Menikahi Putri Jin

Menikahi Putri Jin
#32


__ADS_3

Sekitar lima menit setelah pak Satri, Dawam, Mujahidin dan Muhsin keluar dari ladang milik Tuan Guru Alamsyah Hasbi, pak Makripudin, pak Mas'ud dan Johani tiba di ladang. Karna hujan yang mulai deras, ketiganya langsung menuju ke pondok kecil di pematang ladang untuk berteduh.


Bibit jagung yang ditanam tiga hari lalu sudah mulai terlihat mengeluarkan tunasnya. Tapi air yang mengalir deras dari arah bukit bako tinggi melewati sela-sela tanaman, membuat pak Makripudin khawatir. Musim penghujan baru saja dimulai. Ia takut, jika air yang mengalir tidak segera dibuatkan irigasi, tidak menutup kemungkinan jagung yang mulai tumbuh akan membusuk dan akhirnya mati. Rupanya, sejak sikap Adinullah berubah, Johani belum sama sekali menyambangi ladang. Bekas kaki babi hutan banyak terlihat di sekitar ladang.


"Mulai hari ini, kita harus tetap berada di ladang, pak Mas'ud. Banyak yang harus kita benahi. Saluran air, juga menjaga babi hutan yang lewat ladang ini menuju hutan sebelah," kata pak Makripudin. Johani menundukkan kepalanya. Ia sadar, ia yang diberi tugas oleh Tuan Guru Alamsyah Hasbi belum bisa maksimal menjaga tanaman jagung itu. Walaupun ia tahu pak Makripudin tidak sedang menyindirnya, tapi ia merasa tidak enak.


"Bu Johani, Bu Johani jangan tersinggung atau berpikir yang tidak-tidak ya. Tuan Guru memang menugaskan saya untuk membantu bu Johani menjaga ladang ini. Tapi karna pak Adin tidak ada, saya jadi khawatir terjadi fitnah jika kita berdua di tempat ini. Oleh karnanya saya punya usul agar pak Mas'ud membawa juga bu Mukmin ke sini. Ladang ini terlalu luas. Lahan ini juga baru. Pengalaman saya berladang di hutan sebelah, selain babi hutan, monyet-monyet di perbukitan ini biasanya turun setelah satu bulan umur jagung," kata pak Makripudin.


"Gak apa-apa, Pak. Saya sangat setuju dengan usul Pak Makripudin itu. Saya juga sempat berpikir untuk menyerahkan tugas ini kepada orang lain. Saya tidak mampu kalau harus menjaganya sendiri. Takut mengecewakan Tuan Guru," jawab Johani. Pak Makripudin tersenyum.


"Tuan Guru tidak menginginkan Bu Johani melepas tanggung jawab ini. Itu sebabnya saya diutus untuk memelihara tanaman di ladang ini." Pak Makripudin menghentikan kata-katanya. Ia lalu bangkit dan menatap ke seluruh area ladang. Ia kembali duduk di samping pak Mas'ud.


"Pak Mas'ud, Bu Johani, sepertinya kita harus membuat dua lagi pondok di tempat ini. Di ujung sana, di lereng bukit itu juga harus ada satu pondok lagi. Biar nanti saya yang menempatinya," kata pak Makripudin. Pak Mas'ud menganggukkan kepalanya.


"Jadi, untuk hari ini bagaimana, Pak," tanya Johani.


"Maksud ibu?" kata pak Makripudin tak mengerti.


"Maksud saya, kita mau apa hari ini,"


"Kalau Pak Mas'udnya setuju, mungkin kita bisa membangun satu pondok lagi di sebelah sana," kata pak Makripudin sambil menunjuk ke arah samping, kira-kira tiga ratus meter dari pondok tempat mereka berteduh.


"Pondok itu nantinya akan ditempati oleh Bu Johani. Lebih cepat lebih baik, Bu. Bagaimana, Pak," lanjut pak Makripudin sambil menepuk paha pak Mas'ud. Pak Mas'ud menganggukkan kepalanya.


"Saya setuju saja, Pak. Mumpung kita sudah ada di sini," kata pak Mas'ud.

__ADS_1


"Oh ya, Pak. Kalau gak salah, di dalam karung sebelah Bapak ada dua jas hujan yang kemarin dibelikan oleh Tuan Guru. Coba diperiksa, Pak. Mungkin masih ada," kata Johani seraya menunjuk ke arah karung di sudut pondok. Pak Makripudin bangkit dan memeriksanya. Jas hujan transparan dikeluarkannya dari dalam karung. Dia lalu memperlihatkannya kepada Johani.


"Alhamdulillah, masih ada, Bu," kata pak Makripudin sambil menunjukkan jas hujan di tangannya kepada Johani. Ia lalu memberikan salah satu jas kepada pak Mas'ud.


Pak Makripudin melirik ke arah jam tangannya.


