
Di kamar rawat inap vita masih belum sadarkan diri, tetapi demamnya sudah tidak setinggi tadi karena dokter sudah menyuntikkan obat penurun demam kepada vita, budi masih setia menemani vita dengan perasaan cemas, dia pun menggenggam tangan vita dan mengecupnya sekali. Dia berharap vita segera bangun karena dia sangat sedih melihat vita yg lemah seperti ini.
"Lekas bangun Vit, kami semua menunggumu. Kami menyayangimu termasuk aku" ucap budi lirih lalu dia bangkit dan mencium kepala vita.
Diluar pintu ada seseorang yg tengah mengepalkan tangannya saat melihat adegan tersebut. Iya orang itu adalah arif, saat dia sudah sampai di depan kamar VVIP dia melihat seseorang dari jendela pintu kamar, dia merasa heran kenapa ada seorang pria didalam kamar itu. Tadinya dia berpikir kalau itu saudaranya atau asisten rumah tangga nya vita tetapi tiba-tiba matanya membulat saat melihat pria itu mencium tangan dan kepala vita.
Nafas arif turun naik, dia sangat marah. Amarahnya menggebu-gebu lalu dia langsung masuk ke dalam ruangan itu. Budi yg melihat seseorang masuk ke dalam dengan membuka pintu sangat kasar sontak menengok, tiba-tiba saja arif menghampiri budi dan menonjok budi, budi sangat terkejut dan juga merasa heran siapa orang ini dan kenapa dia menonjok nya.
"Maaf kamu siapa? Kenapa memukul saya? " tanya budi keheranan.
Arif tidak menjawab langsung pertanyaan budi, dia masih sangat marah, nafasnya masih nurun naik menahan kesal yg amat sangat dalam dirinya, dia berpikir bahwa dia telah di khianati, apakah ini alasannya kenapa vita tidak bisa dihubungi selama ini, ternyata vita sudah berpaling darinya pikir arif dalam hatinya. Rasanya sangat sesak bagi arif, dia pun tidak sadar telah meneteskan airmata dan hal itu membuat budi semakin bingung.
"Semoga kalian bahagia" jawab arif pada akhirnya. Dia meletakan tas totebag titipan dari alin dan juga darinya di lantai dekat sofa lalu dia bergegas pergi dari ruangan itu, dia tak ingin mendengar penjelasan apapun dari budi karena saat ini pikirannya sedang kalut, banyak tanda tanya di dalam otak dan hatinya tetapi dia enggan untuk mendengarkan apapun. Hatinya sudah sangat sakit melihat adegan tadi dan dia menganggap itu bukan sebuah kesalahan pahaman melainkan sebuah realita.
Betapa hancur hatinya, hancur sudah harapan yg dia bawa dari jauh hendak bertemu sang kekasih dan berniat untuk memberikan kejutan malah dia sendiri yg terkejut. Arif pun mengusap airmata nya, lalu dia bergegas mencari masjid karena dia belum menunaikan shalat isya. Dia berharap setelah sholat hatinya akan lebih tenang.
__ADS_1
Sementara di tempat lain, budi masih tercengang akan kejadian yg baru saja di alaminya, dia masih menerka-nerka siapa orang itu dan kenapa sikapnya seperti itu. Dan apa maksud dari perkataannya. Budi tidak tahu kalau itu adalah arif kekasih vita karena selama ini vita tidak pernah memberitahu nya. Dia hanya tau vita memiliki kekasih tetapi tidak tahu tentang wajahnya. Disaat dia masih termenung tiba-tiba terdengar suara lirih vita.
"Eughh.... "
"Vita, kamu sudah sadar? " tanya budi dengan wajah berbinar.
"Aku dimana mas? " tanya vita kebingungan.
"Kamu di rumah sakit, sebentar mas panggil dokter dulu ya" jawab budi lalu memanggil dokter, tak lama dokter pun masuk dan memeriksa kondisi vita.
"Alhamdulillah, Terima kasihh dokter" balas budi sambil tersenyum, dia senang Vita sudah lebih membaik dari sebelumnya. Dokter pun pamit undur diri lalu meninggalkan ruangan tersebut.
"Mas aku haus" ucap vita lirih. Budi mengangguk lalu mengambilkan air minum yg ada dimeja nakas dan menyerahkan nya kepada vita. Vita meminumnya perlahan dan setelah vita minum budi menyandarkan kembali kepala vita ke bantal.
"Mama sama papa mana mas? " tanya vita kebingungan karena hanya budi seorang diri,
__ADS_1
"Nyonya sama tuan sedang di jalan menuju kesini" jawab budi.
"Apa nona lapar? Makan dulu ya saya suapin" ucap budi lembut, vita hanya mengangguk lalu budi meninggikan posisi ranjang bagian kepala vita lalu dia mengambil makanan yg dibawakan oleh perawat tadi, dengan telaten dia menyuapi vita sedikit demi sedikit, ada rasa bahagia dihatinya karena bisa merawat orang yg di sayanginya, apalagi tidak ada penolakan dari vita saat ini karena dia tengah lemah karena sakit.
"Andai om adnan tidak merahasiakan identitas ku, mungkin aku bisa lebih leluasa mendekati mu" ucap budi dalam hati sambil terus menyuapi vita. Iya sebenarnya budi bukanlah seorang supir, budi adalah anak kerabat om adnan yaitu om rindra yg sudah meninggal karena kecelakaan, sebelum meninggal om rindra dan juga istri berpesan agar om adnan merawat putranya dan membantu meneruskan perusahaan om rindra karena usia budi yg belum matang untuk memegang perusahaan, om adnan berencana menjodohkan vita dengan budi tetapi karena usia vita masih terlalu muda jadi om adnan meminta budi untuk berpura-pura menjadi supir agar dia bisa menjaga vita sepanjang waktu.
"Sudah mas" ucap vita
"Sedikit lagi, kesian ini berkahnya" pinta budi.
Akhirnya vita pun menurut dan budi merasa senang karena vita sudah menghabiskan makannya lalu dia menyodorkan air minum untuk vita. Budi pun merapihkan bekas makan nya dan menaruhnya di atas nakas agar nanti perawat mudah mengambilnya.
Vita kembali menyandarkan tubuhnya di ranjang, kepala nya masih sedikit terangkat karena dia baru selesai makan. Saat budi sedang duduk menghadap vita, sontak vita fokus pada pipi budi yg sedikit memar, dia merasa heran kenapa dengan pipi budi yg terlihat seperti bekas di pukul oleh seseorang. Budi yg merasa sedang diperhatikan oleh vita segera menyadari nya dan memegang pipinya.
"Mas Budi pipinya terluka? Kok lebam gitu? " tanya vita dengan sangat heran.
__ADS_1