
'akhirnya sampai juga di rumah, aku merasa lelah sekali ternyata rumah Alika jauh juga' Amar berkata sendiri, dia menghembuskan nafas lega sesampai di rumahnya.
'ibuku mungkin sudah tidur, sebaiknya aku tidak membangunkan beliau." Amar memutuskan masuk secara diam-diam tanpa membangunkan ibunya.
Dia segera berjalan mendekati pintu masuk rumahnya, dengan hati-hati dia membuka pasak pintu rumahnya yabg bisa di congkel dari bagian atas pintu. Tidak berapa lama pintu terbuka, Amar bergegas masuk ke dalam rumah kemudian menutup pintu kembali dengan hati-hati tanpa menimbulkan suara.
Setelah melepaskan sepatunya, Amar segera menyimpan sepatu terbaik yang dimilikinya itu ke atas rak khusus. Kemudian, dia berjalan menuju meja makan karena perutnya terasa sangat lapar. Amar kemudian Amar membuka tudung saja yang ada di atas meja, ternyata ibunya telah menyiapkan sepiring nasi berserta lauknya.
'buku memang sayang sekali kepadaku, terima kasih bu.' Amar berkata sendiri dalam hati, dan mulai menyantap makanan yang ada di hadapannya setelah mencuci tangan terlebih dahulu.
Amar istirahatkan perutnya sebentar, setelah selesai makan. Kemudian, dia beranjak menuju kamarnya. Dia merasa sangat lelah dan mengantuk sekali karena memang sekarang sudah larut malam.
Amar kemudian merebahkan diri di ranjang tua miliknya, sejenak pikirannya melayang mengingat kembali kejadian yang baru saja dialaminya. Dia merasa heran dan takjub, keluarga Alika isinya ganteng dan cantik semua. Ayah Alika bahkan terlihat lebih muda darinya, sedangkan ibu Alika tidak ubahnya bagaikan kakak Alika.
'keluarga Alika memang sempurna, mereka tampan dan cantik semua. Apakah aku pantas bersanding dengan Alika?" pertanyaan itu tercetus sendiri di dalam hati Amar, dia merasa bimbang akankah cintanya pada Alika akan berbalas.
Sedang asyik melamun dan memikirkan Alika, Amar mencium semerbak aroma mawar menyebar di dalam kamarnya. semakin lama, aroma tersebut semakin kuat tercium. Seiring semakin kuatnya aroma mawar yang menyebar di dalam kamarnya seketika lampu mati. Amar terkejut dan bulu kuduknya sontak berdiri semua.
"lha, kok malah mati lampu. Sebaiknya aku tidur saja karena hari telah larut malam." Amar akhirnya lebih memilih tidur dalam gelap daripada menyalakan penerangan, karena dia berpikir nanti pasti lampu akan menyala dengan sendirinya.
Amar segera memejamkan matanya, sebelum terlelap dia sempat mendengar suara benturan dan berisik dari luar kamarnya. Namun, dia tidak berapa lama suara itu tidak terdengar lagi seiring lenyapnya aroma mawar yang tadi memenuhi kamarnya.
Tidak berapa lama, Amar sudah berada di alam mimpi yang sangat menyenangkan. Dia bertemu lagi dengan Alika dan keluarganya. Amar tidak henti-hentinya tersenyum dalam tidurnya. Dia kelihatan senang dan bahagia sekali.
__ADS_1
Sedang asyik melalang buana di dunia mimpi, Amar tersentak dari tidur indahnya. Dia mendengar ada suara ribut-ribut di luar rumahnya. Amar bangun dengan perasaan malas dan ngantuk masih menggelayuti matanya. Maklum, Amar tidurnya sudah larut malam mungkin saja sudah menjelang pagi karena dia dia tidak melihat jam ketika mau tidur.
'aku mendengar suara ribut-ribut di luar, apa yang terjadi?' Amar bertanya sendiri dalam hati.
Amar berjalan mendekati pintu, tapi sebelum sampai dia mencoba mendengarkan dengan seksama. Amar merasa sangat mengenal pemilik suara itu, tidak salah lagi itu suara Pak Aji yang sedang marah-marah.
'pak Aji marah kepada siapa?" Amar makin penasaran, dia ingin tahu siapa sebenarnya yang sedang di marahi pak Aji.
"Bu Arta tidak bisa begini, ibu harus segera membayar semua utang ibu pada saya. Saya tidak mau tahu bagaimana caranya ibu harus segera melunasinya." Amar melihat dan mendengar dengan jelas pak Dewo memarahi dan menghardik ibunya dengan suara tanpa belas kasihan.
