
Johani mendesah panjang. Ia masih berusaha menormalkan kembali detak jantungnya. Ia harus tetap tenang di tempatnya. Tak perlu penasaran dan pergi mengendap-endap mengintip apa yang sebenarnya terjadi. Percuma. Dia tidak akan melihat apa-apa karna Adinullah telah mematikan penerangan dalam ruangan.
Mata Johani bergerak kesana kemari. Tak ada suara apapun yang terdengar. Hanya suara jangkrik dan melata malam. Sesekali suara burung hantu yang menghentak.
Johani menselonjorkan pelan kedua kakinya. Sebisa mungkin tak ada suara yang terdengar dari setiap gerakan tubuhnya. Selimut di sampingnya kemudian digelarnya perlahan di atas tubuhnya. Dengan posisi bersandar di tumpukan kayu, ia mencoba memejamkan matanya.
* * * * *
Dengan punggung ditegakkan dan dada yang membusung, Adinullah seperti penguasa malam, terlihat gagah memegang kendali kuda hitam besar yang terbang menembus gelap malam di atas lebatnya hutan. Kilat menyambar-nyambar. Langit masih gelap. Angin menderu. Kuda hitam itu semakin membawa naik Adinullah ke puncak Bako Tinggi.
Dalam sekejap, suasana tiba-tiba berubah ketika kuda yang ditunggangi Adinullah berada di puncak bukit. Suasana yang tadi gelap gulita dan yang terlihat adalah pucuk-pucuk pepohonan seperti menara hantu, seketika berubah benderang. Pemandangan yang pernah ia lihat pertama kalinya kini dilihatnya lagi. Tak henti-henti ia menggeleng. Dunia yang berbeda.
Kuda hitam itu perlahan memperlambat kepakan sayapnya. Setelah berputar-putar di ruang yang seperti tak terbatas, ia meluncur turun dan naik kembali dengan cepat.
Adinullah tersenyum. Ia melihat sebuah bangunan tinggi seperti tak berujung dan tersembunyi di balik awan. Matanya kesana kemari memperhatikan beberapa balkon dari bangunan itu. Ia mulai mengenalinya. Seorang perempuan cantik tersenyum menyambutnya di depan balkon sembari melambaikan tangannya.
"Zabarjad," desah Adinullah. Gemuruh birahinya menggelegar menggetarkan seluruh persendiannya. Dia merasa sudah tak tahan lagi. Sebelum kuda hitam itu benar-benar bertengger di sisi balkon, Adinullah melompat dan langsung memeluk Zabarjad. Adinullah seperti anjing yang telah lama merindukan tuannya. Dengan buas, ia mulai menjilati seluruh tubuh Zabarjad. Tak bersisa. ******* nafas Zabarjad semakin membuatnya beringas. Tubuh Zabarjad kemudian dibopongnya ke dalam ruangan.
Adinullah melepas perlahan tubuh Zabarjad di atas ranjang. Ia terpukau menatap suasana di dalam ruangan yang terlihat berbeda dari apa yang ia lihat sebelumnya. Di dalam ruangan itu kini berjejer empat ranjang baru. Berkilauan dengan bermacam perhiasan. Di atas keempat ranjang itu, duduk dengan setengah berbaring empat orang wanita cantik dengan tubuh setengah terbuka. Senyum di bibir mereka terkulum penuh birahi ke arah Adinullah.
__ADS_1
Adinullah menatap Zabarjad. Zabarjad hanya tersenyum. Ia bangkit dan turun dari atas ranjang. Ia lalu mendekati Adinullah dan memeluknya.
"Siapa mereka, istriku. Kenapa mereka ada di kamar kita?" tanya Adinullah dengan suara bergetar. Tubuh dan pesona Zabarjad sudah lebih dari cukup untuk membuatnya merasakan sensasi luar biasa. Memandang Zabarjad setara dengan kenikmatan seorang manusia saat bersenggama dengan istri-istri mereka. Dan kini dia dihadapkan dengan lima orang wanita cantik sekaligus, yang pesonanya tak kalah dari Zabarjad.
"Mereka juga adalah istri-istrimu, suamiku," jawab Zabarjad. Adinullah mengerutkan keningnya. Tatapannya lekat ke mata Zabarjad, meminta penjelasan.
"Janji yang mulia kepada hamba-hambanya yang taat kepada perintahnya tak pernah diingkari. Wanita-wanita ini adalah jelmaan dari usahamu yang telah mengajak orang-orang ke jalan kita," kata Zabarjad. Adinullah terdiam. Dia mulai mengerti. Ada empat orang yang berhasil ia pengaruhi agar ikut dengannya. Dan sangatlah sepadan dengan balasan yang ia lihat langsung di hadapannya. Adinullah kembali menatap Zabarjad.
