Menikah Lagi Untuk Balas Dendam

Menikah Lagi Untuk Balas Dendam
Sungguh Beruntung


__ADS_3

Bersembunyi, hanya itu yang bisa Dion lakukan saat ini. Dia tidak lagi memiliki keberanian untuk menghadapi dunia, hidupnya benar-benar sudah hancur sejak video itu tersebar.


Untuk mendapatkan sesuap nasi saja, Dion harus bersusah payah dan berusaha dengan keras. Karena akan sangat memalukan jika wajahnya sampai diketahui oleh orang lain. Karena wajahnya adalah aibnya.


"Paman, berikan beberapa bakpao itu untukku. Dan ini uangnya,"


Dan inilah aktivitas Dion setiap harinya. Setiap pagi pergi ke pasar untuk membeli beberapa Bakpao untuk sarapan, makan siang dan makan malam. Lalu pulang ke tempat persembunyiannya.


Hidupnya berubah 180° derajat. Dulu yang kemanapun selalu mengendarai mobil mewah, hidup serba berkecukupan, selalu makan di cafe atau restoran bintang 5, tapi sekarang cukup dengan beberapa buah bakpao saja. Hidupnya sudah hancur.


Dan untuk menyambung hidupnya, Dion harus berhemat karena ia tidak lagi bekerja, sedangkan uang cash yang ia miliki semakin hari semakin menipis. Bisa saja Dion mengambil di ATM, tetapi itu malah hanya akan membahayakan dirinya. Karena polisi bisa melacak keberadaannya.


"Ma, lihatlah Paman itu. Apa dia tidak kepanasan memakai pakaian setebal itu di tengah cuaca seterik ini?"


"Jaga bicaramu, dia memandang kita. Jangan sembarangan bicara lagi, ayo pergi. Dia terlihat seperti bukan pria baik-baik."


Dion menoleh dan menatap ibu dan anak itu dengan pandangan datar. Dia tak mau menghiraukannya, biarkan orang mau berkomentar apa tentang dirinya sekarang. Dion benar-benar tidak mau tak peduli.


"Dion,"


Lelaki itu menghentikan langkahnya mendengar suara familiar seseorang yang ragu-ragu memanggilnya.


Di hadapannya, berdiri Mantan istrinya yang tak lain dan tak bukan adalah Erica, atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama Ellena. Ellena menyeringai sinis melihat keadaan mantan suaminya yang begitu mengenaskan.


Dion yang dulu begitu memperhatikan penampilannya, selalu memakai pakaian bermerek, kini justru memakai pakaian yang seadanya. Roda benar-benar sudah berputar.


"Aku sungguh-sungguh merasa prihatin melihat keadaanmu yang seperti ini. Tidak disangka, tuan muda dari keluarga Martadinata dan CEO sebuah perusahaan besar kini malah menjadi gelandangan." Ujar Ellena setengah mencibir.


"Erica, kenapa mulutmu tajam sekali? Apa kau tidak merasa sedih melihat kau seperti ini, bagaimanapun juga Aku adalah orang yang pernah mencintaimu dengan tulus," ucap Dion mencoba mendapatkan simpati dari Ellena.


"Benarkah, kenapa aku tidak merasakannya sama sekali. Aku benar-benar tak pernah dicintai oleh orang sepertimu," Ellena menatap Dion dengan sinis.


Dion mendekati Ellena, kedua tangannya mencengkram lengan wanita itu. "Erica, kenapa berbicara seperti itu padaku?! Bagaimanapun juga kita pernah bersama, membina Mahligai dan berbagi suka maupun duka bersama. Tapi kenapa setelah menemukan lelaki lain, kau malah bersikap seperti ini padaku?!" bentak Dion marah.


