
Kevin menghentikan mobil mewahnya di parkiran sebuah restoran mewah bergaya Eropa kuno. Ellena keluar lebih dulu disusul Kevin yang kemudian berdiri disampingnya. Wanita itu menatap Kevin bingung.
"Key, apa yang sedang kita lakukan di sini?"
Ellena menatap Kevin penuh tanya. Jemarinya yang sedang berada di genggaman Kevin bergerak tidak nyaman. Mengetahui hal tersebut, Kevin mengusapkan kedua ibu jarinya perlahan ke tangan perempuan itu, berusaha membuat sang istri ini tenang
"Bukankah kau bilang ingin makan seafood. Sekarang, kita berada di tempat makan favoritmu," ucap Kevin dengan nada lembut.
"Hahaha kau benar ,Key. Kenapa kau serius sekali, padahal aku hanya bercanda," jawab Ellena sambil tertawa hambar.
Kevin tak memberikan jawaban apa-apa dan hanya menatap Ellena dengan pandangan terluka. Hatinya seperti dicabik-cabik melihat keadaannya yang seperti ini. Perlahan tapi pasti, ingatannya pun semakin memburuk dan hal tersebut membuat Kevin sangat ketakutan.
Ellena menoleh dan mendapati Kevin yang masih mematung ditempatnya. Kemudian dia menghampiri sang suami dan menatapnya penuh tanya.
"Kenapa hanya diam dan tidak masuk ke dalam? Kau bilang kita kemari untuk makan siang, ayo masuk." Seru Ellena lalu memeluk lengan suaminya.
Kevin mengangguk. Keduanya kemudian memasuki restoran tersebut. Melihat Ellena yang begitu semangat, membuat Kevin tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum.
.
.
Berbagai hidangan khas Eropa kesukaan Ellena tersusun rapi diatas meja. Mulai dari Pizza, Steak, Spaghetti, Macaroni Schotel dan Beef Lasagna. Semua Kevin yang memesannya, karena dia takut Ellena akan kebingungan ketika memilih sendiri.
"Huaa, bagaimana kau bisa tau semua makanan kesukaanku?" Ellena menatap makanan-makanan itu dengan mata berbinar-binar.
"Tentu saja aku tau, karena kita berdua sudah terlalu sering makan disini dan kau selalu memesan makanan-makanan ini," jawab Kevin.
"Benarkah? Tapi kenapa aku tidak mengingatnya? Sepertinya ingatanku semakin buruk saja,"
Kevin menggeleng. "Bukan, tapi karena kau terlalu banyak berfikir. Cepat makan sekarang sebelum makanan-makanan ini menjadi dingin," Ellena tersenyum kemudian mengangguk.
Dan baru saja mereka menyantap makan siangnya. Sebuah pemandangan mengejutkan menghentikan gerakan tangan mereka berdua yang hendak menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Ellena dan Kevin saling bertukar pandang lalu menatap sosok pria paruh baya yang mirip pengemis di luar sana. "Key, apa dunia sudah berputar? Bukankah itu Song Ho, kenapa dia terlihat seperti gelandangan?" Ucap Ellena terheran-heran.
__ADS_1
Kevin mengangguk. "Benar, dia sudah jatuh miskin setelah istrinya menjual perusahaan dan seluruh saham miliknya lalu membawa kabur semua uangnya ke luar negeri." Jelas Kevin.
"Wow, ini adalah sebuah berita yang sangat menggemparkan. Melihat dia begitu menderita kenapa aku malah bahagia,"
"Itu karena dendammu padanya terlalu dalam, Sayang. Jangan hiraukan dia lagi, cepat habiskan makan siangmu. Kau bilang ingin pergi ke taman bermain setelah ini."
Ellena mengangguk. "Kau benar, aku hampir lupa."
Hampir saja dia lupa dengan keinginannya tersebut. Untungnya Kevin mengingatnya, dan sudah sejak lama Ellena ingin sekali menaiki biang Lala raksasa.
-
Dion menundukkan kepalanya dan mempercepat langkahnya saat tanpa sengaja dia berpapasan dengan orang-orang yang dulu menjadi koleganya. Akan sangat-sangat memalukan jika mereka sampai melihat keadaannya yang seperti ini.
Pria itu buru-buru masuk ke dalam gang sempit yang menjadi alan alternatif menuju tempat tinggal sederhananya. Karena sekarang dia tinggal disebuah perkampungan kumuh tempat para pengamen dan peminta-minta.
"Hoi, anak muda. Kemarilah dan ikut minum bersama kami." Seru seorang paruh baya ketika melihat Dion melintas didepannya dan juga warna yang lain.
"Terimakasih Paman," Dion pun bergabung dan minum beberapa teguk Soju yang dituangkan oleh paman itu.
