Menikahi Putri Jin

Menikahi Putri Jin
#36


__ADS_3

Waktu di ponsel pak Makripudin telah menunjukkan pukul 11 siang ketika mobil pick up milik pak Mas'ud terlihat memasuki jalan masuk ladang. Pak Makripudin memanggil Johani ketika pak Mas'ud dan bu Mukmin terlihat sedang menurunkan beberapa barang dari atas mobil.


"Maaf, Pak. Saya terlambat kembali kesini karna harus beli minyak gas dulu untuk persiapan minyak lampu," kata pak Mas'ud ketika pak Makripudin mendekat dan langsung membantunya menurunkan barang-barang.


"Kok banyak sekali barang bawaannya, Pak," kata pak Makripudin ketika melihat barang-barang di atas mobil.


Pak Mas'ud mendesah. Ia menoleh sejenak ke arah bu Mukmin sebelum menatap pak Makripudin.


"Setelah kami pikir-pikir, kami akan tinggal di sini sampai jagung-jagung ini dipanen. Ladang seluas ini, pak Makripudin dan bu Johani tak akan sanggup mengurusnya. Takutnya nanti panennya gagal," kata pak Mas'ud. Ia menoleh ke arah Johani yang ikut membantu menurunkan barang-barang.


"Maaf, Pak Makripudin, Bu Johani. Bukannya saya meremehkan Bapak dan Ibu. Tapi ladang seluas ini memang seharusnya di urus empat orang," sambung pak Mas'ud. Pak Makripudin tersenyum.


"Gak apa-apa, Pak Mas'ud. Kami justru sangat senang kalian mau tinggal sampai panen jagung. Mudah-mudahan hasil panen jagung Tuan Guru melimpah. Bukan begitu, Bu Johani?"


Johani tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Iya, Pak. Biar imbang. Biar saya gak hanya melihat saja pak Mas'ud dan Pak Makripudin bicara berdua. Sekarang ada Bu Mukmin yang jadi teman ngomong saya," kata Johani.


Mereka kemudian melanjutkan membawa barang-barang ke pondok Johani. Setelah selesai dan Johani dan Bu Mukmin sedang sibuk memasukkan barang-barang ke dalam pondok, pak Mas'ud memegang tangan pak Makripudin dan mengajaknya duduk di pondok sebelah.


"Ada apa, pak Mas'ud? Kok pak Mas'ud tegang sekali," kata pak Makripudin ketika dengan langkah cepat pak Mas'ud mengajaknya berjalan ke pondok sebelah.


"Tadi di jalan, saya seperti melihat pak Adin, Pak. Kalau gak salah, ada sekitar sepuluh orang yang ikut bersamanya. Saya yakin, dia pasti akan lewat sini, Pak," pak Mas'ud memulai ceritanya. Wajahnya terlihat semakin menegang. Pak Makripudin terdiam dan menatap ke bawah. Teringat ia bagaimana tadi Adinullah tiba-tiba menghilang dan kini ada sepuluh orang yang ikut bersamanya. Jika benar dia Adinullah, maka sepuluh orang yang diceritakan pak Mas'ud itu adalah orang-orang yang berhasil ia pengaruhi.

__ADS_1


"Pak Mas'ud yakin kalau itu pak Adin?" tanya pak Makripudin ingin mempertegas.


"Yakin, Pak. Dia memakai jubah warna merah seperti yang kita lihat waktu bertengkar dengan bu Johani. Tapi bedanya, ia memakai turban yang besar sekali," kata pak Mas'ud. Pak Makripudin menganggukkan kepalanya. Dia benar-benar Adinullah. Adinullah benar-benar sudah mengkhawatirkan. Entah sudah berapa orang yang sudah berhasil ia pengaruhi. Ia yakin, jika Adinullah tidak segera di hentikan, mereka akan terasing di tempat itu.


"Jika pak Adin benar akan lewat ladang ini, kita jangan terpengaruh ataupun terpancing jika nanti pak Adin mengatakan sesuatu yang menyakiti hati kita. Kita tetap patuh pada perintah Tuan Guru. Kita memang tidak mengerti kenapa Tuan Guru belum juga mengambil tindakan untuk menghentikan Adinullah. Tapi kita harus yakin, pasti Tuan Guru punya maksud tertentu," kata pak Makripudin. Pak Mas'ud menganggukkan kepala.


"Kalau begitu, kita lanjutkan kerja lagi, Pak," kata pak Mas'ud.


"Sudah siang, Pak. Kayaknya bu Johani sedang mempersiapkan kita makanan. Lagi pula sudah mau hujan lebat." Pak Makripudin mengeluarkan salah satu tangannya keluar pondok.


"Gerimis sudah mulai membesar. Kita istirahat dulu, pak Mas'ud," sambung pak Makripudin. Pak Mas'ud mengangguk.