Ellena menyentak tangan Dion dari lengannya dan menatapnya tajam. "Karena lelaki itu jauh lebih baik darimu, dan dia tidak akan pernah bisa dibandingkan denganmu!! Nikmati saja hidupmu, karena ini adalah karma yang harus kau terima!!" Ellena beranjak dari hadapan Dion dan pergi begitu saja.


Ia merasa puas melihat keadaan mantan suaminya saat ini. Meskipun dia tidak lagi mengingat banyak hal tentang Dion, tetapi Ellena masih mengingat dengan jelas bagaimana dia menghancurkan hidupnya dulu.


Di dalam hatinya, Ellena sangat bersyukur karena Tuhan akhirnya melepaskannya dari belenggu cinta pria seperti Dion.

__ADS_1


-


-


Kevin terus mondar-mandir di ruangannya. Ellena tiba-tiba saja menghilang dan tidak bisa dihubungi, dan hal itu membuatnya sangat frustasi. Kevin sangat takut jika Ellena sampai tersesat lagi, seperti malam itu.


Cklekk...


Kevin menoleh setelah mendengar suara decitan pintu dibuka. Lega terlihat pada raut wajahnya, ia menghampiri Ellena dan langsung memeluknya.


"Kevin, ada apa? Kau memelukku terlalu erat, aku sampai tidak bisa bernafas," ucapnya.


Kevin melepaskan pelukannya dan mendorong Ellena. "KAU DARI MANA SAJA?!" Bentak Kevin dengan suara meninggi. Membuat Ellena terkesiap.


"Aku~"


"Apa kau tahu bagaimana cemas dan paniknya diriku saat ponselmu tidak bisa dihubungi," tatapan Kevin berubah sendu.


Ellena menundukkan kepalanya. "Maaf," lirihnya penuh sesal. Kemudian Kevin membawa Ellena ke dalam pelukannya, dan memeluk perempuan itu seperti tapi.


"Jika ingin pergi kemanapun hubungi aku, dan sekali-kali jangan coba-coba mematikan ponselmu, supaya aku tahu jika tiba-tiba kau tersesat dan tidak tau arah jalan pulang. Supaya aku bisa langsung menemukanmu," ujar berbisik.


Ellena mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Kevin. "Baiklah, aku berjanji,"


"Baiklah,"


Mereka berdua menyantap makan siangnya dengan diiringi obrolan-obrolan ringan. Ellena berceloteh dan bercerita panjang lebar, sementara Kevin hanya menjadi pendengar setia.


Kevin hanya tersenyum melihat ekspresi Ellena yang berubah-rubah ketika bercerita. Ekspresinya begitu menggemaskan.


"Oya, aku tadi bertemu dengan Dion, dan apa kau tahu apa yang terjadi padanya?" tiba-tiba Ellena mengalihkan pembicaraan nya, dia tentang memberitahu Kevin pertemuannya dengan Dion tadi.


Kevin memicingkan matanya. "Kau bertemu dengan mantan suamimu yang tidak berhati itu?!" Ellena mengangguk. "Dimana?! Tapi dia tidak melakukan apapun padamu kan?"


"Tidak," Ellena menggeleng. "Kau tau, dia mengatakan banyak omong kosong padaku. Dia seolah meminta simpati dan ingin dikasihani, dia juga mengatakan ini dan itu tentang hubungan kami dulu. Banyak mengatakan omong kosong yang sama sekali tidak aku mengerti," ujar Ellena panjang lebar.


"Mulai sekarang, usahakan supaya kau tidak bertemu lagi dengannya. Bagaimana pun juga, mantan suamimu itu adalah orang yang sangat berbahaya, dan aku tidak ingin jika dia sampai melakukan sesuatu yang buruk padamu,"


Ellena mengangguk. "Aku mengerti, terima kasih karena selalu peduli padaku. Aku sungguh beruntung bisa bertemu denganmu," Ellena berhambur memeluk Kevin dengan erat.

__ADS_1


"Sama-sama, Sayang. Dan mengertilah, apa yang aku lakukan semua demi kebaikanmu."


