Menikahi Putri Jin

Menikahi Putri Jin
#33


__ADS_3

Hujan telah reda. Hanya gerimis yang masih terdengar menggeretas di atas dedaunan pohon. Malam gelap mencekam. Sinar senter terlihat berkelebat diantara gelap malam. Pak Satri dan beberapa laki-laki terlihat berjalan menyusuri jalanan setapak. Ia memberi isyarat berhenti ketika berada di depan jalan masuk ladang Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Dawam diperintahkannya untuk mematikan sinar senternya.


"MujahidIn, coba kamu masuk ke dalam dan periksa apakah ada orang di dalam ladang Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Hati-hati," kata pak Satri setengah berbisik kepada Mujahidin. Mujahidin mengangguk dan melangkah mengendap-endap masuk ke ladang Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Tak beberapa lama, Mujahidin terlihat kembali dan langsung menghadap pak Satri.


"Bagaimana, kenapa kamu cepat sekali kembali," kata pak Satri ketika melihat Mujahidin sudah berada di depannya.


"Aku mendengar suara orang sedang berbincang-bincang di dalam. Aku juga melihat ada cahaya api dari balik semak-semak. Perkiraanku, ada sekitar empat orang di dalam sana," jawab Mujahidin. Pak Satri mendesah dan membalikkan badannya, menatap orang-orang di belakangnya.


"Syeikh memerintahkan kita untuk tidak melewati ladang itu kalau Tuan Guru Alamsyah Hasbi ada di sana. Aku takut, diantara orang-orang itu ada Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Kita harus mencari jalan lain ke tempat syeikh," kata pak Satri. Mereka saling pandang. Tak ada jalan lain selain melewati ladang Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Hanya ada dua pilihan. Kembali ke rumah masing-masing atau membuka jalan baru di tengah hutan. Dua pendapat saling beradu. Pak Satri, Dawam, Mujahidin dan Muhsan yang telah melihat sendiri keajaiban yang diperlihatkan Adinullah, juga karna permintaan yang akan dikabulkan Adinullah, bersikukuh meyakinkan orang-orang yang berhasil mereka pengaruhi untuk melanjutkan perjalanan. Tapi yang Lain, sekitar lima orang, ngotot ingin kembali pulang.


"Mohon maaf saudara-saudara. Kita tidak bisa pulang. Syeikh akan marah jika kita tidak datang malam ini juga. Mau tidak mau kita harus membuat jalan di hutan. Percayalah, kelelahan saudara-saudara akan terbayar jika sudah bertemu dengan Syeikh.Percayalah, saudara-saudara tidak akan kecewa. Ini hanya rintangan kecil untuk mendapatkan sesuatu yang sangat besar. Jangan sampai saudara-saudara menyesalinya," kata pak Satri berusaha meyakinkan.


"Benar apa yang dikatakan Pak Satri. Jika saja saudara-saudara melihat keajaiban yang kami lihat, tentu saudara-saudara akan berlari menembus hutan ini agar cepat sampai di tempat syeikh,"


"Tapi kenapa harus melewati hutan sedangkan di depan kita ada jalan yang lebih dekat,"

__ADS_1


"Hanya Syeikh yang tahu kenapa kita dilarangnya melewati jalan itu. Anggap saja ini ujian awal buat kita. Percaya pada kami, saudara-saudara,"kata pak Satri berusaha terus meyakinkan orang-orang di depannya.


"Apa yang akan kami dapatkan jika kami berhasil bertemu dengan Syeikh itu, Pak Satri!" kata salah seorang. Pak Satri tersenyum. Ia mendekat ke arah laki-laki itu. Ia memegang kedua pundak laki-laki itu dan menepuk-nepuknya keras.


"Apapun yang kamu minta, Syeikh bisa mengabulkannya. Dia itu utusan Tuhan, saudara," kata pak Satri. Ia lalu berbalik dan melangkah ke tempatnya semula. Sejenak ia terdiam memandang orang-orang di depannya.


