
Hari berganti hari. Perkampungan di tengah hutan yang didirikan Adinullah kian hari kian bertambah. Pengikutnya yang berjumlah dua puluh orang sudah membawa keluarga masing-masing. Bak sebuah kerajaan, Adinullah telah membentengi perkampungan itu dengan tembok tinggi dan gapura tinggi berbentuk patung yang ia sembah. Tidak hanya itu, layaknya kerajaan yang mempunyai penjaga, di sepanjang jalan menuju perkampungan itu, orang-orang pilihannya bergantian berjaga, lengkap dengan tombak di tangan masing-masing. Bahkan dia kini sudah mempunyai pasukan khusus yang menjaga keamanan tempat itu. Tak ada yang boleh meninggalkan tempat itu selain yang mendapat ijin langsung dari Adinullah.
Selain itu, ada lima orang yang ia pilih dengan mengangkat pak Satri sebagai ketuanya. Lima orang ini, termasuk Dawam, Mujahidin, Muhsan, dan Ramelan, telah dibekalinya beberapa kesaktian. Mereka ditugaskan untuk mencari pengikut-pengikut. Tak jarang mereka membumi hanguskan perkampungan yang tak mau tunduk kepada mereka jika tidak menggantinya dengan upeti yang harus mereka serahkan setiap sebulan sekali. Bahkan atas perintah Adinullah, mereka membawa paksa anak-anak gadis dari perkampungan itu untuk menjadi pemuas nafsu pasukan khusus Adinullah. Tentunya gadis-gadis yang cantik diserahkan kepada Adinullah.
Sudah ada sekitar seratus rumah yang sudah berdiri di dalam hutan itu. Adinullah sendiri memerintahkan para pengikutnya untuk membangunkannya rumah di belakang pohon beringin bertingkat dua yang keseluruhannya terbuat dari kayu pilihan yang tumbuh di dalam hutan. Di samping rumahnya, berjejer beberapa rumah orang-orang yang diangkatnya sebagai kaki tangannya.
Berita tentang kesaktian Adinullah tersebar ke peladang-peladang yang menempati sekitar kawasan hutan bako tinggi. Bahkan orang-orang dari pedesaan hingga beberapa orang penting mulai berdatangan mengunjungi Adinullah dengan bermacam-macam kepentingan. Ada yang mencari penglaris, mahabbah dan untuk memuluskan jabatan. Sumbangan pun berdatangan dalam jumlah besar dari pejabat-pejabat dan orang-orang kaya yang menjadi pengikutnya. Dengan uang dan kekayaan yang ia miliki, ia telah menyulap perkampungan di dalam hutan itu menjadi sebuah istana yang megah, yang ia namakan sendiri dengan istana Ahlul Jannah.
Melihat pengikutnya yang semakin bertambah banyak, Adinullah membuat beberapa peraturan yang dikhususkan untuk para penghuni pemukiman Ahlul Jannah. Diantaranya, dibolehkan bahkan dianjurkannya untuk berhubungan dengan istri sesama pengikut. Adinullah membuat peraturan itu dengan dalih untuk mempercepat perbanyakan generasi di tempat itu. Dan Khusus para gadis, Adinullah memberikan pengkhususan. Para gadis anak-anak pengikutnya yang akan menikah, diwajibkannya untuk memasuki kamarnya terlebih dahulu sebelum berbulan madu dengan suami mereka. Dengan pengikut yang banyak, Adinullah telah memproklamirkan dirinya secara terang-terangan sebagai juru selamat.
Sudah empat bulan berlalu. Tuan Guru Alamsyah Hasbi yang hanya sekali datang saat panen jagung, menyuruh pak Makripudin, pak Mas'ud, Johani dan bu Mukmin untuk mengosongkan ladang. Mereka belum tahu apa maksud Tuan Guru Alamsyah Hasbi menyuruh mereka melakukan yang demikian. Beliau juga berpesan kepada para peladang di sekitar bukit bako tinggi, yang tetap setia kepadanya, agar selama satu minggu ke depan, mereka tidak boleh berada di ladang mereka.
* * * * *
Zabarjad melangkah tergesa-gesa melewati lorong panjang nan gelap. Seorang pengawal memberitahukannya akan adanya rapat mendadak di istana Raja Kale Marge.
Zabarjad berdiri dan menatap ke arah ruangan yang telah penuh dengan pembesar-pembesar kerajaan. Tak biasanya ruang pertemuan itu penuh. Pasti ada berita besar atau masalah penting yang hendak dibicarakan Kale Marge.