"Kau seharusnya lebih banyak bersosialisasi. Jangan hanya diam di rumah saja, kita disini adalah saudara. Jadi jika perlu apa-apa jangan sungkan-sungkan untuk meminta bantuan pada kami." Ucap warga yang lain.
Karena mereka tidak memiliki televisi dan kurangnya pengetahuan, jadi para warga perkampungan kumuh tidak tau jika Dion adalah orang yang sedang banyak dibicarakan akhir-akhir ini, dan juga buronan polisi.
Karena yang mereka tau Dion adalah anak muda yang telah kehilangan harta bendanya karena suatu hal.
Setelah menemani para paruh baya itu minum. Kemudian Dion berpamitan untuk undur diri. Akan sangat berbahaya jika dia terlalu lama berada di luar rumah. Keberadaannya bisa terendus oleh polisi. Dion tidak ingi membusuk dipenjara.
-
Senyum lebar hinggap di wajah cantik Ellena ketika ia dan Kevin memasuki area taman bermain. Dengan semangat, Ellena menarik Kevin menuju loket untuk membeli karcis. Ellena ingin sekali menaiki sebuah kincir angin.
Kevin menggenggam erat tangan Ellena. Pemandangan dari atas benar-benar memukau. Semuanya tampak menjadi kecil saat mereka memandangnya dari ketinggian.
Kevin melirik ke arah Ellena, dia tampak senang saat ini. Hal ini membuat senyum Kevin mengembang lebar. Karena melihatnya senang sungguh merupakan kebahagiaan tersendiri baginya.
__ADS_1
Ellena lalu berdiri dan memandang langit."Key, lihatlah!! Dari atas sini langit terasa sangat dekat ya?" ucap Ellena sambil merentangkan kedua tangannya.
"Iya, bahkan bumi jadi terasa jauh saat kita berada di atas seperti ini," balas Kevin sambil menatap ke bawah.
Mata Kevin membelalak saat tanpa sengaja dia melihat sosok transparan dalam balutan gaun putih yang sangat cantik dengan sebuah mahkota bunga diatas kepalanya membaur bersama para pengunjung.
Sosok itu mendongak dan menatap kearahnya dengan senyum lembutnya, sebelum akhirnya sosoknya menghilang begitu saja. "Stella," Kevin bergumam lirih. Taman bermain adalah tempat kenangan terakhir mereka berdua sebelum tragedi itu terjadi.
"Kevin, kau sedang melihat apa?" tanya Ellena sambil mengikuti arah pandang suaminya
Kevin menggeleng. "Tidak ada. Aku tidak melihat apa-apa," ucapnya lalu mengalihkan pandanganku dan menatap langit.
Tidak mungkin Kevin mengatakan yang sebenarnya pada Ellena, jika sebenarnya dia melihat sosok Stella ditengah keramaian. Tapi bukan sosok nyata melainkan bayangan saja.
"Kau melihat anak-anak kecil itu ya?" tanya Ellena sambil tersenyum.
"Hm," Kevin bergumam pelan.
"Kau suka anak-anak ya, Key?" tanya Ellena sambil menatap anak-anak yang sedang bermain dibawah sana.
Kevin mengangguk. "Sebenarnya sudah sejak lama aku ingin sekali memiliki anak. Bahkan dulu aku sudah merencanakannya dengan Stella, tapi sebelum hal itu terlaksana, dia sudah pergi." Ujarnya sambil tersenyum gambar.
Ellena terdiam. Lalu dia memandang Kevin yang sedang diam termenung. Apakah dia hanya ingin memiliki anak dari mendiang kakaknya saja, tidak darinya.
Ellena tau jika Kevin sangat mencintai Stella, bahkan hingga detik ini cinta itu masih tersimpan rapi di dalam hatinya.
"Kenapa melamun?" Tegur Kevin melihat kediaman Ellena.
Perempuan itu kembali memandang suaminya lalu menggeleng. "Tidak apa-apa. Hanya sedang membayangkan ketika aku memiliki seorang anak. Pasti akan sangat menyenangkan," ucapnya lalu kembali memandang kearah langit.
Setelah naik Kincir Angin. Ellena mengajak Kevin untuk langsung pulang. Ia terlihat tidak bersemangat seperti ketika mereka awal datang tadi. Entah apa sebabnya, tapi Kevin merasa jika hal itu ada hubungannya dengan perbincangan mereka mengenai anak-anak tadi.
Mungkinkah Ellena ingin memiliki seorang anak? Entahlah, Kevin sendiri tidak tau, dan mungkin dia harus memastikannya.
Jika Ellena memang ingin segera memiliki anak, dia pun tidak akan menundanya. Karena sudah sejak lama Kevin menginginkan kehadiran seorang buah hati di dalam pernikahannya dan Ellena.
__ADS_1
-
Bersambung