
"Apa maksud kamu Amar?" ibu Amar bertanya semakin penasaran. Ibu Amar merasa ada yang aneh dengan perkataan Amar, beliau mulai merasa khawatir dengan kondisi Amar.
"benar bu, di sana tidak angker seperti yang ibu katakan tadi. Aku disana tidak melihat hal menakutkan malahan aku malah menemukan hal yang indah yang membuatku bahagia" Kata Amar kepada ibunya, seraya tersenyum bahagia tapi bagi ibu Amar senyum anaknya malah menimbulkan rasa khawatir.
"kamu salah lihat mungkin Amar, mana mungkin ada gadis cantik di tempat yang sepi tidak berpenghuni begitu. Kamu melihat sendiri tempat itu jauh dari kampung kita, jarang ada orang mau pergi kemana" kata ibu Amar mencoba memberi penjelasan sama anaknya. Beliau berharap semoga saja Amar sadar dan tidak berkhayal terlalu jauh.
"Amar berani sumpah Bu. Apakah ibu bisa melihat sendiri penampilan Amar yang kotor begini? ini semua bukti Amar benar-benar melihat gadis itu, Amar tidak bohong Bu." jawab Amar teguh dengan kebenaran kata-katanya.
"Tapi mar...!' ibu Amar tidak melanjutkan kata-katanya, karena Amar telah beranjak pergi meninggalkan dirinya.
"sudah Bu, Amar mau bersih-bersih dulu sebentar lagi gelap" kata Amar menjauh dari ibunya, menuju kamar mandi.
Amar merasa kesulitan masuk ke kamar mandi, karena kakinya masih terasa sakit. Dia berjalan tertatih menyeret kakinya, seraya berpegangan pada dinding. Dia merasa kakinya makin lama makin sakit, malah sekarang kakinya makin kelihatan membiru.
Ibu Amar yang melihat putra dari kejauhan, mendadak merasa cemas mendengar perkataan anaknya. Beliau cemas karena tempat yang dimaksud Amar, terkenal angker sejak dulunya.
"bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan? tanya ibu Amar didalam hati, beliau merasa bingung sekali memikirkannya.
Plak! tung! tung!
"aduh sakitnya...! Amar berteriak berteriak dari kamar mandi. Mendengar teriakan anaknya, Ibu Amar bergegas menuju kamar mandi. Betapa terkejutnya beliau melihat Amar yang jatuh dengan kondisi yang menyedihkan di kamar mandi.
Amar jatuh dengan posisi tubuh tertelungkup dengan kepala Amar masuk kedalam ember untuk menimpa air. Ibu Amar melihat baju anaknya basah dari leher sampai pinggang. Beliau segera melangkah bergegas membantu Amar untuk bangun.
"kenapa kamu bisa jatuh Amar? hati-hatilah kalau sedang berada di kamar mandi." kata Ibu Amar menasehati anaknya. Melihat kondisi Amar yang seperti sekarang, ibu Amar semakin mengkhawatirkan putranya.
"Amar sudah hati-hati Bu, ini semua karena kaki Amar yang lagi sakit tuh liat" kata Amar menjelaskan kepada ibunya seraya memperlihatkan kaki bengkaknya yang semakin membiru.
__ADS_1
"kenapa lagi ini Amar, kok kakimu bisa seperti ini bu" tanya ibunya semakin khawatir, bingung dengan apa yang terjadi sama anaknya.
"Amar tadi jatuh terperosok kedalam lubang bekas galian yang berada di dekat sungai itu bu. Ibu percayakan sekarang kalau Amar benar-benar ke sana dan bertemu dengan gadis cantik itu!" Amar menjelaskan kepada ibunya. Dia berusaha meyakinkan ibunya. berharap ibunya tidak meragukan apa yang dia katakan.
"berhenti berkata begitu Amar, kamu semakin membuat ibu cemas" kata ibu Amar setengah menghardik putranya, sekarang pikiran beliau benar-benar kalut. Amar terkejut mendengar ibunya yang berkata keras begitu, ibu Amar jarang menghardik anaknya andai Amar tidak melakukan kesalahan fatal.
"cepat bangun, ibu akan membantu kamu membersihkan diri. Amar apa yang sebenarnya terjadi kepadamu nak!" Ibu Amar berujar dengan nada memelas, sedih melihat keadaan putranya.
Ibu Amar sangat menyayangi anaknya, Amar merupakan anak tunggalnya. Beliau membesarkan Amar sendiri karena Ayah Amar telah meninggal sejak Amar berumur tujuh tahun. Semenjak itu, beliau berperan sebagai ibu sekaligus ayah bagi Amar.