"Kamu tidak marah aku punya istri lain?" kata Adinullah. Zabarjad tersenyum. Ia memberi isyarat kepada empat perempuan cantik yang berbaring menantang di ranjang masing-masing. Keempatnya kemudian turun perlahan. Dengan serta merta, pakaian yang mereka pakai terlepas dari tubuh mereka sehingga tak menyisakan sehelaipun. Ke empatnya mendekat. Tubuh Adinullah kemudian digerayangi sehingga Adinullah hanya mendongak.
"Sesama bidadari tak akan saling mencemburui. Mereka telah lama menunggumu. Mereka hanya cemburu dan marah pada istrimu yang durhaka itu," kata Zabarjad.
"Dia bukan istriku lagi. Dia sudah aku cerai. Aku sudah memiliki kalian dan aku sudah tidak butuh dia lagi," kata Adinullah.
"Kenapa kamu tanya anakku?" Adinullah balik bertanya.
"Aku menginginkannya menjadi penerusmu. Kita akan didik dia sejak kecil. Kelak, kamu tidak akan bersusah-susah lagi mendapatkan kedudukanmu yang tinggi. Anakmu akan jadi amal jariyahmu. Kamu hanya tinggal duduk dan menikmati apapun yang kamu mau di sini bersama kami. Bahkan kenikmatanmu akan terus bertambah," kata Zabarjad. Adinullah tersenyum menganggukkan kepalanya. Hidungnya mendengus seperti sedang mencium bau tubuh kelima wanita yang mulai menggerayangi tubuhnya. Tubuh Adinullah kemudian mereka dorong ke atas ranjang. Satu persatu pakaian yang menempel di tubuh Adinullah mereka lepas. Mereka seperti sudah tahu apa peran masing-masing untuk memberi kenikmatan kepada Adinullah di atas ranjang. Adinullah menggeliat, menggelinjang dan bola mata putihnya mengisyaratkan bahwa saat ini dia benar-benar sedang merasakan kenikmatan tiada tara.
* * * * *
__ADS_1
Tepat kumandang adzan isya', mobil yang ditumpangi pak Mas'ud dan pak Makripudin tiba di halaman gubuk pak Mas'ud. Suasana di halaman gubuk tampak gelap saat pak Mas'ud mematikan mesin mobilnya. Tapi tak beberapa lama kemudian, bu Mukmin, istri pak Mas'ud keluar dengan membawa lampu teplok. Dia hanya berdiri di depan pintu sambil memperhatikan sekelilingnya.
"Bu, buatkan kopi untuk kami. Bantal dan selimut yang dilemari juga dikeluarkan. Kami mau tidur di luar malam ini,"kata pak Mas'ud.
"Loh,kok di luar. Memangnya Bapak sama siapa?" tanya bu Mukmin sambil mengerutkan dahinya ke arah pak Mas'ud yang sedang duduk dengan pak Makripudin di gazebo kecil samping rumah.
"Saya, Bu. Pak Makripudin," kata pak Makripudin.
"Astaga, maaf, Pak. Gelap, gak bisa lihat Bapak," kata bu Mukmin. Ia lalu melangkah ke tempat pak Mas'ud dan pak Makripudin. Genangan air dan tanah becek sisa hujan lebat beberapa jam tadi, membuat bu Mukmin sangat berhati-hati.
"Tumben Pak Makripudinnya datang sendiri. Tuan Guru gak ikut?" kata bu Mukmin setelah bersalaman dengan pak Makripudin.
"Insya Allah, beliau pasti datang. Ada beberapa hal yang harus diselesaikan beliau," jawab pak Makripudin.
"Tapi maaf, saya harus bawa lampunya dulu ke dalam. Mau masak air," kata bu Mukmin.
"Oh ya, silahkan, Bu."
Bu Mukmin segera melangkah kembali ke dalam gubuknya. Pak Mas'ud mengambil tikar di sampingnya duduk dan menggelarnya di dekat pak Makripudin.
__ADS_1
Malam beranjak larut. Setelah menghabiskan secangkir kopi yang diseduhkan bu Mukmin, pak Makripudin dan pak Mas'ud memutuskan untuk istirahat.
Dinginnya malam yang disertai gerimis yang mulai turun, membuat keduanya meringkuk dalam selimut masing-masing. Suasana gelap dan mencekam.