Kevin sungguh-sungguh tidak ingin kehilangan Ellena. Itulah kenapa dia tidak ingin jika hal buruk sampai menimpanya, dia sudah pernah kehilangan dan Kevin tak ingin hal itu kembali terulang.


-


-


Bukan hanya Dion yang hidupnya berupa 180°, tetapi Ella dan Vera juga. Sejak Alex Su menjebloskan mereka berdua ke dalam penjara, kehidupan ibu dan anak itu berubah total. Bukan hanya penampilannya saja yang tidak terawat, tetapi wajahnya juga.


Banyak bermunculan flek-flek hitam di wajah Ella, dan banyak jerawat yang menghiasi wajah Vera. Dari seorang ratu dan Putri, mereka berdua menjelma menjadi Upik Abu.


"Hei, kalian berdua. Begini ya kerjaan orang baru. Siapa yang menyuruh kalian duduk bersantai?! Cepat pijit pundak dan kakiku!!" bentak seorang wanita yang merupakan pemimpin di sel yang ditempati oleh Vera dan Ella.


Vera menatap tajam pada wanita itu. "Kau pikir dirimu siapa, berani-berani sekali kau menyuruhku dan ibuku!! Aku tidak sudi menjadi babu perempuan rendahan sepertimu!!" sinis Vera.


Wanita itu melotot tajam. "Berani kau ya?!" bentak perempuan itu dengan suara meninggi. Dia menghampiri Vera lalu menarik rambutnya. Dan membuat Vera berteriak kesakitan.


"Yakk!! Apa yang kau lakukan?! Sakit brengsek!!" Teriak Vera sambil memegangi pangkal rambutnya. Tapi tak dihiraukan oleh wanita itu.


Melihat putrinya dalam bahaya tak lantas membuat Ella diam begitu saja. Dia menghampiri perempuan itu lalu menariknya, tapi sayangnya Ella kalah tenaga. Wanita itu mendorongnya hingga kepala belakang Ella membentur dinding dengan keras.


"MAMA!!" jerit Vera histeris. Vera mendorong wanita itu lalu menghampiri Ella dan mendapati kepala bagian belakang ibunya berdarah. "Yakk!! Apa yang kau lakukan pada ibuku, kenapa kau mendorongnya?!" Bentaknya marah.


"Karena dia berani ikut campur urusanku!! Pegangi perempuan tak tahu diri ini, biar aku beri dia pelajaran!!" perintah perempuan itu pada antek-anteknya. Mereka mengangguk dengan patuh.


Tangan dan kaki Vera dipegangi dengan kuat. Wanita itu mendekat, Vera sendiri tidak tahu apa yang hendak dia lakukan. Tiba-tiba perempuan itu mengeluarkan sebuah gunting dari balik pakaiannya, Vera sendiri tidak tahu dari mana dia mendapatkan senjata tajam tersebut. Karena setahunnya, di dalam sel tidak diperbolehkan membawa senjata tajam jenis apapun.


"Mau apa kau?" Vera mulai was-was. Dia takut jika wanita itu sampai melakukan sesuatu yang tidak-tidak padanya.


"Membuatmu lebih cantik," wanita itu menyeringai sinis.


"Aaahh," Vera berteriak kesakitan ketika wanita itu menarik dan menjambak rambutnya dengan brutal.


Helaian demi helaian rambut panjang Vera mulai berguguran di lantai. Yang semakin lama semakin tak terhitung jumlahnya, Vera menggeleng dan menangis. Ketika wanita itu memangkas habis mahkotanya.


Tak ada lagi rambut indahnya yang menjadi kebanggannya, rambut panjang Vera terpotong secara acak dan tidak berbentuk lagi. Bahkan sebagian sampai terlihat bagian kulit kepalanya. Sepertinya perempuan itu berniat membotakkan rambutnya.


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2