Menikahi Putri Jin

Menikahi Putri Jin
#35


__ADS_3

Pak Makripudin menyiramkan terlebih dahulu air ke tumpukan kayu yang masih menyala sebelum ia melangkah menuju ladang. Di pondok sebelah, Johani juga tampak sudah bersiap-siap dengan sabit dan cangkul kecil di tangannya, juga ceret berisi air minum. Melihat Johani yang seperti kesulitan dengan alat-alat yang dibawanya, pak Makripudin kembali dan mendekati Johani.


"Biar saya yang bawa cangkulnya, Bu. Biar saya yang buat parit. Bu Johani bersihkan saja dulu rumput-rumput di sela-sela tanaman jagung," kata pak Makripudin. Ceret dan cangkul di tangan Johani kemudian diambilnya.


Prok! prok!prok!


Terdengar tepuk tangan dari arah samping. Pak Makripudin dan Johani serempak menoleh. Keduanya kaget ketika melihat Adinullah tiba-tiba sudah berdiri kira-kira tiga meter dari tempat keduanya berdiri. Dengan memakai jubah merah dan turban tebal yang memenuhi kepalanya, ia tersenyum sambil melangkah penuh wibawa ke arah keduanya. Adinullah memperhatikan keduanya beberapa saat. Ia tersenyum sinis.


"Inikah yang diajarkan Tuan Guru Alamsyah Hasbi kepada para pengikutnya? Luar biasa. Salah satu orang kepercayaannya sedang berdua di tempat yang sepi dengan wanita yang masih bersuami. Luar biasa," kata Adinullah sembari kembali bertepuk tangan. Pak Makripudin menatap Adinullah lekat. Ia sedikit tersinggung dengan kata-kata Adinullah.


"Jangan asal bicara, Pak Adin. Apa yang kamu lihat tak seperti yang ada dalam pikiranmu," kata pak Makripudin. Adinullah tersenyum.


"Bagaimana bisa aku asal bicara, Pak Makripudin. Tidak hanya aku, orang yang melihat kalian berdua seperti ini di tempat sepi, pasti akan berpikiran sama denganku." Adinullah semakin mendekat ke arah keduanya. Dia menatap Johani. Ia tersenyum ketus dan menggelengkan kepalanya.


"Wanita hina. Tak tahu diri. Saat suami tidak ada, kamu gunakan untuk memanggil laki-laki lain," kata Adinullah. Johani menatap Adinullah tajam.

__ADS_1


"Cukup, Adinullah. Kamu tidak punya hak lagi mengatakan itu kepadaku. Bukankah kamu sudah menceraikanku? Talakmu sudah jatuh ketika aku tak mengikuti keinginanmu. Kamu tentu masih ingat kata-katamu tempo hari," kata Johani sengit. Adinullah tersenyum seperti mencemooh.


"Itu menurutmu, Johani. Tak ada istilah talak untukku. Aku bebas melakukan apa saja, karna aku adalah manusia terpilih. Aku manusia yang telah diberi kebebasan setelah penderitaan mujahadah yang telah aku lakukan selama ini." Adinullah mengangkat kerah jubahnya.


"Tapi jikapun kamu menganggap talakku sudah jatuh dan kita resmi bercerai, tak ada yang boleh merayumu hingga massa iddahmu berakhir. Bukankah dalam ajaran agama kalian mengatakan seperti itu?" lanjut Adinullah. Pak Makripudin mengernyitkan dahinya.


"Ajaran agama kami? Apakah kamu sudah keluar dari agama islam, Pak Adin?" tanya pak Makripudin mempertegas. Adinullah tersenyum.


" Pak Makripudin tentu tahu bahwa ulama itu adalah pewaris para Nabi. Aku beri gambaran pada Pak Makripudin. Ada seorang Tuan Guru yang mempunyai tiga orang anak laki-laki. Ketika Tuan Guru itu meninggal, hanya ada satu anak yang mampu menggantikan Tuan Guru tersebut. Maka dengan sendirinya, anak yang menggantikannya akan bergelar Tuan Guru juga. Begitupun juga aku. Aku seperti halnya Nabi Muhammad yang diutus menyempurnakan ajaran-ajaran Nabi-nabi sebelumnya. Ada beberapa ajaran yang aku anggap keliru dan harus aku rubah. Itu sesuai wahyu yang telah aku terima. Jika aku mendapatkan perlawanan dari orang-orang macam kalian ini, itu aku anggap sebagai ujian seperti halnya yang dialami para nabi sebelumnya," kata Adinullah sembari menyedekapkan kedua tangannya di dadanya. Pak Makripudin menggelengkan kepala.


