
Raja Kale Marge kembali duduk. Matanya masih terlihat menyala dengan deru nafas seperti bara api. Satu persatu yang hadir di dalam ruangan di tatapnya. Ujung tongkatnya kembali diketukkannya tiga kali di lantai.
"Sekarang kalian tidak boleh lalai seperti sebelum-sebelumnya. Selama Sigar Marong mencari keberadaan Raja Fathul Bar, mulai hari ini kalian harus mulai menyiapkan pasukan kalian masing-masing. Begitu posisi Raja Fathul Bar dan pasukannya telah kita ketahui, kita akan langsung menyerang dan memusnahkannya. Kita tidak akan membiarkan dia menyerbu terlebih dahulu. Pikirkan posisi dan kenyamanan kalian hari ini. Kalian tentu tidak mau terusir dari tempat ini jika sampai Raja Fathul Bar berhasil merebut kembali tempat ini," kata Raja Kale Marge. Seluruh yang hadir menganggukkan kepala.
"Maaf, Tuanku,"
"Ada apa, Patih Balang Ngampang," kata Raja Kale Marge kepada seorang yang duduk di sebelah Zabarjad.
"Apa Raja Fathul Bar tidak sedang menggertak kita?"
"Ijin berbicara, Tuanku, kata seseorang lagi sambil berdiri.
"Hamba lebih cendrung dengan apa yang dikatakan Patih Balang Ngampang. Setelah kita hancurkan pasukannya dan usir dia dari kerajaan ini, dia akan kesulitan mencari pasukan,"
Raja Kale Marge terdiam. Ia mendesah panjang. Ia menoleh ke arah Zabarjad.
"Apa pendapatmu, Zabarjad," tanya Raja Kale Marge. Zabarjad menatap satu persatu ke arah pembesar-pembesar yang hadir di ruangan itu. Ia bangkit.
"Hamba sendiri berpendapat sebaliknya, Tuanku. Menurut Hamba, Raja Fathul Bar masih memiliki pengaruh, terutama di kalangan jin pemeluk Islam. Waktu seratus tahun sudah cukup baginya untuk mengumpulkan banyak pasukan. Apalagi, setelah kita berhasil mengusirnya, dia seperti hilang ditelan bumi. Kedatangan suratnya hari ini di hadapan Tuanku, cukup sebagai isyarat bahwa kita tak boleh menganggapnya remeh," kata Zabarjad. Ia kemudian membungkuk dan duduk kembali.
"Tapi Tuanku..."
Raja Kale Marge mengangkat tangannya menyuruh patih Balang Ngampang tidak meneruskan kata-katanya.
"Aku lebih setuju dengan pendapat Zabarjad. Terlepas Raja Fathul Bar hanya menggertak atau tidak, yang jelas kita tidak bisa menganggapnya remeh." Raja Kale Marge menghentikan kata-katanya. Ia kembali menatap satu persatu orang-orang di depannya.
"Sekarang kalian boleh pergi," perintah Raja Kale Marge. Mereka semua bangkit. Setelah menghaturkan sembah pada Raja Kale Marge, mereka satu persatu meninggalkan ruangan pertemuan.
"Zabarjad, kamu tetap di sini," kata Raja Kale Marge ketika melihat Zabarjad yang terakhir hendak keluar. Zabarjad membungkukkan badannya dan kembali ke tempat duduknya.
"Bagaimana perkembangan Adinullah, Zabarjad,"
Zabarjad tersenyum.
"Adinullah memang orang yang tepat menjalankan perintah Tuanku. Pengikutnya sudah melebihi pengikut dan pengaruh Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Ini berkat kemurahan Tuanku memberikannya kesaktian," kata Zabarjad. Raja Kale Marge menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Sudah waktunya kamu memanggil mereka kesini. Tenaga mereka kita butuhkan juga untuk membantu kita mempertahankan tempat ini dari serbuan Raja Fathul Bar,"
"Tapi bagaimana mereka bisa menghadapi pasukan yang tak bisa mereka lihat, Tuanku?"
"Mereka akan menjadi penghuni tetap tempat ini. Ganti pakaian mereka dengan pakaian kita. Sudah cukup peran dan tugas Adinullah di dunianya kini,"
"Semuanya, Tuanku?"
"Pilihlah laki-laki yang kamu anggap mampu untuk itu. Tinggalkan perempuan dan anak-anak. Jika kelak kita menang, kita akan mengembalikan mereka untuk melanjutkan perintah kita,"
"Baik, Tuanku,"
"Kamu boleh pergi,"
Zabarjad menganggukkan kepalanya dan memberi sembah. Setelah itu ia keluar dari ruangan.
* * * * *
Adzan isya terdengar berkumandang dari kejauhan. Tuan Guru Alamsyah Hasbi masih berdiri di atas tingkat rumahnya sambil memandang ke arah selatan, menembus gelapnya malam. Tepatnya ke arah bukit bako tinggi. Tasbih hitam di tangannya berputar-putar. Mulutnya tak henti-henti bergerak melafalkan wirid. Sesekali ia mendesah dan menggelengkan kepalanya. Apa yang dilihatnya kini dengan mata batinnya membuatnya resah.
Tuan Guru Alamsyah Hasbi melirik ke arah kanannya. Hawa yang ia rasakan kini terasa berbeda. Ia merasakan kehadiran sosok ghaib di sekitarnya.
