Menikahi Pria Bertopeng

Menikahi Pria Bertopeng
MPB 6


__ADS_3

Rose benar-benar kesal dengan kejadian ini sama halnya dengan Luther.


"Sialan!" umpat Luther sambil menjauh dari Rose.


"King ada yang ingin ku sampaikan, apa kau masih lama!?" Suara Thunder terdengar ke telinga Luther yang sering disapa King oleh Thunder.


"Aku sudah selesai!" ucap Luther sambil melangkah mundur dan menjauh dari Rose.


"Pak Mus Antarkan dia ke kamar!" titah Luther dengan suara lantang.


Seketika itu, seorang pelayan yang sudah renta berjalan tertatih-tatih menghampiri Rose sambil menunduk. Jelas sekali pria itu terlihat takut dengan sosok Luther. Hal ini malah menarik perhatian Rose karena Luther sepertinya memiliki dua sifat.


"Si... silahkan ikut saya No..nona," ucap Pak Mus tergagap sambil melirik Luther dengan tatapan takut. Sebenarnya seperti apa Luther ini!?


"Biar saya bawakan barang anda," ucap Pak Mus sambil mengambil koper Rose dan memegang nya dengan tangan gemetaran.


"Biar saya saja Pak, tidak masalah, bapak tunjukkan saja kamarnya," ucap Rose dengan lembut sambil mengambil koper itu dari Pak Mus.


" Tapi nona...


"Sudah biarkan saya bawa pak, sepertinya pria topeng monyet itu sudah tidak sadar kalau dia menyuruh seorang kakek tua dan renta membawa koper sebesar ini, ayo Pak tunjukkan jalannya pada saya," Sindir Rose tanpa menoleh pada Luther sedikitpun.


Luther jelas mendengar hal itu, bahkan Thunder sahabatnya yang gila sampai terkikik geli mendengar ucapan Rose," Wahh kau benar-benar mendapat misteri box Luther, dia sangat misterius!" ucap Thunder seraya menyenggol lengan Luther.


Tetapi Luther hanya diam dengan tatapan dingin dan tajam, mengeraskan rahangnya dan mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Melihat ini, Thunder paham sifat lain dari Luther muncul kembali.


Thunder langsung menjaga jarak dan mengunci Rapa mulutnya," Sial dia sepertinya marah lagi, tapi tadi dia bisa mengendalikan amarahnya? dia berdebat dengan perempuan itu, sekarang kenapa malah akan mengamuk lagi!??" batin Thunder.


Luther tidak menanggapi ucapan Thunder," Berikan dokumen tentang dia!" ucapnya dingin.


"Eh... i..itu yang ingin ku sampaikan Luther, aku sama sekali tidak menemukan informasi apapun selain yang sudah ku kirimkan padamu, gadis ini sangat aneh, dia tidak punya sosial media, tidak punya teman bahkan tak ada orang yang dekat dengannya sampai sejauh ini, sangat sulit mencari informasi tentang dia!" jelas Thunder.

__ADS_1


"Hah... jadi hanya sampai di situ kemampuanmu!? aku kecewa Thunder," Luther pergi begitu saja setelah mendengar ucapan Thunder.


Detektif itu hanya bisa menunduk, memang sangat sulit mencari informasi tentang Rose.


Tanpa mereka sadari, sejak tadi nyonya Park berdiri di ujung lorong lantai dua tepat di depan kamar gadis yang ada dalam ruangan itu sambil menatap Luther dengan tatapan yang tidak bisa dia tebak," mau sampai kapan kau bersikap seperti ini!? dan Pak Mus, kenapa kau meminta dia melayani Rose, bodoh!" batin wanita itu sambil mencengkram erat besi pembatas lantai dua.


Luther berjalan dengan cepat menuju lantai dua, pikirannya sedang kalut saat ini. Dia harus menyusun ulang rencana balas dendamnya dan memanfaatkan Rose sebaik mungkin untuk mendapatkan keinginannya.


Jika tidak, selamanya dendam itu akan terus melekat di hati Luther bahkan membawa penyakit baginya.


Luther berjalan dengan tenang saat dia mendekati kamar dengan pintu berwarna kuning cerah. Dia menarik nafas dalam-dalam dan menutup kedua matanya agar dirinya tenang. Berusaha untuk memasang senyum di wajahnya.


Perlahan dia membuka pintu kamar itu, nyonya Park dan Tuan Kim tak lagi berada di sana.


