
Demi mendengar kata-kata Adinullah, Johani tersenyum. Ia seakan-akan lupa sedang berhadapan dengan sosok lain dalam tubuh Adinullah.
"Mengusirku? Rumah ini, tanah ini dan semua yang ada di sini adalah milik Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Tak ada satupun uang kita yang keluar untuk membiayai pembangunan gubuk ini. Karna kamu sudah menyatakan diri tak mengikuti lagi Tuan Guru Alamsyah Hasbi, maka seharusnya kamulah yang harus pergi dari tempat ini," kata Johani tak kalah sengit. Tatapan Adinullah semakin tajam. Wajahnya memerah menahan amarah. Kedua tangannya mengepal. Johani dari hari ke hari seperti sudah kehilangan rasa takut kepadanya. Ia merasa inilah saatnya memperlihatkan sesuatu yang akan membuatnya ketakutan sepanjang hidupnya.
Johani mundur beberapa langkah. Ia merasa ada sesuatu yang akan terjadi. Gerakan Adinullah dan suasana yang tiba-tiba terasa panas membuatnya waspada. Ia menghela nafas panjang dan mulutnya mulai komat-kamit membaca mantra.
Tangan kanan Adinullah bergetar hebat. Secara perlahan ia mengangkat tangannya dan mengacungkannya ke atas.
"Assalamualaikum!"
Adinullah perlahan menurunkan tangannya. Ia menoleh. Pak Makripudin dan pak Mas'ud terlihat bergegas masuk dan mendekat ke arahnya. Adinullah mendengus. Wajahnya tampak kesal dengan kedatangan pak Makripudin dan pak Mas'ud. Melihat penampilan Adinullah yang seperti tak biasanya, pak Makripudin tersenyum.
"Ada apa, Pak Adin," sapa pak Makripudin.
"Jangan lancang menyebut namaku sembarangan. Panggil aku Syeikh Addinullah Mawlana Ibrahim." Adinullah menepuk-nepuk dadanya.
Pak Makripudin tersenyum. Ia menganggukkan kepalanya.
"Baik, baik. Walaupun terpaksa, aku akan memanggilmu Syeikh," kata pak Makripudin. Pak Makripudin menghela nafas panjang.
"Aku kesini untuk menyampaikan pesan dari yang Mulia Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Bertobatlah dan kembali ke jalan yang benar. Sebelum terlambat. Dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah adalah dosa syirik."
__ADS_1
Adinullah tersenyum sinis. Ia meludah ke arah depan. Hampir saja mengenai kaki pak Makripudin.
"Itu karna pengetahuanmu tentang Tuhan masih sedikit, Makripudin. Ikutlah denganku dan kamu akan aku tunjukkan jalan yang singkat menuju Tuhan," kata Adinullah. Pak Makripudin balas tersenyum sinis.
"Aku tak mau sesat dan disesatkan. Cukuplah bagiku menjalankan syariat. Aku tak perlu terlalu jauh jika harus menyimpang dari ajaran Allah," jawab pak Makripudin.
"Maka sia-sialah hidupmu, Makripudin. Umurmu yang panjang tak berarti apa-apa jika tak mengenal dan menyatu dengan Tuhan. Ikutlah denganku," kata Adinullah. Lengan jubahnya di tariknya naik hingga sikunya.
"Bertarekat itu harus memiliki Mursyid yang silsilahnya bersambung kepada Baginda Nabi saw. Ajaranmu sesat dan tidak jelas. Kalaupun kamu mempelajarinya dari Tuan Guru Alamsyah Hasbi, beliau tidak pernah memberikanmu wewenang untuk mengajarkannya. Apalagi mengangkatmu sebagai badal seperti yang kamu katakan pada pak Mas'ud tempo hari," kata pak Makripudin.
"Aku tak membutuhkan itu untuk menjadi seorang mursyid. Kamu tentu tahu apa itu ilmu laduni. Aku mendapatkan itu dari perenungan panjang dan riyadhahku selama ini. Jadi aku tak membutuhkan guru untuk itu. Guruku langsung dari Tuhan," kata Adinullah sambil menunjuk ke atas.
"Di riwayatkan dari Abu Yazid bahwasanya orang yang tidak punya guru, maka gurunya adalah setan. Kalaupun kamu menjadikan kitab sebagai gurumu, maka salahmu akan lebih banyak dari benarmu. Apalagi jika pak Adin tidak punya dasar tentang itu. " Pak Makripudin mendesah panjang. Ia menatap Adinullah yang kini berdiri menyamping.
"Pertanggung jawabannya sangat besar, Pak Adin. Bertaubatlah mumpung masih diberi umur oleh Allah swt," sambung pak Makripudin.
