untuk mengacau, sebaiknya pergi sana. Karena kedatanganmu disini juga tidak di butuhkan." Ujar Erica menyahuti.
"Kau~" Alyssa menunjuk Erica di depan mukanya. Dia menarik kembali tangannya dan melenggang pergi.
Erica mengambil napas panjang dan menghelanya. Menghadapi Alyssa terkadang memang membutuhkan tingkat kesabaran yang sangat tinggi karena sifatnya yang super menyebalkan itu. Dan setelah Alyssa pergi, Erica melanjutkan acara memasaknya yang sempat tertunda.
-
-
"Obat apa ini?"
Kevin memicingkan matanya saat tanpa sengaja dia menemukan beberapa botol obat yang ada di dalam laci meja rias Erica. Perasaan bukan itu obat yang dia minum selama beberapa hari ini, tapi kenapa begitu banyak botol obat di dalam laci istrinya?
Tidak ada petunjuk sama sekali tentang obat-obat tersebut. Dan hal itu membuat Kevin menjadi sangat penasaran. Dia akan bertanya langsung pada Erica nanti setelah mereka selesai sarapan.
"Sarapan sudah siap, ayo cepat turun," seru Erica dari arah pintu.
Kevin menoleh kemudian mengangguk. Kemudian ia menghampiri istrinya dan mereka berjalan beriringan menuju meja makan. Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba Erica menghentikan langkahnya membuat Kevin ikut berhenti juga.
"Ada apa? Kenapa tiba-tiba berhenti?" Tanya Kevin.
Erica mengangkat wajahnya dan menatap Kevin dengan serius. "Hari ini hari apa?" Tanya Erica dan membuat Kevin memcingkan mata. Apa saking sibuknya sampai-sampai istrinya ini melupakan ini hari apa.
"Selasa, memangnya kenapa?" Kevin balik bertanya.
__ADS_1
"Selasa ya, sepertinya aku memiliki agenda penting hari ini, tapi aku lupa, kira-kira apa ya?" Erica berpikir keras untuk mengingatnya. "Iya, aku ingat. Hari ini aku berencana pergi ke makam mama," seru Erica setelah mengingat agenda penting yang sempat dia lupakan.
"Ada apa denganmu, kenapa kau jadi pikun begini?! Apa karena terlalu dalam memikirkan dendammu pada mereka? Jangan terlalu dipikirkan, bukankah aku sudah berjanji akan membantumu?" Erica mengangguk.
Keduanya kemudian melanjutkan langkahnya menuju meja makan. Berbagai hidangan sudah tersaji diatas meja, dan semua menu untuk sarapan pagi ini adalah Erica yang memasaknya.
Bukan apa-apa, bukan juga karena ingin mencari muka. Erica hanya ingin menjadi istri yang baik untuk Kevin, dan melayani Kevin sudah menjadi tanggungjawabnya sebagai seorang istri.
-
-
Nyonya Cindy terus mondar-mandir di depan ruang operasi. Saat ini Sarah sedang berjuang diantara hidup dan mati di dalam sana. Sarah terluka parah akibat tusukan benda tajam yang menusuk sampai jantungnya, terjadi pendarahan hebat sehingga harus dilakukan operasi darurat.
Tuan Song menghampiri istrinya lalu memeluknya, mencoba menenangkan Nyonya Cindy dan meyakinkan padanya jika semua akan baik-baik saja. "Suamiku bagaimana dengan Sarah, apakah dia akan selamat? Bagaimana jika dia tidak bisa bertahan?"
"Tenanglah, Cindy. Sarah adalah perempuan yang kuat. Dia pasti mampu bertahan untuk tetap hidup."
"Tapi aku takut, Suamiku. Aku benar-benar takut jika hal buruk sampai menimpanya. Aku takut kehilangan Sarah!! Aku sangat takut!!"
Lampu ruang operasi dimatikan, seorang dokter keluar dari dalam sana untuk menyampaikan berita buruk. Ternyata dokter tidak bisa menyelamatkan nyawa Sarah karena dia terlalu banyak kehilangan darah ditambah lagi dengan luka yang menembus jantungnya.
Mendengar hal itu Nyonya Cindy langsung jatuh pingsan. Dia terkejut dan syok, sedangkan Tuan Song langsung lemas setelah mengetahui jika Sarah tidak mampu bertahan.
Dia sudah menganggap Sarah sebagai putri kandungnya sendiri. Bahkan Tuan Song lebih menyayanginya dibandingkan Erica yang merupakan putri kandungnya. Dan kepergian Sarah menjadi pukulan terberat bagi paruh baya itu.
-
-
"Tuan Martadinata, kami baru saja mendapatkan kabar jika Nyonya Sarah meninggal dunia. Dia ditemukan tergeletak berlumur darah di halaman rumahnya semalam."
Dion mengangkat wajahnya dan menatap datar pria di depannya. "Lalu?"
"Kenapa Anda tidak terkejut sama sekali? Bukankah Nyonya Sarah adalah istri Anda, Tuan?"
"Memang, tapi aku dan dia sudah bercerai. Sarah dan aku sudah tidak cocok lagi. Dia memiliki orang lain jadi kami sepakat untuk bercerai. Lalu apa sudah ditemukan siapa pembunuhnya?"
__ADS_1
Pria itu menggeleng. "Belum, Tuan. Karena CCTV di rumah itu mati dan senjata yang digunakan untuk menusuknya juga tidak di temukan di lokasi. Tapi polisi sedang menyelidiki dan mendalami masalah ini."
"Oh begitu. Aku akan pergi melayat, kapan dia dimakamkan?"
"Kemungkinan hari ini juga, Tuan."
"Baiklah, urus semua. Dan siapkan mobil untukku. Aku akan pergi ke pemakaman. Bagaimana pun juga Sarah pernah jadi wanitaku. Jadi aku harus memberikan penghormatan terakhirku."
"Baik, Tuan."
-
-
Kabar meninggalnya Sarah sudah sampai ke telinga Erica. Entah kenapa dia merasa sedih mendengar kematiannya. Bukan karena kehilangan, dia sedih karena belum puas memberikan balasan pada wanita itu karena telah merebut semua miliknya.
Kevin menghampiri Erica yang sedang berdandan di kamarnya. Dia berencana pergi melayat ke pemakaman Sarah.
Bukannya memakai pakaian hitam sebagai tanda berduka. Erica malah memakai pakaian berwarna cerah yang melambangkan kegembiraan. Bahkan dia tampil sangat elegan dan berkelas. Seperti orang yang hendak pergi menghadiri pesta.
"Kau mau pergi ke pemakaman dengan gaun pesta itu?" Ucap Kevin sambil menunjuk gaun cantik yang melekat di tubuh istrinya.
Erica mengangguk. "Ini bukan suasana duka, jadi untuk apa aku memakai baju berwarna hitam? Bukankah ini adalah momen yang bagus untuk merayakan awal kemenangan?" Wanita itu menyeringai.
"Kau ini. Lihatlah seringaimu itu , kau mirip seorang psycopath." Ucap Kevin sambil menyentil kening Erica.
"Aw, Kevin sakit!! Memangnya apanya yang salah dengan penampilanku? Bukankah ini sangat sempurna, dan lagi pula semasa hidupnya Sarah suka sekali mempersulit hidupku dan sekarang saatnya aku mempersulitnya juga."
Kevin mendengus berat. "Baiklah, terserah kau saja. Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu. Kita pergi sama-sama." Erica mengangguk.
"Baiklah,"
-
-
Bersambung.
__ADS_1