Ibu Amar membesarkan Amar dengan penuh tangisan, kehidupan yang sulit dan miskin membuat beliau susah untuk mencukupi kebutuhan hidup. Mereka menjalani hidup dengan penuh keprihatinan, bukanlah hal mudah baginya membesarkan Amar sendirian.
Amar kecil hanya mampu mengecap pendidikan hanya sebatas sampai kelas tiga SD. Amar terpaksa berhenti sekolah karena kondisi ekonomi ibunya jauh dari kata cukup.
Jangankan untuk bersekolah, Amar bahkan sering puasa karena tidak ada yang bisa dimakan.
Amar pasrah menerima goresan takdirnya, dia harus hidup membujang hingga sekarang. kondisi hidup yang miskin dan serba kekurangan membuat Amar kesulitan menemukan pasangan hidupnya.
Amar telah mencoba melamar beberapa gadis, yang merupakan tetangganya tapi dia selalu menerima penolakan. Mereka selalu meminta harta dan emas hantaran untuk mahar pernikahan yang tidak sedikit jumlahnya.
Amar terpaksa mundur melamar gadis pujaan hatinya karena dia tidak sanggup memenuhi permintaan emas hantaran itu. Dia sadar siapakah dirinya yang hanya anak petani miskin yang tidak memiliki harta, yang dia punya hanyalah cinta.
Setelah lamaran demi lamarannya di tolak, Amar sekarang pasrah menerima takdirnya. Amar tidak memiliki niat untuk melamar dan mencari istri. Tapi karena melihat gadis tadi tersenyum manis kepadanya, Amar merasa seperti mendapat harapan baru.
"bu, Amar besok akan ke sana lagi, mana tahu gadis tadi akan kembali ke sana" kata Amar mengutarakan keinginan yang tersirat di dalam hatinya sambil tersenyum aneh memikirkan gadis tadi.
"sudah,sudah jangan pikirkan itu dulu. Kamu segera selesai mandi dan ganti baju yang bersih" kata ibu Amar kurang senang mendengar perkataan anaknya.
__ADS_1
"iya Bu, Amar sudah selesai. Ibu tolong bantu Amar berdiri, sakit sekali rasanya" jawab Amar seraya berusaha berdiri dibantu ibunya, tanpa sadar dia mengeluarkan erangan demi erangan karena rasa sakit yang dirasakan.
"kamu berat sekali Amar, ibu kesulitan membantumu" kata ibu Amar mengeluh pada anaknya, meski berkata begitu dia tetap membantu anak Amar anak semata wayang yang sangat di cintanya
"maafkan amar, Bu" kata Amar sedih karena selalu saja menyusahkan ibunya.
Mendengar anaknya meminta maaf, ibu Amar merasa menyesal berkata begitu kepada anaknya. Beliau sebenarnya tidak bermaksud begitu, tapi badan Amar memang benar-benar berat baginya.
"ayo, ibu bantu mengganti bajumu" kata ibunya Amar berusaha mengalihkan pembicaraan.
"tidak usah Bu, Amar akan berusaha memakai baju sendiri. Amar rasa bisa melakukannya" kata Amar seraya melontarkan senyum kepada ibunya. Amar merasa bersalah karena sampai sekarang belum juga bisa membahagiakan ibunya.
"ya sudah, kalau begitu ibu akan kembali ke dapur untuk memasak makan malam.kamu pelan-pelan saja ya mar" kata ibunya memandang dengan tatapan penuh sayang kepada anaknya.
"ya Bu" jawab Amar singkat seraya memandang kepergian ibunya.
Amar memakai bajunya sendiri, tapi untuk memakai celana Amar merasa kesulitan. Dia terus berusaha meski disertai jerit lirih menahan rasa sakit dihatinya.
Setelah selesai, Amar segera menyisir rambutnya dan tidak lupa memakai sedikit bedak baby di wajahnya. Amar memandang senang memandang wajahnya di cermin.
"ternyata aku tampan juga" Amar bergumam dalam hati memuji penampilannya.
Sedang asyik bercermin, Arman merasa bulu remang di kuduknya berdiri. Amar merasa ada sesuatu yang melintas di belakangnya. Setelah menoleh kebelakang Amar tidak menemukan seorangpun di sana.
"mungkin pikiranku saja" Amar berkata dalam hati.
"siapa juga yang akan melintas di belakangku sedangkan kami cuma ada berdua" Amar berkata dalam hati.
__ADS_1