Adinullah menggelengkan kepalanya. Ia bersedekap dan mulai mondar-mandir di depan pak Makripudin. Pak Makripudin terlihat tenang. Hanya pak Mas'ud yang terlihat sedikit gugup.
"Pak Makripudin, kamu tahu kenapa aku harus memilih jalan berseberangan dengan Tuan Guru Alamsyah Hasbi?" tanya Adinullah. Pak Makripudin menggelengkan kepalanya.
"Pada suatu hari, aku telah diperlihatkan cahaya yang besar, yang memenuhi langit. Aku mendengar suara memanggil namaku. Kamu tahu apa kata panggilan itu?"
__ADS_1
Lagi-lagi pak Makripudin menggelengkan kepalanya. Adinullah tersenyum.
"Wahai Adinullah, aku adalah tuhanmu. Aku telah menghalalkan bagimu apa-apa yang diharamkan. Tidak hanya itu, aku diperlihatkan bagaimana indah dan menakjubkannya alam malakut. Jadi, kebodohanmu akan hal-hal ghaib sangatlah tidak pantas mengata-ngataiku sesat,"kata Adinullah. Pak Makripudin tidak bisa menyembunyikan kegeliannya saat mendengar Adinullah bercerita. Untuk beberapa saat ia terlihat menutup mulutnya dengan telapak tangannya karna tak kuasa menahan tawanya.
"Makanya kalau mengaji itu jangan melamun, Pak Adin. Atau mungkin Pak Adin tidak hadir dalam pengajian Tuan Guru Alamsyah Hasbi beberapa bulan yang lalu. Apa yang Pak Adin alami itu pernah lebih dulu di alami oleh seorang wali Allah bergelar Sulthanul Aulia, Syeikh Abdul Qadir Jailani. Tapi dengan ilmunya, beliau bisa mengenal mana syetan dan mana Tuhan. Pak Adin tahu apa kata syetan ketika syeikh Abdul Qadir berhasil membongkar kedoknya? Sederhana saja, Pak Adin. Ketika suara itu mengatakan sesuatu yang melanggar syariat, yaitu menghalalkan apa yang telah diharamkan Allah, maka itu jelas adalah setan. Selama kita masih hidup di dunia ini, hukum dan ketentuan Allah tidak akan pernah berubah," jelas pak Makripudin. Adinullah balas tersenyum mencemooh. Ia menggoyang-goyangkan telunjuknya ke arah wajah pak Makripudin.
"Itu adalah kesalahan tafsir dari Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Kalian seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Mengangguk saja tanpa meneliti terlebih dahulu. Itu sebabnya kalian tak pernah sampai ke puncak," kata Adinullah.
"Adab kami, kami tidak akan menanyakan sesuatu yang telah jelas bagi kami. Kami disuruh bersabar dan tak tergesa-gesa. Kami yakin, guru kami akan mengantar kami kesana. Dan ingatlah, Pak Adin, setan telah menyesatkan tujuh puluh ahli tarekat dengan perkara yang telah Pak Adin ceritakan tadi. Ahli tarekat, Pak Adin. Apalagi dengan orang-orang macam kita,"kata pak Makripudin.
"Lancang kamu, Pak Makripudin. Berani-beraninya kamu memposisikan dirimu sederajat dengaku."
" Adab lebih utama dari ilmu, Pak Adin. Semakin tinggi ilmu seseorang, apalagi yang sudah mursyid, maka semakin merendahlah ia," kata pak Makripudin.
"Agh! Sudah, sudah. Aku tidak mau berbicara sia-sia dengan orang bodoh seperti kalian." Adinullah mengibaskan jubah yang menjulur ke tanah.
"Dan satu lagi, karna pak Makripudin menetapkan syarat ilmu alat sebagai pantasnya seorang mursyid, datanglah ke padepokanku tiga hari lagi. Bawalah banyak orang sebagai saksi. Biar mereka tahu siapa yang benar. Aku atau Tuan Guru Alamsyah Hasbi," kata Adinullah.
Setelah mengatakan itu, Adinullah membalikkan badannya dan berlalu meninggalkan pak Makripudin, pak Mas'ud dan Johani. Ketiganya tak henti-henti mengusap dada dan menggelengkan kepala. Johani nampak terlihat pasrah. Ia mendesah panjang.
"Silahkan, Pak. Duduk dulu. Saya akan membuatkan kopi," kata Johani sambil mempersilahkan pak Makripudin dan pak Mas'ud duduk di bangku panjang di bawah pohon bidara. Keduanya mengangguk dan melangkah ke arah pohon bidara.
__ADS_1
Matahari masih bersembunyi di balik awan dan kabut yang masih perkasa menyelubungi langit hutan. Tanah dan rerumputan masih basah oleh embun yang abadi terkurung hawa dingin.