Menikahi Putri Jin

Menikahi Putri Jin
Part 10: Saya Memang Miskin, Tapi Jangan Hina Ibu Saya


__ADS_3

"kamu boleh memulai pekerjaan ini sekarang, saya akan memantau pekerjaan kamu tengah hari nanti"


"baik pak, saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikan pekerjaan ini secepatnya."


Amar segera mengambil peralatan yang dibutuhkan dan memulai pekerjaannya, dia tidak mau membuang waktu lagi. Dia bertekad di dalam hati akan menyelesaikannya pekerjaannya sebelum batas waktu yang di tentukan supaya mendapatkan bonus yang telah dijanjikan oleh pak Soni kepadanya.


Amar segera memulai pekerjaannya, hatinya di penuhi semangat yang membara bagai api. Amar begitu semangat mengerjakan pekerjaannya, seluruh perhatian dia pusatkan pada pekerjaan yang sedang dia lakukan. Amar tidak menyadari dan memperhatikan siapa saja yang lewat di dekatnya, yang dia tahu hanyalah dia harus segera menyelesaikan pekerjaannya.


Orang-orang yang melintas memandang heran kepada Amar, mereka melihat Amar bekerja bagai memiliki beribu tenaga tambahan. ayunan tangannya ketika mencangkul s


Amar sebenarnya juga merasa aneh, dia begitu bertenaga hari ini. Entah dari mana asal tenaganya, Amar merasa tenaganya tidak habis-habis walau sudah beberapa jam bekerja tanpa henti.


'aneh sekali, kenapa aku masih merasa segar padahal padahal sudah dari tadi bekerja.'Amar berkata sendiri di dalam hati, dia heran kenapa dia begitu bertenaga tidak seperti biasa.


Amar terus dan terus bekerja tanpa mempedulikan keadaan di sekitarnya, dia hanya memikirkan bagaimana pekerjaan supaya cepat selesai. Tepat tengah hari, Amar mendengarkan azan zhuhur berkumandang di mesjid, dia bisa mendengar lantunan azan tersebut dari tempatnya bekerja.


Amar berhenti sejenak dan berdiri memandang ke sekitarnya, Dia mengedarkan pandangan ke segala penjuru kolam. Alangkah terkejutnya dia, Amar melihat pekerjaannya hampir selesai separuh.


'apakah benar apa yang aku lihat ini? Aku telah menyelesaikan separuh nya hanya dalam setengah hari? Amar bertanya sendiri, seakan tidak percaya dengan yang dilihatnya.


Amar kemudian mengucek mata beberapa saat, ternyata yang dilihatnya itu memang benar. Walau merasa heran dengan yang dilihatnya, Amar merasa senang melihat pekerjaannya hampir selesai.


"kalau begini, Aku yakin bisa menyelesaikan pekerjaan ini segera." Amar berkata seraya tersenyum senang.


'Aku sebaiknya pulang dulu, perutku terasa sudah lapar.'


Amar segera keluar kolam, dia kemudian bergegas membersihkan diri. Dia ingin segera pulang untuk makan siang, supaya bisa lekas kembali melanjutkan pekerjaannya.


Ketika hendak pulang, Amar menghentikan langkah kakinya ketika melihat sosok bosnya datang menghampirinya.


"bagaimana Amar?" Apakah kamu yakin bisa menyelesaikan pekerjaan kamu sebelum batas waktu yang saya tentukan.

__ADS_1


"apa maksud pak Soni bertanya begitu, saya kurang mengerti?" Amar balik bertanya pada pak Soni, dia merasa sedikit tersinggung mendengar perkataan pak Soni. Amar merasa pak Soni meremehkan kemampuannya.


"maksud saya baik Amar, saya hanya ingin menyarankan supaya kamu mencari orang untuk membantu menyelesaikan pekerjaan kamu." pak Soni berkata, dia sadar telah salah bicara.


"saya merasa sanggup menyelesaikan pekerjaan yang pak Soni berikan tepat waktu, sepertinya saya tidak butuh orang untuk membantu pak." Amar berkata dengan nada mantap, dia mempunyai keyakinan penuh bisa menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu.


"baiklah kalau begitu, saya percaya sama kamu. Saya akan melihat perkembangan pekerjaan kamu, sejauh mana kamu telah menyelesaikannya.


"Silahkan pak." Amar mempersilahkan pak Soni, dia kemudian menemani pak Soni melihat kolam yang sedang dia kerjakan.


