
Rose sedang berjalan di sebuah ruangan gelap dengan langkah tertatih-tatih. Dapat dia rasakan genangan air di bawah telapak kakinya terasa dingin dan sangat menusuk. Gadis itu memegang sebuah boneka beruang berwarna putih yang sudah lusuh. Roseanne kecil berjalan dengan perlahan sambil memanggil nama sang ibu.
“ mama.. Mama di mana? Anne mau main... Mama di mana?” Suaranya terdengar imut untuk seusianya, dia berjalan pelan sambil menatap ke sana kemari dan berpegangan pada penyangga besi yang tingginya sampai di atas kepalanya.
Rose berjalan mencari sang ibu di lorong gelap itu.
Di saat yang sama dia mendengar suara rintih dan tangisan pilu di ujung sana, di mana sebuah cahaya menyoroti seseorang yang berdiri tegap dengan satu yang lain duduk berlutut di depannya.
“ mama? Papa?” ucap Rose sambil menatap mereka dengan tatapan berbinar. Tetapi yang dia dengar saat ini adalah suara tangisan pilu yang menggelegar di sepanjang lorong itu. Suara anak kecil laki laki terdengar jelas di telinga Rose.
“ Papa... jangan pukul Mama...” teriak anak lelaki yang tampak lebih tua dari Roseanne berlari sekuat tenaga dengan tubuh babak belur menghampiri bayangan itu.
“Tidaakk.... Jangan pukuli Mamaku!!” teriak anak itu sambil menangis sesenggukan.
Rose terdiam di tempat, dia jelas melihat anak laki laki itu pincang, berlari dengan bantuan tongkat dan kepalanya diperban, menangis sesenggukan mengejar bayangan yang dia lihat itu.
“ kaka? Mama? Apa itu kalian.. tunggu Anne!!” teriak gadis itu yang malah ikut berlari menghampiri cahaya itu.
Plakkk... plakkkk... plakkk..
“ Arkhhh uhuk uhuk.. to... tolong...” suara rintihan kesakitan semakin jelas terdengar.
Rose berhenti melangkah saat kedua netranya menatap dua manusia yang berada dalam cengkraman tangan kekar tuan Lart ayahnya.
Tuan Lart mencekik Seorang wanita dan anak kecil laki laki dalam genggaman tangannya, sedangkan Nyonya lia dan kedua anaknya berdiri sambil tersenyum sinis ke arah perempuan dan anak laki laki itu.
“ mama , Kakak, kenapa papa berbuat seperti itu...” teriak Rose panik dan histeris.
__ADS_1
Tetapi tiba-tiba, mereka semua menatap ke arah Rose sambil membulatkan matanya dan tersenyum menyeramkan sambil berkata,” berikutnya giliran siapa?” ucap mereka serentak sampai suaranya bergema dan begitu halus ditelinga sampai membuat bulu kuduk merinding dengan sukses.
“ Arrkhhhhhhhh Mama,.. Kakaaakkk!!!” Rose berteriak histeris. Gadis itu terbangun dari mimpi buruk yang senantiasa menghantui dirinya setiap saat. Mimpi buruk yang sama, saat tuan Lart mencekik Ibu dan kakak laki-lakinya.
haahhh.... hahhhh.... haahhhh....
Nafas Rose naik turun, dadanya terasa sesak dan keringat bercucuran di keningnya. Rasanya sangat menyakitkan melihat mimpi yang sama berulang kali.
Tanpa terasa air mata gadis itu mengalir begitu deras. Rose menangis sesenggukan sambil menepuk dadanya yang terasa sangat sesak setelah melihat mimpi buruk yang sangat menyiksa itu. Seketika dia menyadari, sekalipun dia sudah menikah, sekalipun dia mendapat rumah yang baru , dia masih sendirian, dia masih hidup sebatang kara. Bahkan suaminya tak ada di kamar yang sama dengan dia.
Rose menatap dirinya yang jelas berbeda dengan semua orang. Dia menangis meratapi nasibnya, kerinduan dengan saudara dan ibunya membuat gadis itu menderita.
