
"bu setelah makan siang nanti, Amar akan kembali melanjutkan pekerjaan Amar, Amar berkata pada ibunya, seraya memberkan bungkusan berisi belanjaannya tadi.
Betapa senangnya ibu Amar ketika menerimanya, karena tidak mempunyai satupun untuk dimakan dan dimasak hari ini. Amar bisa melihat dengan jelas gurat kebahagiaan terpancar dari wajah wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya itu.
Amar membuka bungkusan yang berisi makanan kesukaan ibunya kemudian menyuapi ibunya. Ibu Arman terlihat terjejut melihat perkakuan anaknya kali ini, Amar berubah total dari sifatnya sebelumnya.
Tak terasa air mata bu Arta mengalir di pipinya bukan karena sedih tapi rasa bahagia yang menyelumuti hatinya. Beliau menelan pelan makan yang ada di mulutnya seraya terus memperhatikan wajah Amar dengan seksama.
"bu, kenapa malah menangis? Amar tidak ingin melihat ibu bersedih, sekarang ibu harus tersenyum." Amar berkata seraya menghapus air mata yang meleleh di pipi ibunya
Sekarang, Amar merasa sangat bersalah karena telah membiarkan ibunya menanggung kerasnya kehidupan mereka selama ini. Amar merasa tercambuk melihat pemandangan yang dilihatnya tadi, hatinya terluka saat melihat ibunya di perlakan seperti itu.
Amar merasa bagai disengat ribuan bisa ketika melihat dan mendengar makian dan hinaan tetangganya, ibunya seperti tidak ada harga diri sama sekali.
"Ibu tidak merasa sedih nak, tapi sangat dan teramat bahagia. Ibu tidak menyangka kamu akan berubah, sekarang kamu menjadi kebih baik." ibu Arta berkata dengan lembut pada anak kesayangannya, airmata beliau kembali luruh membasahi kedua pipinya.
"ibu harap kamu selalu begini nak, kamu adalah masa depan ibu. Kamu satu-satunya harta ibu didunia ini, ibu harap kamu akan menjaga ibu ketika ibu sudah tua nanti."
"Amar akan berusaha sekuat tenaga menjaga dan membahagiakan ibu, Amar akan berjanji sama ibu akan bekerja keras mulai sekarang." Amar berujar pada ibunya, dia punya motivasi untuk berubah.
Amar bertekad akan berubah demi ibu dan demi wanita pujaan hatinya, wanita itu telah berhasil membangkitkan semangat hidup Amar.
Ibu Amar sangat bahagia mendengarkan penuturan anaknya, akhirnya doanya selama ini sudah terjawab. Anak semata wayangnya akhirnya menemukan jati dirinya, harapan baru mulai tumbuh dalam hati sang ibu.
Setelah puas bicara, Amar kemudian menyantap makanan yang tadi dia beli bersama ibunya. Amar tidak menanyakan apakah ibunya sudah masak atau belu, karena dia yakin ibunya belum memasak.
__ADS_1
Arman menghela nafas panjang, dia sadar selama ini terlalu banyak membuang waktu hingga kehidupannya jadi sangat berat seperti sekarang ini.
Setelah selesai makan, Amar tidak lupa minum air putih yang banyak hingga perutnya terasa kenyang oleh air. Amar kemudian pamit pada ibunya untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.
Tidak sampai tiga puluh menit, Amar sampai di empang tempatnya bekerja. Amar segera mengambil peralatan dan memulai pekerjaannya. Amar kembali fokus dan tidak mempedulikan keadaan sekitarnya.
Tba-tiba, Amar merasa dan mencium ada semerbak harumnya bunga mawar menyelimuti tempatnya bekerja. Dia melihat sekeliling tapi tidak ada sekuntum bunga mawarpun tumbuh di dekatnya.
'harum sekali, aku sangat menyukai aroma ini' Amar berkata dalam hati, dia menikmati aroma wangi yang menyapa penciumannya.
Amar berdiri dia menghirup dalam aroma harum bunga mawar yang serungkali menyapanya akhir-akhir ini.Dia mulai menyukai dan terbiasa dengan aroma itu yang membuatnya semakin fokus dalam bekerja.