Amar menjadi hilang keberaniannya keluar rumah, dia memilih diam dan memperhatikan semua yang terjadi di luar sana. Betapa sedih dan pilunya hati melihat pak Dewo memperlakukan dan mengatai ibunya.
Amar makin merasa sesak dadanya melihat ibunya hanya mampu terdiam menerima setiap cercaan dan kata-kata pak Dewo yang tajam mengiris hati. Tanpa sadar, air mata Amar mulai meleleh, dia tidak sanggup melihat ibunya yang yang sudah tua dihina sedemikian tua.
Setelah melihat pak Dewo pergi, Amar segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia ingin secepatnya mencari pekerjaan, pekerjaan apapun akan dikerjakan asal mendapatkan uang untuk membantu ibunya.
"semalam,kamu pulang jam berapa Amar, kok ibu tidak tahu kapan kamu pulang?" Ibu Arta bertanya pada Amar, Amar yang sedang fokus membuat teh manis untuknya jadi terkejut karena ibunya yang tiba-tiba bertanya.
"aku pulang agak kemalaman bu, setiba di rumah aku lihat ibu sudah tidur."
"oh, memangnya semalam kamu kemana Mar?"
"Aku pergi ke rumah teman bu, rumahnya di desa sebelah, makanya aku sampai terlambat pulang semalam."
__ADS_1
"oh begitu. Amar sekarang ibu mau pergi ke kebun pak Juned, kemaren beliau meminta bantuan ibu untuk membersihkan kebunnya. Kalau, kamu mau pergi jangan lupa pasak pintu sebelum pergi." Bu Arta berpesan kepada Amar sebelum beliau pergi bekerja ke kebun pak Juned.
"ya, Bu." Amar menjawab singkat seraya menghabiskan teh manis yang ada di hadapannya. Setelah selesai minum, Amar segera berangkat, dia ingin mencari pekerjaan.
Amar kemudian mulai melangkah dengan sejuta harapan, dia berharap bisa mendapatkan pekerjaan hari ini. Amar berjalan menyusuri jalan desanya seraya melihat ke segala penjuru. Tiba-tiba, dia melihat dari kejauhan beberapa orang sedang berkumpul Amar segera menghampiri.Ternyata, pak soni seorang juragan empang sedang membutuhkan orang untuk membersihkan empang miliknya.
'ini kesempatanku, aku harap pak Soni mau memberikan pekerjaaan untukku."
"pak Soni bolehkah saya bekerja dengan bapak, saya sangat membutuhkan pekerjaan dan uang saat ini." Amar segera mengajukan diri, dia tidak mau membuang waktu dan kesempatan yang ada di depannya.
"normalnya, empang saya ini di kerjakan dalam waktu dua minggu. Apa kamu sanggup menyelesaikannya dalam waktu satu Minggu?" Pak Soni bertanya seraya memandang serius ke arah Amar.
"saya sanggup pak, saya akan berusaha keras untuk menyelesaikannya." Amar menjawab dengan mantap, walau dia tidak yakin tapi dia bertekad akan menyelesaikannya tepat waktu.
"baiklah kalau begitu, saya akan memberikan pekerjaan ini padamu. Saya akan memberi upah lebih, jika kamu bisa menyelesaikannya sebelum batas waktu yang saya berikan."
"baiklah pak, kalau begitu saya akan pulang terlebih dahulu untuk mengambil alat yang di perlukan."
"kamu tidak perlu pulang karena saya sudah menyiapkan Alat yang di butuhkan." Pak Soni berkata seraya menunjuk peralatan yang sudah di persiapkan. Amar sangat senang karena dia bisa bisa segera memulai pekerjaannya.
"kalau boleh tahu, saya mendapatkan upah berapa pak setelah menyelesaikan pekerjaan ini?"
"saya akan memberikan upah padamu sebesar satu juta kalau kamu bisa menyelesaikan pekerjaan ini dalam waktu seminggu. Tapi jika kamu bisa menyelesaikannya dalam sebelum itu saya akan memberi upah kepadamu sebesar satu juta dua ratus ribu, apakah kamu sanggup melakukannya? Pak Soni kembali bertanya kepada Amar.
__ADS_1
"baiklah pak, saya akan berusaha sekuat tenaga."akhirnya Amar menerima pekerjaan yang ditawarkan pak Soni, dia akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikan pekerjaan yang diberikan kepadanya.