"Aku sudah mengatakan kebenaran yang aku lihat dari Syeikh. Jika kalian tidak percaya, kalian boleh pulang," kata pak Satri. Ia menoleh ke arah Dawam, Mujahidin dan Muhsan. Ia menganggukkan kepalanya, memberi isyarat agar melanjutkan perjalanan. Mereka berempat pun melanjutkan perjalanan dan meninggalkan orang-orang di belakangnya, yang sepertinya mulai terpengaruh kata-katanya.


Pak Satri tersenyum ketika mendengar langkah-langkah tergesa-gesa dari arah belakang. Dia menoleh. Dilihatnya orang-orang itu mulai mengikutinya dari belakang. Ia mendesah lega. Beberapa saat tadi ia merasa cemas orang-orang itu tidak mendengarkannya. Dia takut Adinullah akan marah karna mereka tak berhasil membawa pengikut ke hadapannya.


"Ya, Pak. Saya mendengarkannya. Mungkin pencuri yang kebetulan lewat, Pak," jawab pak Mas'ud.


"Gak tambah lagi kopinya, Pak," tawar pak Mas'ud. Pak Makripudin terdiam sejenak menatap ke arah gelas kosong di depannya.


"Boleh. Kayaknya sudah terlanjur gak bisa tidur," kata pak Makripudin.

__ADS_1


Pak Makripudin mengarahkan sinar senternya ke arah pondok tempat Johani tidur sambil menunggu pak Mas'ud selesai membuatkannya kopi. Pak Mas'ud ikut menoleh ke arah pondok Johani.


"Kasihan bu Johani ya, Pak. Dia sendirian seperti itu. Ada apa dengan pak Adin. Kok berubahnya seperti itu," kata pak Mas'ud dengan suara pelan. Pak Makripudin mendesah pendek.


"Kita doakan saja, semoga pak Adin bisa segera sadar dan kembali menemui bu Johani," kata pak Makripudin penuh harap. Pak Mas'ud mengangguk mengamini.


"Besok, bawalah istri Pak Mas'ud. Untuk sementara, Pak Mas'ud dan istri tinggal di sini dulu sampai panen jagung dua bulan lagi. Biar ada teman buat bu Johani," kata pak Makripudin setelah untuk beberapa saat mereka asik menikmati kopi dan rokok pilitan yang mereka sulut. Pak Mas'ud menganggukkan kepalanya.


"Pak Mas'ud gak usah cemas. Pak Mas'ud masih bisa kerja dari sini. Mengenai urusan kebutuhan sehari-hari, pak Mas'ud tenang saja. Insya Allah, setiap satu minggu sekali akan ada utusan dari Tuan Guru untuk membawakan kita kebutuhan sehari-hari kita," kata pak Makripudin.


"Kalau masalah itu saya tidak memikirkannya, Pak. Ilmu yang saya dapatkan dari Tuan Guru sudah terlalu banyak. Seharusnya saya yang harus membalasnya dengan pengabdian," kata pak Mas'ud. Pak Makripudin tersenyum.


* * * * *


Malam semakin larut dan mencekam. Suara semak dan ranting-ranting pohon terdengar menggeretas mengusik hening malam. Pak Satri bersama orang-orangnya mulai bekerja membuat jalan dengan hanya mengandalkan senter sebagai penerang. Lebatnya semak-semak dan tanaman menjalar begitu menyulitkan mereka. Di tambah lagi dengan tanah yang becek dan nyamuk-nyamuk yang seperti berusaha menghalangi mereka. Agar orang-orang yang mengikutinya tak patah semangat, pak Satri, Dawam, Mujahidin dan Muhsan bergantian menceritakan keajaiban yang pernah mereka lihat saat bertemu dengan Adinullah. Mereka berhasil membuat orang-orang itu bersemangat dan bertekad menyelesaikan jalan itu malam ini juga. Sosok Adinullah tiba-tiba menjelma menjadi sosok yang sangat dirindukan mereka. Berbagai permintaan telah terangkum dalam pikiran masing-masing, membuat mereka tak menghiraukan dinginnya malam di dalam hutan.

__ADS_1


__ADS_2