"Hal apakah yang menyebabkanmu rusak seperti ini, Pak Adin. Aku kira kesesatanmu tak sampai kepada masalah berat seperti ini. Tobatlah, Pak Adin. Azab Allah amatlah pedih atas apa yang kamu lakukan ini,"kata pak Makripudin.


Adinullah tersenyum ketus.


"Kedudukanku di surga sudah jelas, Pak Makripudin. Aku sudah menikmatinya sebelum aku harus melewati perjalanan panjang di padang mahsyar seperti yang sering dikisahkan Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Alam malakut sudah terbentang di hadapanku. Bahkan ketika aku mengatakan Kun, maka Fayakun," kata Adinullah sambil menepuk-nepuk dadanya.

__ADS_1


"Astaghfirullah," ucap pak Makripudin sambil mengelus dadanya. Johani sendiri terlihat berpegangan pada salah satu tiang pondoknya. Ia merasa tubuhnya terasa lemas. Tubuhnya bergetar. Ia benar-benar kaget mendengar kata-kata Adinullah.


"Kalian tentu tahu, orang yang berani mengatakan seperti ini pastinya telah melihat dan mengalami langsung hal-hal yang tak kasat mata. Kamu belum punya kedudukan yang tinggi untuk mengalami apa yang aku alami, Pak Makripudin," sambung Adinullah. Pak Makripudin hanya bisa mendesah mendengar kata Adinullah yang semakin tak masuk akal.


"Sekarang, lihatlah ke arah bukit itu jika kalian ingin melihat mukjizatku," kata Adinullah sambil mengarahkan pandangan mereka dengan telunjuknya ke arah puncak bukit bako tinggi. Keduanya pun mengarahkan pandangan ke arah yang ditunjukkan Adinullah. Tak ada apapun yang terlihat. Hanya puncak bako tinggi yang terlihat di antara kabut tebal yang menelingkupi.


Pak Makripudin tersenyum. Ia merasa Adinullah telah memberikannya lelucon murahan. Ia menoleh ke arah belakang. Tapi betapa terkejutnya ia ketika tidak menemukan lagi Adinullah di belakangnya. Ia menoleh ke arah Johani seperti hendak meminta penjelasan. Namun Johani nampak terpaku ketika menyadari Adinullah sudah tidak ada di tempatnya. Pak Makripudin segera berlari menuju jalan masuk. Sepi, bahkan hingga ke ujung jalan masuk. Pak Makripudin segera kembali mendekati Johani. Ia tahu, ada kekuatan gaib yang membuat menghilang begitu cepatnya sehingga tak meninggalkan jejak sedikitpun.


"Dimana dia, Pak," kata Johani heran. Pak Makripudin menggeleng. Tapi ia tidak ingin Johani terpengaruh oleh keajaiban yang diperlihatkan Adinullah kepada mereka. Ia segera mendekati Johani.


"Yakinlah, Bu. Apa yang dilakukan pak Adin pasti ada campur tangan setan yang menjadi sekutunya. Lebih baik kita lanjutkan pekerjaan kita. Jangan pernah tertipu dengan tipu daya setan. Seorang ulama mengatakan, jika kamu melihat seseorang yang bisa terbang atau berjalan di air, tapi ia tidak pernah menjalankan syariat, maka yakinilah bahwa itu semua adalah tipu daya setan." kata pak Makripudin. Johani menganggukkan kepalanya. Ia kemudian melangkah mengikuti pak Makripudin ke tengah ladang.


Pak Makripudin menghentikan pekerjaannya membuat parit ketika mengingat kembali apa yang terjadi pada pak Makripudin. Ia berpikir harus segera pulang dan melaporkan masalah itu kepada Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Tidak menutup kemungkinan, dengan keajaiban yang diperlihatkan Adinullah akan dengan mudahnya bisa mempengaruhi orang-orang yang tinggal di kawasan hutan, yang pengetahuan agamanya amatlah dangkal.


Pak Makripudin mendesah. Ia teringat pesan Tuan Guru Alamsyah Hasbi yang menyuruhnya tetap di sana sampai Tuan Guru Alamsyah Hasbi datang sendiri ke ladang. Perintah Tuan Guru Alamsyah Hasbi tentu punya maksud tertentu meskipun masalah yang terjadi saat ini pada Adinullah harus segera ditangani. Lebih baik ia menunggu dan berharap Tuan Guru Alamsyah Hasbi segera menyambanginya.

__ADS_1


* * * * *


__ADS_2