Zabarjad membungkukkan tubuhnya dan mendekat ke hadapan Kale Marge. Ia kemudian bersimpuh menghaturkan sembah di bawah kaki Raja Kale Marge. Raja Kale Marge mengangkat tangannya mempersilahkan Zabarjad menempati kursinya. Suasana di dalam ruangan hening.
__ADS_1
Raja Kale Marge bangkit dari duduknya dan sejenak menatap satu persatu para pembesar kerajaannya.
Raja Kale Marge menoleh ke arah samping kirinya.
"Patih Kao Bireng, bacakan mereka surat yang dikirim Raja Fathul Bar kepada mereka," kata Raja Kale Marge kepada patih Kao Bireng. Patih Kao Bireng menundukkan kepalanya kemudian berdiri. Daun lontar yang digenggamnya kemudian digelarnya. Mendengar Raja Kale Marge menyebut nama Raja Fathul Bar, mereka saling pandang.
Dari Raja Fathul Bar. Penguasa resmi Kerajaan Bukit Bako tinggi untuk...." Patih Kao Bireng menghentikan kata-katanya. Ia menundukkan kepalanya. Raja Kale Marge menoleh. Ia memukul-mukulkan ujung tongkatnya ke lantai menegur Patih Kao Bireng yang berhenti membaca surat.
"Kenapa kamu berhenti, Patih!" kata Raja Kale Marge.
"Ampun beribu ampun, Tuanku. Ada kata-kata Raja Fathul Bar yang tidak berani hamba bacakan," jawab patih Kao Bireng.
"Dari Raja Fathul Bar, penguasa resmi kerajaan bako tinggi untuk pembe_rontak la_lim Kale Marge yang ter_ku_tuk...
"Kurang ajar! Berani-beraninya dia mengataiku seperti itu. Akan aku penggal lehermu, Fathul Bar!" teriak Raja Kale Marge penuh amarah. Seketika tubuhnya berubah menjadi kobaran api yang menyala-nyala. Semua yang hadir tertunduk diam.
"Lanjutkan!"
"Persiapkan dirimu dan pasukanmu untuk mengadapi semangat jihad pasukanku. Atau jika kamu dan pengikutmu ingin selamat, aku menawarkan kepadamu jalan damai. Enyahlah dari istanaku. Aku akan memberi pengampunan bagimu dan para pengikutmu untuk pengakuan tindakan salah yang telah kalian perbuat.
__ADS_1
Aku, Raja Fathul Bar. Pada tanggal 15 sya'ban, akan merebut kembali kerajaan Bako Tinggi. Kebenaran yang aku bawa akan meluluh lantakkan kejahatan-kejahatan yang menghadang.
Untuk Kale Marge dan para pengikutnya. Aku berikan waktu sebelum masa itu tiba untuk pergi secara damai dari kerajaanku. Dan pertumpahan darah akan bisa terhindarkan.
Penguasa Bukit Bako Tinggi. Raja Fathul Bar.
Setelah membaca surat itu, patih Kao Bireng melipat kembali daun lontar di tangannya. Ia bersimpuh dan bersujud sebelum kembali duduk di kursinya. Seluruh yang ada di dalam ruangan tertunduk takut.
Tubuh Raja Kale Marge bergetar hebat menahan amarah. Ujung tongkat yang digenggamnya dipukulkannya keras ke lantai.
"Kurang ajar! Ingin rasanya aku penggal kepala anjing itu dan meremukkannya dengan ujung tombakku. Aaagh....! Sigar Marong! kemarilah!" teriak Raja Kale Marge sambil mengangkat tongkatnya. Tiba-tiba Asap tebal mengepul di tengah-tengah ruangan. Dan tak berapa lama kemudian, sosok besar hitam berkepala banteng dan bersayap muncul dari balik asap. Di tangannya tombak trisula yang ujung-ujungnya mengeluarkan nyala api. Raja Kale Marge duduk kembali di singgasananya dan menyuruh sosok yang dipanggilnya Sigar Marong itu lebih mendekat setelah bersujud di kakinya.
"Sigar Marong!"
"Saya, Tuanku,"
"Aku perintahkan kamu untuk melacak keberadaan Raja Fathul Bar dan pasukannya. Sampai saat ini aku belum juga mendapatkan informasi keberadaan pasti Raja Fathul Bar. Pergilah dan jangan kembali sebelum kamu menemukannya,"
"Baik, Tuanku. Hamba mohon pamit," kata Sigar Marong. Raja Kale Marge menganggukkan kepalanya. Setelah itu, dalam sekedipan mata, Sigar Marong menghilang.
__ADS_1