"Assalamualaikum, Tuan Guru,"
"Waalaikum salam,"
"Sebelumnya saya memohon maaf atas kelancangan saya datang tiba-tiba di hadapan Tuan Guru,"
"Tidak apa-apa. Siapakah kamu ,"
"Saya adalah Raja Fathul Bar. Penguasa Bukit Bako Tinggi. Seratus tahun yang lalu, Raja lalim dari jin golongan hitam yang menyesatkan, Raja Kale Marge telah menyerang dan mengusirku dari kerajaanku. Aku kembali kesini setelah lama menuntut ilmu di baghdad. Kedatanganku ke sini tak lain untuk merebut kembali kerajaanku."
"Tapi bukan kekuasaan yang menjadi kepentinganku di sini, Tuan Guru. Kemungkaran dan kesesatan yang dibuat oleh Raja Kale Marge dan pengikutnya, membuat hati saya terpanggil untuk merubahnya. Tuan Guru Alamsyah Hasbi hanya terdiam. Tatapan matanya yang datar seperti mengisyaratkan keresahan mendalam di hatinya. Dia mendesah panjang.
"Hanya ujung pedang yang bisa menyadarkan raja lalim itu, Tuan Guru," kata Raja Fathul Bar melanjutkan kata-katanya. Tuan Guru Alamsyah Hasbi menatap Raja Fathul Bar.
__ADS_1
"Dan hal apakah yang membuatmu kesini, saudaraku," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Raja Fathul Bar membungkukkan setengah badannya.
"Saya ingin meminta ijin untuk menggunakan sebagian wilayah Tuan Guru sebagai tempat saya dan pasukan mempersiapkan diri sebelum penyerangan. Tempat Tuan Guru adalah salah satu tempat yang tak akan berani di datangi oleh mata-mata Raja Kale Marge,"
Tuan Guru Alamsyah Hasbi mengangkat pandangannya. Ia menoleh ke arah samping. Setelah itu ia menoleh ke arah Raja Fathul Bar.
"Saudara dan pasukan saudara bisa menggunakan embung itu. Peringatkan mereka untuk tidak berkeliaran dari batas embung. Para jamaah dan santri sering mondar-mandir. Aku tidak mau terjadi kesalah fahaman antara kita sebab posisi mereka yang tidak bisa melihat bangsa kalian,"
"Saya mendengarkannya, Tuan Guru. Insya Allah,"
"Kalau begitu, saya mohon diri, Tuan Guru. Saya menghaturkan banyak-banyak terimakasih atas perkenan Tuan Guru,"
Tuan Guru Alamsyah Hasbi tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Raja Fathul Bar mundur beberapa langkah dan membungkukkan badannya.
"Assalamualaikum,"
"Wa alaikum salam,"
Setelah menunggu jawaban salam Tuan Guru Alamsyah Hasbi, Raja Fathul Bar langsung menghilang.
Tuan Guru Alamsyah Hasbi mendesah panjang. ******* yang terdengar dipenuhi keresahan. Ia kembali mengarahkan pandangannya ke arah selatan. Air matanya terlihat berlinang sembari tak henti-henti istighfar terucap dari mulutnya. Ia kemudian membalikkan tubuhnya menghadap ke arah barat. Setelah memejamkan matanya sejenak, ia menengadahkan kepalanya seraya mengangkat kedua tangannya. Untuk beberapa lama, ia tampak khusyu' berdoa.
* * * * *
"Assalamualaikum."
Pak Makripudin yang baru saja menyelesaikan wiridnya setelah shalat isya' menoleh. Tampak olehnya dua orang laki-laki berpenampilan rapi dengan baju koko putih mendekat ke gazebo tempat ia duduk. Keduanya tersenyum ketika pak Makripudin bangun dari duduknya dan berdiri menyambut kedatangannya.
"Tuan Gurunya ada, Pak?"
"Ada, Pak. Tapi beliaunya masih ada di dalam. Ada urusan apa, Pak?" kata pak Makripudin sambil menyodorkan tangannya hendak menyalami kedua tamu.
"Saya perwakilan dari MUI. Ada hal penting yang ingin kami bicarakan dengan Tuan Guru," kata salah seorang dari mereka setelah menyalami pak Makripudin.
"Silahkan duduk dulu, Pak, Bapak-bapak tunggu dulu sebentar. Insya Allah sebentar lagi Tuan Guru keluar," kata pak Makripudin. Ia kemudian minta ijin untuk meninggalkan keduanya. Ia kemudian memanggil Johani yang sedang berada di dapur untuk membuat kopi. Setelah itu, ia kembali menemui kedua laki-laki itu.
__ADS_1
"Tuan Gurunya sudah mau turun, Pak," kata pak Makripudin setelah naik ke atas gazebo. Kedua laki-laki itu tersenyum sembari memperbaiki posisi duduknya. Tak beberapa lama kemudian, Tuan Guru Alamsyah Hasbi muncul di belakang Johani yang sedang membawa kopi. Dia segera menghentikan langkahnya ketika menyadari Tuan Guru Alamsyah Hasbi ada di belakangnya.
Melihat kedatangan Tuan Guru Alamsyah Hasbi, kedua laki-laki itu segera bangkit. Keduanya mendekat sebelum Tuan Guru Alamsyah Hasbi tinggal beberapa langkah lagi dari gazebo. Keduanya langsung mencium tangan Tuan Guru Alamsyah Hasbi.