Menikahi Putri Jin

Menikahi Putri Jin
#23


__ADS_3

"Tenanglah, aku bukanlah murid Tuan Guru Alamsyah Hasbi seperti yang kalian katakan. Bahkan sebaliknya, aku adalah orang yang berseberangan dengan Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Ada beberapa ajaran Tuan Guru Alamsyah Hasbi yang harus aku luruskan," kata Adinullah. Ketiga laki-laki itu saling pandang. Mereka bergantian memperhatikan penampilan Adinullah. Dari ujung kaki sampai kepalanya. Tak ada yang istimewa. Dia sama sekali tidak berpenampilan seperti kebanyakan pemuka Islam.


Salah satu dari ketiga laki-laki itu tersenyum ketus. Seperti meremehkan, ia malah membalikkan badannya dan duduk di bawah kursi kayu di depan gubuknya. Dia lalu mengambil anyaman rotan yang tergantung di ujung atap gubuknya. Segenggam tembakau yang warnanya sudah menghitam dikeluarkannya dari dalam anyaman bersama sehelai kulit jagung kering. Sejenak dia terlihat asik sendiri membuat rokok lintingan. Kakinya digoyang-goyangkannya seakan-akan meremehkan keberadaan Adinullah. Setelah rokok lintingan selesai dibuatnya, ia langsung menyulutnya. Asap tebal seketika mengepul dari mulutnya, menyeruak di antara gerimis yang turun. Bau rokok yang keras menyebar ke hidung orang-orang yang ada di sana.


Laki-laki itu kembali menatap Adinullah.


"Ajaran apa yang kamu bawa itu. Kami adalah yang tersisa dari para keturunan Wetu Telu. Ada hal-hal yang boleh kami lakukan yang menurut Tuan Guru Alamsyah Hasbi tidak boleh dilakukan. Tapi tak ada satupun yang boleh memaksakan kehendaknya pada kelompok lain."


Adinullah tersenyum. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia mendekat.


"Yang kalian pertentangkan adalah kulit dari sebuah pohon yang batangnya menjulang ke angkasa. Tapi yang aku bawa ini adalah sebuah jalan langsung agar sampai ke puncak pohon itu," kata Adinullah. Ketiganya kembali saling pandang. Melihat pendengar di depannya seperti tak faham dengan ucapannya, Adinullah tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya. Adinullah mendesah panjang.


"Kalian masih memperdebatkan syariat, sedangkan yang aku bawa ini adalah tentang hakikat," sambung Adinullah mempertegas.


Laki-laki yang duduk menikmati rokoknya, menggantungkan kembali anyaman rotan tempat tembakaunya, lalu bangkit. Ia perlahan melangkah mendekati Adinullah, dan kini ia berhadap-hadapan begitu dekat dengan Adinullah.


"Kami tidak mengerti apa yang kamu katakan. Kami adalah tiga orang yang masih belum bisa meninggalkan pekerjaan mencuri dan merampok kami. Kami tidak tahu dan merasa tak perlu tahu dengan urusan agama selama kami masih susah memikirkan kelangsungan hidup keluarga kami. Saudara salah tempat. Kami tak tertarik membahas masalah itu," kata laki-laki itu. Ia mengalihkan pandangannya ke arah anjing-anjing yang masih berbaring di pintu masuk gubuk. Ia bersiul, seperti sedang memanggil anjing-anjing itu. Ia terlihat kesal. Anjing-anjing itu tak bergeming sama sekali. Tetap berbaring malas. Laki-laki itu menoleh ke salah satu temannya dan memberi isyarat dengan matanya agar pergi memeriksanya. Adinullah tersenyum. Laki-laki itu menatapnya penuh selidik.


Laki-laki yang disuruh untuk memeriksa anjing-anjing itu begitu terkejut. Ketika ia hendak memegang kepala salah satu anjing itu, secara tiba-tiba, anjing-anjing itu berdiri dengan posisi siap menyerang dan menyalak serempak. Laki-laki itu panik dan perlahan berjalan mundur. Anjing-anjing itu mengikutinya bergerak maju. Laki-laki yang ada di hadapan Adinullah mencoba mendekat dan memberi perintah agar anjing-anjing itu menjauh. Tapi sia-sia saja, anjing-anjing itu semakin menyalak dengan kerasnya hendak menerkamnya.


Adinullah membalikkan badannya. Ia melangkah pelan mendekati anjing-anjing itu. Ia lalu mengangkat tangannya dan menunjuk ke bawah kakinya. Seketika, anjing-anjing itu mendekat ke arah kaki Adinullah dan berbaring. Ketiga laki-laki itu kembali saling pandang terheran-heran.


"Anjing-anjing ini saja tahu siapa yang harus diikuti. Ketika sebelum-sebelumnya anjing-anjing ini mengikuti perintah kalian, itu tak lebih karna kalian memberinya makan. Tapi makanan yang bersifat zahir saja. Sedangkan ketika melihatku tanpa pernah mengenalku terlebih dahulu, mereka langsung mentaati perintahku. Itu karna ia melihat, bahwa aku bisa memberi mereka makan berupa makanan batin," kata Adinullah.


"Tunjukkan kepada kami keajaiban yang lain yang kamu miliki, agar kami yakin bahwa apa yang kamu katakan adalah benar," kata salah satu dari mereka.