"bagaimana pak?" Amar bertanya pada pak Soni, dia ingin mendengar tanggapan pak Soni.


ketika melihat kolam yang sedang dikerjakan Amar, Pak Soni terlihat sangat terkejut. Beliau seakan tak percaya, seketika beliau kembali menoleh ke arah Amar.


"apa saya tidak salah, kamu sudah menyelesaikan separoh dari pekerjaanmu hanya setengah hari?"


"bapak tidak salah pak, saya audah menyelesaikan separuh dari pekerjaan saya." Amar menjawab dengan perasaan bangga bisa memperlihatkan hasil pekerjaannya.


" iya baiklah, apakah kamu apakah kamu akan melanjutkan pekerjaanmu nanti sore Amar?"


"tentu saja pak, saya juga ingin pekerjaan ini cepat selesai. Saat ini, saya sangat membutuhkan uang untuk membayar utang-utang ibu saya pak." Amar bicara dengan penuh kesedihan, dia teringat ibunya di bentak-bentak oleh orang pagi tadi.


"apa kamu mau mengambil uang itu separuh dulu Mar?" Pak Soni menawarkan memberikan gaji Amar, mungkin dia simpati mendengar keluhan yang baru saja Amar katakan.


"apa boleh pak?" Amar bertanya dengan mata berbinar, dia merasa sangat senang sekali. Akhirnya dia bisa sedikit membantu kesulitan ibunya.


"tapi, kamu harus berjanji akan bertanggung jawab menyelesaikan pekerjaan kamu."


"itu pasti, saya akan bekerja sebaik mungkin supaya bapak dapat memuaskan hati bapak."


"ya baiklah, ini uangnya." Pak Soni membuka dompetnya dan menyerahkan lima lembaran merah kepada Amar, ternyata pak Soni memberikan uang sebanyak lima ratus ribu kepada Amar.

__ADS_1


"terima kasih banyak pak, kalau begitu saya pulang dulu." Amar memasukkan uang ke sakunya dan segera bergegas pulang. Dia ingin segera menyerahkan uang itu, tak sabar melihat wajah senang ibunya.


Di perjalanan, Amar tidak lupa singgah ke warung untuk membeli beberapa kebutuhan rumah. Dia membeli beras, gula, minyak goreng mie dan masih banyak lagi, tidak lupa dia membeli ketan dan goreng kesukaan ibunya.


"tumben belanja banyak Mar?" pemilik warung bertanya, dia heran melihat Amar belanja banyak dan langsung membayarnya. Biasanya Amar dan ibunya tidak pernah belanja banyak dan terkadang malah berhutang.


"mumpung ada uang Buk." Amar menjawab sekenanya, dia mendengar pemilik warung bertanya begitu seperti lagi meremehkannya.


"nah gitu dong Mar, sekali-sekali bahagiain orang tua."


"iya buk, terima kasih buk." Amar berujar seraya ketika menerima barang belanjaannya dari pemilik warung, dia segera bergegas menuju rumahnya.


Tak berapa lama, Amar sampai dirumahnya. Amar kembali menyaksikan kejadian yang membuat batinnya terluka. Dia melihat ibunya lagi di bentak-bentak oleh orang yang tadi pagi.


Amar berjalan dengan langkah panjang dan tergesa-gesa, dia merasa sudah cukup melihat semuanya. Dia tidak sanggup lagi mendengar dan melihat ibunya di bentak-bentak, sakit sekali hatinya.


"pak Dewo, seharusnya bapak tidak bicara seperti kepada ibu saya." Amar meneriaki pak Dewo, dia merasa emosinya terbakar sempurna ketika berhadapan dengan lelaki itu.


"kamu itu seharusnya tahu diri Amar, kamu itu hanya orang miskin tak pantas meninggikan suaramu pada ku." Pak Dewo menjawab yang membuat Amar semakin sakit hati.


"saya memang miskin pak, tapi tidak seharusnya bapak menghina dan memaki ibu saya."


"kamu tidak mau ibumu saya perlakukan seperti itu, makanya cepat bayar semua hutang ibumu.".


" memangnya berapa hutang ibu saya kepada bapak sehingga bapak merasa berhak menghina dan memaki ibu saya."


"tiga ratus ribu rupiah, kamu sanggup membayarnya?"


"baik ini uang bapak, sekarang bapak pergi dari sini dan jangan datang lagi." Amar menyerahkan uang pada pak Dewo, dia puas melihat wajah pak Dewo yang merah padam ketika menerima uang yang diberikannya.


"Ayo bu, kita masuk sekarang." Amar mengajak ibunya masuk tanpa mempedulikan pak Dewo yang masih berdiri entah apa yang dipikirkannya kala itu.

__ADS_1


__ADS_2