"Pak, kita makan di sini saja. Takut makanannya kena hujan kalau dibawa kesana," panggil bu Mukmin. Keduanya kemudian bangkit dan melangkah keluar pondok menuju pondok sebelah. Tapi beberapa langkah lagi sampai di pondok Johani, Adinullah dengan beberapa laki-laki di belakangnya terlihat memasuki ladang. Pak Makripudin menarik tangan pak Mas'ud dan mengajaknya berhenti. Bu Mukmin yang hendak keluar memanggil keduanya karna merasa keduanya tak mendengar panggilannya sebab hujan yang mulai turun deras, hanya bisa terdiam melihat kedatangan Adinullah. Ia mundur beberapa langkah. Johani yang merasa aneh dengan suasana yang terasa sepi, ikut keluar. Seperti halnya bu Mukmin, ia ikut terdiam melihat Adinullah dengan langkah gagahnya di iringi beberapa orang laki-laki di belaakangnya.


"Apakah pak Adin tidak melihat kita, Pak. Kenapa dia diam saja," tanya pak Mas'ud setelah Adinullah dan orang-orangnya tak terlihat lagi dalam lebatnya hutan. Pak Makripudin mendesah.


"Entahlah, Pak Mas'ud. Tapi syukurlah, kita tak berdebat lagi dengannya," jawab pak Makripudin. Ia lalu mengajak pak Mas'ud masuk ke dalam pondok.


* ** * *


Adinullah kembali duduk di atas kursinya di dalam selubung akar-akar besar pohon beringin. Sepuluh orang yang berdiri di depannya nampak terkagum-kagum ketika melihat sendiri bagaimana akar-akar itu terangkat ke atas saat Adinullah mengacungkan telunjuknya ke atas. Ruang kosong nan luas terhampar di balik akar-akar yang saling melilit satu sama lain itu. Adinullah tersenyum bangga. Ia menatap satu persatu sepuluh laki-laki di depannya. Laki-laki yang semuanya adalah penyamun itu terlihat bodoh ketika melihat keajaiban yang diperlihatkannya.


""Kalian minta kekuatan dan kesaktian, aku akan memberikannya. Kalian minta harta, aku pun akan memberikannya. Tapi tak semua bisa didapatkan begitu saja tanpa ada perjuangan dan pengorbanan. Aku juga tidak serta mendapatkan kedudukan ini. Penuh dengan riyadah dan mujahadah." Adinullah bangkit dan berjalan tenang di depan laki-laki itu sambil menatapnya satu persatu.

__ADS_1


"Apa kalian sanggup?" kata Adinullah.


"Kami sanggup, Syeikh," jawab mereka serempak. Adinullah tersenyum.


"Bagus. Jangan ada yang membantah jika aku menyuruh sesuatu. Taati aku melebihi orang yang kalian taati. Perintahku yang kalian langgar akan kalian terima langsung hukumannya. Jika kalian setuju, kalian akan jadi pengikutku. Pengikut yang mendapat keberuntungan bergabung dalam kerajaan Tuhan. Jika tidak, kalian boleh meninggalkan tempat ini," kata Adinullah.


"Kami akan ikut Syeikh apapun syaratnya," jawab seseorang dari mereka.


"Ya, kami akan ikut Syeikh," jawab merek serempak. Adinullah tersenyum puas. Ia lalu berbalik dan kembali duduk di atas kursinya.


"Sekarang tujuh dari kalian aku perintahkan untuk membuat jalan di depan sana. Di tengah hutan sana, pengikutku yang setia sedang membuat jalan menuju tempat ini. Jangan berhenti sebelum kalian bertemu dengan mereka. Dan tiga orang sisanya, aku perintahkan untuk mencari pohon Kruing di hutan ini. Pohonnya memang sudah langka, tapi aku yakin, di hutan ini pasti ada," kata Adinullah.


"Mau kami apakan pohon itu setelah kami menemukannya, Syeikh," tanya seseorang. Adinullah tersenyum. Ia mengacungkan jempolnya ke arah laki-laki itu.


"Pertanyaan bagus. Potong kayu itu sepanjang empat meter dan bawa ke sini," jawab Adinullah.


Kesepuluh laki-laki itu mengangguk. Mereka terlihat berkumpul membagi tugas yang diberikan Adinullah. Setelah sepakat, mereka pun mulai bekerja.


Adinullah mengacungkan telunjuknya ke atas. Perlahan akar-akar pohon beringin itu bergerak turun dan menancap di posisi masing-masing. Orang-orang itu saling pandang. Begitu mereka menoleh, yang terlihat hanyalah akar-akar lebat pohon beringin.


Adinullah memejamkan matanya.


"Jaran Bireng Mundung, datanglah. Bawa aku ke istanaku," perintah Adinullah dengan suara berbisik. Begitu kata panggilannya selesai, terdengar suara ringkih kuda melengking memekikkan telinga.

__ADS_1


__ADS_2