"Masih jam 5, Pak. Masih ada waktu. Ayo, sekedar buat rangkanya saja. Syukur-syukur bisa selesai sekarang," kata pak Makripudin mengajak pak Mas'ud segera bangkit dari duduknya. Keduanya langsung memasang jas hujannya dan segera berlari ke lokasi tempat akan dibangun pondok untuk Johani. Johani sendiri langsung mengambil panci dan membersihkannya. Ia harus segera memasak air. Sehabis bekerja di bawah derasnya hujan, tentu pak Mas'ud dan pak Makripudin akan kedinginan. Menikmati segelas kopi setelah bekerja tentu bisa sedikit menghangatkan tubuh mereka.


Pak Makripudin menatap ke arah samping bukit yang dipenuhi oleh lebatnya hutan. Ia belum bisa menebak dimana letak padepokan yang dimaksud Adinullah. Tiga hari lagi ia akan membuktikan apa yang diucapkan Adinullah tadi pagi di gubuknya.


Pak Makripudin mengalihkan pandangannya ke arah bukit bako tinggi yang nyaris tak terlihat oleh kabut. Hari telah mulai gelap. Ia mengajak pak Mas'ud untuk menghentikan pekerjaannya.


* * * * *


Gelap mulai menebarkan sayap hitamnya. Pepohonan seperti meringkuk kedinginan di bawah derasnya hujan yang mengguyur. Hanya suara burung hantu yang terdengar sesekali di antara gemeretas rintik hujan.


"Zabarjad, datanglah," seru Adinullah.


Tak beberapa lama kemudian, Adinullah tersenyum. Hawa di sekitarnya semakin dingin. Dia tahu kini Zabarjad tengah berada di dekatnya.


"Ada apa, Adinullah. Kenapa kamu memanggilku." Terdengar bisikan di telinganya. Adinullah membuka matanya. Dia merasakan kehadiran Zabarjad di depannya.


"Aku membutuhkan bantuanmu," kata Adinullah sambil menatap ke depannya yang gelap.


"Katakanlah,"

__ADS_1


"Aku sudah menjanjikan tiga hari lagi Makripudin akan mengunjungiku ke sini. Ini adalah kesempatanku untuk mempengaruhi orang yang paling dekat dengan Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Aku menjanjikannya sesuatu yang sama sekali tidak aku ketahui. Bantulah aku," kata Adinullah.


"Katakanlah,"


Adinullah mendesah panjang. Ia merapatkan jubahnya erat di tubuhnya. Hawa dingin begitu menusuk hingga terasa ke tulangnya.


"Aku ingin aku bisa membaca kitab arab tak berbaris. Jika saja aku tidak bisa melakukannya, aku akan kehilangan pengikutku," kata Adinullah.


"Kamu akan melakukannya. Kamu akan membacanya dengan lancar seperti seorang Tuan Guru. Selama kamu taat kepada Yang Mulia, keinginanmu pasti akan terwujud,"


Adinullah tersenyum puas. Ia menganggukkan kepalanya mantap.


"Adinullah, buatlah sebuah patung dengan nyala api di seluruh tubuhnya. Tingginya lima meter. Buatkan sayap dengan posisi hendak terbang. Letakkan patung itu di atas tempat kini kamu duduk. Setiap orang yang berhasil kamu pengaruhi akan kamu masukkan ke tempat ini dan bersujud kepadanya,"


"Patung siapakah itu, Zabarjad?" tanya Adinullah.


"Itu adalah perwujudan yang Mulia sesembahan kita,"


Adinullah mendesah mantap sambil menganggukkan kepala.


"Baik. Akan aku lakukan," jawab Adinullah. Suasana kembali hening. Tak ada apapun suara yang terdengar. Hawa dingin yang tadinya begitu menusuk, berangsur hilang.


"Zabarjad?" panggil Adinullah. Tak ada jawaban. Adinullah mendesah panjang. Rupanya Zabarjad telah pergi meninggalkannya.


Adinullah bangkit. Ia terdiam sejenak. Matanya kembali terpejam. Mulutnya mulai komat-kamit merapalkan mantra. Setelah itu ia mengangkat telunjuknya dan menghentakkan kakinya di tanah. Perlahan ia membuka matanya. Ia tersenyum ketika melihat suasana di tempatnya kini berdiri berubah terang. Api menyala dari jari telunjuknya. Itu sesuai yang ia niatkan. Benar-benar sebuah kemudahan yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya. Cukup memejamkan mata dan dan meniatkannya. Tak perlu menunggu waktu yang lama dengan embel-embel kesabaran. Hal yang sering ia dengar dari Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Ia bosan. Bertahun-tahun ia mengikuti majlis zikir dan pengajiannya. Tak ada perubahan apapun yang ia dapatkan. Semakin ia melihat banyak orang mengunjungi Tuan Guru Alamsyah Hasbi, semakin ia merasa sakit hati.

__ADS_1


Tapi cita-cita dan segala keinginannya yang terpendam selama ini akhirnya menjadi kenyataan. Ia tetap meyakini bahwa apa yang kini didapatkannya adalah hasil dari zikir panjangnya selama ini. Keinginan untuk menjadi seperti Tuan Guru Alamsyah Hasbi, tinggal menghitung hari saja.


__ADS_2