Detik demi detik berlalu, Amar terus fokus dengan pekerjaannya. Dia begitu semangat ingin segera menyelesaikan pekerjaannya.
Sore menjelang, Amar masih saja berkutat dengan pekerjaannya. Dia bagai memiliki tenaga tambahan yang tidak ada habisnya, tidak terasa malampun datang menjelang.
Amar bergegas berjalan menyusuri jalanan yang sudah mulai gelap, dia tidak membawa penerangan apapun untuk menerangi jalanan. Dia bisa melihat lampu rumah warga dari kejauhan, karena tempatnya bekerja memang jauh dari pemukiman.
Tapi selama dalam perjalanan, Amar merasa ada sesuatu yang aneh. Dia merasa ada yang mengikutinya, tapi perasaan tidak merasa takut sama sekali.
Amar juga merasa keanehan lain ketika di perjalanan, dia mencium aroma bunga mawar semerbak mengelilinginya. Dia terus berjalan menyusuri jalanan desa hingga akhirnya sampai juga dirumahnya.
"Assalamualaikum!"
Amar masuk tanpa menunggu ibunya membukakan pintu untuknya. Sesampai di dalam, dia mencari keberadaan ibunya ternyata beliau sedang tertidur mungkin kecapean setelah seharian bekerja.
__ADS_1
Amar tidak ingin membangunkan ibunya karena melihat ibunya yang tertidur sangat pulas sekali. Dia kemudian segera kedapur dan memanaskan air, dia ingin mandi dengan air hangat karena tidak mungkin rasanya mandi dengan air dingin.
Amar merasa hawa malam ini terasa sangat dingin sekali, tapi tidak mungkin dia tidak mandi karena tubuhnya benar-benar kotor. Setelah merasa cukup hangat, Amar segera mandi membersih semua kotoran yang melekat di tubuhnya.
Beberapa saat kemudian, Amar telah menyelesaikan ritual mandinya tubuhnya terasa sangat segardan ringan sekali. Amar kemudian menuju meja makan ternyata sudah ada makanan buatan ibunya disana.
Amar segera melahap makanan yang ada di hadapannya, perutnya benar-benar lapar karena seharian bekerja. Tadi siang, dia hanya makan roti sebagai pengganjal perut.
Dalam sekejap makanan sudah berpindah dari atas meja kedalam perutnya, Amar kemudian duduk sebentar karena kekenyangan.
Amar kemudian beranjak dari meja makan terus menuju kamarnya karena merasa telah mengantuk. Dia kemudian merebahkan diri di ranjang reot miliknya.
Ketika, Amar baru saja mau memejamkan matanya tiba-tiba lampu dirumahnya mati. Dia awalnya tersentak dan terkejut tapi di tetap saja berbaring karena berpikir sebentar lagi lampunya pasti hidup kembali.
Amar kemudian memejamkan matanya, dia ingin segera tidur karena besok harus kembali melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.
Baru beberapa menit matanya terpejam, Amar merasa ada seseorang datang menghampirinya. Seiring sosok yang datang menghampirinya, Amar kembali mencium Aroma bunga mawar menyeruak dan menyebar di dalam kamarnya.
Amar pelan-pelan mencoba membuka matanya tapi karena lampu di rumahnya mati, dia tidak bisa melihat apapun. Amar kembali memejamkan matanya, dia merasa ada sentuhan lembut yang meraba tubuhnya.
Amar menikmati setiap sentuhan lembut itu, dia merasa sangat nyaman sekali. Dia membiarkan saja tanpa mencoba bergerak, menghirup aroma yang akhir-akhir ini setia menemaninya.
Sekitar tiga puluh menit mendapatkan pijatan misterius, Amar merasa semua kepenatan yang tadi menyerangnya secara ajaib sekarang telah hilang.
Dia merasa lebih baik dari sebelumnya, dia menggeliat mencoba membuka matanyanya kembali. Setelah membuka matanya, Amar melihat lampu sudah menyala kembali dan tidak ada siapa-siapa disana.
__ADS_1
'ah ternyata hanya mimpi.' Amar tersenyum merasa lucu sendiri, dia kira tadi dia hanya mimpi belaka.