
Luther dan teman-temannya terkejut kala mendengar suara teriakan para perawat yang berlari ke sana kemari berusaha untuk menangkap gadis yang melarikan diri dari kamar perawatan nya.
"Di mana Kak Rose!!!" Yuna, gadis yang dikira gila itu, gadis yang diperlakukan seperti orang sakit jiwa itu melepaskan paksa semua ikatan pada tubuhnya.
Beberapa saat lalu, dia sedang berdiri di dekat jendela menatap ke halaman depan rumah sakit sambil mengingat sosok hangat yang memarahinya beberapa hari lalu karena kondisinya.
Kedatangan Rose berhasil mengubah hati dan pemikiran Yuna. Marahnya Rose membuat gadis itu sadar kalau selama ini dia hidup dengan menyia-nyiakan waktunya dengan berduka.
Yuna sadar betul, jika dia ingin bangkit maka harus dimula dengan melupakan dan menerima apa yang terjadi di masa lalu sama seperti yang dikatakan oleh Rose padanya.
Senyuman manisnya mulai terlihat, dia menatap langit dengan mata berkaca-kaca,"nak, Mama akan hidup bahagia di sini, Mama harap kamu bahagia di tempatmu berada, " ucapnya dengan air mata mengalir di kedua pipinya.
Hingga dia mendengar suara yang sangat dia kenal. Suara Rose yang sedang bersama dengan kakak kakaknya.
Dia menatap ke area sebelah kanan," Kak Rose!?" Ucap Yuna dengan kedua mata berbinar binar. Senyumannya begitu indah, dia sampai melompat bahagia saat melihat Rose di seberang sana.
" Kakak... Aku mau bertemu kakak ipar!!!" Ucapnya dengan senyuman bahagia dan spontan membuka paksa ikatan di kedua tangan dan kakinya.
Miris sekali melihat keadaannya, dia diikat dan disembunyikan di ruang isolasi itu sendirian selama beberapa hari ini. Sebenarnya di rumah keluarga Kim pun dia dipeakukan sama. Diikat dan dianggap seperti orang gila.
Mereka mungkin mengatakan menyayanginya tetapi cara Rose menghadapi nya sangat berbeda. Tatapan mata Rose bukan tatapan mata kasihan tetapi tatapan penuh perhatian cara bicaranya pada Yuna bukan cara bicara pada seorang pasien dengan gangguan jiwa tetapi cara bicara layaknya berkomunikasi dengan orang normal.
Dari semua orang, bahkan dari keluarnya sendiri hanya Rose yang memperlakukan dia dengan normal.
Yuna berlari keluar dari kamarnya sambil berteriak kegirangan. Gaun pasien yang dia pakai tampak lusuh namun tak mengurangi keceriaan perempuan muda itu.
Yuna berlari sekendang mungkin sampai membuat semua perawat panik dan berpikir kalau Yuna sedang kambuh.
"Nona Yuna kabur, astaga kenapa bisa begini!!!"
"Kejar jangan sampai lepas!!!"
Para perawat mengejar Yuna, tetapi Yuna begitu bersemangat.
Gadis itu sampai keluar dari rumah sakit dan berteriak kencang memanggil nama Rose.
" kak Rose!!!" Teriaknya berkali kali sekuat tenaganya.
Rose dan yang lainnya terkejut ketika mendengar seseorang memanggil nama gadis itu. Rose berpaling dan melihat dari kaca mobil.
Jelas di sana ada Yuna yang berlari sambil berteriak kegirangan.
"Yuna!?" Rose terkejut.
"Kau mengenalnya?" Tanya Harley.
__ADS_1
Rose mengangguk," adik perempuan bajingan itu!" Jelas Rose singkat.
"Ahhh... Adiknya, sudah biarkan saja, jangan ditanggap,"
"Siapa tau dia sama gilanya dengan bajingan itu," ucap Mike seraya melirik sinis ke arah perempuan itu.
"Kak Rose tunggu!!!" Teriak Yuna lagi, sedangkan di belakangnya ada Luther, Thunder dan Eric serta beberapa perawat yang berusaha menangkapnya.
Rose terdiam sejenak, dia melirik gadis itu dan merasa sedikit bersalah jika meninggalkan nya begitu saja.
"Tunggu sebentar, biar aku bicara padanya," ucap Rose.
Gadis itu keluar dari dalam mobil Van besar itu. Dia menatap Yuna yang berlari dengan wajah ceria sambil merentangkan kedua tangannya menghampiri Rose dengan senyuman indahnya.
"kakak kenapa langsung pulang!" Seru Yuna sambil menghamburkan pelukannya pada Rose.
Rose yang diperlakukan demikian terkejut dengan perubahan besar pada Yuna.
"Bukannya kau yang mengusir kakak hari itu?" Goda Rose sambil membalas pelukan Yuna.