__ADS_1


Adinullah menganggukkan kepalanya. Ia mundur beberapa langkah. Ia memejamkan matanya sejenak kemudian membukanya perlahan.


Ia lalu mengangkat tangan kanannya dengan posisi telunjuk menunjuk ke atas.


"La ila ha illa Ana!" teriaknya keras menghentak hening. Suaranya yang menggema dan memantul dibatang-batang pohon, mengagetkan burung-burung yang sedang berteduh dari tetes gerimis yang masih turun.


Ketiga laki-laki itu saling pandang. Mereka serempak menutup senyum geli di bibir mereka dengan telapak tangan mereka. Tak ada apapun yang terjadi. Mereka sama sekali tak melihat keajaiban dari apa yang dilakukan Adinullah. Karna sudah tidak tahan lagi, ketiganya tertawa terbahak-bahak sambil memegang perut masing-masing.


"Karna kamu telah mengolok-olok dan mempermainkan kami, maka kamu harus kami pelajaran." kata laki-laki yang berdiri di tengah setelah puas dengan tawanya.


"Dawam, ambilkan parang. Orang ini sepertinya mau ditebas kepalanya," sambung laki-laki itu seraya menunjuk ke arah laki-laki yang dipanggilnya Dawam itu. Dawam mengangguk sembari tersenyum. Ia lalu membalikkan badannya. Tapi baru saja ia melangkah, ia terdiam mematung. Ada sesuatu yang membuatnya tercengang di depannya. Dia tak bergerak sedikitpun. Tubuhnya kaku seperti mematung. Sementara kedua laki-laki yang lainnya, masih bersedekap menatap Adinullah yang tak henti-henti mengumbar senyum.


Merasa temannya begitu lama memgambil parang, kedua laki-laki itu membalikkan badannya. Keduanya bingung melihat temannya masih belum beranjak dari tempatnya. Dari arah belakang mengerdipkan matanya. Kedua laki-laki itu menganga. Seperti yang terjadi pada temannya, keduanya nyaria tak bergerak menyaksikan pemandangan di depan mereka.


Adinullah melangkah pelan mendekati mereka. Anjing-anjing yang berbaring di dekat kakinya ikut berlari mengikuti kemana Adinullah melangkahkan kakinya. Adinullah kemudian berhenti di depan ketiganya. Setelah tersenyum memandang ketiganya beberapa saat, ia mengerdipkan matanya.


Dawam yang berdiri paling depan mengawalinya dengan bersimpuh di kaki Adinullah, kemudian menyusul kedua temannya.


"Apakah yang kami lihat tadi adalah surga? Dan wanita-wanita cantik itu, bukankah itu adalah bidadari?" kata Dawam. Kedua temannya mengangguk mengiyakan apa yang disaksikan Dawam.


"Benar, tapi itu adalah gambarannya sekilas saja. Kalau itu pohon,yang kalian lihat tadi hanyalah kulitnya saja. Aku bahkan bisa mengajakmu ke sana,"kata Adinullah.


"Benarkah?" kata ketiganya serempak. Adinullah mengangguk.


"Kalian harus ikut ke dalam golonganku," kata Adinullah.

__ADS_1


"Kami siap," kata mereka.


Adinullah membalikkan badannya dan melangkah menuju kursi bambu di depan gubuk. Sebelum Adinullah benar-benar sampai di kursi itu, Dawam dan kedua temannya mendahului dan mengantarkan kursi itu ke depan Adinullah. Adinullah dipersilahkan duduk.


"Aku ini adalah Wali Abdal. Salah satu wali yang menjaga salah satu arah mata angin. Akulah wali yang menjaga tempat ini. Dan diantara empat wali itu, akulah rajanya. Aku tidak hanya menjaga tempat ini, tapi aku diutus merubah apa yang selama ini telah salah ditafsirkan para guru-guru tarekat. Salah satunya Tuan Guru Alamsyah Hasbi." Adinullah menghentikan kata-katanya. Ia memandang satu persatu ke arah ketiganya.


"Jika benar kalian ingin menjadi pengikutku, maka bersaksilah."


Ketiganya mengangguk.


"Baik, kalau begitu, ikuti perintahku. Tidak ada Tuhan...


"Tidak ada Tuhan..


"Tuhan adalah aku...


"Tuhan adalah aku.


Adinullah tersenyum puas. Satu persatu kepala ketiga laki-laki itu dipegangnya. Tiga orang telah bersaksi seperti yang diperintahkan Zabarjad. Sudah ada empat pengikut. Pengaruhnya sedikit demi sedikit akan menyebar. Dan sebentar lagi dia akan jadi orang terhormat dan kaya raya.


"Dan kalian harus memanggil aku Syeikh Addinullah Mawlana Ibrahim. Dan sebagai mahar awal, kalian harus menyiapkan uang sebesar satu juta dan beras 1 kwintal untuk masing-masing orang. Jika kalian sudah siap, temui aku di bawah bukit bako tinggi. Tapi ingat, jangan kesana jika Tuan Guru Alamsyah Hasbi sedang ada di ladangnya," kata Adinullah.


"Baik, Syeikh,"


"Sekarang, tutup mata kalian," Adinullah memberi perintah.

__ADS_1


Ketiganya lalu menutup mata. Setelah beberapa lama tak ada suara yang terdengar, mereka membuka mata dan sudah tidak menemukan Adinullah di depan mereka.


__ADS_2