Dengan kepalanya yang masuk terlebih dahulu, dia mengamati kamar itu dengan seksama. Kamar yang hangat dan penuh warna cerah. Di sana seorang gadis cantik dengan rambut panjang digerai sedang duduk di atas kasur membuka album foto pernikahan dengan senyuman manis di wajahnya.


"Yuna sayang, aku pulang," ucapnya pelan.


"Sayang kamu pulang!!!" seru Yuna dengan wajah cerah dan gembira sambil menatap Luther dengan tatapan penuh cinta. Dia berdiri dan langsung berlari menghamburkan pelukannya pada Luther.


Kamar itu sangat hangat, dihiasi dengan foto pernikahan di mana Luther dan Yuna tampak sangat menawan dalam balutan pakaian indah mereka. Foto tuan Kim dan Nyonya Park juga ada, semuanya tampak bahagia dalam foto itu.


Luther membalas pelukan Yuna dengan begitu erat, dia memeluk gadis itu dengan senyuman hangat dan nyaman seolah dia menemukan tempatnya untuk berkeluh kesah.


''Aku merindukanmu, sehari tidak bertemu membuatku merasa jauh," ucap Luther seraya melepaskan topengnya yang dia pakai seharian.


Yuna tersenyum, dia menatap wajah Luther, wajah yang ditutupi selaput coklat setelah dia melepaskan topengnya.


"Apa yang kau lakukan di luar? kenapa tidak mengajak Yuna? kamu tahu kan anak kita menunggu kamu pulang," ucap Yuna seraya mengusap perutnya yang datar.


Luther tersenyum tipis, dia semakin memperdalam pelukannya pada Yuna. Tak mengatakan apa pun, hanya memeluk perempuan itu dengan erat.

__ADS_1


Mereka berdua tidur di dalam kamar yang sama, padahal malam ini adalah malam pertama Luther sebagai pengantin baru, tetapi dia tidak butuh itu. Dia mengambil Rose sebagai istrinya untuk dia gunakan dalam rencana balas dendam berdarah yang sudah bertahun lamanya dia pendam.


Sementara itu, Roseanne memasuki sebuah kamar yang cukup bidang, isinya jelas sekali sangat cocok dengan kepribadian seorang pria. Yap, kamar itu adalah kamar milik Luther yang sedang bersama perempuan lain saat ini.


Rose masuk ke sana atas bimbingan Pak Mus yang sudah tua dan renta," silahkan masuk nona, ini kamar anda!" ucap Pak Mus dengan nada dan tatapan aneh pada Rose.


"Ehh... baik pak," ucap gadis itu. Rose merasa ngeri melihat wajah Pak Mus yang berbeda. Jelas sekali Pak Mus menatapnya dengan tatapan yang berbeda seolah dia bukan orang yang sama dengan yang Rose temui tadi.


"A..apa ada yang mau dibicarakan lagi pak?"tanya Rose sambil berjalan sedikit menghindari Pak Mus.


"Anda tidak pantas menikahi tuan muda, anda tidak pantas, tidak cocok, kenapa anda mau!? apa karena hartanya, seharusnya anda tidak datang ke rumah ini, seharusnya anda tidak datang!!!" Pak Mus tampak marah, dia menatap Rose dengan tatapan kesal dan benci yang sontak membuat Rose terkejut.


Di saat yang sama, langkah kaki seseorang mendekati mereka, Pak Mus langsung terdiam dengan wajah pucat, sontak dia menunduk dan tak menatap Rose lagi.


"Nyo.. nyonya Park," ucap Pak Mus gemetar sambil memilih ujung pakaiannya.


Nyonya Park datang dengan tatapan dinginnya, berjalan dengan perlahan lalu menggerakkan tangannya seolah mengusir Pak Mus dari sana.


"Ba..baik Nyonya," ucap Pak Mus sambil berjalan dengan cepat dari tempat itu.


Nyonya Park menatap Rose yang tampak takut dan terkejut, dia menggenggam tangan gadis itu dan tersenyum padanya sambil menarik Rose ke dalam kamar itu.


" Nyonya, maaf tapi ada apa dengan Pak Mus?' tanya Rose.


Nyonya Park hanya terdiam dan terus menarik Rose masuk ke kamar itu.


.


.


.

__ADS_1


Like, vote dan komen 🤗


__ADS_2