Luther sama sekali tidak datang ke kamar itu, dan Nyonya Park sudah kembali ke kamarnya sendiri. Jam menunjukkan pukul 6 pagi, ini saatnya lembaran baru dalam hidup Rose dimulai. Perubahan perlu dilakukan untuk menunjukkan pada dunia seperti apa dirinya yang sebenarnya.
Rose menguatkan dirinya sendiri. Mendapat keluarga baru tidak mengubah apa pun dalam dirinya, kesendirian dan kesepian itu masih terus menghantui anak dara yang malang itu.
Tanpa dia ketahui, nyonya Park menatapnya dari balik pintu dengan tatapan sendu sambil memegang engsel pintu. Tatapan mata seolah mengatakan kalau Rose harus kuat hidup kesepian .
“ Luther, kau harus berubah nak, Rose membutuhkan mu “ batin Nyonya Park.
Roseanne bangun dari kasur, dia menatap kamar yang luas dan hangat itu. Meskipun bukan pertama kalinya tinggal di sana, setidaknya dia merasa aman dan nyaman karena tidak ada ancaman atau teror yang dia terima di rumah itu seperti ketika dia tinggal di rumah keluarga Lart.
“ Sebaiknya aku mulai latihan lagi, mereka pasti sudah menungguku, dan tubuh penuh lemak ini benar benar menyiksaku, tak sia sia makan setiap malam hari dan hasilnya tabungan lemak yang sangat tebal,” gumam Rose.
Rose dengan sengaja sejak usianya beranjak remaja menggemukkan tubuhnya untuk menghindari perjodohan yang diatur oleh keluarga Lart demi kepentingan mereka. Beberapa kali dia akan dijodohkan dengan orang yang tidak sesuai dengan keinginan Rose bahkan hanya untuk kepentingan tuan Lart dan nyonya Lia, tetapi sebanyak itu juga dia berhasil menghindar meski mendapatkan pelecehan verbal atas bentuk tubuhnya.
Rose membersihkan dirinya dan berganti pakaian dengan pakaian yang dia bawa. Pakaian olahraga yang kebesaran dia gunakan untuk latihannya hari ini.
__ADS_1
Dengan rambut yang diikat tinggi ke atas Rose siap dnegan olahraganya.
“ Kau mau ke mana?” suara bariton seorang pria terdengar jelas di telinga Rose. Sontak gadis itu berbalik dan menatap orang yang tak lain adalah Luther itu.
Pria itu baru bangun dan hendak mengganti pakaiannya untuk olahraga yang biasa dia lakukan.
“ ahhhh saya mau olahraga tuan, maaf membuat Anda tidak nyaman, tapi nyonya Park yang meminta saya tidur di sini. Saya tidak menyentuh apa pun atau memindahkan posisi barang barang di kamar ini, semua masih sama pada tempatnya,” jelas Rose.
“ Anggap saja saya sedang menumpang,” ucap Rose yang hendak keluar dari tempat itu.
Tetapi Luther menahan tangannya sampai membuat Rose berhenti,” kau bebas melakukan apa pun dengan ruangan ini, toh kita suami istri, tak usah canggung dan lakukan yang kau mau,” ucap Luther sambil tersenyum seraya memerankan suami yang baik di depan Rose.
Rose sangat terkejut dengan sifat Luther yang sama sekali tidak bisa dia tebak. Padahal semalam mereka berdua berdebat tetapi sekarang Luther sukses menunjukkan sifat manis di depan Rose .
Rose melepaskan tangannya dari genggaman tangan Luther, dia tidak nyaman dengan nada dan cara pria itu menatapnya,” Ba..baiklah, terimakasih,” ucap Rose dengan nada canggung.
“ Kau mau olahraga kan? Tunggu sebentar, kita ke ruang gym saja, kau bisa gunakan peralatan olahraga yang ada di rumah ini," ucap Luther yang langsung masuk ke walk in closet dan mengganti pakaiannya menjadi pakaian olahraga bahkan sebelum mendengar jawaban Rose.
Rose menatap heran, dia merasa aneh dan canggung, sambil menatap ruangan kecil tempat pakaian itu, Rose menggidikkan bahunya dan melangkah keluar dari ruangan kamar itu tanpa menunggu Luther.
" Pria yang aneh," batin Rose.
.
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen 🤗