"Eh.. hehehe maaf kak, Yuna sudah sadar sejak kakak marah hari itu, terimakasih sudah datang dan memperlakukan Yuna seperti orang normal," Ucapnya sambil menatap rose dengan tatapan berbinar.
Rose tersenyum getir," baguslah, kau sudah sehat," ucap Rose.
"Yuna!" Suara bariton Luther menggelegar membentak Yuna yang memeluk orang yang dia benci.
"Dia bukan kakak iparmu lagi, jangan pelung perempuan sinting itu! Di berbahaya, dia orang orang dari dunia bawah sana seperti Yotan!" Tegas Luther.
Yuna terkejut.
Dia menatap ke arah kakak laki-lakinya yang datang dari gedung dengan wajah murka.
Di saat yang sama Fraud dan Yoshi menghampiri mereka dan langsung berdiri sebagai penjaga Rose.
"apa maksudnya? Bukannya kakak adalah kakak iparku?" Tanya Yuna dnwhna polosnya.
Rose tersenyum kecut, dia menatap sinis ke arah Luther yang berjalan bak serigala yang tengah mengamuk.
" Bukannya sudah jelas, kakak bukan kakak iparmu, sudahlah sana kembali, semoga kamu bisa hidup dengan normal, bangkitlah Yuna, kakak yakin kamu akan jadi orang hebat, pelukis hebat, kakak sangat menantikan itu!" Ucap Rose dengan penuh ketulusan .
"Tapi kenapa!?" Tanya Yuna dengan mata berkaca-kaca. Padahal dia sangat senang karena Rose adalah kakak iparnya.
"Kau akan tau sayang, semangat ya, kakak pergi dulu, kalau mau main tanya pada kak Thunder alamat kakak, dia akan membawamu ke sana," ucap Rose sambil menepuk pucuk kepala Yuna dengan lembut.
"Yuna masuk ke rumah sakit!" Senggak Luther dengan nada kasar dan sarkas. Dia sangat benci jika orang dekatnya menyukai Rose.
__ADS_1
"Kau kasr sekali Luther!" Thunder tak terima.
"Terserahku, aku tidak mau berhubungan dengan sampah munafik ini! " Ucap Luther sambil menarik keras tangan Yuna.
Rose tersenyum sinis," Yuna jadilah senormal mungkin, menghadapi orang gila itu kau butuh otak cerdas, ingat pesan kakak selalu berpikir logis dan cerdik!" Ucap Rose sambil menatap Yuna yang ditarik paksa oleh Luther.
"Kak lepaskan! Aku mau sama kak Rose!!!" Teriak Yuna sambil meronta ronta dalam genggaman tangan Luther.
"Dia bukan kakakmu dasar bodoh!" Bentak Luther lagi.
Mereka semua tercengang melihat kekejaman Luther. Bahkan Eric dan Thunder sampai tak bisa berkata-kata melihat perlakuan Luther pada Yuna.
Yuna menangis sesenggukan sambil mengikuti langkah kaki tergesa-gesa dari Luther. Entah apa yang merusak pikiran pria itu, tetapi dia berubah besar setelah btahu kalau Rose anggota mafia.
"Rose kau baik baik saja?" Thunder menghampiri Rose. Setidaknya otaknya masih normal karena jelas tahu kalau Rose berperan besar dalam penangkapan kali ini.
Fraud langsung menghalangi Thunder yang hendak mendekati Rose.
"Jangan dekat-dekat!" Ucap Fraud dengan tatapan sinis. Yoshi sendiri menjaga jarak dari Thunder agar pria itu tidak mengenalinya.
"Ahh maaf, aku hanya khawatir dengan dia, " ucap Thunder.
"Aku baik kak," Rose menepuk lengan Fraud dan berjalan mendekat pada Thunder.
"Sebaiknya kakak perhatikan Yuna. Luther mungkin akan bersikap keras pada gadis malang itu, jangan sampai dia terpukul lagi, jika butuh bantuan datang ke alamat yang kami berikanbtadi," ucap Rose.
Sekalipun dia diperlakukan sangat buruk oleh keluarga Kim, Rose tetap menghargai Thunder dan tetap berlaku lembut pada Yuna.
"Ahhh sialan, padahal kau sangat baik, tapi Kenapa keluarga Kim melakukan ini, " Thunder berdecak kesal.
Rose hanya tersenyum simpul," Kalau begitu Rose pergi dulu," ucapnya pelan.
"Baiklah hati-hati Rose, sampai berjumpa lagi," ucap Thunder.
Sementara itu di sisi lain halaman rumah sakit itu, Yu Jin mengawasi mereka dari balik taman sambil mengambil beberapa foto mereka.
" Orang orang ini, aku akan mendapatkannya, akan sangat baik jika aku menggunakan Yuna, gadis gila itu hahahaha... Kau memang jenius Yu Jin!"
.
.
.
Like, vote dan komen 🤗
__ADS_1